Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Alya menemui Satria Mahendra sehari sebelum makan malam yayasan.
Pertemuan itu tidak dilakukan di kantor Pradipta Group. Terlalu banyak mata. Tidak juga di hotel mahal. Terlalu mudah ditebak. Satria memilih sebuah kedai kopi tua di Cikini, tempat para pensiunan wartawan, dosen, dan aktivis lama biasa duduk berjam-jam membahas negara seolah mereka masih bisa memperbaikinya dengan kopi hitam.
Satria Mahendra datang tepat waktu.
Usianya sekitar enam puluh, rambutnya putih rapi, kemejanya sederhana. Ia tidak terlihat seperti orang yang duduk di Dewan Komisaris salah satu grup bisnis terbesar Indonesia. Justru karena itu ia berbahaya. Orang seperti Satria tidak perlu terlihat kaya untuk membuat orang lain gugup.
"Alya Wiratama," katanya saat duduk.
"Alya Pradipta," koreksi Alya.
Satria tersenyum tipis. "Cepat sekali terbiasa."
"Nama harus dipakai saat berguna."
"Arga memilih istri yang menarik."
"Keluarga memilih. Arga bertahan."
Satria memandangnya lebih lama.
"Kamu meminta bertemu lewat Dokter Mira. Itu pilihan cerdas. Kalau kamu menghubungiku langsung, aku tidak akan datang."
"Saya tahu."
"Kamu tahu banyak?"
"Cukup untuk tahu Bapak pernah menolak proyek pengadaan alat kesehatan Daren karena vendor bermasalah."
Satria mengangkat cangkir. "Informasi publik."
"Tidak semua orang membaca notulen RUPS."
"Dan tidak semua menantu baru memulai pernikahan dengan membaca notulen."
"Saya bukan semua orang."
Satria tertawa pelan. "Itu sudah jelas."
Alya meletakkan map tipis di meja.
Satria tidak langsung menyentuh. "Apa ini?"
"Pola medis Arga. Obat tanpa label. Catatan perawat lama. Tanggal dosis dinaikkan sebelum rapat keluarga. Hasil lab awal."
"Kenapa diberikan kepadaku?"
"Karena ini bukan hanya masalah rumah tangga. Jika Arga sengaja dibuat tidak mampu hadir dalam pembahasan perusahaan, maka ada potensi manipulasi tata kelola."
Satria akhirnya mengambil map.
Ia membaca tanpa ekspresi.
Alya menunggu.
Ia menyukai orang yang membaca sebelum bicara.
Setelah beberapa halaman, Satria menutup map. "Ini belum cukup."
"Saya tahu."
"Tapi cukup mengganggu."
"Itu tujuan pertemuan pertama."
"Kamu ingin aku melakukan apa?"
"Jangan dulu melakukan apa pun secara resmi. Saya butuh tahu jadwal rapat keluarga, struktur proyek yayasan kesehatan, dan siapa saja yang terlibat dalam pengadaan obat atau layanan medis pribadi keluarga Pradipta."
Satria menatapnya.
"Itu permintaan besar."
"Saya membawa masalah besar."
"Kamu sadar kalau tuduhanmu salah, kamu bisa dituntut?"
"Saya tidak menuduh di depan publik."
"Tapi kamu menggali."
"Menggali bukan kejahatan."
"Tergantung tanah siapa."
Alya tersenyum tipis. "Kalau tanahnya berisi mayat, pemilik tanah juga punya masalah."
Satria tertawa.
Kali ini cukup nyata.
"Aku mulai paham kenapa Ratna panik."
"Bu Ratna panik?"
"Dia menelepon istriku. Mengundang kami ke makan malam yayasan besok. Katanya ingin mempererat silaturahmi."
"Bapak datang?"
"Aku belum memutuskan."
"Datanglah."
"Kenapa?"
"Karena mereka akan membuat kesalahan."
Satria menyandarkan punggung. "Kamu yakin?"
"Orang yang terlalu lama berhasil biasanya ceroboh ketika pertama kali ditahan."
Satria mengetuk map dengan ujung jarinya. "Dan kalau kesalahan itu melibatkan orang yang tidak bersalah?"
"Maka saya hentikan sebelum jatuh korban."
"Kamu terdengar seperti sudah tahu siapa korbannya."
"Saya punya dugaan."
"Dugaan bukan dasar bertindak."
"Benar. Karena itu saya meminta Bapak datang sebagai mata tambahan, bukan sebagai hakim."
Satria mengamati wajahnya. "Kamu meminta bantuan sambil tetap mengatur posisi orang."
"Saya meminta bantuan kepada orang yang cukup pintar untuk menolak kalau merasa dipakai."
Untuk pertama kalinya, Satria tampak benar-benar terhibur. "Pujian dan jebakan dalam satu kalimat."
"Efisien," jawab Alya.
"Kalimat bagus. Pengalaman pribadi?"
"Pengamatan."
Satria menatapnya lagi. Ia seperti mencoba mencari celah, tetapi tidak menemukan yang mudah.
"Apa tujuan akhirmu, Alya?"
"Arga sehat. Orang yang mencelakainya bertanggung jawab. Struktur perusahaan tidak lagi dipakai untuk menutupi kejahatan keluarga."
"Jawaban resmi."
"Untuk pertemuan pertama, cukup."
"Kamu ingin Arga masuk perusahaan?"
"Jika dia mau."
"Dan jika dia tidak mampu?"
"Dia lebih mampu daripada yang mereka laporkan."
"Kamu terdengar percaya padanya."
Alya diam sesaat.
Percaya.
