NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sinnox

Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.

Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.

Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.

Yaitu mati.

Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Papa Yang Sudah Tua

Eve menghela napas panjang sambil tetap menopang dagu. Tatapannya beralih dari taman ke pintu kamar yang tertutup. Eve turun dari kursinya, lalu berjalan menghampiri Cecil yang sedang merapikan beberapa pakaian di atas meja. Langkah kecilnya berhenti tepat di depan pelayan muda tersebut.

"Cecil," panggil Eve sambil menarik ujung rok Cecil pelan.

Cecil menunduk. "Ada apa, Nona?"

"Ape mawu ketemu Papa."

Cecil sempat berkedip, lalu senyumnya melebar. "Nona ingin menemui Yang Mulia?"

Eve mengangguk tegas.

"Kalau begitu, tentu saja saya akan membantu Nona bersiap." Cecil langsung meletakkan pakaian yang sedang dilipat. Matanya terlihat berbinar ketika memandang Eve dari kepala sampai kaki. "Saya akan membuat Nona terlihat semanis mungkin!"

Eve mengernyit.

'Kan cuma mau ketemu Lucien doang, emang harus berdandan?'

Namun dia tidak sempat memprotes karena Cecil sudah sibuk memilihkan pakaian. Gaun yang dikenakan Eve diganti dengan pakaian yang lebih cerah, rambutnya disisir dan diikat kembali dengan pita di kedua sisi. Cecil bahkan memastikan kerah bajunya tidak miring sebelum akhirnya mundur beberapa langkah untuk melihat hasilnya.

"Nona sangat imut," katanya puas.

Eve memandang pantulan dirinya di cermin.

'Ya, lumayan'

Dia kemudian mengulurkan tangan kepada Cecil. "Yuk."

Cecil tertawa kecil lalu menggenggam tangannya. Mereka meninggalkan kamar dan berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerja Duke.

Sepanjang perjalanan, Eve tidak banyak bicara. Dia justru sibuk menyusun apa yang ingin dikatakannya nanti. Kalau Lucien kembali mengatakan sibuk, Eve tidak yakin akan bisa menahan kesabarannya.

'Gue cuma minta waktu sebentar. Kenapa susah banget sih?' Eve menggerutu di dalam pikirannya.

Beberapa saat kemudian, mereka berhenti di depan pintu besar ruang kerja Lucien. Cecil melepaskan tangan Eve sebentar untuk mengetuk.

Tok. Tok.

Tidak lama kemudian terdengar suara langkah dari dalam. Pintu terbuka dan Vins muncul di baliknya. Tatapan Vins langsung jatuh kepada Eve, lalu kepada Cecil.

Eve mengangkat wajahnya.

"Pin acu maw ketemu Papa," katanya tegas.

Vins terdiam. Entah kenapa, ekspresinya terlihat sedikit bingung. Matanya turun kepada Eve, kemudian kembali melihat Cecil seolah meminta penjelasan mengenai kenapa anak kecil tersebut tiba-tiba muncul di depan ruang kerja majikannya.

Cecil hanya tersenyum kecil. "Tuan sepertinya nona Aveline yang sangat sangat imut ini merindukan Yang Mulia Duke."

Vins akhirnya menghela napas pendek. "Tunggu sebentar, Nona."

Dia kembali masuk dan menutup pintu sebagian.

Eve berdiri di tempat sambil menunggu. Kedua tangannya menggenggam ujung rok. Kesabarannya mulai menipis bahkan sebelum mendapat jawaban.

Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Vins muncul dengan ekspresi yang lebih hati-hati.

"Maaf, Nona. Yang Mulia sedang sibuk dan tidak bisa diganggu."

Eve menatap Vins.

'Lagi? Beberapa hari menghilang, sekarang ketika dia datang sendiri malah disuruh kembali? yang bener aja!'

Kesal yang sejak tadi ditahan akhirnya naik ke kepala. Eve tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melangkah maju, melewati Vins, lalu mendorong pintu yang masih terbuka setengah.

Vins tersentak.

"Nona!"

Namun Eve sudah masuk.

"Ape tida mawu kembayi!" serunya sambil berjalan beberapa langkah. "Ape mawu cama Papa!"

Suara kecilnya menggema di ruang kerja.

