Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 TOLONG JANGAN KASIH TAU SIAPAPUN!
Setelahnya, Moiro pun kembali bekerja seperti biasa dan tetap didampingi oleh seniornya secara bergantian karena Moiro masih pemula.
Selama itu, Yuka hanya duduk diam di meja pelanggan bagian paling ujung sambil memerhatikan Moiro bekerja. Hidungnya tak henti-hentinya mengeluarkan sirup saat melihat Moiro yang terpaksa bertingkah imut. Untung saja, di atas mejanya sudah tersedia tisu sebagai alat siaga bencana.
Waduh, dia juga terpesona sama Moiro mode maid, wkwk.
Moiro berjalan pelan sambil membawa nampan berisi pesanan ke salah satu meja pelanggan—yang kebetulan dekat dengan tempat duduk Yuka.
Di sana, ekspresi Moiro terlihat jelas sangat malu. Wajahnya memerah sambil menggigit bibir bawah, terlebih lagi saat mengetahui Yuka tak mengalihkan pandangan darinya.
"D-Dia ngapain liatin aku kayak gitu sih...?!" batinnya kesal sekaligus malu.
Penasaran itu.
Moiro sesekali melirik ke arahnya, dan mendapati Yuka yang melongo dengan hidung mimisan—mirip ingus, cuma bedanya warnanya merah mantap.
Moiro langsung berkeringat dan seketika memalingkan tatapannya. Dahinya membiru samar di antara merahnya wajah malunya.
Ia pun akhirnya sampai di meja pelanggan, dan sengaja berdiri membelakangi Yuka.
"P-Pesanan Anda sudah sampai, T-Tuan Pelanggan," ucap Moiro tergagap, tak pernah terbiasa dengan pekerjaannya itu.
Nanti lama-lama bakal biasa kok. Awoakwokaok!
Dengan sigap, ia meletakkan pesanan pelanggan itu berupa nasi goreng dengan telur dadar di atasnya. Terlihat biasa, namun dalam diri Moiro, ia merasa ada yang mengganjal.
Pelanggan yang merupakan seorang laki-laki itu menatap Moiro dengan tatapan sedikit terkejut, "Kamu pekerja baru ya? Soalnya aku baru liat."
Moiro tersentak halus mendengarnya. Ia memegang lurus nampan kosong itu di bawah perutnya lalu menjawab pelan—sambil memaksa tersenyum, "I-Iya... Saya pekerja baru di sini..."
"Aaah..." keluhnya berat dalam hati, "Perasaanku makin gak enak!"
Pelanggan itu kemudian tersenyum tipis dan lanjut berkata, "Kebetulan, aku ini pelanggan setia, dan pengumpul moe moe kyun terbaik di sini."
Mendengar itu, Moiro seketika membatu, seolah habis terkena tatapan genit menggoda dari Medusa.
"Tunggu, tunggu, tunggu bentar! J-JANGAN BILANG...?!" batin Moiro panik, menduga sesuatu yang paling tidak ingin dilakukannya.
Iya, iya, iya! Moga yang itu!
Pelanggan itu tersenyum miring dengan tatapan tajam, terlihat seperti penjahat dengan segudang celana, eh— rencana, "Jadi kalo boleh, aku minta kamu mengucap mantra itu buat pesananku."
YESSS! MANTAAAAPP!
Jeder, isi pikiran Moiro disambar petir, "TUH KAN!"
Seketika, terbayang di pikiran gosongnya kejadian saat dirinya memeragakan moe moe kyun itu, dan sontak membuatnya malu sampai ke ubun-ubun.
"Anu... I-Itu..." ucap Moiro kemudian, ambil bergerak kaku seperti robot abis kecebur di got.
Mata si pelanggan sedikit melebar lalu berucap santai, "Awalnya kupikir kamu itu cewek tomboy, ternyata cukup feminin dan pemalu juga ya."
Dia mah fem— Eh jangan deh, wokawok.
Pelanggan itu kemudian memegang dagu, "Mirip gabungan tiga maid di sini."
Moiro hanya diam kaku dengan mata putih penuh, mirip orang pingsan berdiri terkena flashbang. Sama sekali tak mendengarkan ucapannya.
Pelanggan itu menunduk sambil terus tersenyum, dan kadang mengangguk, "Aku makin gak sabar liat kamu baca mantranya!"
AKU JUGA! BWAHAHA!
Moiro masih diam, sambil mengigit bibir karena malu.
Ia pun menghela napas pendek sesamar mungkin, lalu berucap dalam hati, berusaha menerima, "Ya sudahlah. Mau gimana lagi? Namanya pekerjaan..."
