NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: MARAH TAPI IMUT!

Raka dan Dimas mulai menekuk lutut mereka di atas lantai klub yang dingin, bersiap dalam posisi tempur paling nyaman untuk memulai ritual mabar.

"Invite gue, Rak!" seru Dimas sabar menanti.

"Sabar napa, gue baru masuk lobby nih," sahut Raka sambil mengetuk layar ponselnya.

TING!

Begitu Raka menginjakkan kaki di lobby game Free Fire, undangan dari Dimas langsung meluncur. Tanpa buang waktu, Raka menekan tombol accept, dan mereka pun meluncur ke dalam pertandingan!

Begitu melompat dari pesawat, keduanya langsung melakukan looting cepat di area perumahan. Namun, begitu menangkap pergerakan musuh, justru Dimas yang hebohnya minta ampun.

"Rak, Rak! Ada musuh, Rak! Depan gue!" teriak Dimas panik.

Raka mendengus. "Ya tembak lah, bego! Ngapain dilaporin ke gue?!"

"Gak ada senjata gue, anjrit! Cuma megang panci!"

"Oke-oke, bentar!"

Raka mempercepat langkah karakternya menuju lokasi Dimas yang darahnya sudah berada di ujung tanduk. Tepat saat tembakan musuh nyaris merobohkan Dimas, karakter Raka muncul dari balik tembok dan meratakan musuh tersebut dalam sekali spray.

"Bot banget lu, Mas!" ejek Raka.

"Ya maaf, kan belum dapet senjata!" bela Dimas.

Namun, belum sempat mereka memakai medkit, suara tembakan beruntun mendadak menggema. Satu squad penuh mendadak mengepung rumah mereka! Dalam kondisi panik, Raka dan Dimas merespons cepat dengan memasang gloowall untuk menahan gempuran peluru.

"Buset! Kok banyak musuh gini sih, Mas?!" cerca Raka sambil menahan posisi.

"Gue gak tahu! Lu urusin dulu ya, gue mau looting barang musuh yang tadi dulu!" jawab Dimas tanpa dosa.

"Cepetan, woy!"

Di tengah kepungan peluru musuh yang membabi buta, Raka berusaha mengurung dirinya dengan sisa gloowall. Sayangnya, benteng plastik itu jebol juga. Karakter Raka akhirnya terkapar tak berdaya dan tereliminasi oleh empat orang musuh sekaligus.

Sementara Raka meratapi kematian karakternya di layar hitam-putih, kamera penontonnya memperlihatkan karakter Dimas yang masih sibuk looting manja memilih attachment senjata di pojokan.

Raka menoleh, menatap Dimas dengan urat leher yang hampir putus. "Lu ngapain?! Bukannya bantuin gue dari tadi?!"

Dimas berkedip kaget, baru mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Hah? Lu mati, Rak?"

"Pake nanya lagi! Lu malah looting-looting cantik di belakang, anjrit!"

Dimas menyengir kuda, memegang belakang kepalanya. "Hehe... maaf! Refleks looting gue bekerja otomatis!"

"Haaah... gini amat punya temen bot," desah Raka pasrah, menyandarkan kepalanya ke dinding.

"Apalah, memangnya kenapa kalau bot? Lu lupa dulu pas awal-awal main juga lu bot parah?" sahut Dimas tak mau kalah.

Tepat saat perdebatan konyol itu makin memanas, sesosok cewek yang dari tadi berdiri menyimak di ambang pintu akhirnya menampakkan diri.

"Kalian! NGAPAIN?!" teriak Alya dengan suara tegas namun dengan nada yang agak melengking.

JASSS!

Raka dan Dimas terperanjat bersamaan. Refleks, mereka menoleh ke arah sumber suara.

Di sana, Alya berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada. Pipi cewek itu agak mengembung, bibirnya sedikit cemberut, dan matanya menatap tajam ke arah mereka berdua. Alya berniat memasang mode tegas dan dingin, tetapi di mata Raka... kombinasi muka marah dan pipi bakpao itu justru kelihatan imut parah!

Raka menatapnya heran, sementara benaknya langsung liar memutar skenario absurd.

