NovelToon NovelToon
Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8.

Pintu ruangan rapat menutup perlahan.

Suasana yang beberapa menit lalu dipenuhi perdebatan kini berubah sunyi. Satu per satu peserta meninggalkan ruangan dengan membawa map masing-masing. Enam pemilik bangunan akhirnya menerima penawaran dari Dhanubrata Group, hanya satu orang yang tetap bertahan pada pendiriannya. Bu Mirah.

Han Seokjin berdiri di depan jendela besar yang menghadap langsung ke kawasan Distrik Timur. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, sementara tatapannya lurus menatap deretan bangunan yang masih berdiri kokoh. Di antaranya terdapat sebuah ruko dua lantai yang kini ditempati Sweet Cake.

Keheningan berlangsung cukup lama. Asisten Kim memilih menunggu, ia tahu atasannya sedang berpikir.

Beberapa saat kemudian, Seokjin memecah keheningan. "Bagaimana menurutmu?"

Asisten Kim mengangkat kepala. "Beliau bukan sedang menawar harga, Tuan."

Seokjin tidak menoleh. "Aku tahu."

"Jika tujuannya uang, beliau sudah menyetujui penawaran kita sejak tadi," sahut Asisten Kim.

Selama pertemuan berlangsung, Bu Mirah sama sekali tidak menyinggung nominal uang pengganti. Wanita itu hanya menyampaikan alasan jika bangunan miliknya tengah disewa oleh wanita muda yang membuka toko di tempat itu. Bu Mirah baru akan melepas bangunan itu hanya jika si penyewa tidak memperpanjang kontrak sewanya.

Han Seokjin menghembuskan napas pelan. "Beliau hanya sedang mempertahankan prinsipnya, melindungi hak penyewa bangunan itu."

Asisten Kim terdiam beberapa saat. Tatapannya turun pada catatan di tabletnya dan ingatannya sejenak terlempar saat atasannya bertemu dengan penyewa bangunan itu. "Kalau begitu, bagaimana jika Tuan sendiri yang menemui penyewa itu?"

Seokjin menoleh. "Viola?"

"Benar." Asisten Kim mengangguk. "Jika Tuan menjelaskan langsung mengenai proyek ini dan meminta kesediannya untuk tidak memperpanjang kontrak setelah masa sewanya berakhir, mungkin alasan Bu Mirah untuk mempertahankan bangunan itu bisa dipertimbangkan kembali."

Seokjin tidak langsung menjawab, ia kembali menghadap jendela. Tatapannya jatuh pada ruko yang terlihat kecil dari kejauhan, ia masih mengingat tempat itu dengan jelas. Bangunan sederhana dengan etalase kaca dan aroma kue yang mengoda. Namun, bagi Seokjin semua itu hanyalah bagian dari satu persoalan yang harus diselesaikan.

"Siapkan dokumen kontraknya," ucap Seokjin akhirnya.

Asisten Kim sedikit terkejut. "Tuan akan menemuinya?"

Han Seokjin tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya berjalan menuju meja, mengambil ponselnya lalu melangkah keluar.

****

Sore itu, sebuah mobil hitam berhenti di depan bangunan dua lantai Sweet Cake.

Seokjin turun perlahan. Namun, langkahnya terhenti begitu melihat keadaan toko.

Pintu depan tertutup rapat, lampu di dalam tidak menyala. Kursi-kursi area pelanggan tersusun rapi tanpa seorang pun duduk di sana. Tidak ada suara karyawan ataupun aroma kue yang biasanya memenuhi udara di balik pintu.

Seokjin berdiri beberapa saat di depan toko. Tatapannya menyapu seluruh bangunan. Sebuah papan kayu bertuliskan TUTUP memperjelas semuanya.

Meski begitu, Seokjin bukan orang yang terbiasa mengubah rencana hanya karena keadaan sedikit berbeda. Matanya perlahan terangkat. Lantai dua bangunan terlihat tenang, tirai salah satu jendela tertutup sebagian.

Seokjin menyipitkan mata, lalu mengalihkan pandangan pada tangga di sisi bangunan yang mengarah ke lantai dua. Tanpa banyak berpikir, ia berjalan ke sana dan menaiki tangga itu perlahan hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah pintu kayu di lantai dua.

