Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa! Aku Punya Hadiah!
Keesokan harinya, Eve menemukan satu masalah yang bahkan dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
Dia bosan.
Elyndor memiliki urusan penting yang tidak bisa ditunda sehingga pelajaran membaca terpaksa ditiadakan hari itu. Setelah sarapan, Eve kembali ke kamar bersama Cecil tanpa jadwal kegiatan lain yang bisa mengalihkan perhatiannya. Awalnya dia mencoba duduk di dekat jendela sambil melihat taman, tetapi setelah lima menit, pemandangan yang sama mulai terasa membosankan. Dia kemudian berbaring di ranjang, berguling ke kanan, lalu ke kiri. Setelah merasa posisi tersebut juga tidak membantu, Eve turun dari ranjang dan berjalan mondar-mandir tanpa tujuan.
Cecil yang sedang merapikan beberapa pakaian akhirnya memperhatikan tingkah Eve. Dia menahan senyum ketika melihat gadis kecil tersebut berhenti di tengah kamar dengan wajah kusut.
"Nona terlihat bosan sekali," ujar Cecil sambil meletakkan pakaian yang sudah dilipat ke dalam lemari.
"Bagaimana kalau kita bermain gambar-gambar?"
'Gambar-gambar?' Eve yang sedang menopang pipi langsung menoleh.
'Gue sudah hidup lebih dari tiga puluh tahun.' Tatapannya perlahan berubah datar, ia menatap Cecil seolah perempuan muda tersebut baru saja mengusulkan sesuatu yang sangat tidak masuk akal.
'Dan sekarang gue disuruh main kayak anak kecil?.'
Cecil rupanya tidak menyadari pergulatan batin tersebut. Dia malah terlihat semakin bersemangat ketika mengambil beberapa lembar kertas dari laci meja.
"Nona bisa menggambar apa saja. Rumah, bunga, hewan, atau keluarga Nona," jelas Cecil sambil membawa perlengkapan menggambar ke meja kecil.
"Saya juga bisa menemani."
Eve memandang kertas kosong yang diletakkan di hadapannya. Sebenarnya dia bisa saja menolak. Namun setelah menghabiskan hampir seluruh pagi dengan menatap dinding dan menghitung berapa kali tirai bergerak tertiup angin, bermain gambar mungkin masih lebih baik daripada mati kebosanan.
Eve akhirnya menarik kursi kecil dan duduk.
"Ya udah," jawabnya pendek.
Wajah Cecil langsung cerah. Dia duduk di sebelah Eve dan mengambil selembar kertas lain sebagai contoh. Dengan gerakan perlahan, Cecil mulai membuat beberapa garis. Dia menggambar sebuah rumah kecil dengan atap segitiga, kemudian menambahkan jendela, pintu, pohon, dan matahari di sudut kertas.
"Begini, Nona. Mulai dari bentuk sederhana dulu," kata Cecil sambil menunjuk garis yang baru dibuatnya.
"Tidak perlu langsung bagus. Yang penting Nona menikmati gambarnya."
Eve memperhatikan tangan Cecil bergerak.
'Kalau dipikir-pikir, terakhir kali gue menggambar kapan, ya?'
Dia tidak benar-benar mengingatnya. Dalam kehidupan sebelumnya, pekerjaan sebagai dokter forensik jauh lebih sering membuat tangannya memegang alat medis daripada krayon. Bahkan ketika sedang santai, kegiatan yang dia pilih biasanya membaca, merajut, atau mengerjakan kerajinan tangan.
Cecil lalu mengambil beberapa krayon dan menyusunnya di depan Eve.
"Silakan pilih warna yang Nona suka."
Eve menatap deretan warna tersebut. Tangannya mengambil merah, kemudian meletakkannya kembali. Dia memilih biru, berganti hijau, lalu akhirnya mengambil warna merah muda.
'Ya sudah. Bikin sesuatu yang gampang aja.'
