NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: BAYANG-BAYANG SISKA DAN BENTENG KETULUSAN SEORANG IBU

Pagi yang merayap di langit Jakarta tidak membawa kehangatan yang dinanti. Sinar matahari terasa kusam, membias melalui tirai tipis kamar utama Kediaman Pratama. Kirana terbangun dengan dada yang masih terasa sesak. Sisa-sisa air mata semalam telah mengering, meninggalkan jejak kepedihan yang menyengat di sudut matanya.

Di sampingnya, sisi ranjang telah kosong. Selimut terlipat rapi. Aris pasti sedang berkutat dengan tim hukumnya di ruang kerja, membentengi keluarga mereka dari ancamanHerlina yang tak kenal ampun.

Kirana mendudukkan tubuhnya perlahan. Matanya tertuju pada meja rias. Layar ponselnya yang gelap seolah menyimpan rahasia kelam yang siap meledak sewaktu-waktu. Langkah kakinya yang berat membawanya mendekati meja rias. Dengan jemari bergetar, ia menyalakan layar ponsel dan membaca ulang pesan misterius dari nomor tanpa nama itu.

"Jangan merasa menang dulu, Kirana. Kamu berhasil mengamankan saham Pratama Corp dan mengusir Herlina malam ini. Tapi apakah kamu yakin... rahasia kematian Siska delapan tahun lalu tidak akan pernah membongkar siapa dirimu sebenarnya? Sampai jumpa di pengadilan."

Kematian Siska.

Nama itu selalu menjadi hantu tak kasat mata yang bersemayam di setiap sudut Kediaman Pratama. Kirana mengepalkan tangannya. Selama dua tahun ini, ia berjuang melawan bayang-bayang almarhumah istri pertama Aris—wanita yang diagungkan oleh Herlina sebagai sosok menantu sempurna, wanita yang kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi Aris dan trauma berkepanjangan bagi Leo dan Maya.

Siapa yang tahu tentang kematian Siska? Dan rahasia apa yang dikaitkan denganku? batin Kirana, napasnya tertahan oleh gelombang kecemasan yang tiba-tiba melingkupi dadanya.

Pintu kamar terbuka pelan. Kirana refleks membalikkan ponselnya, menatap ke arah pintu. Dugaannya meleset—bukan Aris yang masuk, melainkan dua sosok mungil yang melangkah ragu-ragu di ambang pintu.

Leo dan Maya.

Maya menggenggam erat gaun malamnya, sementara Leo berdiri di depan adiknya, menyilangkan kedua tangan kecilnya di dada—seseorang yang berusaha keras tampak dewasa dan tangguh.

"Mama..." panggil Maya lirih, matanya yang bulat memancarkan kepolosan sekaligus kekhawatiran.

Rasa cemas yang menghimpit dada Kirana seketika luluh. Ketegangan di wajahnya berganti menjadi kehangatan yang pekat. Kirana berlutut di atas karpet beludru, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

"Sayang... kenapa sudah bangun pagi-pagi begini?" tanya Kirana dengan suara lembut bergetar.

Tanpa ragu sedikit pun, Maya berlari dan menjatuhkan tubuh kecilnya ke dalam pelukan Kirana. Tangan-tangan mungilnya melingkari leher Kirana dengan erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, ibu sambungnya itu akan menghilang.

"Maya takut..." bisik Maya di ceruk leher Kirana. "Maya dengar semalam Oma Herlina marah-marah. Oma mau bawa Maya sama Kak Leo pergi ya, Ma? Maya nggak mau... Maya mau sama Mama Kirana..."

Kirana mengelus punggung Maya, mencium puncak kepala anak perempuan itu berulang kali. Air mata keharuan kembali merembes di pelupuk matanya. "Nggak, Sayang. Nggak ada yang bisa bawa Maya dan Kak Leo pergi dari sini. Mama janji... Mama akan selalu ada di sini untuk kalian."

Leo melangkah mendekat. Anak laki-laki yang dulu paling keras menolaknya—yang pernah melempar lukisan buatannya ke tong sampah dan menyebut Kirana 'penjahat pengeruk harta'—kini berdiri tepat di sampingnya. Leo tidak memeluknya, tetapi tangan kecilnya terulur, mengusap lelehan air mata di pipi Kirana dengan ibu jarinya yang mungil.