Ia mengangkat tangan, mengetuk pintu itu. Namun, tak ada jawaban. Seokjin menunggu beberapa detik sebelum mengetuk sekali lagi.

Dari dalam terdengar langkah kaki, kunci diputar hingga akhirnya pintu terbuka.

Viola muncul di baliknya. Wanita itu tampak sedikit terkejut melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Namun, keterkejutan itu hanya bertahan sesaat. Wajahnya kembali tenang, seolah kedatangan Seokjin memang sudah ia duga sejak awal.

"Tuan Han?"

Seokjin mengangguk singkat. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

Viola memandangnya beberapa detik. Kemudian matanya turun sekilas pada pakaian pria itu yang masih tampak rapi, lalu kembali pada wajahnya. Ia menghela napas sebelum membuka pintu lebih lebar. "Baiklah. Kita bisa bicara di teras saja."

Seokjin mengangguk. Mereka berjalan menuju teras kecil yang berada di depan kamar. Viola menarik sebuah kursi untuk Seokjin, kemudian duduk di sebrangnya.

Jarak mereka tidak terlalu dekat. Di bawah sana, jalanan mulai ramai oleh kendaraan yang melintas. Dari kejauhan terdengar suara pedagang dan aktivitas warga yang perlahan memenuhi sore.

Viola menyandarkan tubuhnya. "Anda datang jauh-jauh ke sini tentu bukan untuk mencicipi cake ataupun kopi, bukan?" tanyanya. Nada suaranya tenang.

Seokjin menatapnya. "Sepertinya kau sudah tahu."

"Tidak semuanya." Ia tersenyum tipis. "Tapi saya tahu toko saya termasuk dalam bangunan yang menjadi target pembebasan lahan."

Tatapan Seokjin sedikit berubah. Bukan terkejut, tetapi lebih seperti memastikan sesuatu yang memang sudah ia perkirakan. "Apa pemilik bangunan sudah memberi tahu sebelumnya?"

"Sayangnya, tidak." Jawaban Viola singkat. Ia tidak menunjukkan kemarahan atau menyalahkan siapa pun. Hanya ada sedikit kekecewaan yang tersimpan di balik tatapan matanya.

"Saya baru tahu dari tetangga pagi tadi," lanjutnya pelan.

Seokjin terdiam. Angin sore bergerak melewati teras, mengibaskan beberapa helai rambut Viola.

"Aku datang untuk membicarakan hal ini."

"Anda ingin menawarkan sebuah kesepakatan?" Viola menatap lurus pria di hadapannya.

"Lebih tepatnya, menawarkan sebuah jalan keluar sebelum masalah ini menjadi semakin besar."

Viola tidak langsung menjawab, ia memandang pria di hadapannya dengan tatapan seorang mantan CEO yang terbiasa membaca maksud seseorang dari cara mereka berbicara. Seokjin jelas tidak datang untuk menekannya.

"Kalau begitu," ujar Viola pelan, "silakan sampaikan."

Tatapan tegas Seokjin menatap wajah teduh milik Viola. Meski begitu, wanita itu tampak tetap tenang tanpa sedikit pun merasa terintimidasi.

"Setelah kontrak sewamu berakhir, aku ingin kau mempertimbangkan untuk tidak memperpanjangnya." Seokjin berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

"Pihak kami sudah lama merencanakan pembangunan kawasan bisnis di wilayah ini. Namun, cukup terjegal dengan pembebasan tujuh bangunan dan lahan di sekitarnya."

Viola masih terdiam. Ia jelas pernah merasakan berada di posisi Seokjin, apalagi jika proyek yang sedang berjalan mengalami kendala.

Ia lalu mengangkat wajahnya. "Bagaimana dengan hasil pertemuan siang tadi?"

Dahi Seokjin sedikit mengernyit.

"Saya sempat mendengarnya dari warga sekitar sini. Dhanubrata Group mengirim undangan pertemuan untuk siang tadi," jelas Viola.

Seokjin menghela napas pelan. "Hasilnya, enam pemilik bangunan setuju untuk melepas tanah dan bangunan mereka," jawab Seokjin tenang.

