NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Setelah jam perkuliahan selesai, Jeffry menunggu Puja di dekat parkiran sesuai janji mereka.

Begitu melihat sosok istrinya berjalan mendekat, Jeffry membukakan pintu mobil dengan senyuman hangat.

Puja masuk dan mendaratkan tubuhnya di kursi penumpang, napasnya terdengar sedikit lelah setelah seharian mengikuti jadwal kuliah yang padat.

Jeffry melajukan mobilnya membelah keramaian jalanan kota.

Namun, alih-alih mengambil jalur menuju rumah mereka, Jeffry justru berbelok ke arah rute yang sangat dihafal oleh Puja.

"Mas, ini kan jalan ke rumah Abi?" tanya Puja kaget, menoleh ke arah suaminya.

"Iya, Dek. Sore ini kita mampir ke rumah Abi dan Umi Mina dulu, ya," jawab Jeffry lembut sambil tetap fokus menatap jalanan di depannya.

Wajah Puja seketika berubah muram. Kerutan di dahinya memperjelas rasa ketidaksukaan yang mendalam. Ia menyandarkan punggungnya, lalu membuang muka menatap ke luar jendela.

"Aku nggak mau, Mas. Kita pulang ke rumah kita saja," tolak Puja dingin.

"Kenapa, Dek? Sudah lama kan kamu tidak berkunjung dan bersilaturahmi dengan Abi?"

Puja menghela napas berat, amarah dan luka lama yang sempat terkubur kini muncul kembali ke permukaan.

"Mas lupa? Dulu Abi yang paling keras melarang aku kuliah hanya karena aku harus menikah sama Mas. Abi bahkan lebih mendengarkan kata-kata Umi Mina—ibu tiri yang selama ini selalu memojokkan aku—daripada mendengarkan impian anak kandungnya sendiri. Aku masih kecewa, Mas. Hati aku masih sakit kalau mengingat bagaimana mereka memperlakukan aku dulu."

Mendengar luapan perasaan istrinya, Jeffry perlahan melambatkan laju kendaraan, lalu menepikan mobilnya di bahu jalan yang teduh di bawah rindangnya pohon.

Ia mematikan mesin, memutar posisi duduknya menghadap Puja, lalu meraih kedua jemari tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat dan hangat.

"Dek, dengarkan Mas baik-baik ya," ucap Jeffry dengan suara baritonnya yang sangat tenang, lembut, namun sarat akan ketegasan dan wibawa.

Puja masih menunduk, namun ia tidak menarik tangannya dari genggaman Jeffry.

"Mas tahu betul bagaimana sakitnya perasaanmu saat impian besar yang kamu perjuangkan harus terhalang oleh keputusan orang tua. Mas tahu kamu merasa tidak adil, merasa diabaikan, apalagi dengan keberadaan Umi Mina di sana. Perasaan kecewa dan sakit hati itu sangat wajar, Dek. Mas tidak melarangmu merasa terluka."

Jeffry mengelus punggung tangan Puja dengan ibu jarinya sebelum melanjutkan.

"Tapi, Dek... bagaimanapun kerasnya sikap Abi dulu, beliau tetaplah ayah kandungmu. Beliau adalah pria yang menjadi perantara kehadiranmu di dunia ini, yang darahnya mengalir di tubuhmu. Ridho Allah atas kehidupan kita, atas rumah tangga kita, dan atas kelancaran kuliahmu saat ini, sangat bergantung pada ridho kedua orang tuamu. Surga seorang anak perempuan memang berpindah kepada suaminya setelah menikah, tapi bakti dan kepatuhanmu kepada orang tua tidak pernah terputus."

Puja menelan ludahnya, matanya mulai berkaca-kaca mendengar nasihat suaminya.

"Mungkin cara Abi dulu salah dalam menyampaikan keinginannya, mungkin Umi Mina punya sifat yang kurang berkenan di hatimu. Tapi jika kamu terus memelihara kebencian dan rasa kecewa ini, yang rugi adalah dirimu sendiri, Dek. Hatimu tidak akan pernah tenang, dan langkahmu menuntut ilmu tidak akan mendapatkan keberkahan yang sempurna."

Jeffry mengangkat wajah Puja pelan-pelan agar mata mereka saling bertatap.

"Mas sekarang ada di sampingmu. Mas yang dulu dijadikan alasan Abi untuk melarangmu, justru sekarang yang berdiri paling depan mendukung semua impianmu, bukan? Lihat dirimu hari ini, kamu sudah bisa kuliah, kamu berprestasi, dan kamu punya masa depan yang cerah. Bukankah ini saatnya untuk menunjukkan kepada Abi dan Umi Mina bahwa kamu adalah anak yang berbakti dan mulia? Balaslah sikap dingin mereka dulu dengan kelembutanmu sekarang."

Nasihat yang begitu panjang, bijak, dan tulus dari Jeffry itu meresap perlahan ke dalam relung hati Puja.

Dinding pertahanan dan gengsi yang selama ini dibangung Puja runtuh seketika. Air mata keharuan menetes di pipinya.

"Maafkan aku, Mas..." bisik Puja lirih sambil mengusap air matanya.

Jeffry tersenyum hangat, lalu menghapus sisa air mata di pipi istrinya dengan lembut.

"Jadi, bagaimana? Kita tetap berangkat ke rumah Abi sekarang?"

Puja menarik napas panjang, lalu menganggukkan kepalanya pelan.

Sisa-sisa keraguan di hatinya perlahan mencair setelah mendengar ketulusan dan kebijaksanaan sang suami.

"Iya, Mas... kita ke sana," jawab Puja dengan suara yang kini jauh lebih tenang. Ia lalu tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana.

