NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Jangan Percaya Siapapun

Rumah Wijaya yang biasanya terasa tenang mendadak berubah seperti rumah yang sedang dijaga seorang pejabat penting. Sejak surat ancaman itu ditemukan di depan pintu, dua petugas keamanan tambahan berjaga di gerbang utama. Beberapa kamera pengawas baru dipasang di sudut-sudut rumah, sementara setiap kendaraan yang keluar maupun masuk harus melalui pemeriksaan lebih dulu.

Nadira berdiri di balkon lantai dua sambil memandang halaman depan. Dua orang berpakaian hitam tampak berkeliling bergantian mengawasi area rumah. Pemandangan itu membuatnya tidak merasa lebih aman. Justru sebaliknya. Ia baru benar-benar menyadari bahwa ancaman yang selama ini hanya berupa dugaan kini berubah menjadi sesuatu yang nyata.

Suara pintu kamar terbuka membuat Nadira menoleh. Arga baru selesai menerima panggilan telepon dari Rizky. Wajahnya terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya.

"Semua akses belakang rumah sudah ditambah penjagaan," katanya singkat. "Kalau kamu mau ke mana-mana, kabari aku dulu."

Nadira mengangguk pelan. "Aku cuma ke toko."

"Aku antar."

"Mas, jaraknya dekat."

"Aku antar." Jawaban Arga begitu tegas hingga tidak memberi ruang untuk dibantah.

Nadira tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana. "Aku masih bisa naik taksi."

"Tidak."

"Nanti Maya juga..."

"Tidak."

Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Arga memotong ucapannya sebelum selesai. Suaranya memang tidak keras, tetapi cukup membuat Nadira terdiam.

Arga menyadari nada bicaranya terdengar terlalu dingin. Ia mengembuskan napas panjang lalu mendekat.

"Maaf."

Nadira mengangkat wajahnya.

"Aku cuma..." Arga berhenti beberapa detik, seolah memilih kata-kata yang tepat. "...aku nggak mau kejadian apa pun sama kamu."

Tatapan mata pria itu berbeda. Bukan lagi ketegasan seorang CEO, melainkan kecemasan seseorang yang benar-benar takut kehilangan orang yang dicintainya.

"Aku baik-baik saja."

"Aku tahu."

"Tapi aku nggak bisa mengambil risiko."

Nadira akhirnya hanya mengangguk. Ia mulai menyadari satu hal. Arga memang sedang marah. Bukan kepadanya. Melainkan kepada siapa pun yang telah berani mengancam hidup mereka.

Menjelang siang, Nadira memutuskan tetap berada di rumah. Arga harus mengikuti rapat daring bersama beberapa direksi sehingga ia memintanya beristirahat saja.

Merasa bosan, Nadira berjalan menyusuri lorong lantai dua rumah itu. Selama tinggal di sana, ternyata masih banyak ruangan yang belum pernah ia masuki. Salah satunya sebuah ruang baca kecil di ujung koridor.

Ruangan itu dipenuhi rak kayu berwarna gelap dengan ratusan buku yang tersusun rapi. Di dekat jendela terdapat sebuah meja kerja tua lengkap dengan lampu baca bergaya klasik. Aroma kayu dan kertas tua langsung memenuhi indera penciumannya begitu pintu dibuka.

Nadira berjalan perlahan menyusuri rak demi rak.

Sebagian besar buku membahas bisnis, ekonomi, sejarah, hingga biografi tokoh dunia. Namun, di salah satu sudut rak, ia menemukan beberapa album foto yang disusun berjajar.

Rasa penasarannya membuat ia mengambil salah satunya. Album itu tampak sudah cukup tua.

Begitu dibuka, foto pertama memperlihatkan Arga saat masih duduk di bangku SMA. Wajahnya masih jauh lebih muda, tetapi ekspresi datarnya sudah sama seperti sekarang.

Nadira tersenyum kecil. "Arga ternyata dari dulu memang susah senyum." Ia membalik halaman berikutnya.

Foto wisuda.

Foto pertandingan basket.

Foto keluarga.

