Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : BERTARUNG BERSAMA
Angin sore makin dingin. Dari kejauhan terdengar suara gaduh, makin keras seiring langkah mereka mendekat ke pinggir hutan Wana Kelor.
Di bawah pohon beringin raksasa yang akarnya menjalar ke mana-mana, sekelompok prajurit sedang mengerumuni pedagang yang baru pulang dari pasar. Keranjang sayur, buah, dan kain berserakan di tanah, terinjak-injak hingga rusak berantakan.
Di tengah kerumunan, seorang pedagang tua kurus kering berlutut gemetar. Ia memohon dengan sisa tenaga yang ada. Wajahnya pucat, matanya berkaca menahan takut dan sedih.
“Kasihanilah… hasil jualanku hari ini sedikit sekali, belum cukup untuk bayar pajak utama…” suaranya parau terputus-putus. “…apalagi uang keamanan tambahan ini. Saya harus beri makan cucu yang sakit di rumah,… sungguh tak ada lagi…”
Prajurit tegap di hadapannya hanya tertawa sinis. Tangannya mencengkeram cambuk rotan yang sudah sering dipakai.
“Uang keamanan perintah langsung Bupati Ranga Sasmita! Kalau tak mampu bayar, berarti tak pantas berdagang di sini!” bentaknya keras.
Tanpa menunggu jawaban, ia ayunkan cambuk sekuat tenaga. Bunyi nyaring terdengar saat mengenai punggung orang tua itu.
“Aaa!” pedagang tua itu teriak kesakitan, terguling ke samping. Saat mencoba merangkak menjauh, prajurit lain menendang perutnya hingga terbaring lemah.
Darah Bayu seketika mendidih. Ia mengepal tangan erat, kuku hampir menancap ke telapak. Selama ini ia berusaha menahan diri agar tak mencolok. Tapi melihat ketidakadilan begitu nyata di depan mata, ia tak sanggup diam lagi.
“CUKUP!”
Suaranya tenang namun tegas, membelah keributan. Semua mata beralih padanya. Ia melangkah maju tegap, berdiri di depan orang tua itu seolah menjadi perisai hidup.
“Kalian menagih upeti bukan untuk rakyat, tapi untuk memperkaya diri sendiri dan atasan.”
“Menyiksa orang lemah begini bukan sikap prajurit, melainkan penjahat yang tak punya hati nurani.”
Prajurit itu tertegun sebentar, lalu tertawa keras.
“Hei lihat siapa ini! Anak kampung tak tahu diri berani menegur kami!”
“Kalau tak mau bernasib sama, minggir sekarang sebelum kau menyesal!”
“Tak akan,” jawab Bayu mantap. “Selama aku bernapas, tak akan kubiarkan kalian menyakiti orang lemah tak berdaya.”
Prajurit itu melotot marah, lalu memberi isyarat pada kawanannya.
“Tangkap dia! Dan anak kecil di belakangnya! Ajarilah tata krama yang benar!”
Empat prajurit segera berlari mendekat, mengayunkan senjata. Bayu tidak bersenjata. Ia hanya mengandalkan kelincahan dan kekuatan tubuh yang terlatih di alam. Ia menangkis, menyingkir, lalu mendorong tepat di bahu hingga lawan kehilangan keseimbangan. Ia bertarung dengan gesit dan teratur, tidak berniat melukai hanya melumpuhkan agar mereka berhenti bertindak sewenang-wenang.
Karta yang sedari tadi memperhatikan, kini ikut melangkah maju. Ia tahu saatnya bertindak, tapi ingat betul aturan senjatanya. Ia tidak akan membiarkan amarah menguasai dadanya, menarik napas panjang seolah sedang membersihkan jalan dari semak berduri. Ia menyeringai kecil, lalu mengeluarkan pisaunya perlahan.
“Wah, senjata kalian berat sekali ya, seperti batang kayu tak terpakai,” katanya sambil tertawa kecil.
“Biarkan aku rapikan sedikit ya!”
Pisaunya terasa sangat ringan di tangan, berkilau tajam setiap kali bergerak. Saat seorang prajurit mengayunkan pedang lebar ke arahnya, Karta tak menangkis dengan kasar. Ia menebas miring tepat di tengah bilah pedang itu.
SREET!
Besi tebal itu terbelah dua rapi seperti kertas. Ujungnya jatuh ke tanah berbunyi nyaring. Prajurit itu terbelalak kaget, mundur terhuyung.
“Apa… besi terpotong begitu saja?!”
“Karena niatku baik, jadi pisauku pun senang membantu,” jawab Karta tertawa santai.
Ia kembali bergerak lincah. Ikat pinggang besi, gagang tombak, pelindung lengan, semuanya terbelah dengan bersih. Tak satu pun yang menyentuh kulit prajurit itu. Ia hanya membuat senjata mereka tak berguna, tanpa menumpahkan setetes pun darah.
Tapi jumlah prajurit makin banyak. Pasukan yang tadi memeriksa pasar kini bergabung. Bayu dan Karta mulai terdesak, napas memburu, ruang gerak makin sempit.
Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dari samping.
“Minggir!”
Seorang wanita melompat dari atas akar pohon besar, menendang dada dua prajurit sekaligus hingga terlempar. Itu Putri Larasati! Wajahnya masih tegang, tapi bukan lagi kemarahan, melainkan ketegasan siap bertarung. Di belakangnya berdiri lelaki tua misterius, bersandar tenang pada tongkat kayu seolah bahaya di sekeliling hanya angin lalu.
Larasati berputar luwes, selendangnya melambai indah namun mematikan saat melilit senjata musuh lalu memutarnya hingga terlepas. Ia bertarung cerdas, tidak membuang tenaga sia-sia, setiap gerakan selalu tepat sasaran.
