"Kamu di diagnosa kanker otak stadium 3,tapi masih gejala awal jadi tingkat kesembuhan masih ada 75 % lagi,asal secepatnya operasi"
"Jika aku tidak operasi?"
"Jangan gila,kau bahkan tidak akan bertahan sampai 5 bulan"
"Kalau begitu biarkan saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hantari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak bisa menunda lagi
Pandangan mereka bertemu dalam beberapa saat,tatapan dingin dan tajam Damar seolah sedikit terkejut melihatnya,namun entah kenapa meski hatinya saat ini remuk dan begitu sakit luar biasa bibirnya terangkat begitu saja memperlihatkan senyum tipis.
Tapi segera Ia mengalihkan pandangannya yang berkaca-kaca.Karna nyatanya hatinya tidak sanggup melihat pria yang Ia cintai selama 4 tahun dan Ia percayai akan membalas perasaan nya suatu hari nanti,kini datang dengan bergandengan dengan wanita lain di depan umum.
Pada saat itu Helena ibu mertuanya tiba-tiba maju ke arah sepasang manusia yang baru saja menarik perhatian.
Dengan senyum lebar dan bangga,Helena merangkul Shakira dan tersenyum bangga melihat ke semua orang."Dia adalah calon menantu ku,mereka sudah kami jodohkan sejak mereka masih remaja."
"Mereka sangat cocok bukan?",tanya nya lagi yang membuat orang-orang setuju.
"Tapi bukan nya dulu Damar sudah menikah?"
Tanya seseorang yang membuat Helene diam sebentar,Ia bingung menjawab apa hingga sebuah suara membuat nya tersenyum.
"Yah, kalian tau hubungan pernikahan itu seperti apa, terlebih keluarga besar seperti kami yang memiliki cukup banyak bisnis untuk di wariskan nantinya,sampai sekarang belum ada titik terang keturunan dari putra kami Damar"
"Itu karna menantu kami tidak mampu memberikan itu,jadi putra kami Damar memutuskan untuk mempertimbangkan pernikahan nya baik-baik dengan istrinya"
Deg
Adeline begitu syok mendengar ucapan sang ayah mertua,yang berbicara begitu tenang dan lancar tanpa rasa bersalah sedikitpun di depan matanya sendiri.
Rasanya seperti baru saja mendengar tuntutan hukuman mati dari hakim karena sebuah tuduhan tak berdasar,dan seperti sebuah lelucon yang di buat keluarga itu,yang jelas-jelas mereka sendiri yang selama ini meminta nya untuk tidak buru-buru memiliki anak,dan sekarang ayah mertuanya itu mengatakan di depan umum kalau Ia mandul.
Ia kembali mengangkat pandangan nya melihat reaksi suaminya itu,hingga tatapan nya kembali bertemu pada suaminya itu.Namun apa yang bisa Ia harapkan dari pria yang tidak dapat Ia pahami itu, wajahnya dingin dan datar seperti biasa.
Mereka benar-benar menganggap nya sebuah mainan yang tak memiliki perasaan.
Ia mengorbankan 4 tahun hidupnya,hanya untuk hasil ini?
Sungguh tidak adil sekali kehidupan nya?,atau Ia yang terlalu polos?
Perlahan Ia mundur dari kerumunan agar bisa keluar dari sana tanpa menarik perhatian lagi.
Sementara itu di saat bersamaan,Damar terus memperhatikan setiap pergerakannya namun Ia tidak peduli.Ia menarik gagang pintu besar itu dan mendorong nya.
Beberapa saat Ia menghentikan langkahnya untuk menoleh ke belakang, suaminya melihatnya pergi namun sepertinya Ia sama sekali tidak peduli,Ia terlihat menikmati sanjungan-sanjungan yang diberkati orang-orang atas hubungan nya dengan wanita lain.
Dengan langkah lemah Ia keluar dari ruangan itu, padahal Ia sangat berharap Damar menghampiri nya untuk menjelaskan semuanya.
Namun itu hanya angan semata untuk tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan ini.
Saat ini di malam yang dingin dan tanpa bintang,Ia duduk sendirian di bangku trotoar menatap ke jalanan yang banyak mobil berlalu dan pejalan kaki yang berlalu seperti kecepatan 5× kecepatan,hingga sampai pukul sebelas malam Ia masih setia duduk di sana dengan air mata yang sudah mengering.