Sampai akhirnya jemarinya berhenti pada sebuah foto yang membuat senyumnya perlahan memudar.

Di dalam foto itu, Arga berdiri berdampingan dengan seorang perempuan berambut panjang yang tersenyum cerah ke arah kamera.

Bianca.

Mereka tampak begitu akrab.

Di foto lain, keduanya sedang menghadiri acara makan malam. Di foto berikutnya lagi, Bianca memegang lengan Arga sambil tertawa.

Tanpa sadar, dada Nadira terasa sedikit sesak. Ia tahu Bianca pernah menjadi bagian dari hidup Arga. Namun melihat bukti itu secara langsung menghadirkan perasaan yang sama sekali berbeda.

Di balik foto-foto tersebut terselip sebuah kartu ucapan yang mulai menguning dimakan usia.

"Untuk Arga. Terima kasih sudah selalu ada di setiap langkahku. Semoga suatu hari nanti kita benar-benar bisa berjalan ke masa depan yang sama."

Tidak ada nama penulisnya. Tetapi Nadira tahu siapa yang menulisnya. Ia menutup album itu perlahan.

Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengakui perasaan, ia merasa berada di posisi yang begitu rumit. Ia mencintai Arga, meski masa lalu pria itu masih ada, tersimpan rapi di dalam rumah yang kini juga menjadi tempat tinggalnya.

Sore harinya, Arga selesai bekerja lebih cepat dari biasanya. Ia mencari Nadira ke beberapa ruangan sebelum akhirnya menemukannya masih berada di perpustakaan kecil itu.

"Kamu di sini." Nadira sedikit terkejut. "Iya. Aku lagi bosan jadi jalan-jalan."

Arga memperhatikan album foto yang masih berada di pangkuan Nadira. "Kamu lihat-lihat?"

Nadira mengangguk pelan. "Maaf. Aku penasaran."

Arga berjalan mendekat. Tatapannya jatuh pada album yang terbuka. Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas pelan.

"Kamu sudah lihat semuanya?"

"Belum. Hanya sebagian."

Suasana mendadak hening.

"Aku nggak sengaja lihat foto Bianca."

Arga tidak terkejut. Seolah ia memang sudah menduga momen itu akan datang suatu hari nanti. "Itu foto lama."

Nadira mengusap pelan sampul album tersebut. "Kalian kelihatan bahagia."

Arga tidak langsung menjawab. "Itu sebelum semuanya berubah."

"Nggak ada yang perlu kamu jelaskan kalau memang belum siap."

"Tapi aku ingin menjelaskannya."

Arga duduk di samping Nadira. "Bianca pernah menjadi seseorang yang sangat penting buatku."

Nadira memilih diam, membiarkan Arga melanjutkan.

"Aku pikir waktu itu... kami akan bersama sampai akhir."

"Lalu?"

"Hidup ternyata nggak sesederhana itu."

Arga tersenyum tipis, tetapi senyum itu dipenuhi kepahitan. "Beberapa orang memilih pergi ketika keadaan berubah. Tapi..." Tatapannya perlahan beralih kepada Nadira. "...ada juga yang memilih tetap tinggal."

Nadira merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

Arga menggenggam tangan perempuan itu dengan lembut. "Dan sekarang orang yang ingin tetap aku pertahankan adalah kamu."

Ucapan itu seharusnya membuat Nadira bahagia. Namun justru semakin banyak pertanyaan bermunculan di kepalanya.

Tentang Bianca.

Tentang Proyek Aurora.

Tentang ayahnya.

Tentang orang-orang yang kini mulai mengincar mereka. Ia merasa sedang berdiri di tengah persimpangan yang rumit.

Di satu sisi ada cinta yang tumbuh semakin dalam, ada masa lalu yang belum selesai. Dan di balik semuanya, seseorang terus bergerak dalam diam, menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Nadira menatap Arga cukup lama sebelum akhirnya menggenggam balik tangan pria itu. Meski rasa takut masih memenuhi hatinya, satu hal mulai ia yakini.

Apa pun rahasia yang tersembunyi di balik Proyek Aurora, mereka akan menghadapinya bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!