"Tapi, kita beli nasi goreng langganan di dekat perempatan dulu ya, Mas. Buat Abi."

Jeffry menaikkan sebelah alisnya, sedikit geli dengan pengecualian yang diajukan istrinya.

"Abi saja? Umi tidak dibelikan sekalian?"

"Tidak usah," jawab Puja cepat dengan nada ketus yang dibuat-buat, melipat tangannya di dada.

Jeffry terkekeh pelan. "Dek... tidak boleh begitu."

Puja mendengus kecil, meski akhirnya ia mengalah dengan senyuman jengkel yang menggemaskan.

"Iya... iya... Umi juga dibelikan."

Melihat perubahan sikap istrinya yang kini jauh lebih lapang dada, Jeffry merasa sangat lega.

Ia kembali menghidupkan mesin mobil dan melajukannya menuju kedai nasi goreng favorit Puja, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan bersilaturahmi ke rumah orang tua Puja dengan hati yang damai.

Bau harum nasi goreng bumbu rempah yang terbungkus rapi di bangku tengah mobil seolah menjadi pengantar ketenangan di antara mereka.

Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu keluar dari hiruk-pikuk kota menuju pedesaan tempat tinggal orang tua Puja, Jeffry memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah yang sederhana namun asri itu.

Jeffry mematikan mesin, lalu menoleh dan melempar senyuman menenangkan kepada istrinya.

"Yuk, Dek. Kita masuk," ajaknya sambil merapikan pakaiannya.

Puja menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara desa yang segar mengisi paru-parunya sekaligus menetralisir sisa-sisa gemetar di dadanya.

Ia mengangguk pelan, lalu membuka pintu mobil dan melangkah turun menyusul suaminya.

Begitu tiba di teras, Jeffry mengetuk pintu kayu rumah tersebut sambil melafalkan salam.

Tidak butuh waktu lama, suara langkah kaki terdengar dari dalam.

Daun pintu terbuka, memperlihatkan sosok pria paruh baya yang rambutnya kini telah banyak memutih.

"Waalaikumsalam..." jawab Abi Ahmad terbata, sesaat sebelum matanya terbuka lebar karena terkejut luar biasa.

Pria tua itu mematung di ambang pintu, menatap tidak percaya pada dua sosok yang berdiri berdampingan di depannya.

Di sana, putri kandungnya—Puja—berdiri dengan senyuman tulus, didampingi oleh menantunya, Jeffry, yang merangkul bahu sang istri dengan penuh kehangatan.

"Puja...?" panggil Abi Ahmad lirih, suaranya bergetar menahan haru yang mendadak membuncah di dadanya.

Mendengar panggilan itu, pertahanan terakhir Puja runtuh.

Air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah seketika.

Tanpa memedulikan gengsi atau luka lama, ia langsung menerjang maju dan memeluk tubuh sang ayah erat-erat.

"Abi..." isak Puja di pelukan ayahnya, menumpahkan segala rindu, sesak, dan rasa maaf yang berkecamuk di hatinya.

Abi Ahmad langsung membalas pelukan putrinya dengan sama eratnya.

Air mata tua mengalir di pipi pria paruh baya itu. Ia mendekap Puja seolah takut putrinya akan kembali menjauh.

Kesalahan masa lalu dan kekerasan hatinya seakan dilebur seketika oleh kehangatan pelukan sang buah hati.

Di tengah momen haru tersebut, pintu kamar mandi di bagian belakang terbuka.

Umi Mina, ibu tiri Puja, melangkah keluar sambil mengeringkan tangannya dengan sehelai handuk kecil.

Matanya membelalak kaget melihat siapa yang datang, namun alih-alih melunak, bibirnya langsung melengkung sinis.

"Umi kira setelah menikah dan punya suami dosen, kamu sudah lupa sama jalan pulang ke rumah ini, Puja," sindir Umi Mina tajam, mencoba merusak suasana yang mulai mencair.

Mendengar ucapan itu, Abi Ahmad langsung melepas pelukannya perlahan.

Ia menoleh ke arah istrinya dengan tatapan yang tidak biasa—tatapan tajam penuh ketegasan yang jarang sekali ditunjukkannya selama ini.

"Umi, jaga ucapanmu. Umi tidak pantas bicara seperti itu pada anak kandung saya!" tegur Abi Ahmad dengan suara parau namun tegas.

Umi Mina tertegun, mendadak terdiam mendapati suaminya berani membela Puja secara terang-terangan di hadapan orang lain.

Puja, yang melihat perubahan sikap sang ayah yang kini mulai berani menegur Umi Mina demi melindunginya, merasa hatinya jauh lebih ringan.

Rasa sakit dan dendam yang sempat bersarang di dadanya lenyap tak bersisa, digantikan oleh rasa syukur yang mendalam atas kehadiran Jeffry yang membuka jalan perdamaian ini.

Puja menyeka air matanya, lalu tersenyum manis sambil mengangkat bungkusan plastik di tangannya.

"Abi, tadi di jalan kami mampir dulu. Ini ada nasi goreng kesukaan Abi. Sini, aku suapin ya?" tawarnya dengan nada manja seperti anak kecil dulu.

Abi Ahmad tertawa kecil, suara tawa yang sarat akan kelegaan dan kebahagiaan.

Ia menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap putrinya penuh cinta.

"Duh, ada-ada saja kamu ini, Nduk.. Abi bukan anak kecil lagi, masih mau disuapin," ucap Abi Ahmad lembut, meski matanya berkaca-kaca karena terharu melihat kepedulian putrinya.

Jeffry yang berdiri di samping Puja ikut tersenyum hangat, menyaksikan kehangatan keluarga kecil itu yang akhirnya menemukan jalan pulang menuju kebahagiaan sejati.

1
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!