Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Impian dibawah lampu lapangan
Beberapa hari setelah motor Zia selesai diperbaiki, Baska mengajak gadis tersebut untuk sekadar duduk santai di bangku penonton Sport Padel setelah jam kerja Zia berakhir, sebuah kesempatan langka mengingat biasanya mereka hanya berinteraksi singkat di sela-sela kesibukan masing-masing. Malam itu, lapangan padel yang biasanya ramai mulai sepi, hanya disinari lampu sorot yang menciptakan suasana tenang dan intim bagi mereka berdua.
"Makasih ya, Mas, udah bantuin urus motor saya. Beneran ngerepotin banget deh kayaknya," ujar Zia sambil duduk di samping Baska, menikmati angin malam yang berembus sejuk di lapangan terbuka tersebut.
"Nggak ngerepotin sama sekali, Mbak. Saya malah seneng bisa bantu," jawab Baska dengan tulus, menikmati momen kebersamaan sederhana tersebut yang terasa begitu berbeda dari interaksi singkat mereka biasanya di meja resepsionis.
Percakapan tersebut perlahan berkembang menjadi obrolan yang lebih mendalam, membahas berbagai hal mengenai kehidupan masing-masing yang belum pernah mereka bicarakan secara detail sebelumnya. "Mbak Zia, kalau boleh tau, kenapa milih kerja di sini? Padahal kayaknya Mbak Zia orangnya pinter, bisa aja kerja kantoran," tanya Baska penasaran, ingin mengenal lebih dalam latar belakang gadis tersebut.
"Sebenarnya aku suka banget interaksi sama orang, Mas. Kerja di sini bikin aku ketemu banyak macam orang, dengerin cerita mereka, kadang malah jadi kayak psikolog dadakan," jawab Zia sambil tertawa kecil, menjelaskan alasan sederhana namun tulus di balik pilihan kariernya tersebut.
"Terus, ada nggak sih mimpi yang pengen Mbak Zia capai ke depannya?" lanjut Baska, penasaran mengenai rencana masa depan gadis tersebut.
Zia terdiam sejenak, mempertimbangkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang cukup personal tersebut. "Aku pengen suatu hari bisa buka semacam komunitas olahraga buat anak-anak yang kurang mampu, Mas. Biar mereka juga bisa ngerasain manfaat olahraga tanpa harus mikirin biaya mahal."
Jawaban tersebut membuat Baska terdiam, merasakan kekaguman yang mendalam terhadap idealisme sederhana namun begitu bermakna yang dimiliki Zia tersebut. "Itu mimpi yang keren banget, Mbak. Saya yakin, kalau Mbak Zia beneran wujudin itu, bakal banyak banget anak-anak yang terbantu."
"Kalau Mas Baska sendiri, ada mimpi apa yang pengen dicapai?" tanya Zia balik, penasaran mengenai rencana masa depan pemuda yang belakangan semakin sering menghabiskan waktu bersamanya tersebut.
Baska tersenyum kecil, merenungi pertanyaan tersebut dengan serius. "Jujur aja, Mbak, dulu saya nggak pernah mikirin mimpi besar apa-apa. Hidup saya cuma kantor-rumah doang, nggak ada tujuan yang jelas. Tapi belakangan ini, entah kenapa, saya jadi kepikiran pengen punya hidup yang lebih berarti, nggak cuma sekadar rutinitas biasa."
"Itu perubahan yang bagus banget, Mas," ujar Zia dengan senyum tulus, merasakan kebahagiaan tersendiri menyadari bahwa mungkin dirinya turut berperan dalam perubahan positif yang dialami Baska tersebut.
"Iya, dan saya rasa, perubahan itu banyak berkat Mbak Zia," ujar Baska dengan suara yang sedikit lebih pelan, mengungkapkan pengakuan yang selama ini belum berani dia sampaikan secara terbuka.
Kata-kata tersebut membuat jantung Zia berdebar kencang, menyadari arah pembicaraan yang mulai mengarah pada sesuatu yang lebih personal dari sekadar obrolan biasa. "Maksudnya gimana, Mas?"
Baska menatap Zia dengan penuh ketulusan, mengumpulkan keberanian yang selama ini dia butuhkan untuk mengungkapkan perasaannya tersebut, meski pada akhirnya dia memutuskan untuk menahan diri sedikit lebih lama, tidak ingin terburu-buru merusak momen indah tersebut dengan pengakuan yang mungkin belum sepenuhnya siap dia sampaikan. "Nanti deh, Mbak, saya certain kalau udah waktunya yang tepat."
Zia mengangguk pelan, menghormati keputusan Baska tersebut meski rasa penasaran mulai tumbuh dalam dirinya mengenai apa sebenarnya yang ingin disampaikan pemuda tersebut, sebuah rasa penasaran yang menandai semakin dekatnya momen pengakuan perasaan yang telah lama mereka berdua rasakan namun belum berani diungkapkan secara terbuka tersebut.
Malam semakin larut, dan angin yang berembus mulai terasa sedikit lebih dingin, membuat Zia tanpa sadar merapatkan jaketnya. Baska, yang menyadari hal tersebut, segera menawarkan jaketnya sendiri. "Mbak, pake jaket saya aja, kayaknya Mbak Zia kedinginan."
"Nggak usah, Mas, nanti Mas Baska yang kedinginan," tolak Zia dengan sopan, meski dalam hatinya dia merasa tersentuh dengan perhatian kecil tersebut.
"Nggak apa-apa, saya masih kuat kok," jawab Baska sambil tetap menyerahkan jaket tersebut, memaksa dengan lembut hingga akhirnya Zia menerimanya dengan senyum malu-malu.
Mereka berdua duduk dalam keheningan yang nyaman selama beberapa saat, menikmati suasana malam tersebut sebelum akhirnya Zia teringat bahwa dia harus segera pulang mengingat besok masih harus bekerja pagi-pagi. "Mas, saya pulang duluan ya, udah malem juga."
"Oke, Mbak, hati-hati di jalan," jawab Baska sambil mengantar Zia hingga ke motornya, menyaksikan gadis tersebut pergi dengan perasaan hangat yang terus dia bawa sepanjang perjalanan pulangnya sendiri malam itu.