NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Entah mengapa dirinya terus ingin membantu pria itu. Sebuah tanda tanya yang bahkan tidak bisa ia jawab hanya dengan alasan kasihan. Kalau memang hanya karena kasihan, seharusnya dirinya hanya akan membantu sesekali.

Bukan... Peduli setiap hari seperti ini.

"Kalau pria lain yang berada di posisiku, apa kamu juga akan melakukan hal yang sama?" Tanya Marchel dengan wajah serius. Tatapan matanya seolah berkata, kalau jawabanmu iya, habislah kamu hari ini.

"Lalu bagaimana kalau ada gadis lain yang melakukan semua ini padamu? Apa kamu juga akan bersikap seperti sekarang?" Balik Tirta. Bukannya gentar, Marchel justru menyeringai tipis.

"Kamu belum mengenalku lebih jauh." Suaranya terdengar tenang, tetapi justru semakin menyeramkan.

"Kamu belum tahu kalau siapa pun yang menyentuhku, sengaja ataupun tidak... bayarannya adalah nyawa." Tatapan pria itu begitu yakin pada setiap kata yang keluar dari bibirnya. Tirta memang sempat merasa takut.

Namun entah kenapa... Ketakutan itu perlahan menghilang. Jauh di dalam hatinya, ia justru percaya bahwa pria ini tidak akan pernah benar-benar menyakitinya.

"Lalu kenapa kamu bersikap lembut padaku?" Tanya Tirta pelan.

"Kenapa kamu baik padaku?" Marchel tidak langsung menjawab.

"Kamu juga belum menjawab pertanyaanku."

"Jawab dulu pertanyaanku. Kenapa semuanya seolah selalu bergerak mengelilingimu?" Tirta kembali menghindari jawaban. Marchel menghela napas pelan.

"Aku hanya akan menjawab satu pertanyaanmu."

"Karena kamu juga baru menjawab satu pertanyaanku." Tirta membantu Marchel duduk lebih tegak sebelum akhirnya menarik napas panjang.

"Kalau itu orang lain..." Ia menatap lurus ke mata biru langit milik pria itu.

"Aku rasa aku tidak akan seperhatian ini." Jawaban itu membuat keduanya terdiam. Mata mereka saling bertemu. Seolah sedang berusaha menemukan kejujuran yang bersembunyi di balik tatapan masing-masing.

"Apa kamu tidak merasa jijik... atau takut padaku?" Suara Marchel terdengar jauh lebih pelan.

"Di luar sana banyak orang datang karena uang."

"Lalu pergi tanpa meninggalkan peluang sedikit pun." Tirta tersenyum kecil.

"Jijik?"

"Tentu saja tidak."

"Pria setampan dirimu memang pantas digandrungi banyak wanita."

Ia tertawa kecil.

"Walaupun harus kuakui..."

"Kamu memang menyeramkan."

"Rambutmu panjang, janggut dan kumismu lebat."

"Kalau orang baru melihatmu, mungkin mereka akan mengira kamu monster." Tanpa sadar, telunjuk Tirta mulai merapikan rambut yang menutupi dahi Marchel. Lalu jemarinya turun perlahan hingga menyentuh janggut pria itu.

"Jangan main-main denganku, Tirta." Marchel tiba-tiba menggenggam tangan nakal itu.

"Sekali aku memutuskan menarikmu agar tetap berada di sisiku..."

"Maka selamanya kamu akan terus bersamaku." Nada suaranya begitu serius. Namun Tirta justru terkekeh geli.

"Oh, ayolah."

"Kamu bukan orang paling berkuasa di dunia."

"Masih ada Master H."

"Orang terkaya sekaligus paling berpengaruh di dunia."

"Walaupun tidak pernah muncul di televisi, kesuksesannya benar-benar tidak ada tandingan."

"Kamu tidak sekaya itu untuk menandinginya."

"Jadi jangan bilang aku tidak akan bisa pergi darimu." Sambil berbicara, Tirta mencoba menarik kembali tangannya. Namun Marchel belum melepaskannya.

"Kalau suatu hari kalian bertemu..."

"Lalu kamu diminta memilih antara dia atau aku."

"Siapa yang akan kamu pilih?" Pertanyaan itu membuat Tirta tertawa lepas.

"Hahaha..."

"Tentu saja aku memilih dia."

"Uang jauh lebih menggoda."

"Lagipula nanti kalau dia su—"

"Akh!"

Ucapan Tirta langsung terpotong. Tanpa aba-aba, tangan kekar Marchel melingkar di pinggang rampingnya. Tubuh Tirta refleks menegang. Kini tidak ada lagi jarak di antara mereka. Jantungnya langsung berdetak begitu keras.

