Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
[ Kebohongan Terakhir ]
Seminggu sebelum hari lamaran.
Rhea mulai menghitung hari dengan rasa takut yang semakin besar. Setiap kali melihat Vincent tersenyum, dadanya terasa sesak. Ia tahu, senyum itu akan segera berubah menjadi luka yang mungkin tak akan pernah sembuh.
Namun Vincent...
Justru tampak lebih bahagia daripada sebelumnya.
Pagi itu, Vincent datang ke toko bunga membawa sebuah pot mawar putih.
"Apa ini?" tanya Rhea.
"Untuk toko ini."
Rhea menerimanya sambil tersenyum.
"Kenapa mawar putih lagi?"
Vincent memandang bunga itu cukup lama.
"Karena mawar putih selalu mengingatkanku pada rumah."
"Lalu sekarang..."
"...rumah itu juga mengingatkanku padamu."
Rhea menundukkan kepala.
Ia tak sanggup lagi menatap mata Vincent.
Siang harinya, Vincent mengajak Rhea makan siang di restoran kecil yang pertama kali mereka datangi.
Pemilik restoran langsung tersenyum saat melihat mereka.
"Sudah lama tidak datang."
Vincent mengangguk.
"Kami sibuk."
Pemilik restoran terkekeh.
"Kalian cocok sekali."
Rhea hanya tersenyum hambar.
Sepanjang makan, Vincent beberapa kali memperhatikan wajah Rhea.
"Kau akhir-akhir ini sering melamun."
"Ada masalah?"
Rhea buru-buru menggeleng.
"Tidak."
"Kau yakin?"
"Iya."
Vincent terdiam.
Entah kenapa, ia mulai merasa ada sesuatu yang disembunyikan Rhea.
Namun ia memilih untuk mempercayainya.
Karena cinta...
Selalu membuat seseorang lebih memilih percaya daripada curiga.
Malam harinya, Rhea menghadiri rapat terakhir bersama tim kepolisian.
Komandan meletakkan sebuah map di atas meja.
"Ini susunan operasi."
Semua anggota memperhatikan dengan serius.
"Zhava akan tetap berada di sisi target."
"Begitu kode diberikan..."
"...tim langsung mengepung lokasi."
Seorang anggota bertanya, "Bagaimana kalau target melakukan perlawanan?"
Komandan menjawab singkat.
"Lumpuhkan bila perlu."
Kalimat itu membuat jantung Rhea berdegup kencang.
"Tidak!" ucapnya spontan.
Semua orang menoleh.
Rhea langsung menundukkan kepala.
"Maksudku..."
"...usahakan jangan sampai ada korban."
Komandan menatapnya beberapa saat.
"Itu juga harapan kita."
"Tapi kalau Vincent melawan..."
"...kami tidak punya pilihan."
Rhea mengepalkan tangannya di bawah meja.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi polisi...
Ia takut keberhasilan misinya justru akan merenggut nyawa seseorang.
Di sisi lain kota, Vincent duduk di ruang kerjanya bersama Damian.
"Aku ingin kau menyebarkan undangan."
Damian menerima beberapa amplop berwarna hitam elegan.
"Undangan pertunangan?"
Vincent mengangguk.
"Hanya untuk keluarga panti, orang-orang terdekat, dan seluruh petinggi Black Raven."
Damian tersenyum.
"Bos akhirnya benar-benar akan memulai hidup baru."
Vincent membuka laci mejanya.
Di dalamnya tersimpan sepucuk surat.
"Apa itu?" tanya Damian.
"Surat pengunduran diriku."
"Aku akan membacakannya setelah pertunangan selesai."
Damian tersenyum bangga.
"Kalau begitu..."
"...hari itu akan menjadi hari paling bahagia dalam hidup Bos."
Vincent hanya tersenyum.
Ia benar-benar mempercayai masa depan yang sedang ia bangun.
Malam semakin larut.
Rhea duduk sendirian di apartemennya.
Di atas meja tergeletak dua benda.
Lencana polisi bertuliskan Letnan Zhava Vianzya.
Dan gantungan kunci mawar putih pemberian Vincent.
Ia mengambil keduanya.
Menggenggamnya erat.
"Kalau aku memilih tugas..."
"...aku akan menghancurkan pria yang kucintai."
"Kalau aku memilih cinta..."
"...aku akan mengkhianati sumpahku sebagai polisi."
Air matanya jatuh satu per satu.
Tak ada pilihan yang benar.
Tak ada jalan keluar yang tidak menyakitkan.
Di luar jendela, hujan kembali turun.
Dan di suatu tempat yang tidak jauh dari sana...
Vincent sedang menatap cincin pertunangan yang sebentar lagi akan melingkar di jari wanita yang paling ia cintai.
Ia tidak tahu...
Bahwa wanita itu sedang menangis, bukan karena tidak mencintainya.
Melainkan karena ia tahu...
Cincin itu hanya akan bertahan beberapa menit sebelum digantikan oleh sepasang borgol. 💔