"Mama jangan menangis lagi," kata Leo, suaranya berusaha dipatok tegas, meski getaran kepolosan tak mampu ia sembunyikan. "Leo dengar apa yang Papa bilang semalam. Mulai sekarang, Leo yang akan jaga Mama dari Oma. Leo nggak akan biarkan Oma marahin Mama lagi."

Kata-kata itu menghantam ulu hati Kirana begitu dalam. Sindiran takdir terasa begitu nyata—wanita yang dulu diragukan, dihina, dan dibenci oleh anak-anak ini, kini justru dilindungi oleh jemari mungil mereka. Perjuangan berdarah-darah menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri kini berbuah ketulusan murni yang tak bernilai harganya.

Kirana merengkuh Leo ke dalam pelukannya, menyatukan kedua buah hatinya dalam satu dekapan hangat. "Terima kasih, Mas Leo... Terima kasih, Sayang..." bisiknya serak.

Pukul 10.00 WIB.

Kediaman Pratama kembali diguncang oleh ketegangan, namun kali ini bukan di dalam rumah, melainkan di arena publik.

Di ruang kerja lantai satu, Aris menatap layar televisi besar yang menyiarkan konferensi pers darurat. Di layar, Herlina Pratama—dengan balutan busana duka berwarna hitam dan wajah yang dipoles sedemikian rupa agar tampak terzalimi—duduk di hadapan belasan wartawan media hiburan dan hukum nasional.

"Saya berdiri di sini sebagai seorang ibu dan nenek yang hancur hatinya," tutur Herlina dengan nada suara yang dirancang penuh dramatisasi, bahkan menyapu sudut matanya dengan tisu. "Putra tunggal saya, Aris Pratama, telah dibutakan oleh wanita muda yang menikahinya dua tahun lalu. Kirana tidak hanya menguasai aset perusahaan melalui yayasan bodong, tetapi juga mengisolasi cucu-cucu saya dari keluarga kandungnya!"

Wartawan riuh memotret dan berebut mengajukan pertanyaan.

"Ibu Herlina, apakah benar Anda mendaftarkan gugatan pembatalan hak asuh atas Nyonya Kirana?" tanya seorang wartawan senior.

"Sangat benar!" sahut Herlina tegas, menatap kamera dengan pandangan berapi-api. "Wanita itu tidak layak menjadi ibu tiri! Dia memanfaatkan anak-anak saya demi mengamankan posisinya di Kediaman Pratama. Bahkan... saya memiliki bukti kuat bahwa ada konspirasi di balik pernikahan mereka yang berkaitan dengan masa lalu almarhumah Siska!"

Aris mematikan televisi dengan remote control di tangannya, membanting benda plastik itu ke atas meja kaca hingga terbelah dua.

"Gila! Ibu benar-benar sudah gila!" geram Aris. Wajah sang Presdir pucat pasi oleh amarah yang meluap. "Beliau sengaja menjual penderitaan keluarga ke media untuk memojokkan Kirana!"

Di sudut ruangan, Kirana berdiri tenang. Mengenakan gaun terusan berwarna krem yang bersahaja, penampilannya kontras dengan badai yang sedang dilancarkan ibu mertuanya. Namun, kata-kata Herlina mengenai 'konspirasi kematian Siska' di media massa secara sempurna menyambung dengan pesan misterius yang diterimanya tadi malam.

"Mas..." panggil Kirana pelan, melangkah mendekati suaminya. "Ada sesuatu yang harus kamu lihat."

Kirana menyerahkan ponselnya. Aris meraihnya dengan dahi berkerut, lalu membaca pesan singkat dari nomor tak dikenal tersebut. Seiring jarinya mengusap layar, ekspresi di wajah Aris berubah dari marah menjadi kaku dan kebingungan.

"Siapa yang mengirim ini?" tanya Aris, suaranya merendah dan sarat ketegangan.

"Aku tidak tahu, Mas," jawab Kirana jujur. "Tapi pesan ini masuk tepat setelah kita mengusir Ibu Herlina semalam. Dan hari ini, Ibu Herlina menyebutkan hal yang sama di depan media. Apakah ada sesuatu tentang almarhumah Mbak Siska yang belum pernah kamu ceritakan padaku?"

Aris terdiam. Ia membalikkan tubuhnya, menatap ke luar jendela kaca besar yang menghadap ke taman belakang. Bahunya yang tegap tampak tegang. Keheningan yang tercipta di antara mereka begitu pekat, seolah mengundang kembali masa lalu yang dingin dan kelam.

