Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kepulangan
Hujan turun deras saat taksi itu berhenti di depan rumah lama bercat putih yang kini terlihat kusam dimakan waktu. Kirana menatap rumah itu lewat kaca jendela yang basah, ragu untuk turun.
Delapan tahun. Sudah delapan tahun sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di sini.
"Mbak, sudah sampai," ujar sopir taksi mengingatkan.
Kirana menghela napas panjang, membayar ongkos, lalu melangkah keluar dengan payung yang buru-buru ia buka. Kakinya terasa berat menyusuri jalan setapak menuju pintu rumah yang catnya mulai mengelupas di beberapa bagian. Ia berhenti sejenak di depan pintu, tangannya terangkat untuk mengetuk, tapi ragu.
Bagaimana kalau Ibu masih marah? Bagaimana kalau pintu itu tak pernah dibuka untuknya lagi?
Sebelum keraguannya semakin membesar, pintu itu terbuka lebih dulu. Seorang wanita paruh baya berdiri di sana, wajahnya menua namun matanya masih setajam yang Kirana ingat. Selama beberapa detik, tak ada yang bicara. Hanya suara hujan yang mengisi kesunyian di antara mereka.
"Kamu pulang," suara Ibu terdengar datar, entah itu pertanyaan atau pernyataan.
"Iya, Bu." Kirana menahan getar di suaranya. "Aku... aku dapat kabar dari Mbak Sari. Tentang Bapak."
Mata Ibu berkaca-kaca, tapi wanita itu buru-buru menyeka dengan punggung tangannya, seolah air mata adalah sesuatu yang memalukan untuk ditunjukkan. "Bapakmu di rumah sakit. Kondisinya... tidak baik."
Kirana merasa dadanya sesak. Delapan tahun ia pergi tanpa sekali pun menghubungi rumah, dan sekarang ia pulang justru saat ayahnya sedang berjuang antara hidup dan mati.
"Boleh aku masuk?" tanya Kirana pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh derasnya hujan.
Ibu menatapnya lama, seperti sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar mengizinkan anaknya masuk ke rumah. Lalu, dengan berat hati, ia melangkah mundur, memberi jalan.
"Masuklah. Kamu basah kuyup."
Kirana melangkah masuk, dan bau rumah yang familiar langsung menyergap indranya—aroma kayu tua bercampur wangi kopi yang selalu diseduh Bapak setiap pagi. Ada begitu banyak kenangan yang tersimpan di setiap sudut ruangan ini. Kenangan yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.
Di ruang tamu, ia melihat foto keluarga yang masih terpajang di dinding—foto terakhir sebelum semuanya berantakan. Foto saat mereka masih utuh, sebelum pertengkaran itu, sebelum kata-kata yang tak bisa ditarik kembali, sebelum ia memutuskan pergi dan tak pernah menoleh ke belakang.
"Kenapa baru sekarang kamu pulang?" Suara Ibu memecah lamunannya, kali ini dengan nada yang lebih tajam. "Delapan tahun, Kirana. Delapan tahun kamu diam saja. Bapakmu selalu bertanya kabarmu setiap hari, dan kamu—"
"Aku tahu, Bu." Kirana memotong, suaranya bergetar menahan tangis. "Aku tahu aku salah. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Setiap kali aku mau menghubungi, aku selalu ingat kata-kata terakhir Bapak waktu itu, dan aku—aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau kalian sudah tidak mau menerimaku lagi."
Hening. Hujan di luar semakin deras, seperti mengiringi kesedihan yang tak terucapkan di antara ibu dan anak yang telah lama berjarak. Ibu menatap Kirana lekat-lekat, dan untuk pertama kalinya sejak pintu itu terbuka, Kirana melihat sesuatu yang lain di mata ibunya—bukan hanya kemarahan, tapi juga rindu yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.
"Kamu anakku," kata Ibu akhirnya, suaranya melembut. "Sejauh apa pun kamu pergi, itu tidak akan pernah berubah."
Air mata yang sejak tadi ditahan Kirana akhirnya jatuh juga. Ia melangkah maju dan memeluk ibunya—pelukan pertama setelah delapan tahun yang terasa begitu asing sekaligus begitu familiar.
"Maafkan aku, Bu," bisiknya di sela isak tangis. "Maafkan aku."
Ibu membalas pelukan itu, erat, seolah takut kehilangan anaknya sekali lagi. "Kita bicarakan semuanya nanti. Sekarang, kita harus ke rumah sakit. Bapakmu... Bapakmu perlu melihatmu."
Kirana mengangguk, menyeka air matanya. Di luar, hujan masih turun deras, tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, ia merasa ada secercah harapan di tengah derasnya hujan itu—harapan bahwa mungkin, masih ada waktu untuk memperbaiki apa yang telah rusak.
Namun ia tidak tahu, bahwa di rumah sakit, kejutan yang jauh lebih besar sedang menantinya. Kejutan yang akan mengubah segalanya.