NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13_ Ratu Baru Ozawa School

...BAB 13_ Ratu Baru Ozawa School...

Kejadian luar biasa di aula utama menyebar bagaikan api menyambar semak kering di seluruh penjuru Ozawa School hanya dalam hitungan menit. Video dan foto detik-detik Teo Ozawa berlutut mengikat tali sepatu Lea memenuhi berbagai grup perpesanan singkat antar-murid. Penguasa tunggal yang tadinya tak tersentuh kini mendadak menjadi bahan perbincangan paling panas, sementara figur 'Alia' mendadak bertransformasi dari korban perundungan yang menyedihkan menjadi ratu baru yang paling disegani, ditakuti, dan dipuja.

Di koridor utama menuju kantin sekolah, atmosfer mendadak berubah total saat Lea melangkah. Murid-murid yang biasanya melemparkan tatapan menghina, tertawa sinis, atau berbisik mengejek, kini spontan menundukkan kepala. Mereka memberikan jalan lebar-lebar dengan raut wajah segan bercampur takut. Tak ada satu pun yang berani menatap mata Lea secara langsung.

Lea menikmati setiap detik dari perubahan kekuasaan ini. Gaya jalannya tetap santai, percaya diri, dan anggun—murni aura cewek `high society` Melbourne yang terbiasa memegang kendali atas siapa pun di sekitarnya.

Namun, pemandangan di belakangnya jauh lebih spektakuler. Berjarak tepat dua langkah di belakang Lea, Teo Ozawa berjalan dengan wajah segelap awan mendung yang siap mencurahkan badai. Di kedua tangannya, sang tiran memegang nampan makan siang berisi jus buah segar dan makanan pilihan Lea, sementara tas sekolah milik Lea tergantung kaku di bahu lebarnya. Reno dan Bagas yang mencoba mengekor dari jarak aman hanya bisa menggigit jari. Kedua antek setia itu tidak berani mendekati bos mereka yang sedang memancarkan aura membunuh tingkat tinggi.

`"Pelayanku, jalannya jangan terlalu lambat,"` tegur Lea tanpa menoleh ke belakang, melambaikan tangannya yang terawat santai. `"Nanti makan siangku keburu dingin."`

Gigi Teo bergemelutuk rapat, rahangnya mengeras tajam hingga urat nadinya mencolok. `"Jangan memanggilku dengan sebutan itu di koridor, Alia,"` desis Teo penuh tekanan mematikan di setiap kata.

Lea menghentikan langkahnya mendadak di tengah koridor yang ramai, membuat Teo hampir saja menabrak punggungnya. Lea memutar tubuhnya perlahan, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga berdiri berhadapan sangat dekat. Dengan senyuman beracun yang begitu manis dan anggun, Lea mendekatkan wajahnya. Jemari cantiknya terulur lembut, membetulkan posisi dasi seragam Teo yang sedikit miring—sebuah gerakan yang sangat intim namun terasa seperti pemasangan rantai kekuasaan di mata semua orang.

`Deg!`

Dada Teo bergemuruh hebat secara mendadak. Dari jarak sedekat ini, sorot mata karamel Lea yang jernih dan senyum tipisnya yang sarat akan dominasi seolah mengunci seluruh pasokan udara di paru-paru Teo. Bau aroma parfum bunga yang lembut dan mahal dari tubuh Lea menyeruak tajam, menguasai seluruh indera penciumannya. Jantung Teo berdegup kencang secara tidak wajar. Selama ini tidak pernah ada seorang pun cewek yang berani menatapnya dari jarak semenyengat ini, apalagi tersenyum menantang seolah Teo hanyalah hal kecil yang gampang ia kendalikan. Ada sensasi aneh yang berbahaya—perpaduan antara amarah yang tertahan dan ketertarikan gelap yang mendadak membakar dadanya.

`"Kenapa? Kamu lupa perjanjian kita?"` goda Lea halus, menatap tepat ke dalam manik mata obsidian Teo yang sempat membeku. `"Seorang pelayan harus patuh pada perintah majikannya. Kalau kamu keberatan, kita bisa kembali ke aula sekarang dan membahasnya lagi di depan semua orang."`

Teo memejamkan matanya sejenak, menetralisasi detak jantungnya yang mendadak berantakan sebelum menahan lonjakan emosi yang hampir membuat nampan di tangannya remuk. `"Terserah kamu,"` desis Teo seraya memilih mengalah, menelan bulat-bulat harga dirinya.

Lea tertawa renyah, tawa manis yang terdengar begitu merdu namun berbahaya. Ia berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju meja terbaik di tengah kantin—meja eksklusif yang biasanya hanya boleh diduduki oleh Teo dan geng utamanya. Tanpa ragu sedikit pun, Lea duduk di kursi utama yang empuk, menyilangkan kakinya yang jenjang, lalu menunjuk ke permukaan meja marmer di hadapannya.