"Kematian Siska... adalah tragedi kecelakaan tunggal delapan tahun lalu, Kirana," ujar Aris lambat, suaranya berat. "Mobilnya terperosok ke jurang di daerah Puncak saat hujan deras. Polisi menyatakan itu murni kecelakaan karena rem blong."

"Lalu kenapa Herlina dan pengirim pesan ini mengaitkan hal itu denganku?" desak Kirana lembut namun menuntut kejujuran. "Mas Aris, kita sudah berjanji untuk saling terbuka. Aku sudah mempertaruhkan segalanya untuk berdiri di sampingmu. Jangan biarkan ada rahasia yang menjadi celah untuk orang lain menghancurkan kita."

Aris berbalik, memegang kedua bahu Kirana dengan tatapan dalam yang penuh rasa bersalah.

"Karena sebelum kecelakaan itu terjadi, Kirana..." Aris menelan ludah yang terasa pahit. "Siska sempat mendatangi sebuah panti asuhan di Bogor untuk menemui seorang wanita muda yang dituduh Herlina sebagai penyebab retaknya rumah tangga kami saat itu. Wanita muda itu... adalah dirimu."

Hantaman kata-kata itu membuat napas Kirana terhenti seketika. Dunia di sekitarnya seolah berputar lambat.

"A-apa?" bisik Kirana, suaranya hampir tak terdengar. "Aku? Menemui Mbak Siska? Mas... delapan tahun lalu aku bahkan masih berjuang menyelesaikan kuliah sambil mengajar di yayasan yatim piatu! Aku sama sekali tidak mengenalmu, apalagi Mbak Siska!"

"Aku tahu! Aku sangat tahu kamu tidak bersalah, Kirana!" pangkas Aris cepat, merapatkan pegangannya di bahu Kirana. "Itu semua adalah fitnah yang dirancang oleh Herlina dan Raymond Brotoatmodjo delapan tahun lalu! Ibuku tidak pernah menyukai Siska karena Siska berasal dari keluarga biasa. Ibuku mencari alasan untuk menceraikan kami, dan mereka menggunakan namamu—seorang relawan panti asuhan yang tidak tahu apa-apa—sebagai alat untuk memfitnah Siska memiliki hubungan terlarang dengan pihak luar!"

Kirana terpaku. Lidahnya kufur kata-kata.

Pernikahannya dengan Aris dua tahun lalu... ternyata bukanlah pertemuan kebetulan yang diatur oleh takdir secara sederhana. Di balik penderitaan dan statusnya sebagai ibu tiri pengeruk harta yang disematkan oleh Herlina, ada jaring-jaring fitnah masa lalu yang telah menjeratnya bahkan sebelum ia mengenal Aris Pratama!

Takdir tidak hanya sedang bertingkah jenaka—takdir sedang menyindirnya dengan sangat kejam. Dulu, ia dijadikan tudingan palsu untuk merusak rumah tangga Siska. Dan kini, ketika ia masuk ke dalam rumah tangga Aris sebagai ibu tiri, fitnah yang sama digali kembali untuk merobek kebahagiaannya!

"Jadi... selama ini Ibu Herlina membenciku bukan hanya karena aku wanita muda yang menikahimu..." suara Kirana bergetar, air mata kepedihan menetes tanpa bisa ditahan lagi, "tetapi karena beliau takut rahasia fitnah delapan tahun lalu terbongkar jika aku menjadi Nyonya Pratama?"

Aris mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca oleh kepedihan yang tak tertahankan. "Siska melarikan diri malam itu karena bertengkar hebat dengan Ibu setelah menemukan bukti pemalsuan dokumen yang dibuat oleh Herlina dan Raymond. Di tengah jalan, kecelakaan itu terjadi. Ibu menutup rapat kasus ini dan menyalahkan Siska atas keretakan rumah tangga kami. Begitu kamu hadir di hiduplanku dua tahun lalu, Ibu panik. Beliau takut kejujuran itu muncul permukaan."

Kirana mundur satu langkah, melepaskan cengkeraman Aris di bahunya. Ia menyandarkan punggungnya pada tepi meja kerja. Hatinya teriris-iris. Rasa sakit karena dihina sebagai pengeruk harta selama dua tahun belum usai, dan kini ia harus menelan kenyataan bahwa dirinya hanyalah korban dari permainan kotor keluarga elit yang bernoda darah dan kepalsuan.