Awalnya Eve hanya membuat bentuk kepala. Kemudian sepasang mata, hidung, mulut, rambut, tubuh, tangan, dan kaki. Garisnya masih berantakan karena jari kecilnya belum terbiasa mengendalikan krayon dengan baik, tetapi Eve tidak terlalu mempermasalahkannya. Dia justru mulai serius ketika memberikan warna pada pakaian gambar tersebut.
Beberapa menit berlalu.
Cecil yang semula sibuk menggambar rumahnya akhirnya melirik pekerjaan Eve. Senyumnya langsung berubah menjadi ekspresi heran. Dia memiringkan kepala, memperhatikan gambar tersebut dari beberapa sisi.
"Ya ampun, Nona," seru Cecil akhirnya. "Nona sedang menggambar babi, ya?"
Tangan Eve berhenti. Krayon merah muda masih berada di antara jari-jarinya. Perlahan, Eve mengangkat wajah.
Tatapannya menusuk Cecil.
Cecil langsung tersenyum kaku. Eve menunjuk gambar tersebut dengan krayon, lalu berkata dengan nada sangat serius.
"Butan." Eve mengangkat dagunya sedikit.
"Ini Papa, " lanjutnya dengan bangga.
Cecil terdiam. Eve kembali menunjuk bagian tubuh gambar yang sudah dia warnai merah muda.
"Papa pate baju walna pink."
Eve masih memasang wajah penuh keyakinan, seolah gambar tersebut merupakan potret paling akurat dari Lucien yang pernah dibuat manusia.
Cecil menutup mulut dengan satu tangan. Bahunya mulai bergetar.
Eve menyipitkan mata.
'Kok ketawa sih.'
"Nona..." Cecil berusaha menahan tawanya. "Maaf, tapi..."
Namun beberapa detik kemudian, Cecil akhirnya tidak tahan. Tawanya pecah kecil, membuat Eve semakin memasang wajah kesal sambil menggenggam krayon merah muda di tangannya.
"Cecil jaat," gerutu Eve dengan suara cadel.
Cecil buru-buru mengusap sudut matanya karena tertawa.
"Maaf, Nona. Saya hanya... tidak menyangka Yang Mulia Duke akan digambar memakai pakaian merah muda."
Eve kembali melihat hasil gambarnya, sebenarnya bentuknya memang agak aneh. Kepala terlalu besar, tubuh terlalu pendek, dan rambut Lucien terlihat seperti beberapa garis tajam yang berdiri tidak beraturan. Namun menurut Eve, bagian paling penting sudah benar: pakaian merah muda.
'Gapapalah.'
Eve mengambil krayon lain dan mulai menambahkan sesuatu di samping gambar Lucien. Cecil yang sudah kembali tenang memperhatikan dengan penasaran.
"Nona sedang menggambar apa lagi?"
Eve tidak menjawab. Dia terus membuat garis-garis kecil di sebelah sosok Lucien, kemudian mewarnainya dengan hati-hati.
Cecil mendekatkan wajah.
"Apakah itu Nona?"
Eve mengangguk.
"Terus yang sebelahnya? kenapa ada anjing?"
Eve berhenti menggambar, lalu melirik Cecil. Cecil mengerutkan kening. Eve kembali menggoreskan krayon ke kertas dengan wajah serius.
"Itu Papa, butan anjin."
Eve menunjuk sosok kecil berbaju merah muda tadi.
"Ini Papa."
Kemudian dia menunjuk gambar anjing.
"Papa juga."
Cecil akhirnya menutup mulutnya lagi. Kali ini Eve langsung memperingatkan dengan tatapan tajam.
"Cecil jangam tetawa."
Cecil mengangguk cepat, meski sudut bibirnya masih bergetar.
"Iya, Nona. Saya tidak akan tertawa."
Akhirnya, setelah beberapa lembar kertas terisi coretan warna-warni, Eve meletakkan krayon terakhir di atas meja. Dia mengangkat kedua tangannya sedikit, lalu memandangi hasil gambarnya dari jarak beberapa sentimeter. Gambar rumah, pohon, beberapa bunga, sosok kecil yang menurutnya adalah dirinya sendiri, serta figur tinggi dengan pakaian merah muda memenuhi permukaan kertas. Bentuknya memang tidak sempurna, tetapi bagi Eve, hasil tersebut sudah cukup membanggakan.