`"Letakkan makananku di sini,"` perintah Lea.

Teo menurunkan nampan dan tas milik Lea ke atas meja dengan gerakan kaku dan tertahan. `"Sudah kan? Aku mau pergi—"`

`"Siapa yang menyuruhmu pergi?"` sela Lea cepat, menahan pergerakan Teo hanya dengan satu tatapan mata yang tajam. `"Bukakan tutup minumannya dan tuangkan ke gelasku. Setelah itu, berdiri di samping mejaku sampai aku selesai makan."`

Penghinaan bertubi-tubi ini benar-benar menguji batas kegilaan Teo. Seluruh mata pengunjung kantin tertuju pada meja mereka, menyaksikan sang tiran sekolah diperlakukan bak seorang pelayan pribadi. Namun, di balik kemarahannya yang membakar, tatapan mata Teo tak pernah lepas dari wajah Lea. Ada rasa penasaran yang begitu pekat dan obsesi gelap yang makin membara di dalam dada sang tiran. Gadis di depannya ini benar-benar berbeda dari Alia yang polos, naif, dan lemah lembut tiga minggu lalu. Alia yang ada di hadapannya sekarang sungguh tajam, licik, dominan, dan selalu berhasil membuatnya tak berdaya.

Sembari membukakan tutup minuman untuk Lea dengan gerakan kaku, Teo memajukan tubuhnya. Pria itu membungkuk sedikit dan berbisik dengan intonasi dingin tepat di dekat telinga Lea.

`"Kamu bukan Alia yang aku kenal. Siapa kamu sebenarnya?"`

`Deg!`

Jantung Lea berdesir pelan mendengar pertanyaan menusuk itu, namun riasan wajah dan ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Sebagai aktris terbaik dalam permainan cinta di Melbourne, Lea hanya terkekeh halus. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mendongak dan menatap Teo dengan pandangan menantang yang sangat berani.

`"Alia yang dulu sudah mati karena permainan taruhan murahmu itu, Teo,"` bisik Lea halus namun terasa meremukkan. Lea memajukan senyumannya yang dingin sebelum melanjutkan, `"Gadis yang ada di depanmu sekarang adalah karma yang harus kamu terima karena sudah mempermainkan perasaanku. Jadi sekarang... giliran aku yang akan mempermainkanmu."`

Teo membeku seketika. Tatapan mata karamel Lea yang penuh kebencian bercampur superioritas mendadak mengunci seluruh kesadarannya. Bukannya marah atau mengamuk, jantung Teo justru kembali berdegup kencang secara tidak wajar. Penguasa Ozawa School itu sadar... ia telah jatuh ke dalam perangkap sang ratu, dan ia tidak tahu bagaimana cara untuk keluar dari sana.

Tepat saat atmosfer di antara mereka makin tegang dan menghipnotis, ponsel berenkripsi di dalam saku blazer Lea bergetar hebat secara berkala.

Lea melirik layar ponselnya secara sembunyi-sembunyi. Dua nama muncul bergantian di bar notifikasi dinamisnya: `Julian` dan `Ethan`. Rupanya dua pacarnya yang lain di Melbourne mulai panik setengah mati karena keberadaan Lea yang masih misterius dan pesan-pesan mereka yang diabaikan.

Lea menyunggingkan senyum tipis yang penuh rahasia. Ia kembali fokus pada pria di sampingnya.

`"Tugasmu hari ini cukup sampai di sini, Pelayanku,"` ujar Lea santai, mengibas tangannya mengusir Teo. `"Bawakan tasku sampai ke depan gerbang nanti sore jam pulang sekolah, lalu pesankan aku taksi pribadi. Jangan terlambat satu detik pun."`

Teo menyipitkan matanya, menyunggingkan senyum miring yang penuh ketegangan. `"Kenapa tidak sekalian kamu jadikan aku sopir pribadimu untuk antar-jemput sekolah?"` ucap Teo dengan nada sinis yang tajam.

Lea sedikit miringkan kepalanya, memajukan wajahnya hingga napasnya berembus pelan di pipi Teo.

`"Tidak perlu..."` bisik Lea dengan nada manja, menyunggingkan senyum manis seraya berpura-pura takut. `"...aku takut nanti kamu malah menculikku."`

Teo mematung seketika, tertegun oleh kelakuan manja yang mematikan itu. Tanpa menunggu balasan lagi dari sang tiran, Lea berdiri anggun, mengambil ponselnya, dan melangkah pergi meninggalkan kantin yang masih hening menyaksikan keagungannya. Permainan catur pembalasan dendam untuk Alia baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya—dan Lea memegang penuh kendali atas setiap bidaknya.

 

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!