NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:87.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Ketika Warisan Bukan Lagi Jaminan.

Suara dentuman musik menggema memekakkan gendang telinga, memenuhi sebuah klub malam eksklusif.

Di salah satu sofa VIP, Aksa Wicaksono bersandar santai. Sebotol minuman mahal berada di tangannya, sementara beberapa wanita cantik mengelilinginya. Tawa Aksa terdengar paling keras di antara mereka.

Malam itu seharusnya berlangsung menyenangkan. Harusnya. Namun saat pintu area VIP tiba-tiba terbuka, suasana langsung berubah.

Seorang pria tua melangkah masuk dengan tongkat di tangan. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih tajam dan berwibawa. Di belakangnya berdiri beberapa pria berbadan tegap dengan setelan hitam.

Wicaksono.

Aksa yang semula tertawa langsung terdiam. "Kakek?"

Wicaksono tidak menjawab. Pandangannya menyapu meja penuh botol, lalu berhenti pada wanita-wanita yang mengelilingi cucunya.

"Bangun."

Aksa mengerutkan kening. "Aku belum selesai."

Tok!

Ujung tongkat Wicaksono menghantam meja. "Jangan membuat Kakek mengulang."

Aksa mendengkus. "Ini masih sore, Kek. Aku bukan anak kecil yang gak boleh keluar malem."

"Kau memang bukan anak kecil." Wicaksono menatapnya dingin. "Itulah masalahnya. Usiamu sudah cukup untuk menjadi pewaris keluarga Wicaksono, tetapi kelakuanmu masih seperti anak yang tidak tahu arti tanggung jawab."

Aksa bangkit dengan malas. "Kakek datang jauh-jauh cuma buat ngomel?"

"Aku datang untuk membawamu pulang," tegas Wicaksono.

"Aku gak mau." Ia masih kukuh dengan pendiriannya.

Hingga tanpa aba-aba, Wicaksono mengayunkan tongkat kayunya.

Buk! Buk! Buk!

Pukulan berturut-turut mendarat telak di bahu, punggung, hingga pinggul Aksa.

"Astaga! Sakit, Kek!" Aksa refleks berusaha menghindari pukulan kakeknya, menangkis dengan tangannya.

"Kalau begitu, anggap ini perintah." Wicaksono berkata dengan tegas. "Pulang."

Para wanita yang tadi menemani Aksa satu per satu beringsut meninggalkan tempat itu.

Aksa menatap kakeknya dengan kesal. "Ngapain sih Kakek selalu mempermasalahkan aku? Toh, pada akhirnya aku juga yang bakal mewarisi semuanya."

Senyum tipis muncul di wajah Wicaksono, tapi tak membawa kehangatan. "Jangan terlalu yakin."

Aksa terdiam, masih meringis mengusap bahunya yang terkena pukulan.

"Selama kau masih hidup kayak gini, bukan tidak mungkin Kakek nyari orang lain."

Aksa tertawa sinis. "Siapa? Anak-anak mereka?" Tatapannya dengan nada suara yang berubah meremehkan. "Mereka hanya anak gundik."

Wicaksono tidak menyukai kata itu, tetapi juga tidak membantah. Justru itulah alasan Aksa begitu percaya diri.

Aksa tahu satu hal. Seburuk apa pun kelakuannya, pasti akan ditolerir oleh kakeknya.

"Aku pewaris satu-satunya keluarga Wicaksono yang sah," katanya percaya diri. "Kakek gak bakal nyerahin perusahaan sama anak-anak dari para gundik itu."

Wicaksono menatap cucunya lama. "Kau benar."

Aksa tersenyum puas.

"Tapi jangan salah mengartikan kebencian Kakek kepada mereka sebagai alasan untuk membiarkanmu menghancurkan keluarga ini."

Aksa belum sempat menjawab ketika dua bodyguard mendekat.

"Hei!"

Salah seorang langsung memegang lengannya.

"Lepasin!"

"Paksa dia pulang," perintah Wicaksono.

"Aku bisa pulang sendiri!" teriak Aksa.

"Jalan," titah Wicaksono tanpa peduli protes dari cucunya.

Aksa memberontak, tetapi kedua bodyguard tetap menyeretnya keluar dari klub.

Wicaksono berjalan di belakang mereka dengan wajah dingin. "Aku memang gak akan membiarkan anak-anak dari garis lain mengambil alih keluarga Wicaksono. Namun bukan berarti aku akan terus membiarkan kamu hidup sesuka hati."

Rahangnya mengeras. "Karena suatu hari nanti, kamu harus jadi kepala keluarga. Dan jika sifat buruk itu tidak berubah... Aku sendiri yang akan memastikan kamu kehilangan hak itu."

 

Begitu tiba di rumah, Aksa langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang keluarga. "Dasar kakek tua!"