Moiro izin terlebih dahulu lalu meletakkan nampannya di meja, kemudian mulai membentuk pose hati dengan tangannya.
Moiro tersadar seketika, teringat kembali kalau ada teman sekelas yang memperhatikannya.
Ia melirik terbata, dan mendapati Yuka yang terlihat tak sabar dengan mata sedikit berbinar—dan hidung meler.
Moiro kemudian menatap dirinya, menatap tangannya yang sudah membentuk pose hati sambil berseru sebal dalam hati, "Bentar... Aku harus ngelakuin itu lagi...? Di sini?! DI DEPAN TEMAN SEKELASKU?!"
Tubuhnya mulai bergetar halus, ragu dengan apa yang akan dilakukannya.
Namun, ia kembali teringat dengan ucapan “jadilah diri sendiri”, yang sepertinya tidak akan mempan kali ini.
Saat itu, Moiro ingin menolak saja mengucap moe moe kyun pada pelanggan itu dengan penuh penyesalan, yang padahal sebenarnya sangat diinginkannya.
Tetapi, ingatan mengenai jumlah utang yang teramat banyak yang perlu dilunasi lewat begitu saja di pikirannya, membuatnya kesal karena sekarang ia punya dua pilihan.
Utang, atau jati diri.
Dan itu membuat Moiro bergumam tak karuan sampai membuat pelanggan itu tercengang.
Pelanggan itu—bagai seorang veteran—malah memandu Moiro karena ingat bahwa maid itu merupakan pekerja baru, "Mungkin kamu perlu membuat hati dan tulisan dulu di atas telurnya."
Kayak dah pengalaman gitu. Pernah jadi maid kau?
Moiro tersadar seketika, dan ia menatap kembali ke meja pelanggan dengan tatapan cemas.
Jati dirinya kini tak terlalu penting. Tidak sepenting utang orang tuanya yang perlu diselesaikan demi kehidupan yang lebih tenang.
Gak yakin bakal tenang kalo Authornya kayak gini.
Ia pun mengambil botol saus tomat (gak tau kenapa di luar itu sebutannya ketchup alias kecap—mungkin karena beda selera lidah, tapi ya sudahlah) lalu dipegang terbalik—siap menggambar di atas telur.
"Gambar hatinya yang besar ya," ucap pelanggan tiba-tiba, "Terus tambahin kata-kata manis gitu."
Moiro kembali mematung, memikirkan kata manis yang dimaksud, "Aku nulis begituan buat cowok? Ke sesama jenis?! YAKALI WOI!"
Kemudian, salah satu seniornya datang di waktu yang tepat. Seorang perempuan dengan rambut putih salju yang lurus, dengan tatapan dan ekspresi dinginnya—Sora Shirogane.
"Ada apa?" tanyanya pelan pada Moiro, terdengar datar seperti biasa.
Moiro menoleh seketika. Matanya berbinar samar seolah mendapat berkah saat itu juga.
Saat itu, si pelanggan menjawab sambil tersenyum karena melihat kedatangan Sora, "Ini, aku lagi minta dia buat baca mantra moe moe kyun, dan lagi ngarahin tipis-tipis."
Sora pun menatapnya, ingat dengan pelanggan yang suka mendengar mantra itu.
"Begitu ya?" balas Sora datar, lalu menghadap ke arah mereka dan berdiri diam.
Moiro mengerjap, lalu bertanya pelan, "S-Senior ngapain...?"
Sora melirik padanya datar, "Saya mau liat juga."
"Kenapa?!" serunya kaget.
Ia menyapu poni lalu menyelipkan sebagian rambutnya ke belakang telinga sambil memejamkan mata ringan, "Saya diberitahu Hikari, katanya kamu sangat imut saat itu."
Matanya kembali dibuka, terlihat elegan dan cantik, "Jadi saya mau liat."
Alamak. Saye pun mau!
Moiro mematung mengetahui itu, "Hancur sudah harapanku..."
Tak ada pilihan, Moiro pun kembali pada telur dan saus tomat di depannya. Perlahan tapi pasti, ia menggambar bentuk hati berukuran besar seperti yang diinginkan si pelanggan.
Masih ada bagian yang kosong. Moiro bingung ingin mengisi dengan kata manis yang seperti apa.
Sora kemudian mendekat dan memegang ringan pundaknya Moiro.
Moiro menoleh cepat, "Se-Senior?"
Sora menunjuk ke arah telur di depan lalu berucap pelan, tanpa menoleh pada Moiro, "Kamu bisa tulis 'jadilah enak' kalau bingung."