Dia mengambil kertasnya dengan kedua tangan dan mengangkatnya lebih tinggi.
"Cecil," panggil Eve dengan nada penuh keyakinan sambil menunjukkan gambar tersebut. "Acu jeniyuc, kan?"
Cecil yang sejak tadi memperhatikan hasil gambar menahan tawanya sekuat tenaga. Matanya sempat turun pada sosok Lucien dengan kepala besar dan pakaian merah muda, lalu segera kembali kepada Eve sebelum gadis kecil tersebut menyadari ekspresinya. Dia akhirnya hanya tersenyum dan mengusap kepala Eve dengan lembut.
"Benar, Nona. Anda jenius," jawab Cecil dengan suara yang terdengar sangat meyakinkan meskipun sudut bibirnya masih sedikit bergetar.
Eve langsung tersenyum puas. Dadanya mengembang sedikit, seolah baru saja mendapatkan pengakuan resmi atas bakat seninya.
'Gue tahu.'
Cecil kemudian menepukkan kedua tangannya pelan. Matanya tiba-tiba berbinar ketika sebuah ide muncul di kepalanya.
"Nona, bagaimana kalau Nona memperlihatkan gambar Anda kepada Yang Mulia Duke?" usulnya sambil menunjuk kertas di tangan Eve.
"Saya yakin Yang Mulia akan senang menerima gambar buatan Nona."
Eve yang semula hendak meletakkan gambar di meja langsung berhenti.
Kemudian menatap gambarannya cukup lama.
'...Kenapa gue gak kepikiran?'
Ide tersebut terasa begitu sederhana sampai Eve hampir kesal sendiri karena tidak memikirkannya sejak tadi. Lucien memang sibuk, tetapi kalau dia datang membawa gambar buatannya sendiri, setidaknya ada alasan yang cukup masuk akal untuk mengganggu pria tersebut. Bahkan kalau Lucien kembali mengusirnya, Eve masih bisa memasang wajah sedih dan mengatakan bahwa dia hanya ingin memberikan hadiah kepada papanya.
Namun Eve segera menyadari satu masalah.
Dia tidak mungkin datang hanya membawa selembar kertas. Sebagai anak kecil, membawa gambar saja memang cukup. Tapi kalau ingin memastikan Lucien tidak langsung mengembalikan gambarnya lalu kembali bekerja, Eve membutuhkan sesuatu yang bisa membuat suasana lebih menyenangkan.
Matanya perlahan beralih kepada pintu kamar.
"Dapul," gumamnya.
Cecil mengerutkan kening. "Dapur?"
Eve mengangguk mantap. Dia turun dari kursinya sambil masih memegang gambar.
"Cecil, ayo ke dapul," pintanya sambil menarik tangan Cecil.
"Minta koki buat kue. Lalu Ape mau antal ke Papa."
Cecil sempat terdiam, lalu tertawa kecil melihat semangat Eve yang mendadak muncul setelah sepanjang pagi mengeluh bosan.
"Baiklah, Nona," jawabnya sambil menggenggam tangan kecil tersebut.
"Kalau begitu, mari kita minta koki menyiapkan sesuatu untuk Yang Mulia."
Eve mengangguk cepat.
'Operasi bikin Lucien gak bisa ngusir gue dimulai.'
Dengan gambar di satu tangan dan tangan Cecil di tangan lainnya, Eve pun keluar dari kamar menuju dapur.
Mereka berjalan menyusuri lorong menuju dapur. Eve masih menggenggam erat gambar buatannya, sesekali mengangkat kertas tersebut untuk memastikan tidak ada bagian yang terlipat. Cecil beberapa kali meliriknya sambil tersenyum, tampaknya masih merasa geli dengan sosok Lucien berbaju merah muda yang terpampang di sana.
'Bagus, pasti si Lucien bakal terharu sama gambar gue'
Begitu sampai di dapur, aroma mentega dan gula langsung menyambut mereka. Beberapa pelayan sedang sibuk menyiapkan bahan makanan untuk makan siang. Begitu melihat Cecil datang bersama Eve, salah seorang pelayan dapur segera menghampiri dan menundukkan kepala.