"Kenapa dia berubah jadi galak lagi?" batin Raka kebingungan. "Apa dia ketuker sama obatnya? Atau... jangan-jangan dia habis dijadiin bahan eksperimen laboratorium?!"

Raka menggelengkan kepalanya cepat. "Hahaha! Apalah, bisa-bisanya pikiran gue melantur ke eksperimen!"

Dimas yang berada di sampingnya ikut menatap heran. "Wow... lu kenapa, Al? Kok mendadak berubah galak lagi?"

Alya menaikkan alisnya, mencoba mempertahankan tatapan dinginnya meski pipinya masih sedikit merona. "Eh, memangnya gak boleh?"

Dimas mengibaskan tangan. "Bukan gitu, cuma tumben aja."

"Kenapa kalian malah enak-enakan di sini?" tanya Alya memotong.

Raka tegak mendadak, menatap Alya lempeng. "Justru gue yang mau bilang gitu, Al."

"Hmm?"

"Kenapa lu ngikutin gue sama Dimas ke sini?"

Pipi Alya mendadak makin merona merah. Ia memalingkan wajahnya sejenak, sedikit panik. "Emm... itu... aku lihat kalian pas di kelas tadi kelihatan asyik banget, jadi... aku ikutan. Tapi, begitu aku ikuti, kalian malah enak-enakan mabar Wi-Fi!"

Dimas menyenggol lengan Raka sambil terkekeh pelan. "Ya terserahlah, ya gak, Rak?"

Raka menatap Alya datar. "Iya, kenapa lu ikut campur?"

Alya menghela napas pelan, menatap mereka berdua dengan raut wajah yang mendadak serius. "Eh... bukannya kalian bakal langsung dikeluarkan dari sekolah kalau ketahuan leha-leha kayak gini?"

"Hah? Cuma gara-gara mabar di klub doang dikeluarin?" cibir Dimas meremehkan. "Ya gak lah! Gak mungkin kan, Rak?"

Dimas menoleh ke arah Raka, berniat mencari dukungan. Namun, senyum Dimas mendadak luntur begitu melihat ekspresi Raka yang berubah menjadi sangat serius dan tegang.

"Loh? Lu kenapa, Rak? Kok ekspresi muka lu jadi kayak nahan boker gitu?" tanya Dimas heran.

Raka menatap Dimas dengan pandangan tajam. "Lu gak sadar apa, Mas?"

"Sadar apaan?"

"Kalau Alya ngomong kayak gitu pakai nada begitu... berarti dia udah ngelaporin kita ke pihak sekolah!"

Dimas melotot selebar-lebarnya. "APAAAA?!"

"Yang bener lu, Rak?!" seru Dimas panik setengah mati.

Raka mengangguk pelan. "Iya..."

Melihat dua cowok di depannya mendadak panik dan tersiksa membayangkan nasib mereka, Alya menyunggingkan senyum tipis yang sangat manis. Misi gertakannya berhasil! Dengan begini, ia bisa menakut-nakuti mereka agar tidak leha-leha, sekaligus menyelamatkan markas klub ini dari sidak nyata Kepala Sekolah.

Dimas yang tak sengaja menangkap lengkungan bibir itu langsung melontarkan pertanyaan. "Kenapa lu senyum-senyum, Al?"

Alya tersentak, cepat-cepat menetralkan kembali raut wajahnya. "Hehe... enggak, gak ada apa-apa..."

Tak ingin merekA menyadari senyuman atau kebohongan kecilnya, Alya berbalik cepat, melangkah melewati pintu klub dan meninggalkan mereka berdua yang masih mencerna keadaan.

"Loh, tunggu, Al!" panggil Dimas, tapi Alya sudah menghilang di belokan koridor.

Dimas mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Haaah... kok perasaan gue jadi gak tenang gini ya, Rak?"

"Hmm, iya," sahut Raka mengusap dadanya.

"Yaudah lah, mending kita dengerin kata Alya aja daripada riwayat kita tamat!"

Raka menatap Dimas. "Lu serius, Mas?"

"Iyalah! Kalau beneran dikeluarin dari sekolah, gue bisa langsung disambut tatapan maut ibuku di rumah!" ujar Dimas merinding.

"Wih... iya juga ya," gumam Raka membayangkan ibunya yang bawa gayung air. "Terus sekarang kita mau gimana, Mas?"

