Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.
Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.
Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 – Hari Peluncuran Aurora
“Dibawah cahaya paling terang, tak seorang pun tahu ada hati yang sedang berusaha agar tidak runtuh.”
--
Hari peluncuran Aurora tiba bersama pagi yang terlalu cerah. Setelah berhari-hari langit Jakarta mendung, matahari akhirnya muncul dengan cahaya keemasan yang memantul di kaca-kaca gedung kota. Ironisnya, cahaya itu tidak mampu menghangatkan hati Alina sedikit pun.
Alina berdiri cukup lama di depan cermin kamar seraya merapikan gaun satin warna champagne yang dipilihkan oleh Birendra beberapa minggu lalu, gaun itu seharusnya dikenakan pada hari membahagiakan, bukan pada hari ketika dadanya masih dipenuhi oleh duka.
Ketika suara mobil berhenti di depan rumah, Alina menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah keluar kamar. Birendra sudah menunggu di ruang tamu bersama Hendra. Ia mengenakan setelan hitam sederhana dengan dasi abu-abu gelap, begitu melihat Alina turun dari tangga, tatapannya langsung melembut.
“Kamu cantik,” ucapnya lirih. Alina mencoba tersenyum, tetapi matanya tetap tampak lelah.
Hendra memandang keduanya secara bergantian, “Ibu kalian pasti bangga lihat kalian hari ini.” Kalimat itu membuat tenggorokan Alina tercekat, Birendra segera menggenggam tangannya seolah menahan air mata yang hampir jatuh.
Perjalanan menuju hotel berlangsung lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Alina duduk sangat dekat hingga bahunya menyentuh lengan Birendra, jemari mereka bertaut sejak mobil meninggalkan halaman rumah dan tak pernah benar-benar terlepas.
“Kalau nanti aku tiba-tiba nangis gimana?” Bisik Alina ditengah perjalanan mereka.
“Aku yang akan menutupi kamu dari kamera.” Birendra menatap Alina dengan begitu lembut. Ia bahkan mengangkat tangan mereka yang saling menggenggam lalu mencium punggung tangan Alina singkat. Alina menoleh ke arahnya, tatapan pria itu begitu tenang hingga untuk sesaat ia lupa pada rasa takutnya sendiri.
Ballroom hotel sudah dipenuhi oleh staff sejak pagi. Lampu-lampu kristal menyala hangat, memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan. Di tengah ballroom berdiri panggung besar dengan tulisan ‘Aurora’ berwarna emas muda, sementara etalase-etalase kaca berisi koleksi perhiasan berjajar seperti galeri cahaya.
Saat Alina melangkah masuk, beberapa staff langsung menyapa dengan hormat. Birendra tidak pernah berjalan lebih dari satu langkah darinya, ia memastikan gaun Alina tidak tersangkut, mengambilkan air minum, bahkan menarik kursi ketika Alina hendak duduk. Maya memperhatikan mereka dengan mata berkaca-kaca.
“Pak Birendra dari pagi belum sempat duduk, Bu. Dari tadi sibuk jagain Ibu Alina terus.” Alina lekas menatap Birendra yang tengah berbicara dengan tim acara di kejauhan, dadanya terasa hangat sekaligus nyeri.
Menjelang siang, gladi bersih terakhir dimulai. Saat Alina berdiri di tengah panggung untuk mencoba posisi presentasi, lampu sorot tiba-tiba menyala terang tepat ke wajahnya. Pandangan Alina berkunang-kunang, nafasnya mendadak pendek. Suara ballroom perlahan menjauh hingga yang tersisa hanya dengung samar di telinganya.
“Alin.” Birendra langsung naik ke panggung sebelum siapa pun sempat bereaksi. Ia memegang siku Alina dan membawanya turun perlahan. “Duduk dulu, ya.” Pintanya dengan nada yang terdengar begitu lembut.
“Aku nggak apa-apa.” Gumam Alina meski wajahnya sudah terlihat pucat.
Birendra berlutut dihadapannya, ia membuka botol air mineral, lalu menyodorkannya pada Alina, Alina menurut tanpa membantah. Di depan puluhan staff, Birendra mengusap pelan pelipisnya dan menunggu sampai warna wajah Alina kembali seperti sebelumnya. Tidak ada rasa malu bagi Alina, kali ini ia hanya merasa aman karena seseorang tengah menjaganya dengan begitu tulus.
Saat sore tiba, para tamu mulai berdatangan. Wartawan, investor, desainer hingga kolektor perhiasan memenuhi ballroom dengan pakaian terbaik mereka. Kamera-kamera mulai berkedip sejak Birendra dan Alina muncul di pintu utama.
“Pak Birendra, lihat ke sini.”
“Ibu Alina, senyum sedikit.” Sahut wartawan lainnya.
Disana, Birendra merangkul pinggang Alina dengan sopan namun protektif, ia membawanya melewati kerumunan kamera. Setiap kali ada wartawan terlalu dekat, ia otomatis bergeser menutupi Alina.