Kata itu belum tepat.
"Saya percaya dia marah," katanya. "Untuk sekarang, itu cukup."
Satria mengangguk pelan.
"Aku akan datang besok."
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Aku datang untuk melihat. Kalau kamu hanya menantu baru yang terlalu percaya diri, aku akan pergi sebelum makanan utama."
"Kalau begitu saya pastikan acaranya menarik sebelum makanan utama."
Satria tersenyum. "Hati-hati, Alya. Keluarga Pradipta tidak suka dipermalukan."
"Saya tahu. Mereka lebih suka mempermalukan orang lain."
"Dan kamu ingin mengubah kebiasaan itu?"
"Saya ingin membuatnya mahal."
Pertemuan selesai dalam dua puluh menit.
Saat Alya keluar kedai, hujan turun tipis. Yusuf sudah menunggu dengan mobil. Namun sebelum ia masuk, ponselnya bergetar.
Pesan dari Dira.
`Daftar tamu sudah kukirim ke email. Hati-hati. Raka benar datang. Karina juga. Mama Ratna meminta panitia menyiapkan ruang istirahat VIP di lantai dua.`
Alya membaca pesan itu dua kali.
Ruang istirahat VIP.
Tempat sempurna untuk membuat skandal.
Ia membalas:
`Siapa yang pegang akses?`
Dira menjawab cepat.
`Asisten yayasan dan staf keamanan Daren. Aku tidak punya kontrol penuh.`
Bagus.
Daren masuk.
Maka jebakan ini bukan hanya Ratna.
Di mobil, Yusuf bertanya, "Pulang ke rumah, Nyonya?"
"Ke kantor pengacara."
"Pengacara?"
"Aku butuh dua surat."
"Untuk apa?"
"Untuk memastikan kalau besok ada orang dikurung di ruang VIP, pintunya bisa dibuka dengan alasan hukum."
Yusuf tampak tidak paham, tetapi mengangguk.
Di kediaman Arga, Arga sedang menjalani pemeriksaan ringan dengan Dokter Mira ketika Alya pulang. Ia tampak lelah, tetapi tidak seburuk sebelumnya.
"Kamu basah," katanya.
"Hujan."
"Aku kira kamu akan bilang itu bagian dari strategi."
"Kalau aku bisa mengatur hujan, Ratna sudah tenggelam."
Dokter Mira tersedak kecil.
Arga tertawa.
Alya meletakkan tas dan membuka laptop.
"Satria datang besok."
Arga langsung serius. "Dia setuju?"
"Dia akan melihat."
"Itu berarti belum percaya."
"Orang yang langsung percaya lebih berbahaya."
"Kamu selalu punya jawaban."
"Tidak selalu. Hanya sering."
Mira selesai memeriksa tekanan darah. "Kondisimu membaik, tapi besok jangan ikut."
Arga tidak membantah.
Alya menoleh, terkejut.
Arga melihatnya. "Aku belajar, kan?"
"Ajaib."
"Jangan terlalu memuji."
Mira menatap keduanya, lalu berkata, "Aku tidak tahu pernikahan kalian ini apa, tapi setidaknya pasienku lebih ingin hidup."
Arga diam.
Alya juga.
Kalimat itu sederhana, tetapi masuk ke tempat yang tidak ingin mereka sentuh.
Setelah Mira pergi, Arga memanggil Alya.
"Besok kamu akan masuk ke tempat mereka tanpa aku."
"Iya."
"Aku tidak suka."
"Aku tahu."
"Bukan karena aku meragukanmu."
"Aku tahu."
"Kalau sesuatu terjadi--"
"Tidak akan."
"Alya."
Ia menatapnya.
Arga duduk di tepi ranjang, wajahnya masih pucat, tetapi suaranya mantap.
"Aku sudah terlalu lama menjadi alasan orang lain bergerak. Besok, kalau kamu perlu memakai namaku, pakai. Kalau kamu perlu mengatakan aku yang memintamu datang, katakan. Kalau mereka menyebutmu menantu tidak tahu diri, katakan suamimu yang tidak tahu diri lebih dulu."
Alya diam beberapa detik.
"Itu izin?"
"Dukungan."
"Kata besar."
"Aku sedang latihan."
Alya menatapnya, lalu mengangguk.
"Baik. Aku akan pakai kalau perlu."
"Pakai dengan mahal."
"Tentu."
Malam itu, Alya memeriksa daftar tamu sampai lewat tengah malam.
Di kamar sebelah, Arga tidak benar-benar tidur. Ia mendengar langkah Alya sesekali berhenti di lorong, suara kertas dipindahkan, dan ketukan pelan keyboard. Dulu suara malam di rumah ini hanya obat, batuk, dan pintu yang dikunci. Sekarang ada seseorang yang bekerja karena ia belum menyerah.
Arga memejamkan mata.
Rasanya asing.
Dan berbahaya, karena asing itu hampir terasa seperti harapan.
Nama Karina Hartono ada di urutan tamu utama.
Raka Wibisana ada di daftar donatur.
Satria Mahendra ada di daftar undangan baru.
Dan di bagian panitia internal, ada nama staf keamanan Daren yang pernah muncul dalam pembayaran operasional rumah utama.
Alya menutup laptop.
Pola itu makin jelas.
Mereka tidak hanya ingin mempermalukannya.
Mereka ingin membuat satu skandal yang bisa memukul banyak orang sekaligus: Karina, yayasan, Arga, dan dirinya.
Bagus.
Kalau musuh menyediakan panggung sebesar itu, ia hanya perlu memastikan kamera menghadap ke arah yang benar.