Prajurit ragu sejenak.
“Siapa kau?! Berani melawan pasukan Kadipaten Ciaruteun!” Bentak komandan.
“Orang yang tak tahan melihat ketidakadilan,” jawab Larasati singkat.
Ia menoleh sekilas pada Bayu. Mata mereka sempat bertemu. Masih ada keraguan, tapi melihat Bayu melindungi orang tua itu sepenuh hati, hati kecilnya mulai berbisik mungkin ia keliru menilai pemuda ini.
Lelaki tua itu bicara tenang namun terdengar jelas di tengah keributan.
“Kalian harus bekerja sama kalau ingin mereka berhenti. Jumlah mereka terlalu banyak untuk dilawan sendiri.”
“Kesalahpahaman bisa dibicarakan nanti. Nyawa orang tak bisa ditukar waktu.”
Bayu mengangguk mantap.
“Setuju. Karta, bantu Tuan Putri di sisi kanan! Aku tahan serangan depan!”
“Siap, Kang!” seru Karta riang, lalu segera bergerak menyusul Larasati.
Awalnya kerja sama itu canggung. Larasati masih menjaga jarak, sesekali melirik curiga saat Karta mendekat. Tapi saat Karta menebas tali senjata yang hendak menghantam punggungnya tanpa ia sadari, sambil tersenyum lebar:
“Hati-hati ya, di belakang ada yang mau membokongmu!”
Rasa curiga itu perlahan menipis.
Larasati pun mulai memberi isyarat arah serangan terkuat. Karta dengan lincah memotong senjata tepat saat Larasati membuat mereka lengah. Bayu di sisi lain bergerak beriringan dengan lelaki tua itu. Meski tampak rapuh, setiap kali tongkat diayunkan, selalu tepat mengenai titik keseimbangan musuh—membuat prajurit sekuat apa pun jatuh tanpa luka sedikit pun.
“Kau pemilik Busur Sanghyang Rasa, bukan?” tanya lelaki tua pelan saat berdiri berdekatan sejenak.
Bayu terkejut, tapi hanya sempat mengangguk singkat. “Benar, Kek.”
“Bagus. Gunakan kekuatanmu untuk menghentikan ini. Jangan biarkan amarah menuntunmu, biarkan rasa belas kasih yang menuntun panahmu.”
Bayu pun sadar pertarungan tak akan usai selama pemimpin masih memberi perintah. Ia mundur selangkah, bersembunyi di balik pohon, lalu mengeluarkan busur Sanghyang Rasa punggungnya.
Jantungnya berdetak tenang. Ia salurkan rasa iba pada rakyat yang menderita dan tekad mengakhiri penindasan. Ia tak membidik dengan dendam, ia lepaskan anak panah dengan rasa.
Panah melesat cepat membelah angin, tepat menancap di paha Pemimpin yang sedang berteriak memberi perintah.
Pemimpin prajurit langsung jatuh terduduk, kakinya menjadi lemas seketika.
“Apa yang terjadi?!” teriaknya panik.
“Berhenti!” perintah Bayu lantang.
“Siapa yang masih menyakiti rakyat, akan merasakan hal sama.”
“Kami tak bermusuhan dengan kalian. Tapi kami tak akan biarkan kalian jadi alat penindasan.”
Melihat pemimpinnya lumpuh tanpa tahu siapa pelakunya, serta senjata mereka yang terbelah tak berguna, prajurit mulai gentar. Mereka saling pandang, takut menghadapi kekuatan yang tak dimengerti.
Akhirnya mereka mengangkat senjata tanda menyerah, membawa pemimpin mereka lalu mundur dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Suasana perlahan hening. Terdengar napas berat dan rintihan pelan pedagang tua yang kini duduk bersandar pohon. Larasati menurunkan kuda-kuda, mengusap keringat di pelipis, lalu menatap mereka berdua. Tatapannya tak lagi penuh kebencian, melainkan penuh pertanyaan yang belum terjawab.
“Kau…” katanya pelan ragu.
“Tadi kau bertindak bukan untuk keuntungan sendiri, kan?”
Bayu menggeleng lemah.
“Aku hanya tak tega melihat yang lemah disakiti. Seperti yang kukatakan dulu—aku tak berniat jahat pada Tuan Putri, maupun siapa pun.”
Lelaki tua itu tersenyum tipis sambil menepuk debu di bajunya.
“Kadang mata hanya melihat apa yang tampak di luar, sebelum hati diberi kesempatan melihat kebenaran sesungguhnya.”
“Hari ini kalian bertemu bukan kebetulan, tapi karena punya tujuan sama: melindungi yang tak berdaya.”
Karta selipkan kembali pisaunya, lalu menyeringai.
“Jadi sekarang kita sudah tak saling marah lagi kan? Bisa jalan bareng-bareng?”
Larasati sempat tersenyum samar—senyum yang jarang ia tunjukkan pada orang asing.
“Belum tentu aku percaya sepenuhnya,” katanya, tapi nada bicaranya jauh lebih lunak.
“Tapi aku akui… mungkin aku terlalu cepat menilai kalian.”
“Dan untuk saat ini… terima kasih sudah menolong tadi.”
Matahari sudah terbenam sepenuhnya, menyisakan warna jingga ungu di langit. Pertarungan tak direncanakan itu menyatukan jalan mereka, mengikis sedikit demi sedikit tembok kesalahpahaman yang tadinya begitu tebal. Masih ada bahaya dari Kadipaten Ciaruteun, masih ada rahasia Bukit Cijambe, dan siapa sebenarnya lelaki tua itu. Tapi setidaknya, kini mereka tak lagi berjalan sendirian.