Mendengar itu Moiro hanya diam, lalu menatap kembali pada telur dengan gambar hati di atasnya, "Memangnya itu kata manis? Kupikir harus nulis kata gombal menjijikkan..."
Gak kebayang Moiro gombalin cowok wkwkwkk.
Ia menatap pelanggannya sekilas—terlihat tersenyum, yang berarti dia tetap menyukainya—lalu menulis kata manis itu.
Setelahnya, Moiro meletakkan kembali botol saus dan bersiap mengucapkan mantra.
Wajahnya perlahan kembali memerah canggung, bahkan saat itu ia merasa yang menatapnya tidak hanya tiga orang.
Ngomongin aku nih? Sejak kapan kau tau aku ngeliatin mulu?
Bibirnya gemetar halus, lalu dirapatkan untuk memaksanya berhenti.
"A-Aku mulai ya...?" ucapnya pelan, terdengar bergetar. Tangannya perlahan diangkat rendah, lalu membentuk pose hati—telunjuk hingga kelingking ditekuk di atas, dan jempol diluruskan menyerong di bawah.
Ekspresi Moiro terlihat semakin malu, wajahnya kini semerah tomat.
"Wa-Wahai nasi goreng, jadilah... jadilah enak..." ucapnya pelan, lalu menggigit bibirnya sejenak.
Tangannya diarahkan ke kiri dan ke kanan perlahan sambil berucap, "Moe... Moee..."
Matanya ditutup rapat, wajahnya makin merah dan panas hingga mengeluarkan uap. Tangannya perlahan diarahkan ke depan sembari berucap, "K-Kyunn...!"
Brak!
Meja pelanggan lain seketika digebrak oleh yang duduk di sana. Yang berarti, dugaan Moiro benar kalau dirinya dilihat lebih dari tiga orang.
Moiro menjadi semakin malu setelah melihat kalau yang salting karenanya lebih banyak dari sebelumnya.
Pelanggan di depannya hanya diam, sambil berbinar-binar kagum dan suka dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Moiro menatap itu dengan malu, bibirnya merapat, dan seketika teringat kalau Yuka pasti melihatnya.
Ia sontak tersentak, baru ingat dengan hal itu, "HANCUR SUDAH IMAGEKUU...!"
Sejak kapan kau peduli sama citra diri?
Moiro dengan terbata memalingkan wajahnya ke belakang, ia merasa takut.
Saat melihatnya, sorot matanya sedikit mendatar.
Di sana, terlihat senior Sora mendatangi meja Yuka sambil berkata pelan, ingin membersihkan cairan merah yang ikut keluar dari hidungnya, "Boleh saya minta tisu?"
Yuka yang membelalak dengan hidung tersumpal tisu tebal seketika menoleh padanya, lalu mengangguk pelan, "Y-Ya... Pake aja..."
Moiro menepuk pelan dahinya yang masih memerah, laku berbisik pelan dengan malu, "Tamat udah ini..."
...***...
Seharian itu Yuka hanya melihat bagaimana Moiro bekerja. Sesuatu yang ingin dipastikannya sudah terjawab—memang Moiro-lah pelayan manis baru yang dimaksud kakaknya.
Sekitar pukul enam sore, Yuka akhirnya memutuskan untuk pulang. Dia diantar oleh Hikari sampai keluar kafe, dan saat itulah Moiro baru mengetahui kalau mereka berdua ternyata bersaudara.
Baru sadar ye?
Sebelumnya, Moiro masih dalam keadaan sangat malu untuk sempat memikirkan hal itu. Ia tak menduga sama sekali saat melihat kedekatan antara Yuka dan Hikari.
Sebelum Yuka pulang, Moiro sempat memanggil dengan pelan karena malu, "Suzuki..."
Yuka menatapnya, dan dia masih terpaku saat melihat kembali keimutan Moiro.
Moiro merapatkan giginya, lalu berkata dengan suara yang terdengar bergetar halus, "Tolong... jangan beritahu pada siapapun soal ini..."
Yuka mengangkat jempolnya. Menatap Moiro dengan mantap.
"Tenang aja, aku sudah berjanji," balasnya dengan yakin, meski sirup kembali keluar dari salah satu hidungnya.
"Kuharap begitu..." sahut Moiro dalam hati. Tatapannya sedikit mendatar, sempat tidak yakin.
Yuka pun pulang, sambil melambaikan tangan dan dibalas oleh Hikari yang berada di samping Moiro. Sementara Moiro, ia hanya mengangkat tangannya rendah tanpa digerakkan.