di saat seorang pemuda mengira sudah menemukan cinta yang tulus ternyata dia salah malah kembali di khianati...
Akankan dia menemukan cinta tulus itu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ray firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
"Aku ketemu kamu dengan niatan baik, tapi kamu malah menghinaku seperti ini." emosi Doni.
"Halah!! niatan baik apanya yang seperti itu, masa niat baik kok malah menyuruh seorang Istri untuk berpisah dari Suaminya, aku merasa kamu itu sudah benar-benar gila lagian itu bukan fitnah tapi kenyataan, kan kamu tidak pernah bekerja selama ini tapi selalu menikmati hasil dari harta orangtuamu, sudahlah aku malas berdebat denganmu lebih baik kamu pergi sana." sahut Asyifa sambil mengusir.
"Karena kamu sudah membuatku marah, maka dengarkan aku baik-baik, mulai besok harus pergi dari Rumah yang kamu tinggali itu." hardik Doni.
"Haha!! kamu itu memang sudah benar-benar gila yah Don, apa hak kamu mengusirku dari Rumahku sendiri." tawa Asyifa.
"Haha!! asal kamu tau yah, Rumah itu sebenarnya sudah aku beli dari Ayah Kandung kamu dan sekarang Rumah itu sudah resmi menjadi Rumahku." tawa Doni.
Brakkk
"Brengsekkkk..." emosi Asyifa.
Ardan yang sedari tadi hanya terdiam pun bangun dari duduknya dan langsung menarik pelan tubuh Istrinya dan memeluk Istrinya yang sedang di landa emosi sambil mengelus punggung Istrinya untuk menenangkannya.
"Tenang Ay!! huft..kamu coba perlihatkan buktinya, kalau Rumah itu sudah menjadi atas nama kamu." ucap Ardan.
"Baiklah!! kebetulan sekali aku selalu membawanya, nih lihat sendiri suratnya." sahut Doni.
Doni pun menyerahkan surat-surat nya ke Ardan dan langsung di terima serta membaca dengan serius isi dalam surat tersebut, Ardan hanya bisa menghembuskan nafas secara perlahan, saat sudah melihat surat itu benar-benar asli.
"Kamu sudah percayakan, kalau surat itu benar-benar asli?" tanya Doni.
"Hubby!! jangan kau katakan surat itu asli." ucap Asyifa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Huft..memang suratnya asli Ay." jawab Ardan.
"Apaaaa!! tidak mungkin By, itu satu-satunya Rumah peninggalan Almarhumah Ibu." teriak Asyifa.
"Pokoknya mulai besok aku mau kamu kosongkan Rumah itu, tapi kalau kamu bersedia berpisah dengannya dan menikah denganku, aku akan berbaik hati padamu." ucap Doni sambil memberi penawaran.
"Kamu jangan keterlaluan seperti..." hardik Ardan terpotong.
"Baiklah!! besok aku akan keluar dari Rumah itu, lebih baik aku pergi daripada aku harus mengikuti keinginan kamu itu." potong Asyifa.
"Bagus jika itu sudah menjadi keputusan kamu, sekarang aku pergi dan ingat mulai besok Rumah itu sudah harus kosong." sahut Doni.
Doni pun langsung pergi dari taman tersebut sedangkan Asyifa bersedih karena Rumah itu adalah kenangan satu-satunya kebersamaan dengan Almarhumah Ibunya dan sekarang mau tidak mau harus pergi dari Rumah tersebut, Ardan pun memeluk Asyifa dan membiarkan Asyifa menangis di dalam pelukannya.
"Ay maafin Hubby yah karena kehadiran ku di hidup kamu, membuat kamu harus kehilangan Rumah kenangan kamu seperti ini." ucap Ardan merasa bersalah.
"Apaan sih hubby!! jangan ngomong seperti itu lagi, sudahlah kita harus pulang sekarang untuk berkemas, tapi yang membuat aku bingung kita harus tinggal dimana nih By, ahh apa kita harus ke Rumah Paman Gio saja yah Hubby." sahut Asyifa sambil menyarankan.
"Eh kalau menurut Hubby jangan deh Ay! nanti malahan merepotkan Paman, gimana kalau kita tinggal di Kontrakan aku yang dulu saja Ay." tolak Ardan.
"Baiklah Hubby." sahut Asyifa.
"Eh!! kamu tidak menolak dulu gitu..." kaget Ardan terpotong.
