Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Adrian melangkah keluar area toko. Kayla melihat lalu-lalang orang, lalu memperhatikan seorang pria paruh baya yang membawa istrinya yang sedang hamil. Mendadak, ia membayangkan kalau itu adalah dirinya bersama Adrian.
“Kayla,” ucap Adrian membuyarkan lamunan.
“Iya,” jawab Kayla pelan, namun pandangannya masih tertuju ke jalan. Kini ia malah menghitung orang yang berboncengan di sepeda motor.
“Kata Nenek, kita harus sering menghabiskan waktu berdua. Walau pernikahan kita kontrak, kita bisa berbulan madu. Kamu mau pergi ke mana? Paris, Brasil, Timur Tengah, atau Eropa?” tanya Adrian.
Kayla menatap Adrian lalu kembali melihat ke arah jalan.
“Aku harus kerja. Kalau aku pergi ke luar negeri, aku harus cuti. Aku sudah banyak cuti, nanti aku dipecat bagaimana?” jawab Kayla spontan.
Adrian hanya tersenyum. “Kayla, hotel itu milikku. Siapa yang berani memecat kamu?”
Kayla menatap Adrian dengan seksama. “Maaf ya… sedari kecil aku diperlakukan tidak baik. Aku selalu mengandalkan diriku sendiri untuk bertahan hidup. Aku tidak biasa menggantungkan hidup pada orang lain. Jadi aku masih ingin bekerja, supaya tidak selalu bergantung padamu, karena kita ini hanya pernikahan kontrak.”
“Kayla,” ucap Adrian pelan, “bisa tidak kita seriuskan saja pernikahan ini?”
Kayla menoleh. “Maaf, beri aku waktu ya,” ucapnya pelan.
Adrian menatap Kayla, dalam hati berpikir entah seberat apa hal yang pernah dialami Kayla sehingga ia selalu waspada pada kebaikan orang lain.
Adrian kembali memperhatikan Kayla yang fokus ke jalan. Saat melihat pengendara motor berboncengan, mata Kayla berbinar.
“Kamu kenapa, Kayla? Apa kamu menginginkan sesuatu? Kata orang, wanita hamil suka ngidam,” tanya Adrian.
Kayla terdiam. Entah kenapa ia ingin sekali naik motor berdua dengan Adrian. Tapi ia ragu, apakah pantas meminta hal itu pada seorang tuan muda pemilik perusahaan raksasa. Ia mencoba mengabaikan, tetapi dorongan itu semakin kuat.
“Kayla, kenapa kamu diam saja?” tanya Adrian lagi.
Kayla berdehem pelan. “Aku… mau banget diboncengin kamu keliling naik motor,” ucapnya ragu.
“Naik motor?” tanya Adrian memastikan.
“Iya,” jawab Kayla pelan, sambil tanpa sadar memegang perutnya.
Adrian mengangguk. “Baiklah. Kalau begitu aku suruh orang ambilkan motor Harley Davidson milikku di rumah.”
“Ih, nggak seru banget,” protes Kayla. “Aku mau kamu pakai motor itu sekalian pakai jaketnya,” tunjuknya ke arah ojol yang sedang mangkal.
“Aku jadi ojol?” tanya Adrian memastikan.
“Ah, lupakan saja,” ucap Kayla pelan, tetapi matanya masih menatap tukang ojol. “Kamu mana mau jadi ojol.”
Adrian memegang tangan Kayla. “Apa pun asal kamu senang, aku mau melakukannya.”
“Serius?” tanya Kayla tak percaya.
Tanpa menjawab, Adrian menarik tangan Kayla menyeberang menghampiri tukang ojek online yang sedang mangkal.
“Aku mau sewa motor kamu,” ucap Adrian dengan nada datar.
Tukang ojek itu menatap Adrian dari atas ke bawah. “Waduh, maaf ya Pak. Saya cuma punya motor satu-satunya. Kalau disewakan, bagaimana saya cari orderan? Saya juga nggak kenal sama Bapak.”
Adrian tampak kesal. “Katakan saja berapa sewanya. Lagipula orderan lagi sepi, kamu dari tadi nongkrong saja.”
Tukang ojek itu menggaruk kepala. “Tapi beneran balik lagi kan motornya?”
“Pak, saya karyawan hotel sini. Bapak sering ngojekin saya kan,” sela Kayla.
Tukang ojek itu menatap Kayla. “Oh, neng ini ya. Kalau ini saya kenal. Mau berapa jam ya?”
“dua jam,” jawab Kayla.
“Ya sudah, 30 aja,” kata tukang ojek itu.
Mendengar itu, Adrian langsung mengambil ponselnya. “Berapa nomor rekening kamu?”
Tukang ojek menyebutkan nomor rekeningnya. Tak lama, ponselnya berbunyi.