Di balik meja besar, Lucien yang sejak tadi berkutat dengan tumpukan laporan langsung mengangkat wajah. Beberapa lembar dokumen terbuka di hadapannya, sementara pena masih berada di antara jari-jarinya.

Tatapan merahnya berhenti pada Eve.

Lucien kemudian meletakkan pena dan mengangkat satu tangan untuk memijat pelipis.

"Aveline," katanya dengan suara rendah, "aku sedang sibuk. Kembali ke kamarmu sekarang."

Eve mengabaikan perintah tersebut. Tatapannya justru beralih kepada meja kerja Lucien. Baru sekarang dia bisa melihat tumpukan dokumen dari jarak dekat. Ada beberapa laporan yang sudah dibaca, sebagian lainnya masih terbuka. Bahkan di sisi meja terdapat lembaran yang belum disentuh.

Eve terdiam.

'Banyak juga, jadi nostalgia.'

Wajah Lucien memang terlihat lebih lelah dibandingkan beberapa hari lalu. Ada sedikit bayangan gelap di bawah matanya, dan gerakannya saat memijat pelipis menunjukkan bahwa kepalanya mungkin sedang tidak nyaman.

Eve menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Papa jangam bekelja telalu banyak," katanya serius.

Lucien menatapnya.

Eve melanjutkan dengan wajah sungguh-sungguh, "Talau telalu capek, Papa bica mati muda."

Vins yang baru masuk beberapa langkah langsung menundukkan kepala, seolah berusaha menyembunyikan ekspresinya yang hampir tertawa.

Lucien menatap Eve cukup lama.

"Apa?"

Eve mulai merasa ada yang salah dengan tatapan tersebut. Namun dia tetap mempertahankan wajah serius, Eve meletakkan kedua tangan kecilnya di pinggang.

"Papa udah tua."

Lucien mengangkat alis.

"Berapa umurmu?"

Eve berkedip.

"Empat."

"Aku dua puluh sembilan."

Eve membeku, mendengar perkataan Lucien. Dia menatap Lucien dari ujung kepala sampai kaki.

'Dua puluh sembilan?'

Di kehidupan sebelumnya, saat menjadj Amelia, dia sudah hampir menginjak tiga puluh satu tahun. Berarti pria yang selama beberapa hari ini dia panggil Duke tua ternyata bahkan lebih muda darinya.

'Gue kira dia empat puluh tahunan'

Tatapan Eve perlahan turun ke wajah Lucien, ia mendengus pelan.

'Bocah.'

Lucien masih menatapnya dengan ekspresi datar.

Eve buru-buru memalingkan wajah.

'Tahan, gaboleh ketawa.'

Meski begitu, dalam hati dia tetap merasa pendapatnya tidak sepenuhnya salah. Usia memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan kondisi tubuh. Seseorang yang masih muda pun bisa mengalami gangguan kesehatan jika terus-menerus kurang tidur, mengalami stres berat, jarang beristirahat, dan bekerja tanpa memperhatikan kondisi fisiknya.

Sebagai dokter forensik, Eve sudah terlalu sering melihat bagaimana tubuh manusia menyimpan konsekuensi dari kebiasaan hidup yang buruk. Stres kronis dapat mempertahankan aktivasi sistem saraf simpatis dan meningkatkan tekanan darah. Jika berlangsung lama, beban tersebut bisa berkontribusi terhadap penyakit kardiovaskular, gangguan metabolisme, masalah tidur, hingga memperburuk kondisi kesehatan yang sebelumnya tidak diketahui. Pada orang dengan faktor risiko tertentu, kejadian akut seperti serangan jantung atau stroke juga bukan sesuatu yang mustahil.

Jadi secara medis, nasihatnya sudah benar.

'Bilang makasih kek, padahal udah gue ingetin.'

Eve kembali menatap Lucien.

"Pokoknya Papa jangan bekelja telalu banyal," katanya sambil menunjuk tumpukan laporan. "Nanti mati."

Lucien mengusap pelipisnya lagi.

"Aku belum tua."

Eve mengerutkan hidung.

"Talau capek, ya istiwahat," balas Eve dengan suara cadel. "Papa bandel."

Vins menundukkan kepala semakin dalam, dia sudah tidak dapat menahan tawanya. Bahu pria tersebut bergerak sedikit.