"Kita balik ke kelas aja yuk!"

"Okay."

Mereka berdua bangkit dari lantai, menyimpan ponsel masing-masing ke dalam saku celana, lalu melangkah menuju pintu keluar.

Tanpa mereka sadari sama sekali, tepat di balik pintu yang remang-remang, Aira berdiri sambil memegang ponselnya yang masih menyala dalam mode perekam video. Gadis itu menyunggingkan senyuman jahil.

"Hehe... menarik nih buat dikoleksi," bisik Aira pelan.

Raka yang memiliki pendengaran tajam mendadak menoleh ke belakang, menatap lorong kosong di luar pintu klub. "Loh..."

Dimas yang melihat tingkah heran Raka langsung menepuk pundaknya. "Lu kenapa, Rak? Nengok belakang mulu, ada apa emangnya?"

"Hmm... mungkin perasaan gue aja ya. Tadi gue ngerasa ada orang di belakang kita," gumam Raka mengusap tengkuknya.

Dimas mengusap dagunya, menatap Raka curiga. "Dari kemarin kayaknya lu diintai mulu deh, Rak?"

Raka mendengus. "Lah, kalau diintai, emangnya manfaatnya apa buat orang itu?"

"Ya bisa aja kan, lu mau diculik terus dijadiin pembantu di rumah mewah gara-gara mereka kekurangan maid?" seloroh Dimas.

Raka menatap Dimas datar. "Apalah... dikira gue maid?"

"Ya... mungkin aja lu minat, Rak?" goda Dimas sambil menaikkan alisnya.

"Sorry, gak minat! Lu aja yang jadi maid sana, pakai rok berenda!" cetus Raka tajam.

Membayangkan dirinya sendiri harus memakai rok berenda dengan celemek maid, Dimas seketika merinding dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"HIYAAA! Gila lu! Gak lah!" jerit Dimas histeris.

Raka tertawa kecil. "Lu ngebayangin kan?!"

"Ya kali, njrit!" elak Dimas menepuk dadanya yang deg-degan.

"Yee... gak asik lu, Mas!"

"Biarin!"

Di ujung koridor, bayangan pintu kelas 10A mulai terlihat. Tepat saat kaki mereka melangkahi ambang pintu kelas, bel masuk sekolah berbunyi nyaring.

TETTT... TETTT...

"Wah, pas sekali ya, Rak! Begitu kita masuk, bel langsung bunyi!" seru Dimas girang.

"Iya, syukurlah gak kena tegur guru," sahut Raka melangkah menuju bangkunya.

Saat mereka menduduki kursi masing-masing, Aira berjalan masuk ke kelas dengan senyuman misterius tersimpul di bibirnya.

Melihat senyuman Aira yang tidak biasa, Raka langsung menyahut pelan. "Aira, lu kenapa senyum-senyum gitu? Mencurigakan banget."

Aira tertawa kecil, melambaikan tangan santai. "Hahaha, gapapa! Tadi ada momen menarik aja, jadi gue rekam."

"Ohh..." Raka mengangguk-angguk polos.

Sebelum Raka sempat melanjutkan rasa keponya, Pak Guru MTK melangkah masuk ke dalam kelas. Pelajaran jam kedua pun resmi dimulai.

Mendengar kata 'Matematika', semangat hidup Dimas langsung ambyar seketika. Pemuda itu merebahkan kepalanya ke meja dengan posisi pasrah, kedua tangannya menjulur lurus ke depan bak ulat yang menyerah pada takdir.

Aira yang melihat ekspresi hancur Dimas langsung terkekeh geli. "Hahaha! Lucu amat muka lu, Mas!"

"Jangan ngejek lu..." gumam Dimas dengan suara teredam meja.

Sementara Dimas dan Aira saling bantai argumen pelan, Raka memilih mengabaikan papan tulis. Ia membuka ponselnya secara sembunyi-sembunyi di bawah meja, menyusun planning harian beserta jadwal perincian tabungan demi membeli action figure anime impiannya.

"Mwehehe... gak sabar gue beli nih figurin!" batin Raka kegirangan, matanya berbinar-binar menatap layar HP.