Mengangguk kecil, Viola tidak langsung menyela. Dari nada suara pria itu, ia bisa menangkap bahwa hasil pertemuan tersebut belum benar-benar selesai.

"Lalu bagaimana dengan pemilik bangunan ini?" tanyanya tenang. "Apa beliau termasuk dalam enam orang yang setuju itu?"

"Beliau menolaknya," jawab Seokjin singkat.

Viola terdiam sejenak.

"Selama pertemuan, beliau sama sekali tidak membicarakan nominal uang pengganti. Beliau hanya mengatakan satu hal. Bangunannya sedang disewakan dan beliau tidak ingin membuat penyewanya kecewa," lanjut Seokjin.

Menundukkan pandangannya, kini Viola mengerti alasan Bu Mirah tidak mengatakan apa pun padanya.

Ada rasa hangat sekaligus sesak yang perlahan memenuhi dada Viola. Ia tidak menyangka, di tengah kepentingan bisnis sebesar itu, masih ada seseorang yang memilih mempertahankan sebuah bangunan hanya karena tidak ingin mengecewakan penyewanya.

"Beliau tidak pernah memberitahuku," ujar Viola pelan.

"Mungkin beliau tidak ingin membuatmu khawatir."

Viola tersenyum tipis. "Bu Mirah memang seperti itu."

Hening kembali memenuhi teras lantai dua. Angin sore bergerak pelan, mengibaskan ujung rambut Viola. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan yang sesekali melintas.

Seokjin tetap duduk dengan sikap tegak. Tidak ada sedikit pun perubahan pada wajahnya. Ia datang bukan untuk berbasa-basi, melainkan membawa kepentingan perusahaan dan sebuah solusi.

"Aku tahu, mungkin ini terdengar egois. Tapi aku yakin ... Sebagai mantan CEO, kau pasti pernah mengalami kendala seperti ini."

Mengangguk pelan, Viola mengakui pernah mengalami kendala seperti yang kini tengah dialami pria di hadapannya. Sebuah proyek besar tidak mungkin berhenti hanya karena satu bangunan, apalagi enam pemilik lainnya sudah menyetujui.

"Lalu apa yang akan terjadi pada toko saya?" tanyanya.

Sweet Cake memang baru beberapa bulan berdiri, meski baru merekrut beberapa orang karyawan dan penyuplai bahan-bahan, tapi toko itu terbilang sudah memiliki cukup banyak pelanggan tetap.

"Aku akan membantu mencari tempat baru."

Viola mengerutkan kening. "Di mana?"

"Pusat kota," ujar Seokjin. Pria itu menatap lurus. "Aku bisa meminta tim mencari tempat yang strategis untuk usahamu. Lokasinya jauh lebih ramai dan memiliki potensi pelanggan yang lebih besar."

Viola tidak langsung menjawab. Ia tidak menyangka pria yang sejak awal terlihat begitu dingin ternyata memikirkan hal tersebut. Namun, Viola juga tahu bahwa Seokjin tidak sedang berbaik hati, pria itu hanya sedang mencari jalan keluar yang paling masuk akal. Dan justru karena itulah tawarannya terasa lebih masuk akal.

"Aku tidak sedang mengasihanimu," lanjut Seokjin. "Aku hanya tidak ingin ada pihak yang dirugikan dan berharap kendala ini bisa segera diselesaikan."

Untuk sesaat, Viola seperti sedang melihat dirinya sendiri di masa lalu. Ketika masih menjadi seorang CEO, ia pun selalu mengambil keputusan dengan cara yang sama. Tidak berdasarkan perasaan maupun belas kasihan, melainkan berdasarkan apa yang paling adil bagi semua pihak. Mungkin itu sebabnya Viola tidak bisa membenci pria di hadapannya. Seokjin hanya sedang melakukan pekerjaannya, sama seperti yang dulu pernah ia lakukan.

Viola menghembuskan napas perlahan. "Kalau begitu, saya akan memikirkannya."

"Pikirkan baik-baik."

Pria itu kemudian berdiri.

Viola ikut berdiri dan mengantarnya sampai ke ujung teras. Namun, sebelum menuruni tangga, Seokjin berhenti.

"Nona Viola."