"Kenapa kamu tidak memberitahuku sejak awal, Mas?" tangis Kirana pecah dalam kepasrahan yang menyayat hati. "Kenapa kamu membiarkanku masuk ke dalam rumah tangga ini tanpa tahu bahwa aku sedang berjalan di atas ladang ranjau yang diciptakan oleh ibumu sendiri?!"

"Karena aku mencintaimu, Kirana!" seru Aris, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya yang tegas. "Dulu aku tidak tahu kamu adalah wanita yang sama dalam dokumen fitnah Ibuku! Aku baru menyadarinya enam bulan setelah kita menikah, saat aku membongkar brankas rahasia milik Almarhum Ayah! Begitu aku tahu... aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu. Aku melihat ketulusanmu merawat Leo dan Maya. Aku melihat bagaimana kamu bertahan menghadapi dinginnya rumah ini. Aku bersumpah akan melindungimu dari kebenaran yang mengerikan ini!"

"Tapi kenyataan tidak bisa disembunyikan dengan sumpah, Aris!" sela Kirana dengan nada tinggi, pertama kalinya ia memanggil nama suaminya tanpa imbuhan 'Mas', menunjukkan betapa hancurnya dinding emosi di dalam dadanya. "Sekarang Herlina menggunakan kasus ini untuk merebut Leo dan Maya! Beliau akan membingkai seolah-olah aku yang menyebabkan kematian ibu kandung mereka!"

Sebelum Aris sempat menjawab, pintu ruang kerja terdorong terbuka keras.

Pak Wijaya berdiri di sana dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat pasi bagai mayat.

"Bapak... Nyonya..." panggil Pak Wijaya dengan suara gemetar hebat. "Di luar... ada beberapa mobil dari Bareskrim Polri dan Tim Satuan Pelayanan Perlindungan Perempuan dan Anak."

Aris dan Kirana membeku.

"Atas perintah Pengadilan Agama dan laporan pidana darurat yang dimasukkan oleh Ibu Herlina Pratama," lanjut Pak Wijaya dengan mata berkaca-kaca, "mereka datang untuk melakukan eksekusi sementara atas hak asuh anak-anak... dan membawa Nyonya Kirana untuk pemeriksaan atas dugaan Keterlibatan dalam Kasus Kematian Siska Pratama delapan tahun lalu."

Suasana ruangan seketika berubah menjadi mimpi buruk yang nyata.

Kirana menatap Aris. Kebingungan, kepedihan, dan rasa takut berkecamuk dalam manik matanya. Namun, saat suara sirene kepolisian samar-samar terdengar dari pekarangan depan, Kirana menyapu air matanya.

Dua tahun perjuangan menembus dinginnya rumah tangga ini telah menempanya menjadi wanita yang tidak mudah ditundukkan oleh konspirasi sekeji apa pun. Jika pernikahan ini adalah sebuah medan pertempuran yang disulut oleh dendam dan fitnah masa lalu, maka ia tidak akan lari.

Kirana melangkah mendekati Aris, menatap lurus ke dalam mata suaminya yang dipenuhi penyesalan.

"Mas Aris..." panggil Kirana kembali dengan nada dingin, teguh, dan sarat wibawa. "Dengarkan aku baik-baik. Jangan biarkan mereka menyentuh Leo dan Maya. Amankan anak-anak di kamar atas. Bawa tim hukum terbaikmu ke kantor polisi."

"Kirana, aku tidak akan membiarkanmu dibawa oleh mereka!" tegas Aris, mencoba menarik tangan istrinya.

Kirana menahan dada Aris dengan telapak tangannya, menatap suaminya dengan keagungan seorang ratu yang siap bertarung di garis depan.

"Biarkan mereka membawaku malam ini, Mas," bisik Kirana tajam. "Herlina pikir dia bisa menghancurkanku dengan mengungkit bayang-bayang Almarhumah Mbak Siska. Tapi dia lupa... begitu kebenaran ini dibawa ke bawah pendar hukum yang terang, bukan aku yang akan masuk ke penjara... melainkan ibumu sendiri yang akan membayar setiap tetes air mata yang mengucur di rumah ini!"

Dengan kepala terangkat tinggi dan langkah kaki yang mantap, Kirana memutar tubuhnya dan berjalan keluar dari ruang kerja, menyongsong badai terbesar dalam hidupnya—sebuah pertarungan hukum dan kehormatan demi membela ketulusan cinta seorang ibu tiri di atas puing-puing kebohongan masa lalu.

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!