"Ada yang bisa kubantu Cecil?" tanyanya.
Cecil menunjuk Eve yang berdiri di sampingnya. "Nona Aveline ingin meminta bantuan koki. Beliau ingin membawa kue untuk Yang Mulia Duke."
Mata Eve langsung berbinar ketika mendengar kata kue. Dia mengangkat gambar di tangannya, lalu menjelaskan dengan suara cadel, "Ape mau kasih Papa Kue cama gamblal."
Pelayan tersebut sempat berkedip sebelum tersenyum.
"Baik, Nona. Kue seperti apa yang Nona inginkan?"
Eve berpikir sebentar. Dia sebenarnya tidak terlalu peduli jenisnya. Yang penting mudah dimakan, terlihat bagus, dan cukup menarik perhatian Lucien.
"Kue ketil," jawabnya sambil menunjukkan ukuran dengan kedua tangannya. "Manyis."
Cecil tertawa kecil. "Nona ingin kue yang bisa dibawa sendiri, bukan?"
Eve mengangguk.
Setelah mendapat persetujuan dari koki, Cecil membawa Eve sedikit menjauh dari area kerja agar tidak mengganggu para pelayan. Eve duduk di kursi kecil yang disediakan di dekat meja, sementara dari tempatnya dia bisa melihat para koki mulai menyiapkan adonan.
Eve memperhatikan proses tersebut dengan cukup serius. Tangannya menopang dagu, matanya mengikuti setiap gerakan ketika bahan dicampur, diaduk, kemudian dimasukkan ke dalam cetakan kecil. Sesekali aroma manis memenuhi udara dan membuat perut Eve yang sebenarnya sudah kenyang kembali terasa lapar.
'Harusnya gue minta dua tadi.'
Namun dia segera mengingat tujuan awalnya.
'Gak. Kalau gue makan sekarang, nanti tinggal dikit.'
Beberapa saat kemudian, kue-kue kecil berbentuk bunga keluar dari oven. Permukaannya tampak kecokelatan dengan aroma mentega yang cukup kuat. Setelah dibiarkan dingin, koki menghias bagian atasnya dengan sedikit krim dan buah beri.
Eve langsung turun dari kursinya.
"Lutu," gumamnya sambil mendekat.
Cecil berjongkok di sampingnya. "Apakah Nona menyukainya?"
Eve mengangguk cepat. "Papa pacti cuka."
Dia menunjuk salah satu kue, lalu menambahkan dengan penuh keyakinan, "Papa halus maam."
Cecil tersenyum. "Baik. Saya akan meminta beberapa kue dimasukkan ke dalam kotak."
Setelah kue tersusun rapi dalam kotak kecil, Cecil membawanya sendiri. Eve kembali menggenggam gambar buatannya, kali ini dengan lebih hati-hati. Mereka pun meninggalkan dapur dan kembali menuju ruang kerja Lucien.
Eve mengerutkan kening, sambil pandangannya melihat ke arah lantai
'Kalau dipikir-pikir, kenapa Kaisar tiba-tiba mau menempatkan pasukan di perbatasan Valois?'
Keluarga Valois jelas bukan keluarga bangsawan biasa. Wilayah mereka luas dan memiliki posisi strategis. Kalau Kekaisaran benar-benar menempatkan pasukan di perbatasan, kemungkinan besar ada alasan politik di baliknya. Namun Eve belum punya cukup informasi untuk menarik kesimpulan.
'Jangan-jangan ini bagian dari kejadian sebelum cerita utama?'
Langkah Eve kembali berhenti.
"Nona?" Cecil ikut berhenti dan menoleh.
"Dak apa apa." Eve mengangkat kepala.
Dia menggenggam gambar lebih erat.
'Gue datang buat ngasih gambar. Bukan buat mikirin politik.'
Masalah politik bisa dipikirkan nanti. Sekarang dia memiliki misi yang lebih sederhana, yaitu membuat Lucien meluangkan waktu untuknya.