NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

DOR!

​Satu peluru dilepaskan. Kali ini bukan ke udara. Peluru itu melesat dan bersarang tepat di punggung kiri Dahlan.

​"Ugh!" Dahlan tersungkur, wajahnya mencium tanah.

​"Ayah!!!" Bella berhenti, ia berbalik dan histeris melihat Dahlan yang bersimbah darah.

​"Lari... jangan pedulikan Ayah... lari!" Dahlan mencoba bangkit. Dengan sisa tenaga yang ajaib, ia berdiri kembali sambil memegangi punggungnya yang panas. Ia menarik Bella masuk ke sebuah rumah tua terbengkalai yang pintu kayunya sudah lapuk.

​Mereka merangkak masuk ke dalam kegelapan rumah itu. Bau debu dan kayu busuk menyengat hidung. Dahlan menyeret tubuhnya ke sebuah ruangan pojok yang tertutup bayangan.

Herman seoerti kehilangan jejak, "sialan, kemana larinya mereka.. pak?" 

Deni melihat darah berceceran menuju rumah terbengkalai instingnya sebagai polisi yakin dahlan masuk kesana Deni berjalan  dan mengajak Herman masuk.

​Pengakuan di Ambang Maut

​Dahlan jatuh terduduk, bersandar pada tembok yang lembap. Darah mengalir deras dari punggungnya, membasahi lantai ubin yang pecah-pecah. Napasnya pendek dan berbunyi ngik yang menyakitkan.

​"Nak... mendekatlah," bisik Dahlan.

​Bella menangis sejadi-jadinya di sampingnya. "Ayah, jangan bicara dulu... kita harus ke rumah sakit. Ayah bertahan ya?"

​Dahlan tersenyum pahit, tangannya yang gemetar menyentuh pipi Bella. "Maafkan Ayah, Bella... Semua ini gara-gara Ayah. Ayah benar-benar salah. Ayah prustasi kehilangan ambumu, ayah  luapkan prustasi ayah pada mabuk-mabuksn dan judi sampai ayah punya banyak utang dan tega melakukan ini padamu."

​"Ayah..."

​"Ayah sangat sayang padamu, Nak. Meskipun Ayah hanya ayah tiri, kamu adalah satu-satunya hartaku. Jangan benci Ayah ya? Agar nanti... kalau Ayah mati dan bertemu Ambumu, Ayah tidak malu menghadapnya. Katakan pada Ambumu, Ayah sudah mencoba menjagamu... meskipun terlambat..."

​"Ayah jangan tinggalin Bella! Ayah harus ikut Bella, kita hidup bersama lagi seperti dulu. Bella sudah maafkan Ayah!" tangis Bella pecah.

​Di luar, suara langkah kaki sepatu bot terdengar mendekat.

​"Dahlan! Keluar kamu! Aku tahu kamu di dalam!" suara Deni menggema, dingin dan mengancam.

​Dahlan memerintahkan Bella untuk diam dengan meletakkan jari di bibirnya. Ia melihat sekeliling dan menemukan pecahan kaca jendela yang cukup besar dan tajam di dekat kakinya. Ia menggenggam kaca itu, tak peduli telapak tangannya sendiri teriris.

​Deni dan Herman masuk ke rumah itu dengan senjata siaga. Mereka berpencar. Herman masuk ke ruangan tengah, sementara Deni memeriksa area dapur.

​Herman berjalan perlahan, suara langkahnya terdengar jelas di telinga Dahlan. Saat Herman melewati ambang pintu ruangan Herman melihat tempat mereka bersembunyi, di ambang pintu herman berteriak..

"Pak Deni mereka ada disini..!" 

Dahlan—dengan sisa kekuatan terakhirnya—melompat dari kegelapan bagai harimau yang terluka.

​"MATI KAMU!"

​Dahlan menyergap Herman, menjatuhkannya ke lantai. Sebelum Herman sempat bereaksi, Dahlan menancapkan pecahan kaca tajam itu tepat ke leher Herman. Darah memuncrat, membasahi wajah Dahlan.

​"Ayah!!" Bella menjerit tertahan dan ketakutan.

​"Lari, Nak! Lari!" Dahlan berteriak sekuat tenaga.

​Herman meronta di bawah tubuh Dahlan, namun Dahlan tidak melepaskannya meskipun punggungnya sendiri terasa seperti dibakar api. Di saat itulah, Deni muncul di ambang pintu. Matanya berkilat marah melihat rekannya tewas secara mengenaskan.

​Deni langsung mengacungkan pistolnya ke arah Bella yang baru saja hendak berlari keluar lewat jendela samping.

​"Berhenti atau aku lubangi kepalamu!" bentak Deni.

​Bella tidak berhenti, ia terus memanjat jendela. Deni menarik pelatuknya.

​DOR!

​Bella memejamkan mata, menunggu rasa sakit yang akan menghujam tubuhnya. Namun, rasa itu tidak pernah datang. Ia mendengar suara debuman keras di belakangnya. Saat ia menoleh, ia melihat Dahlan telah melepaskan Herman dan melemparkan dirinya ke depan Bella, menjadi perisai hidup. Peluru itu menembus dada Dahlan.

