Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 23
“Anne, lihat. Ini Anne dan ibu, ini aku,” ucap Damar terbata-terbata sambil mengangkat kertas bergambar dua wanita dengan kebaya merah maroon dan pria tengah memegang cangkul di sawah.
“Gambar mu bagus, kau punya bakat sepertinya,” puji Anne membuat Damar tersipu seketika.
Pemuda dengan keterbelakangan mental, namun mampu berpikir layaknya orang normal itu menggenggam tangan Anne, mata polosnya berbinar penuh harap. “Anne harus kuat, orang-orang jahat dengan ibu harus dihukum. A-aku bisa bantu Anne, i-ibu orang baik, sayang kita, sayang nenek.”
Sudut bibir Anne terangkat tipis, satu tangan menepuk pelan pucuk kepala Damar. “Kowe nguping pembicaraan ku dengan nenek tua, ya?”
“H-hanya sedikit, Anne. Tid-dak sengaja. M-maaf,” kilah Damar dengan suara tergagap, air muka nya berubah murung.
Melihat perubahan wajah sang kakak, Anne terbahak kecil sebelum ikut duduk pada bangku plastik. “Menggambarlah yang banyak, nanti aku jualkan hasil lukisanmu ke pelabuhan-pelabuhan. Mana tau ada kolektor yang tertarik.”
Ia kemudian menghela napas berat, tatapannya nanar pada wajah Damar. “Kenapa kowe harus terlahir seperti ini? Harusnya kowe bisa membantu aku menyelesaikan pekerjaan ini, atau bisa jadi kowe sama seperti pemuda bodoh itu. Datang-datang ingin mengambil harta yang di katakan miliknya. Warisan?”
“Cih!” Ia berdecih kasar, sorot matanya mengeras, wajah ayu alami menyeringai ngeri. “Tua bangka itu benar-benar tak berguna. Mati pun masih menyusahkan. Meninggalkan anak tak berdosa dengan kesakitan, kini datang lagi pemuda bodoh. Parahnya dia datang bersama orang-orang serakah. Tak tau malu.”
“Ndoro Ayu, jika Ndoro membutuhkan orang untuk membongkar masa lalu mereka, nenek bersedia. Nenek akan mengatakan pada seluruh penduduk desa siapa Marni dan Kasman sebenarnya,” ucap Maesaroh, suaranya terdengar bergetar.
“Tak perlu, Nek, aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Mereka pikir sedang menghadapi ibu yang hanya diam ketika difitnah dan disudutkan, cih …,” Anne menjeda ucapannya, tatapannya terlempar jauh pada barisan pohon palem yang menguning terbias lampu taman. “Orang-orang dari masa lalu itu masih merasa hidupnya di masa lalu, maka akan aku seret mereka ke masa depan. Akan aku buka mata mereka agar bisa melihat kenyataan yang ada. Aku Anne, tak kan pernah gentar, apalagi mereka sudah mengusik ibuku. Sulastri.”
Maesaroh mengusap air mata tiba-tiba menetes di pipi, tangan dengan kulit kendor dan urat menonjol mengusap surai hitam Anne yang sebagian keluar dari gelungan.
“Nenek hanya bisa berdoa. Semoga Ndoro ayu selalu di beri keselamatan, jauh dari marabahaya. Andai raga nenek masih kuat, nenek yang akan maju paling depan untuk menghukum mereka, terutama Kasman. Laki-laki itu memperdaya Amina, menjadikannya alat untuk menimbun kekayaan yang di keruk dari juragan-juragan kaya, terakhir bapakmu korbannya,” ujarnya membuka satu fakta lama.
“Tapi, siapa sebenarnya Kasman itu, Nek? Mengapa ia begitu berambisi memiliki semua kekayaan yang ada di Joglo Punjer. Apa memang ada hak dia yang diambil oleh biyung Rasmi dan Sasmitro?” tanya Anne.
“Nenek kurang paham kalau masalah itu, yang nenek tahu hanya Kasman sudah bekerja di joglo punjer sejak bapakmu belum ada, itu pun nenek tau dari hasil mencuri dengar obrolannya dengan Amina,” jawab Maesaroh.
“Persetan lah dengan masalalu tak jelas itu, mereka yang memulai kerumitan ini, jadi biarkan saja mereka mati terlilit simpulnya sendiri,” balas Anne.
Obrolan itu pun terhenti dengan kehadiran madam Helena, wanita berparas layaknya bangsawan Eropa itu datang membawa nampan berisi teh dan beberapa camilan khas Negeri Belanda.