Lucien melirik tajam ke arahnya, Vins langsung kembali berdiri tegak. Lucien mengembuskan napas panjang. Dia menatap tumpukan laporan di mejanya, kemudian Eve yang masih berdiri dengan ekspresi keras kepala.

Mengingat janji beberapa hari lalu, Lucien akhirnya menyerah.

"Baiklah."

Eve berkedip.

Lucien mengambil pena dan meletakkannya di atas meja. "Aku akan menghabiskan waktu bersamamu sekarang."

Mata Eve langsung berbinar.

'OKE MANTAP!'

Lucien menoleh kepada Vins.

"Vins, minta koki menyiapkan teh dan beberapa makanan ringan."

Vins segera menundukkan kepala.

"Baik, Yang Mulia."

Dia meninggalkan ruangan untuk menjalankan perintah tersebut.

Eve masih berdiri di tempat sambil menatap Lucien. Pria tersebut kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menghela napas pelan.

"Kenapa masih berdiri?"

Eve berkedip.

Lucien menunjuk sofa di sisi ruangan. "Duduk."

Eve berjalan menuju sofa dengan langkah kecil. Tidak lama kemudian, Vins kembali membawa pelayan dapur yang membawa nampan berisi teko teh, dua cangkir kecil, serta beberapa camilan. Setelah semuanya diletakkan di meja rendah, para pelayan kembali keluar. Pintu tertutup, menyisakan Eve dan Lucien di ruangan tersebut.

Eve duduk di salah satu sisi sofa.

Lucien mengambil tempat di sisi lain.

Dia menuangkan teh dengan gerakan tenang, lalu mendorong cangkir Eve sedikit lebih dekat sebelum mengambil cangkirnya sendiri.

Eve menatap cangkir tersebut, kemudian menatap Lucien. Lucien meminum tehnya, Eve ikut minum.

Lucien kembali menyeruput tehnya beberapa kali. Eve menatap camilan di meja, mengambil satu, lalu menggigitnya pelan. Setelah menelan, dia melirik Lucien lagi.

Pria tersebut masih diam.

'Bukannya kalau mau menghabiskan waktu bareng harus ngomong?'

Lucien tetap tenang menikmati tehnya, seolah duduk berdua dengan anak kecil dalam keheningan merupakan kegiatan yang sangat normal.

'Woi ngomong kek'

Dia mengusap cangkir dengan kedua tangannya, lalu diam-diam melirik wajah Lucien lagi.

'Masa gue yang harus cari topik?'

1
Nisa Nisa
wadau lucu kali ngomong nya siapa jadi capa🤣
Nisa Nisa
belum tentu bunuh diri juga kan bisa jdi dia di bunbun🤭
Myz Pena
eve dan ape atau epe ?? 🤣🤣🤣
Myz Pena
wkwkkwkwk tunggu thor aku ngakak ya Allah 🤣🤣🤣
Myz Pena
banyak banget makanannya.. emang bia dihabisin ??🤧
Myz Pena
ya Tuhan,, bukannya kemarin di bilang mirip cacing.. sekarang pendek lagi 🤣🤣
ginevra
jangan2 kamu yang dicari Mel... wah auto kaya raya
Myz Pena
sudah dibilang kamu cari alasan aja biar nggak makan sama tuh orang 🤧
ginevra
Amelia nggak bakalan takut soalnya jiwanya kan orang dewasa
ginevra
namanya makanan bayi ya hambar donk... kalau pakai Masako nanti tenggorokan sakit
Cimol krispy
tapi Ave dan eve beda tipis aja kok
Cimol krispy
tapi apa eve bisa makan itu semua
Cimol krispy
ya jelas ada dia lah eve, orang memang dia yg bawa kamu kesini
Cimol krispy
mau bilang eve kurus kan lo
Cimol krispy
ya iyalah mau dimandiin. kan baru 4 th
Cimol krispy
kamu harus bisa jadi pawang buat Lucien
🩷 ⃟🌴⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪
hoo iya nama jangan di ganggu gugatt, mantapp Evelyn 🤣
Xlyzy
mungkin ceritanya udah melenceng semenjak kehadiran kamu
Xlyzy
ya enakan kamu lah berubah jadi anak kicik lagi bisa manja manja lagi weh🤣
Xlyzy
Sabar ya tunggu 10 tahun lagi nanti balas dendam 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!