​Sambil terjatuh, Dahlan masih sempat melemparkan pecahan kaca kecil lainnya ke arah Deni. Pecahan itu mengenai tangan Deni yang memegang pistol, membuat senjata itu terjatuh dan tangan Deni terluka parah.

​"Ayah...!" Bella merangkak mendekati Dahlan yang kini tergeletak lemas.

​Di napas terakhirnya yang tersengal, Dahlan membisikkan kata-kata yang akan selalu diingat Bella. "Nak... larilah... Gapailah bahagiamu bersama suamimu. Dia orang baik. Ayah dan Ambu sangat menyayangimu... Larilah..."

​Mata Dahlan perlahan meredup, lalu menutup selamanya.

​"AYAAAHHH!!!" teriakan Bella mengguncang rumah tua itu.

Deni segera ingin meraih lagi pistolnya, Bella ketakutan. Dia tidak bisa berfikir ada dipikirannya hanya berlari kabur

​Namun, suara sirine polisi mulai terdengar mendekat. Deni yang sedang memegangi tangannya yang berdarah segera memasang wajah manipulatif. Ia mengambil pistolnya kembali dan menembak mayat Herman sekali lagi, lalu bersiap memberikan keterangan palsu bahwa ia baru saja melumpuhkan penjahat yang menculik Bella.

"Selamat sore pak deni, anda ikut kami ke kantor.. serahkan pistolmu.. ujar AKBP Ridwan. Yang menyita pistol Deni.

Fatih, Lukman dan Zahra yang menyusul dibelakang, melihat ceceran darah dan dua mayat telah meninggal.

"Itu dahlan tih,, kata lukman..

"Hmm emph..!! Jawab Fatih

Melihat Bella tidak ada, dia mencengkram kerah baju Deni.

"Hei , kamu bajingan.. dimana bella.. katakann!!" Fatih marah sejadi-jadinya..

"He..he..he.. !!" Deni tersenyum menghina

"Dasar penjahat.. kamu..!" Fatih tambah marah karena tertawa deni yang mengejek.dan segera ditenangkan oleh lukman dan aparat disana.

"Penjahat.. penjahat..!! Bukankah kamu yang mengusir dan menyerahkan istrimu kepada serigala.?" Jadi siapa yang jahat, yang jahat itu kamu.. hahaha.. suami goblok dasar.. hehehe. Deni layaknya seorang psikopat.

"Diam ..kamu..!" Aku rontokkan gigimu. Fatih mengamuk.. dia seperti tertampar ucapan deni.. deni segera diamankan..Namun, Fatih merasa sangat bersalah, apa yang dikatakan Deni memang ada benarnya, aku memang jahat..!!" Aku batinya

​Bella, yang tadi melihat sorot mata Deni yang tajam masih haus akan kejahatan, merasa terancam dan ketakutan . Ia tidak tahu bahwa ada polisi yang datang—bersama bersama fatih , lukman dan zahra.

Dengan rasa takut yang luar biasa itu  ia terus berlalu tanpa arah tujuan, dia masih terbayang wajah Fatih ketika marah dan mengusirnya dan itu sangat menyakitkanya. Ketika dia telah Menemukan cinta sejatinya , justru cinta itulah yang telah melukai kedua kalinya.

​Kegelapan yang Menjemput

​Bella terus berlari keluar dari area pemukiman, menuju jalan raya yang lebih sunyi. Gaunnya robek, wajahnya penuh debu dan darah ayahnya, sementara kakinya sudah tidak terasa lagi karena mati rasa. Penyesalan, rasa sakit, dan duka atas kematian ayahnya berputar-putar di kepalanya.

​"Fatih... Kang Abbas... mengapa kamu usir aku.. mengapa gak perrcaya aku ..tolong aku..."bisiknya lirih.

Pikirannya kini penuh dengan satu tekad yang bulat: Ia tidak akan pernah kembali kepada Fatih.

​"Kamu telah menikamku dua kali, Kang Abbas," bisik Bella parau. "Pertama saat kamu membiarkanku mencarimu sendirian di masa lalu, dan kedua saat kamu membuangku di saat aku paling membutuhkanmu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Aku lebih baik hilang selamanya daripada harus melihat wajahmu lagi."

​Pandangannya mulai kabur. Pepohonan di pinggir jalan seolah bergoyang dan menyatu dengan langit yang menggelap. Dunia terasa berputar. Kakinya lemas, dan akhirnya ia ambruk di pinggir aspal yang dingin.

​BRUUK.

​Semuanya menjadi gelap.

​Beberapa detik kemudian, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di samping tubuh Bella yang tak berdaya. Pintu mobil terbuka, menampakkan sepasang sepatu mahal yang melangkah keluar. Sebuah tangan terulur, mengangkat tubuh Bella yang ringkih ke dalam mobil, sebelum kendaraan itu melesat hilang ditelan kegelapan malam.

1
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!