Di mata orang lain, mereka tampak seperti pasangan sempurna yang sedang merayakan keberhasilan terbesar dalam hidup, tak ada seorang pun yang tahu bahwa beberapa malam terakhir Alina menangis hingga tertidur di bahu pria yang tengah berada disisinya saat ini.
Acara dimulai pukul tujuh malam tepat. Musik orchestra lembut memenuhi ruangan ketika layar utama menampilkan proses pembuatan koleksi Aurora, foto-foto sketsa Alina dan proses pengerjaan di studio bergantian muncul di layar raksasa.
“Dan sekarang,” Suara MC menggema. “Mari kita sambut CEO Adhyaksa Jewellery, Bapak Birendra Adhyaksa bersama dengan Head of Design Collection Aurora, Nona Alina Maheswari.” Pungkasnya yang disambut tepuk tangan yang memenuhi ballroom.
Alina merasa lututnya lemas sesaat sebelum naik panggung, Birendra yang menyadari hal itu pun langsung menggenggam tangannya lebih erat.
“Lihat aku,” bisiknya dan membuat Alina menoleh ke arah Birendra. “Tarik napas.” Alina mengikuti instruksi itu secara perlahan. “Bagus. Sekarang kita jalan bareng, ya.” Ucap Birendra lagi yang kemudian mereka pun melangkah ke panggung berdampingan.
Di bawah sorot lampu, Aurora tampak seperti kumpulan cahaya fajar yang jatuh ke bumi. Kalung berlian kecil memantulkan warna keemasan, anting berbentuk kelopak melati berkilau lembut, dan cincin melati di etalase utama menjadi pusat perhatian seluruh ruangan.
Birendra memulai presentasi dengan suara tenang. Ketika gilirannya tiba, Alina sempat kehilangan kata-kata saat menatap ratusan pasang mata di depannya. Birendra berdiri sedikit lebih dekat dengannya.
“Aku disini,” bisiknya. Hanya dua kata itu, tetapi cukup membuat Alina menemukan suaranya kembali.
Alina mulai berbicara tentang filosofi Aurora, tentang cahaya pertama setelah malam panjang, tentang harapan yang tetap menyala meski langit gelap. Suaranya sempat bergetar ketika menyebut kata harapan, dan Birendra diam-diam menggenggam ujung jarinya di podium agar tidak ada yang melihat.
Tepuk tangan bergema ketika presentasi selesai. Beberapa wartawan bahkan berdiri untuk mengambil foto lebih dekat.
Setelah sesi utama, para tamu dipersilakan melihat koleksi secara langsung. Alina berdiri di depan etalase cincin melati seraya menjelaskan detail desain kepada seorang kolektor senior. Ketika ia selesai bicara, langkahnya goyah karena terlalu lama berdiri. Birendra yang tengah di wawancarai segera menghentikan wawancaranya dan menghampiri wanitanya.
“Kamu istirahat dulu.”
“Masih banyak tamu.”
“Tamu bisa menunggu.” Tanpa peduli pada kamera yang masih menyorot mereka, Birendra membawa Alina ke ruang VIP di belakang ballroom. Ia menuangkan teh hangat, membuka kotak makan kecil yang sudah disiapkannya sejak pagi, lalu menyuapi Alina perlahan.
“Kamu dari tadi belum makan.” Alina menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku lebih tenang kalau lihat kamu makan dulu.”
“Kenapa kamu baik banget sama aku?” Pertanyaan itu muncul begitu saja bersamaan dengan air mata Alina yang jatuh membasahi kedua pipinya, dan Birendra langsung mengusap air matanya dengan ibu jarinya seraya tersenyum tipis.
“Karena kamu rumahku.” Kalimat itu membuat Alina langsung memeluknya erat. Di balik pintu ruang VIP, musik dan suara tamu masih terdengar ramai, namun di dalam ruangan kecil itu, dunia seolah berhenti hanya untuk mereka berdua.
Menjelang penghujung acara, seorang fotografer meminta mereka untuk berdiri di depan backdrop Aurora untuk foto resmi perusahaan. Fotografer tersebut meminta Birendra untuk memperdekat lagi jarak antar keduanya, dan tentu saja hal itu langsung membuat Birendra merangkul pinggang wanita yang berdiri di sisinya.
“Mbak Alina, lihat ke Pak Birendra.” Pinta fotografer tersebut. Alina menoleh, tatapan keduanya bertemu tepat ketika lampu kamera berkedip. Foto itu menangkap sesuatu yang tidak bisa di buat-buat, cinta yang tulus dan rasa saling memiliki yang begitu nyata.
Malam semakin larut ketika tamu terakhir meninggalkan ballroom. Alina berdiri di tengah ruangan yang mulai kosong seraya memandangi panggung Aurora sekali lagi.
“Kita berhasil,” bisiknya. Birendra berdiri di belakangnya lalu memeluk Alina dari samping.
“Aku bangga sama kamu,” Alina menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, ia merasa sedikit lega, seolah hidup mereka masih punya masa depan.