Wanita itu mengangkat wajah.

"Aku yakin, kau mampu mengambil keputusan terbaik untuk semuanya." Setelah mengatakan itu, Seokjin menuruni tangga.

Tetap berdiri di tempatnya, tatapan Viola mengikuti pria itu sampai sosoknya menghilang dari pandangan. Barulah setelah langkah kaki Seokjin benar-benar tidak terdengar, Viola perlahan mengalihkan pandangan pada papan kayu di bawah sana.

Sweet Cake, toko kecil itu baru beberapa bulan berdiri. Tempat yang ia bangun dari nol, tempat yang membuatnya kembali menemukan dirinya sendiri setelah bertahun-tahun hidup dalam tekanan.

Dan sekarang, ia justru harus mempertimbangkan sebuah keputusan besar untuk toko itu.

Viola menggenggam pagar besi, dadanya terasa sesak. Bukan karena takut kehilangan semua pelanggan, melainkan karena ia takut kehilangan perasaan yang selama ini hanya bisa ia ditemukan di tempat itu.

Keputusan yang harus ia ambil kali ini mungkin bukan hanya akan menentukan masa depan Sweet Cake atau proyek yang sempat terbengkalai, tetapi juga akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.

*****

Asisten Kim.

1
-Thiea-
viola gak kalah cantik kok sama Nara. semoga vio bisa membuat seokjin move on ya dari Nara..🫰
Lisa
Wah apa nih yg mau dibicarakan oleh Seokjin pd Nara..
〈⎳ FT. Zira
dalam hati "kenapa Vio gak nyapa.?" 🤣
Teteh Lia: Nyapa dia, kak. dansa bareng malah 🤭
total 1 replies
Lisa
Wah Viola cantik banget dgn gaun yg dr Seokjin..👍
mama Al
kalau di tengah kota emang mahal viola.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
mama Al
Hmmm bisa jadi di carikan tempat sekaligus di jadikan bini 🤭
ngarep boleh ya Thor
mama Al
tenang viola akang Seok jin lagi nyari tempat yang pas buat kamu
Lisa
Wah Seokjin perhatian banget nih sama Viola..sukses y Viola utk sweet cakenya..pasti deh byk pengusaha yg tertarik utk bekerja sama dgn sweet cake..
Lisa: wah ada pengorbanan juga y Kak
total 2 replies
Lisa
Senengnya sweet cake makin ramai dan byk pelanggan..sukses trs y sweet cake..semangat y Viola..aplg nanti sweet cake hadir dlm acara ultahnya Danubrata grup..pasti makin byk yg mengenal sweet cake..
Lisa
Oke Kak Lia ntar aq mampir di kisahnya Sagara & Nara juga 😊
Lisa: Sama² Kak Lia..aq suka ceritanya menarik Kak..
total 2 replies
Lisa
Puji Tuhan sweet cake rame lg.ada tamu spesial nih kayaknya..siapa y mereka..
mama Al
Apa Nara mengatakan sesuatu pada viola terkait bangunan itu.
mama Al
jangan mau viola, beda tempat beda rezeki
mama Al
ya wajar ngga di kabari soal undangan soalnya pemilik juga ga mau datang. menolak menyerahkan toko.
mama Al
setelah di bab kmarin aku ngira asisten Kim adalah perempuan dan sekarang terjawab sudah 😁
mama Al: bab sebelah maksudnya
total 1 replies
mama Al
hmmm jangan bilang dia mau mendekati viola supaya bisa mengambil alih ruko.
Lisa
👍👍 pasti sweet cake di hari kedua ini lebih rame..semangat y Viola..pelangganmu pasti tetap dtg meskipun tmptnya pindah.
Lisa
Selamat y Viola utk grand opening sweet cake nya..meskipun di hari pertama ini byk pembeli yg dtg atas saran dr Seokjin..moga utk hari² selanjutnya mereka tetap dtg bahkan semakin byk pelanggan lain yg dtg.
-Thiea-
jangan rendah diri viola. kamu pasti bisa menemukan seseorang yang menjadikan kamu orang terpenting dalam hidupnya.
Lisa
Wah tmptnya strategis banget Kak 👍👍 pasti sweet cake makin laris 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!