NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasnagka Pembelaan Dan Rahasia Tersembunyi

Ruangan kelas luas, nyaman, cahayanya terang merata. Kursinya empuk berwarna biru lembut, meja kayunya kokoh — benar-benar tempat yang berbeda dari sekolah lama Zara.

Sarah langsung mengajaknya duduk di depan sambil tersenyum: “Aku Sarah, salam kenal ya.”

Di sampingnya Liora menyodorkan tangan: “Namaku Liora. Kamu cantik banget lho.” Wajahnya lembut, kulitnya putih bersih, pipinya merona alami, rambutnya cokelat keemasan berombak halus dan berkilau kena cahaya.

Alina ikut menyapa ramah: “Dan aku Alina, senang bisa kenalan.” Tatapannya tenang dan dalam, rambutnya terbagi rapi jatuh lembut membingkai wajah.

Pelajaran berjalan lancar sampai bel istirahat berbunyi. Mereka mengajak Zara berkeliling — lorongnya bersih mengilap, jendelanya besar, semua fasilitas lengkap dan terawat rapi tanpa terasa kaku.

Saat temannya pergi beli camilan, Zara duduk sendiri di tribun. Tak lama datang Rafael dengan senyum percaya diri: “Hai, aku Rafael. Kamu pasti Zara kan?” Dia tampan, rambutnya agak berantakan tapi justru terlihat keren, karismanya terasa jelas. Di belakangnya ada Elio — wajahnya tegas tapi tatapannya lembut — dan Damian yang tenang, cerdas, dan berwibawa.

Belum sempat Zara jawab, Sarah dan yang lain sudah kembali dan menegur: “Ayo pergi, jangan ganggu dia.” Rafael cuma tertawa kecil lalu melangkah pergi.

Alina langsung berbisik: “Hati-hati ya, dia suka bermain-main perasaan orang.”

Zara mengangguk paham. Tepat saat itu lewat seorang gadis bernama Clara — tinggi pas, kulit putih bersih, rambutnya dikuncir rapi dan berkilau halus, tapi pakai kacamata, terlihat sederhana, agak pendiam, dan tak sadar kalau dia sebenarnya juga menarik.

Tiba-tiba Liora dan Alina berdiri menghalanginya. “Hei Clara! Apa yang kau pegang itu? Berikan kemari!” seru Liora, lalu merebut paksa buku di tangannya.

Clara berusaha menarik kembali dengan suara gemetar ketakutan: “Jangan diambil! Itu buku pinjaman, nanti aku harus mengembalikannya tepat waktu!”

Tanpa peduli, Liora merobek halaman demi halaman sampai buku itu hancur berantakan. Zara tertegun, lalu melirik Sarah yang hanya diam saja. Tanpa ragu lagi dia melangkah maju: “Cukup! Mengapa menyakiti dia tanpa alasan?”

Liora membalas dengan nada sinis: “Kau belum tahu kan? Ayahnya koruptor, ibunya pun tidak baik. Masih berani dia sekolah di sini — memalukan!”

Zara menatapnya tenang tapi tegas: “Lalu apa urusannya dengan kalian? Kesalahan orang tua bukan alasan menyakiti anaknya.”

Suasana jadi hening. Liora dan Alina diam bingung, lalu bertukar pandang dengan Sarah sebelum akhirnya membiarkan Zara pergi. Sarah sendiri terlihat gelisah, ada rasa tidak enak di hatinya.

Sore harinya saat sampai di rumah, Zara ganti baju: kemeja sutra hitam lembut, dipadukan rok panjang putih gading berkilau seperti satin, ada motif titik-titik halus yang membuatnya terlihat anggun tapi tetap santai.

Dia duduk di pinggir kolam, pikirannya masih penuh kejadian itu. Belum lama Fara pulang berbelanja, lalu menghampiri dan menepuk bahunya pelan. “Ada apa? Kelihatan melamun terus,” tanyanya lembut.

Zara menghela napas: “Kak Fara… kenapa orang bisa sekejam itu pada yang tidak berbuat salah?”

Fara duduk di sampingnya, suaranya jujur dan lembut: “Dunia ini kadang keras, Zara. Banyak yang bertindak karena angkuh, prasangka, atau merasa punya kuasa. Tapi ingat — tetaplah jadi dirimu sendiri, itu yang paling berharga. Sudah makan belum? Tadi aku beli hidangan laut segar, mari kita coba bersama.”

Keesokan harinya saat masuk kelas, Sarah, Liora, dan Alina sudah menunggu. Mereka menyambut lebih ramah dari biasanya, meski terasa agak dipaksakan. Saat istirahat tiba, mereka ikut duduk bersama di kantin, dan Sarah akhirnya berkata dengan nada menyesal: “Zara, maafkan kami soal kemarin. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi.”

Zara menatap mereka sebentar, lalu mengangguk pelan menerima permintaan itu.

Setelah itu, saat mereka berjalan keluar, Liora bertanya pada Sarah dengan nada bingung: “Kenapa kita harus bersikap hati-hati sekali padanya? Siapa Zara sebenarnya sampai kau berubah begini?”

Sarah menjawab singkat tapi tegas: “Cukup diam saja. Jangan cari masalah dengannya — itu perintah ayahku juga.”

Pulang sekolah, mereka melihat sendiri Zara masuk ke mobil mewah putih yang terparkir rapi di depan gerbang.

Di tempat lain, di kediaman keluarga Sarah yang megah, ayahnya baru saja menerima kabar rahasia: Tuan Adrian telah menikah, salah satu istrinya masih sangat muda, menggunakan identitas baru, bersekolah di tempat yang sama, dan keberadaannya harus dijaga kerahasiaannya sepenuhnya.

Dia langsung memanggil Sarah: “Dengar baik-baik — mulai hari ini bergaullah baik-baik dengan gadis bernama Zara itu. Dia bukan orang sembarangan. Jangan sampai keluarga kita terlibat kesalahan yang bisa berakibat buruk.”

Sarah menunduk patuh, tapi dalam hatinya makin bertanya-tanya: Siapa sebenarnya dia sampai ayah bicara setegas ini?

Sesampainya di rumah, Zara sempat mampir ke rumah sakit sebentar — menjenguk ayah, memeluk ibu dan adiknya, sekadar melepas rindu dan memastikan mereka baik-baik saja.

Malam harinya, saat duduk menyelesaikan tugas di kamar luas bergaya Eropa, pikirannya melayang pada Adrian. Sudah seminggu dia pergi ke luar negeri. Zara menghela napas pelan sambil memandang ke luar jendela: Dulu dia bilang butuh istri untuk menenangkan desakan keluarga. Lalu kenapa ada Fara juga? Semakin dipikir makin aneh… seolah ini semua cuma perjanjian belaka, bukan pernikahan sungguhan.

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, meninggalkan tanya besar tentang apa sebenarnya tujuan di balik semuanya.

 

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!