Tidak tau harus mengadu pada siapa akan sakit nya dan lelahnya hidupnya,Ia benar-benar hanya punya suami dan keluarga suaminya dalam hidup ini.
Ia tidak punya tempat untuk mengeluhkan sakitnya dan lelahnya selama ini, tidak ada yang memberikan nya nasehat akan hubungan nya dalam 4 tahun ini.
"Ma?,mama dimana?"
"Aku membutuhkan mu,tapi aku tidak pernah tau kau dimana"
"Aku merindukan mu"
"Apa mama tidak pernah merindukan Adeline sekalipun?"
"Adeline tidak tau harus mengadu pada siapa, Adeline tidak tau seberapa kacau nya kehidupan Adeline ini ma"
"...Aku hanya tau mencintai tanpa pernah tau bagaimana rasanya di cintai"
Ia kemudian menatap ke langit yang gelap tanpa bintang,hanya bulan sendirian seperti dirinya.
"Tapi kalau mama susah ada di sana,tolong ajak Adeline ma"
***
Damar tidak kembali ke rumah setelah acara pesta ulang tahun itu,namun Adeline juga lelah jika harus bertemu dengan nya dalam keadaan nya yang saat ini tidak baik-baik saja.
Ia perlu waktu sendiri untuk berpikir jernih, karena hanya Ia sendiri yang tau apa yang terbaik untuk nya.
Namun entah kenapa sejak semalam kepalanya begitu sakit luar biasa sampai pagi ini,hingga hanya untuk bangkit dari tempat tidur Ia tidak mampu.
Ia pikir karena semalam mungkin karna terlalu lama menahan hawa dingin di malam hari membuat nya seperti ini,jadi Ia hanya terus bersembunyi di balik selimut menahan rasa sakit dan terus mencoba tidur untuk melupakan rasa sakitnya.
Benar saja Ia tertidur,namun entah karna terlalu terlelap Ia bangun sampai sore hari dengan rasa sakit yang sudah sedikit mereda.
Namun karna tidak makan apapun sejak pagi,tubuhnya begitu lemas dan wajahnya begitu pucat sampai bibir nya begitu mengering dan hampir memutih.
Dengan sisa tenaganya,Ia pergi ke dapur untuk makan roti dan minum air putih.
Di saat Ia sudah selesai makan dan hendak kembali ke kamar,suara seseorang menghentikan langkah nya.
"Kau punya waktu berbicara sebentar?"
Itu adalah Damar suaminya,yang entah sejak kapan pulang dan kini berdiri di antara sofa seolah menunggu nya duduk di sana.
Sungguh Ia tidak ingin Damar melihatnya dalam kondisi seperti ini, karna nyatanya sejak tadi tubuhnya masih begitu lemah,roti dan teh tidak mampu membuat pucat wajahnya hilang.
"Besok saja,aku lelah"
"Lelah kenapa?, seharian kau hanya di rumah dan tidak keluar bahkan tidak melakukan apapun"
Namun Ia tidak menghentikan langkahnya, karna Ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan pria itu untuk beberapa saat saja agar Ia bisa tenang.
"Aku ingin membicarakan tentang perceraian"
Dari bawah anak tangga,Damar berdiri dengan postur tubuhnya yang tegap menatap lurus punggung Adeline yang sudah menaiki tangga.
Ucapan itu begitu tenang namun mampu mengobrak-abrik hatinya,hingga rasa sakit di kepalanya dan mual yang tak tertahan datang bersamaan membuat rasa sakit luar biasa itu kembali menyerang.
Ia akan melangkah namun ucapan suaminya itu kembali menghentikan nya.
"Maaf Adeline tapi kita tidak bisa menghindari perceraian ini lebih lama lagi,aku tidak ingin kau ataupun aku terjebak dalam ketidak kebahagiaan dalam pernikahan selamanya"
"Kau harus temukan kebahagiaan mu sendiri"
Tidak bahagia?
Apakah itu artinya,dia tidak pernah bahagia selama pernikahan mereka?
"Adeline jangan diam saja, katakan sesuatu"
Ia mengusap setetes air mata yang mengalir yang mengalir begitu saja.
Sakit,entah kenapa kenyataan pahit itu lebih menyakitkan daripada rasa sakit tubuhnya saat ini.
Ia akhirnya berbalik dengan berusaha setegar mungkin.
***
Bersambung...
pengen lihat adel bangkit dan melihat karma si dua perempua jahat itu
jangan mau Terima apapun dr mereka Adeline..