Alya yang duduk di samping Raka dan melihat cowok itu senyum-senyum sendiri mulai terserang rasa kepo.

"Hmm... Rak," bisik Alya pelan.

Raka melirik tanpa menolehkan kepala. "Apa?"

"Kamu bahagia banget... emangnya ada apa?" tanya Alya penasaran.

Raka menyeringai tipis, memasukkan HP-nya ke saku. "Kepo banget lu."

"Ihh... gitu doang padahal!" cetus Alya.

Tanpa sadar, Alya refleks mengembungkan kedua pipinya, memasang raut wajah cemberut lebay. Melihat pemandangan cute itu secara live dan berjarak hanya beberapa sentimeter, pertahanan Raka runtuh. Tawa kecilnya pecah.

"Hahaha! Lucu banget reaksi lu, Al!" kekeh Raka menutupi mulutnya agar tidak terdengar guru MTK.

Mendengar pujian blak-blakan itu, wajah Alya seketika merona merah. Karena malu setengah mati, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya dalam-dalam menuju buku catatan MTK-nya.

Suasana kelas hari itu dipenuhi banyak momen aneh dan lucu. Beban para murid kelas 10A terasa sedikit berkurang hanya dengan menyaksikan tingkah konyol dua cowok absurd—Raka dan Dimas—yang selalu punya cara menghidupkan suasana.

Seiring berjalannya waktu... bel sekolah kembali mengalun nyaring.

TETTT... TETTT...

Menandai jam istirahat kedua telah dimulai!

Mendengar bel sakral itu, Dimas yang tadinya koma gara-gara MTK mendadak bangun tegak seketika bak ksatria yang bangkit dari kubur.

"Hmm! Udah istirahat rupanya! Saatnya ajakin Raka ke kantin!" seru Dimas bersemangat.

Namun, saat Dimas baru saja berbalik menuju meja Raka, Aira mendadak muncul mencegat langkahnya. Gadis itu menyunggingkan senyum jahil, merangkulkan tangannya di bahu Dimas sambil berbisik licik.

"Hei... gue punya sesuatu yang menarik nih," bisik Aira.

Dimas menaikkan sebelah alisnya. "Apaan?"

Aira menggoyangkan ponsel di tangannya. "Tadi gue lihat kalian berdua di klub... dan sempet gue rekam video!"

Dimas melotot sempurna. "APAAAA?!"

"Ngapain dah lu rekam-rekam?!" seru Dimas panik.

Aira menjulurkan lidahnya. "Mau gue laporin ke Pak Guru, wlee!"

"Weh! Siniin HP lu!" seru Dimas berusaha merebutnya. Ia lalu menoleh dan berteriak ke arah belakang. "Hei, Rak! Sini! Si Aira ngerekam waktu kita di klub tadi!"

Mendengar bahaya latin itu, Raka tanpa ragu melesat dari kursinya. Ia dan Dimas langsung mengeroyok Aira untuk merebut ponsel tersebut. Niat Aira yang mau pamer malah berujung panik, hingga akhirnya gadis itu nekat melempar ponselnya melayang di udara ke arah bangku belakang!

"Nih Alya! Jangan sampai ketangkap!" teriak Aira.

"Oke!" sahut Alya cepat, menangkap ponsel itu dengan kedua tangannya.

"Ayolah guys, jangan dimainin! Siniin gak?!" jerit Dimas dan Raka histeris mengejar HP yang kini berpindah tangan ke Alya.

Aksi saling rebut ponsel pun pecah di dalam kelas 10A. Diiringi gelak tawa dan teriakan histeris Dimas yang panik setengah mati, Alya yang memegang ponsel Aira hanya bisa tertawa kecil sambil terus menghindari sergapan Raka dan Dimas. Suasana kelas yang tadinya kaku dan menegangkan mendadak hangat, melebur dalam kekonyolan yang tak terencana.

Malam itu, Raka menyadari satu hal: di balik sikap dingin dan tatapan tajam yang sering Alya tunjukkan, gadis itu menyimpan sisi menggemaskan yang sanggup membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Sisi marah tapi imut Alya kini resmi menjadi satu lagi misteri manis yang secara perlahan mulai mengisi pikiran Raka Pradipta.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!