"Hubby jangan di teruskan dimana pun kita tinggal aku pasti bahagia, yang terpenting itu kamu jangan pernah meninggalkan atau malah menghianatiku." potong Asyifa.
"Subhanallah!! Istri yang sangat Sholehah banget, Hubby berjanji hal itu tidak akan pernah terjadi." sahut Ardan.
Keduanya pun pulang untuk berkemas karena akan pergi dari Rumah tersebut dan sudah di putuskan akan tinggal di Kontrakan Ardan yang dulu.
Sesampainya di Rumah langsung memilih barang yang harus di bawa karena malam ini juga keduanya memutuskan untuk langsung pergi ke Kontrakan.
Setelah selesai dengan barang yang harus di bawa keduanya pun berangkat, tapi di saat di luar Rumah Asyifa memandangi Rumah tersebut dengan matanya berkaca-kaca tak lama Asyifa pun berbalik dan mengajak Suaminya untuk berangkat sekarang juga.
Sesampainya di Kontrakan keduanya pun masuk dan langsung membereskan barang bawaannya serta memutuskan untuk langsung tidur karena sudah malam.
Keesokan Hari
Belum juga sampai sehari Asyifa berada di Kontrakan harus merelakan Kalungnya untuk membayar hutang Suaminya ke pemilik Kontrakan tersebut.
Meskipun Ardan berjanji akan secepatnya mengembalikan Kalung tersebut tapi Asyifa tidak mempermasalahkan hal itu mau di ganti ataupun tidak, karena bagi Asyifa sekarang Ardan Suaminya lah yang paling berharga daripada barang apapun itu.
"Ay harusnya kamu terima tawaran dari Doni yang kemarin itu jadi kamu tidak kehilangan segalanya seperti ini, pertama kamu harus kehilangan Rumah kenangan kamu dan sekarang kamu juga harus kehilangan Kalung kamu, hidupmu jadi menderita seperti ini Ay! huft.. Hubby rela jika harus berce..." ucap Ardan terpotong.
"Hubby stop!!! jangan di teruskan, kamu itu seorang Suami jangan pernah mengatakan kata-kata yang sakral ingat itu By, lagian aku ikhlas yang terpenting aku tidak kehilangan dirimu By." potong Asyifa sambil mengingatkan.
"Tapi kamu akan susah dan mungkin akan menderita jika kamu terus bersamaku." ucap Ardan.
"Hubby jangan asal begitu kalau bicara tuh karena setiap kita berbicara merupakan doa By dan siapa yang bilang hidupku menderita selama bersamamu aku akan terus bahagia, aku juga akan terus mendoakan kamu dan kamu jangan sampai menyerah yah By, intinya Hubby yang berjuang demi kehidupan kita di masa depan dan aku sebagai Istri Hubby akan terus berdoa." sahut Asyifa.
Ardan tidak bisa berkata-kata lagi hanya memeluk Istrinya itu sambil mencium kening Istrinya dengan penuh kelembutan, Asyifa yang berada di dalam pelukan Suaminya pun memejamkan matanya untuk meresapi kasih Sayang yang di berikan oleh Suaminya.
.
.
Satu Minggu Kemudian
Kini keduanya sedang berada di dalam kamar Kontrakan dengan posisi duduk di ranjang tempat tidur, Ardan sambil memeluk pinggang Istrinya sedangkan Asyifa menyenderkan kepalanya di bahu Suaminya.
"Oh iya Hubby!! seingatku dulu saat pernikahan kita sudah di tiga minggu Hubby tidak pernah menyentuhku sama sekali, aku mengira Hubby itu tidak memiliki nafsu padaku." ucap Asyifa.
"Ay! kamu justru salah besar, dulu juga sebenarnya setiap hari ingin sekali menyentuh kamu, tapi karena Hubby tidak ingin memaksakan kehendak sendiri, jadi Hubby memilih untuk menahannya sebelum kamu menerima ku dengan apa adanya." sahut Ardan.
"Jadi aku paham sekarang setelah aku menerima dan menyerahkan semua padamu, kenapa Hubby tuh jadi mesum banget itu semua karena sudah menahan selama ini, coba ingat-ingat berapa kali Hubby meminta waktu malam pertama itu." ucap Asyifa.
"Hehe!! kan tidak ada salahnya juga...
Bersambung
~ See You Next ~