“Juffrouw, minumlah teh dulu, lalu bermainlah dengan anak-anak sebentar. Mereka sepertinya tak sabar menunggu kau kembali menghampiri,” ucap madam Helena, sedari tadi ia memperhatikan Anne dan Maesaroh. Meski tak bisa mendengar obrolan mereka, namun ia paham, masalah pelik telah menimpa gadis pribumi kesayangannya itu.
“Aku akan mandi sebentar, Madam. Katakan pada mereka untuk berkumpul di sini setelah makan malam,” sahut Anne seraya meneguk teh masih mengepulkan uap tipis ke udara.
Langit telah berganti gelap saat suara riang anak-anak dan beberapa orang tua mengisi ruang terbuka di bagian tengah panti werdha. Mereka bermain permainan tradisional— Cublak-cublak suweng, di mana satu orang menunduk sedang lainnya duduk mengelilingi sambil bernyanyi dengan batu kecil berada di salah satu tangan pemain.
Nantinya orang yang menunduk harus menebak, di tangan siapa batu itu di sembunyikan. Jika tertebak, ia boleh ikut bernyanyi sedang pemegang batu berganti menunduk dan menjadi penebak. (mohon koreksi jika ada kesalahan dalam mendeskripsikan, author juga agak lupa 😩)
Malam kian larut, anak-anak bersiap tidur sambil mendengar Anne membacakan dongeng, hal yang selalu mereka nantikan jika gadis yang mereka anggap seperti kakak itu datang berkunjung.
Di tempat yang berbeda, pecahan piring keramik bercecer di lantai marmer, meja kursi tak berada pada tempatnya sebagian terbalik dengan kaki di atas.
Di bawah pedar lampu yang menggantung, Maria mengeratkan cengkraman pada baju laki-laki berkulit hitam mengkilat.
“Cari tau yang jelas. Jangan sampai terlewat sedikitpun, kalau perlu hadang semua kendaraan yang lewat, pastikan ada Hans dan Anne di dalamnya!” titahnya.
Rusli—si pria berkulit hitam mengkilat, terbatuk kecil begitu tubuhnya di hempaskan ke lantai dingin. Sudah sejak siang ia di tugaskan berjaga di gerbang masuk desa, mencari tau apakah ketua tani yang di curigai tengah memadu kasih di kota bersama Hans William sudah kembali ke desa.
“S-saya sudah memperhatikan tiap kendaraan, Non. Tapi, tak satupun ada milik mereka.” takut-takut Rusli menjawab. Pria telah setahun menjadi mata-mata untuk Maria itu paham benar bagaimana tabiat sang juragan jika sedang mengamuk.
Baru saja Rusli hendak memberi alasan lagi, ayunan tongkat golf menghantam punggung hingga ia kembali terjerembab pada lantai dingin.
“Aku tak mau mendengar alasan. Cepet pergi ke perbatasan dan pastikan gadis murahan itu telah kembali ke desa. Cepat!” bentak Maria sambil mengayunkan tongkat golf di tangan.
Tak lagi menjawab titah sang juragan, Rusli buru-buru merangkak keluar ruangan, lalu lari tunggang langgang.
“Marni!” lanjut Maria berteriak memanggil pembantu rumah tangganya. “Mana kusir dokar tua, juga anakmu yang bodoh itu?!”
Dua orang yang baru di sebut namanya masuk ke dalam ruangan, berdiri mematung di hadapan gadis tak sengaja mereka temui saat Marni baru bekerja satu minggu di rumah itu. Sama seperti malam ini, Maria sedang mengamuk sambil menyebut nama Anne dengan umpatan tajam.
Marni yang sebelumnya telah diberi tahu nama anak Sulastri oleh Kasman, memanfaatkan hal itu dengan memberi simpati, lalu mulai menceritakan kebohongan-kebohongan serta dendam telah tertanam. Maria yang terbiasa menuruti emosi dalam hati, menelan mentah-mentah, ambisi dalam hati kian membara merasa mendapat sekutu yang tepat.
Bersama tiga orang baru seminggu di kenalnya, ia menyusun rencana, menyerang pertanian yang menjadi titik kebanggan Anne sebelum menjatuhkan gadis itu, namun yang tak Maria tahu, satu di antara tiga orang itu juga menyimpan dendam pribadi padanya.
.
.
.
“Di bayar piro kowe karo londo kae?”
Bersambung
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria