AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Tak terasa jam pulang sekolah telah datang. bel terakhir berbunyi panjang, membuat sorak-sorai dari para murid.
Pintu-pintu kelas terbuka, dan ratusan siswa yang berlarian keluar menuju gerbang utama dan area parkiran.
Al dan Saka berjalan santai di antara para kerumunan siswa.
Sambil menyandang tas ransel di salah satu bahu, keduanya terlibat obrolan seru, diselingi tawa dan candaan khas remaja laki-laki.
"Ah, lu mah payah! Taruhan sama aku, pekan depan tim jagoan kamu pasti kalah telak," ledek Saka sambil menyenggol bahu Al jenaka.
Al terkekeh, menggelengkan kepala. "Kalah telak? Sori, ya. Strategi mereka kemarin menggiring bola cuma kurang beruntung aja. Lihat aja nanti, aku yang bakal ketawa paling keras."
Tawa Al mendadak berhenti melihat parkiran motor bagian belakang.
Ia berjalan cepat lalu berhenti di depan motor sport hitam kesayangannya.
"Al? Kenapa berhenti?" tanya Saka bingung.
Ia mengikuti arah pandang sahabatnya. Begitu matanya menangkap kondisi motor Al, mulut Saka langsung mengang.
Di atas bodi motor. Ada goresan-goresan panjang, dalam, dan acak-acakan di sepanjang tangki hingga bodi samping. Sepertinya, motor itu telah dirusak dengan sengaja menggunakan benda tajam seperti paku atau kunci oleh oknum siswa yang tidak bertanggung jawab.
"Hm... berani sekali mereka merusak motorku yang berharga! Aku harus tahu pelakunya!" kata Al geram.
Saka maju beberapa langkah, membungkuk untuk memeriksa kerusakan tersebut dengan wajah ngeri.
"Ya ampun Al, kenapa motormu ada goresan-goresan besar begini? Ya ampun, mana goresannya besar-besar lagi. Ini sih sengaja banget, Al! Bukan baret halus karena kesenggol!" kata Saka sambil mengelengkan kepalanya.
"Ini jelas disengaja," desis Al.
Ia melihat ke sekeliling parkiran yang masih ramai, mencoba mencari gerak-gerik siswa yang mencurigakan. Namun, semua orang tampak sibuk dengan urusan masing-masing.
"Siapa kira-kira yang punya masalah sama kau, Mir? Anak kelas sebelah? Atau... gengnya si Ari? Goresan ini dalam banget, Al. Kalau mau benerin ke bengkel variasi, bisa abis banyak uang ini," kata Saka dengan wajahnya cemas.
"Hm... sepertinya siswa itu harus diberi pelajaran, aku tidak akan melepaskannya!" kata Al dengan nada dingin yang mengancam.
"Terus sekarang kita harus gimana? Mau lapor ke guru piket?" tanya Saka, mencoba mencari jalan keluar yang aman.
"Enggak perlu," jawab Al cepat.
Tatapannya tertuju pada sebuah sudut di atas tiang beton dekat kantin. Sebuah kamera CCTV yang ada di sana, mengarah ke area parkiran.
Sebuah senyum miring tersungging di bibir Al. "Aku akan cari tahu sendiri siapa pengecut yang main belakang begini. Begitu aku dapet namanya, dia bakal tahu apa akibatnya kalau cari masalah dengan ku."
"Al, lu beneran gak mau lapor?" Saka memastikan sekali lagi, wajahnya masih tampak cemas melihat bodi motor Al yang hancur.
Al ingat jika ia punya rumah baru, dari pada mecari tahu siapa yang mengirim motornya terlebih dahulu, ia harus pergi cek rumah barunya.
"Enggak usah sekarang, Saka. Aku ada urusan mendesak yang gak bisa ditunda. Soal motor ini... biar si pengecut itu senang dulu hari ini," kata Al sambil menghidupkan mesin motornya.
"Urusan apa sih? Gak biasanya kamu se-santai ini kalau barang lu diganggu," seloroh Saka bingung.
"Urusan masa depan, Bro. Aku duluan ya!"
Tanpa menunggu balasan Saka, Amirul langsung menarik gas, melaju antara para siswa yang mulai lengang dan keluar dari gerbang sekolah.
Saka hanya mengangkat bahunya, ia pun naik ke atas motor matic-nya dan keluar dari gerbang sekolah.