Ia mengusap beberapa bagian tubuhnya yang masih terasa sakit akibat pukulan tongkat tadi. "Sudah tahu aku udah dewasa, masih aja diperlakukan kayak anak kecil."

Wicaksono yang baru masuk bersama beberapa bodyguard tidak menanggapi keluhannya. Ia hanya berjalan menuju kursi di seberang Aksa, lalu duduk dengan tenang.

Aksa masih mengomel. "Kalau Kakek gak suka aku ke klub, tinggal bilang. Gak perlu sampai nyamperin sambil bawa bodyguard segala. Malu aku dilihat orang."

"Kau sudah selesai?"

Aksa mendengkus. "Belum."

Wicaksono menatapnya datar. "Kalau begitu lanjutkan."

Aksa langsung terdiam, tetapi dalam hati dongkol setengah mati.

Wicaksono menumpukan kedua tangannya di atas kepala tongkatnya. Beberapa detik kemudian ia berkata, "Lusa kamu nikah."

Aksa mengira dirinya salah dengar. "Apa?"

"Lusa kau nikah," ulang Wicaksono.

Aksa langsung bangkit dari sofa. "Lusa?"

"Ya."

"Sama siapa?"

"Perempuan yang sudah dijodohkan denganmu sejak lama," jawab Wicaksono.

Aksa tertawa tidak percaya. "Kakek bercanda?"

"Apa wajah Kakek kelihatan kayak sedang bercanda?" kata Wicaksono sambil menunjuk mukanya sendiri.

Senyum Aksa seketika menghilang. "Aku gak mau."

"Baik." Wicaksono berdiri. "Kalau begitu, mulai malam ini kau keluar dari rumah."

Aksa terdiam, mencerna ulang perkataan kakeknya, meyakinkan dirinya bahwa ia tak salah dengar.

"Semua kartu kreditmu diblokir," kata Wicaksono dengan ekspresi serius. "Mobil yang kau gunakan dikembalikan. Apartemen, klub, rekening yang selama ini Kakek biayai, semuanya dihentikan."

"Kek..."

"Dan mulai bulan depan, lanjut Wicaksono. "kau tidak akan menerima satu rupiah pun."

Aksa menatap kakeknya tidak percaya. "Kakek gak bisa ngelakuin itu."

"Kakek bisa," tegas Wicaksono

"Itu gak adil!" protes Aksa.

"Warisan ini milik keluarga, bukan milikmu."

Aksa mengepalkan tangan. "Aku masih muda! Aku belum mau nikah!"

"Kau sudah cukup tua untuk menikah."

"Aku masih ingin menikmati hidup!"

Wicaksono mendengkus. "Kau sudah menikmati hidup terlalu lama."

Aksa mondar-mandir dengan wajah kesal. "Aku gak kenal perempuan itu. Gimana mungkin aku nikah sama dia?"

"Kau akan mengenalnya setelah menikah." Wicaksono bicara dengan nada enteng.

Aksa spontan berbalik menghadap kakeknya sambil berkata dengan nada tinggi. "Itu gila!"

"Yang gila itu kamu." Wicaksono menunjuk Aksa dengan tongkatnya. "Umur sudah dua puluh lima tahun, tapi otakmu cuma isi pesta dan wanita!"

Aksa menggeleng keras. "Gak. Aku gak mau."

Wicaksono tidak menjawab. Ia hanya mengangkat satu tangan memberi isyarat. Salah seorang bodyguard langsung maju dan melepaskan paksa jam tangan Aksa.

"Hei!" Belum sempat Aska bereaksi, bodyguard kedua maju, mengambil dompet dari saku celananya.

"Balikin!" Aksa mencoba merebutnya, tetapi kedua benda itu sudah berpindah ke tangan Wicaksono.

Wicaksono memasukkan dompet dan jam tangan itu ke sakunya dengan wajah datar.

"Kakek!" Mata Aksa dipenuhi kekesalan dan amarah.

Namun Wicaksono sedikitpun tak peduli dan kembali memberi perintah. "Seret dia keluar."

Aksa membelalak. "Apa? Kek?"

Dua bodyguard langsung memegang kedua lengannya.

"Lepasin!" Aksa berusaha melepaskan diri. "Kakek! Aku belum selesai bicara!"

"Kalau begitu bicara di luar." Wicaksono bicara tanpa menatap cucunya.

"Kakek!"

Aksa diseret menuju pintu. Pada saat itulah Asti yang baru keluar dari arah tangga terkejut melihat putranya diseret dua pria berbadan besar.

"Aksa!" Asti segera berlari menghampiri. "Ayah, apa yang terjadi?"

Wicaksono menoleh ke arah menantunya. "Anakmu gak mau nikah."

Kening Asti berkerut. "Nikah?"

Aksa langsung berteriak. "Ma! Tolongin aku!"