“30 juta,” ucapnya kaget, hampir pingsan melihat saldo masuk.
“Kenapa kurang? Aku cuma pakai dua jam, masa segitu kurang?Nanti juga aku kembalikan motornya” kata Adrian datar.
“Pak… nggak usah, Pak! Motor saya nggak usah dibalikin, ambil saja, Pak!” ucap tukang ojek itu kaget. Motornya sudah lama, paling dijual laku 10 juta. Sekarang ada yang menyewa 30 juta, tentu saja dia tidak masalah walau motor itu tidak kembali.
Adrian heran melihat tingkah tukang ojek itu.
“Kamu membayar kebanyakan. Maksud dia 30 ribu, bukan 30 juta,” kata Kayla terkekeh.
“Oh, seperti itu ya…” kata Adrian. “Aku tidak butuh motor kamu. Kamu tunggu saja di sini, nanti anak buahku akan mengantarkan motor kamu. Dan aku pinjam jaket kamu. Berapa sewanya?”
Tanpa sadar, tukang ojek itu langsung melepas jaket ojolnya.
“Ambil, Pak… ambil. Nggak usah sewa, Pak,” katanya terbata sambil menyerahkan jaket itu pada Adrian.
Adrian menerima jaket tersebut lalu melepas jasnya. “Ini buat kamu,” katanya sambil memberikan jas impor merek ternama dari Italia.
“Cepatlah, saya mau pergi,” ucap Adrian melihat tukang ojek itu masih terdiam.
Tukang ojek itu langsung menerima jas mahal tersebut dengan tangan gemetar. Adrian kemudian memakai jaket ojol itu, meski terlihat agak kesusahan.
Kayla membantu Adrian mengenakan jaket ojol. Posisi mereka jadi sangat dekat. Adrian menghirup aroma Kayla, membuatnya teringat kejadian beberapa bulan lalu, kejadian tak sengaja yang mengubah segalanya.
“Ih, abangku sayang cakep banget deh,” kata Kayla setelah membantu Adrian memakai helm ojol.
“Aku dari tadi pakai pakaian mahal kamu tidak pernah muji. Sekarang kamu muji aku,” kata Adrian.
Kayla tersenyum. “Entahlah, aku lebih suka kamu pakai ini. Tapi untuk hari ini saja ya, besok kamu harus pakai pakaian biasa, oke?”
Adrian tersenyum, merasa bahagia dipuji Kayla. “Terima kasih ya.”
“Untuk apa?” tanya Kayla.
“Memujiku tampan,” jawab Adrian.
Kayla tersenyum. “Sudah agak malam, aku mau ke pasar malam. Di sana ada tukang nasi goreng, aku mau banget ke sana.”
“Baiklah, mari, sayang,” ucap Adrian sambil menggandeng Kayla menuju motor Beat tukang ojol yang masih bengong.
Malam itu Adrian, dengan pakaian ojek online, membawa Kayla berkeliling kota. Kayla tampak tersenyum ceria, sesuatu yang tidak pernah Adrian lihat saat ia naik mobil mewah.
“Kamu senang, Kay?” tanya Adrian.
“Aku senang banget!” jawab Kayla, suaranya beradu dengan angin malam dan deru kendaraan.
Mendadak gerimis turun.
“Menepi, hujan!” kata Kayla.
Akhirnya mereka berhenti di ruko kosong. Hujan turun deras, beberapa atap bocor. Kayla tampak menggigil. Adrian membuka jaketnya lalu menutupi kepala Kayla dengan jaket itu.
“Nanti kamu dingin dong,” ucap Kayla.
“Kalau kamu peluk, kayaknya nggak,” jawab Adrian.
Kayla mendekat, memeluk Adrian dari samping, menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.
“Kamu kena serangan jantung?” tanya Kayla saat mendengar detak jantung Adrian yang tak beraturan.
“Aku kena serangan cinta, Kay,” jawab Adrian.dengan suara bergetar perasaanya tak menentu padahal dia pernah melakukan bersama dengan kayla
“Pak bos bisa juga gombal,” ucap Kayla sambil tersenyum.
Mereka pun saling bicara sambil menunggu hujan reda.Kayla bercerita banyak tentang kejadian-kejadian di hotel dan bagaimana dia menghadapi beberapa pelanggan yang sulit diatur, canda tawa mengiringi obrolan mereka ditemani hujan yang mulai reda
Tanpa mereka sadari, beberapa orang sejak tadi mengikuti mereka dan mengambil foto-foto itu, lalu mengirimkannya kepada seseorang.
“Arghhhh!” teriak Lina setelah menerima foto Kayla dan Adrian yang sedang duduk berdampingan.
“Dasar perempuan jalang… tak akan aku biarkan kamu hidup,” geramnya.