"I-ini..." Suara Tirta bahkan berubah menjadi terbata-bata.

"Aku tidak sedang bercanda." Bisikan berat Marchel memenuhi telinga gadis itu. Seketika seluruh tubuh Tirta meremang.

"I-iya..."

"Aku cuma bercanda." Tirta tersenyum canggung.

"Kenapa kamu bertanya sampai sejauh itu?"

"Kita juga bukan pasangan, kan?"

"Ekhem." Marchel segera melepaskan pelukannya. Keduanya sama-sama mengalihkan pandangan. Suasana mendadak menjadi canggung. Bukan sekarang waktunya. Perasaan Tirta masih terlalu samar.

"Sudahlah."

"Makan dulu."

"Kamu belum makan sejak kemarin."

"Aku ada di depan rumah."

"Kalau butuh bantuan, panggil saja." Tanpa menunggu jawaban, Tirta segera keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup, ia langsung menepuk dadanya sendiri.

"Astaga..." Jantungnya sama sekali tidak mau tenang. Bahkan detaknya terdengar begitu jelas di telinganya sendiri.

Sepertinya...

Ia memang harus mulai menjaga jarak dengan pria itu. Kalau terus seperti ini, bisa-bisa dirinya benar-benar mati karena serangan jantung.

...****************...

Setelah napasnya mulai kembali normal, Tirta duduk di depan rumah. Pandangannya jatuh pada taman kecil yang setiap hari ia lewati. Tanaman-tanamannya tumbuh subur. Rumput hijau yang terawat membuat mata terasa sejuk memandang. Di tengah taman itu terdapat jalan setapak dari semen yang memang dibuat agar orang tidak menginjak tanaman.

Melihat semua itu...

Pikiran Tirta tiba-tiba melayang jauh. Ia kembali teringat hadiah yang pernah ia berikan untuk dirinya sendiri. Masuk ke universitas impian. Tanpa meminta izin. Tanpa meminta bantuan siapa pun. Semua ia lakukan seorang diri. Tangannya perlahan membuka layar ponsel. Tatapannya berhenti pada surat penerimaan mahasiswa.

Sudut matanya mulai memanas. Andai Ayah dan Ibunya tahu... Mereka pasti akan bangga. Namun di saat yang sama, mereka juga pasti akan berkata... Bahwa mereka tidak mampu membiayainya.

Sebulan yang lalu... Ibunya bahkan pernah mengatakan sesuatu yang masih terus terngiang di telinganya. Beliau berharap Tirta bersedia membantu biaya kuliah adik bungsunya nanti.

"Setidaknya adikmu bisa merasakan bangku kuliah."

"Walaupun Ayah, Ibu, dan kakak-kakaknya tidak pernah sempat merasakannya."

"Ibu yakin nanti dia yang akan bertanggung jawab pada keluarga." Kalimat itu masih membekas.

Mungkin...

Inilah alasan mengapa Tirta lebih betah berada jauh dari rumah. Karena setiap kali pulang... Selalu ada perasaan bahwa dirinya harus menjadi penopang masa depan keluarganya. Pikiran-pikiran itu terus bercabang. Tanpa pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Air matanya akhirnya jatuh. Ini adalah mimpinya. Gelar yang ingin ia persembahkan untuk ayahnya. Seorang pria yang dulu juga memiliki mimpi sederhana... Duduk di bangku kuliah. Tak ingin tangisnya terdengar, Tirta berjalan menuju taman.

Ia mengambil selang dan menyalakan airnya. Suara gemericik air itu berhasil menutupi isak tangis yang sejak tadi ia tahan. Bahunya bergetar pelan.

Beginilah hari-harinya. Baru saja ia merasa bahagia... Beberapa detik kemudian pikirannya sudah kembali dipenuhi beban keluarga.

"Masih siang."

"Kenapa kamu malah menyiram tanaman?" Suara Marchel membuat Tirta buru-buru mengusap air matanya. Pria itu kini berdiri di depan rumah sambil memperhatikan punggungnya.

"Aku cuma ingin memberi mereka sedikit air."

"Setidaknya selama mereka hidup di sini..."

"Ada orang baik sepertiku yang menyiram mereka."

"Bukan membiarkan mereka mati karena kekeringan." Sindiran itu terdengar begitu jelas.

Namun Tirta berusaha menjaga agar suaranya tidak bergetar. Ia tidak ingin Marchel menyadari bahwa dirinya baru saja menangis.

"Kamu sedang menyindirku?"

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!