Asti panik. "Ayah, lepasin Aksa!"

Tetapi Wicaksono malah berkata, "Justru kau yang harus membujuknya."

"Tapi..." Asti tak sempat melanjutkan kalimatnya saat suara datar. Wicaksono terdengar.

"Kalau kau terus melindungi dan memanjakannya, kasih sayangmu justru akan semakin menjerumuskannya."

Asti langsung terdiam.

Aksa memandang ibunya tidak percaya. "Ma?"

Wicaksono berjalan mendekati Asti. "Besok pernikahan itu tetap berlangsung. Aku gak peduli gimana caranya kau buat anakmu sadar." Setelah mengatakan itu, Wicaksono berbalik.

Aksa masih berusaha memberontak. "Kakek! Aku gak mau nikah!"

Wicaksono berhenti di depan pintu. "Kalau begitu, hidup sendiri tanpa uang Kakek."

Aksa semakin frustrasi dan bodyguard kembali menariknya.

"Hei! Tunggu!" Aksa memutar kepalanya ke arah ibunya, wajahnya memelas penuh permohonan. "Ma!"

Asti tak mengatakan apapun, wajah terlihat serba salah.

Aksa akhirnya berhenti melawan. Wajahnya kusut masai. "Oke!"

Wicaksono menaikan sebelah alisnya. "Apa?"

"Aku nikah!" Aksa menggeram penuh frustrasi. "Tapi setelah itu jangan ganggu hidupku!"

Wicaksono tersenyum tipis. "Itu urusan nanti."

 

...🔸🔸🔸...

..."Menjadi pewaris bukan tentang seberapa banyak yang akan kau terima, tetapi seberapa besar kau mampu bertanggung jawab atas apa yang dipercayakan kepadamu."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Regan yang sedang berada di taman rumah sakit, dadanya terasa nyeri sejak melihat Asti menangis.

Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.

Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.

Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.

Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.

Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Anonim
Berkas-berkas yang dibawa Gunadi untuk diperiksa Regan, sudah diperiksa semua.

Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.

Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.

Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.

Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Anonim
Regan ingin pulang, merasa sudah baik dan tidak ada keluhan apapun.

Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.

Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Anonim
Doni menyuruh seseorang mengunggah kecelakaan yang menimpa Aksa.

Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.

Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Anonim
Doni mengusik keluarga Wicaksono dengan menyuruh seseorang untuk menyebarkan kabar tentang kondisi Aksa Wicaksono setelah kecelakaan.

Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.

Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Doni nanti musuhnya Regan. G
Anonim
Gunadi sudah berada di ruangan dokter yang menangani Aksa.


Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.

Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.

Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.

Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.

Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.

Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Anonim
Andai kakek Wicaksono sadar dari koma, beliau pasti bisa langsung mengenali cucunya.

Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.

Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.

Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.

Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.

Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.

Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Anonim
Asti juga merasa ada yang janggal. Aksa aekarang seperti bukan dirinya.

Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Anonim
Aynara emosinya mudah tersulut setiap berada di dekat Aksa. Apalagi melihat wajah Aksa, ia langsung ingat semua perkataan yang sangat menyebalkan.

Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.

Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.

Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Anonim
Regan seperti tak habis pikir, Aynara bisa memaafkan Aksa.

Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.

Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.

Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.

Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.

Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Anonim
Aynara selesai mengetik nomornya di ponsel Regan. Untuk memudahkan berkomunikasi.

Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.

Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.

Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.

Aynara memaafkan Aksa.
Anonim
Aynara datang, Asti belum pergi.

Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.

Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.

Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.

Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.

Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.

Aynara menyelesaikan ceritanya.

Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Anonim
Regan dengan ponselnya menghubungi Joseph ketika Asti baru di dalam kamar mandi.

Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.

Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.

Juga tentang pekerjaan Aksa.

Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Anonim
Doni anaknya Ria, gundiknya ayahnya Aksa yang mencelakai Aksa ya.

Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Anonim
Mereka tahu kecelakaan cukup parah. Sopir meninggal di tempat. Mobil mengalami rusak parah.

Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.

Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Anonim
Siapa yang datang ?
Anonim
Regan diperiksa dokter - katanya dari pemeriksaan awal, ada tanda gangguan ingatan 😄. Padahal kenyataannya Regan akting mendalami 6perannya sebagai Aksa yang dia masih bingung mau bagaimana.

Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.

Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.

Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Anonim
Aynara memanggil dokter, yang tidak lama kemudian datang.

Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.

Bikin Asti khawatir saja nih.
Anonim
Regan mulai memainkan perannya sebagai Aksa yang bingung mau bicara apa.

Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.

Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.

Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.

Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.

Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.

Regan membuat hidupnya rumit sendiri.
Anonim
Regan memang pinter otaknya cerdas. Kalau tidak, mana mungkin dia dengan cepat bisa punya inisiatif memakai identitas Aksa yang kebetulan wajahnya mirip dengannya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!