NovelToon NovelToon
Warisan Kulivator Abadi

Warisan Kulivator Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.

Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Sekte Pedang

Perayaan ulang tahun Riu Han memang berlangsung sangat sederhana. Sebenarnya, setiap tahun pun selalu sama saja—tidak ada pesta besar, tidak ada undangan tamu dari luar, hanya kebersamaan antara ayah dan anak di kediaman mereka. Namun hari ini terasa sedikit berbeda, karena ada kehadiran Paman Lin Zhong dan Lin Yin yang ikut duduk bersama menikmati hidangan yang disiapkan.

Sejak ayahnya, Riu Zheng, dikucilkan dari lingkaran utama Klan Riu, hubungan mereka dengan kerabat klan menjadi semakin renggang. Bahkan kepala klan pun mulai menutup diri dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berkultivasi, seolah tidak lagi memedulikan nasib cabang keluarganya ini. Akibatnya, Riu Zheng dan putranya semakin tersisih dan jarang mendapat perhatian atau dukungan dari klan induk.

Setelah perayaan berakhir dengan suasana hangat dan akrab, Riu Han berdiri dan berpamitan. “Ayah, aku mau jalan-jalan dulu di sekitar sini sebentar.”

Kebetulan hari itu, Riu Zheng sengaja mengajak putranya ke kantor pusat perusahaan milik keluarga yang berada di tengah Kota Jiang. Riu Han pun berniat memanfaatkan kesempatan ini untuk berkeliling melihat suasana kota yang belum pernah ia jelajahi secara leluasa. Lin Yin tidak bisa ikut serta karena sedang asyik memantapkan dasar kultivasinya di kamar, sehingga Riu Han pun pergi sendirian setelah mendapatkan izin penuh dari ayahnya.

Meskipun setiap kali berpamitan selalu disertai nasihat panjang agar berhati-hati dan tidak mencari masalah, Riu Han tahu betul bahwa di balik kata-kata itu, ayahnya telah menaruh kepercayaan yang sangat besar kepadanya. Ia melangkah santai menyusuri jalan utama, matanya bergerak melihat ke kiri dan kanan dengan rasa ingin tahu yang meluap.

Di sepanjang jalan itu berjajar rapi berbagai kios yang menjual segala macam barang, mulai dari perhiasan, asesoris, ramuan obat, hingga peralatan latihan. Suara ramah para pedagang memanggil pelanggan terdengar di mana-mana, menciptakan suasana yang hidup dan sibuk. Riu Han hanya tersenyum mengamati semuanya, merasa suasana ini sangat menarik.

Meskipun nama Klan Riu cukup dikenal di kota besar ini, selama ini Riu Han sendiri jarang sekali berkeliling. Sebagai keturunan yang dianggap terpinggirkan dan dikucilkan, ia selalu diabaikan setiap kali ada rombongan yang pergi ke pusat kota. Oleh karena itu, kesempatan hari ini benar-benar menjadi pengalaman baru yang menyenangkan baginya.

Namun, saat ia berbelok masuk ke sebuah gang yang agak sepi dan sempit, langkahnya terhenti. Di depan sana, lima orang pria dengan penampilan kasar telah berdiri menghadang jalannya. Salah satu dari mereka yang terlihat sebagai pemimpin kelompok bertubuh kurus dan bermata tajam melangkah maju, sementara yang lain tetap berdiri di belakangnya dengan pandangan mengintimidasi.

“Apakah benar orang ini?” tanya si pemimpin itu dengan suara rendah.

“Benar, Kak. Dialah bocah yang kita ceritakan kemarin,” jawab salah satu anggotanya yang ternyata adalah Anbu—salah satu pengawal yang pernah dipukul Riu Han beberapa hari lalu.

Si kurus itu tertawa mengejek. “Ah, masa kalian bisa kalah dengan anak kecil yang kekuatan kultivasinya baru saja mencapai Tingkat Dua Prajurit saja?”

“Kak, waktu itu dia baru berada di Tingkat Sembilan Pemula saja. Dalam hitungan hari dia sudah naik tingkat lagi,” jawab Anbu dengan nada tidak percaya.

“Apa?!” Si kurus terkejut mendengar penjelasan itu.

“Haahahaha! Kalian benar-benar tidak berguna! Kalah saja sama anak kecil!” ejeknya lagi, namun kali ini nada bicaranya mulai terdengar lebih serius.

Riu Han hanya diam berdiri di tempatnya, mendengarkan seluruh percakapan mereka dengan tenang. Ia segera mengenali wajah Anbu, dan menyimpulkan bahwa rombongan ini pasti dikirim oleh Klan Mu untuk mencarinya. Rupanya mereka sudah mengetahui keberadaannya di Kota Jiang, sehingga bisa langsung menghadangnya secara tiba-tiba.

“Hey, bocah! Nyalimu cukup berani ya. Sudah tahu Klan Mu sedang mencarimu, malah berani-beraninya berjalan sendirian di tempat umum. Apakah kau sudah bosan hidup?” bentak si kurus dengan nada mengancam.

“Kusarankan kau menyerah saja dengan baik-baik agar tidak terluka parah nanti,” tambahnya lagi, sambil memancarkan aura kekuatan yang membuat debu di sekitarnya sedikit bergerak. Ia telah mencapai Tingkat Satu Perwira—satu tingkat lebih tinggi dari Riu Han.

Riu Han hanya tersenyum tipis, lalu menjawab dengan nada santai namun tegas. “Maaf, Kak. Sebelum kalian berniat menangkapku, sebaiknya minta izin dulu pada tinjuku.”

“Apa?!”

Mendengar jawaban yang tidak masuk akal itu, kelima orang itu langsung meledak tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha! Bocah lancang! Sepertinya kau belum pernah merasakan bagaimana rasanya sakit dan menderita ya?” seru si kurus sambil mengerutkan dahi.

Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, ia langsung melompat maju dan melancarkan serangan cepat ke arah bahu Riu Han.

“Hup… Eit!”

Namun, tepat saat tinjunya hampir menyentuh sasaran, sosok Riu Han tiba-tiba terlihat kabur seperti bayangan. Serangan itu hanya meleset membelah udara kosong. Si kurus tertegun sejenak, wajahnya memerah karena malu. Ia segera mengatur posisi dan melancarkan serangan kedua dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Namun, hasilnya tetap sama—Riu Han kembali menghindar dengan gerakan yang sangat lincah dan ringan, seolah tubuhnya tidak memiliki beban sama sekali.

“Sialan! Baiklah, aku tidak akan bercanda lagi!” bentak si kurus yang sudah merasa kesal.

Ia mengerahkan seluruh energinya, membuat tinjunya diselimuti cahaya putih samar. Angin kencang tercipta mengikuti ayunan tangannya. “Rasakan ini! Teknik Tinju Pembelah Batu!”

Serangan kali ini jauh lebih kuat dan berbahaya, langsung diarahkan tepat ke kepala Riu Han tanpa rasa sungkan. Sebagai pemimpin kelompok, ia merasa sangat malu karena dua kali serangannya gagal menyentuh seorang anak kecil. Ia ingin segera membuktikan bahwa ia layak memimpin mereka, dan dalam benaknya ia tidak lagi memedulikan keselamatan Riu Han. Ia yakin, selama dia membawa laporan ini kembali ke Klan Mu, ia pasti akan mendapatkan hadiah yang melimpah dan perlindungan penuh.

Namun, saat tinjunya hampir menyentuh sasaran, pandangannya tiba-tiba kosong. Sosok Riu Han yang berdiri di depannya lenyap begitu saja.

“Eeh… kemana dia?” gumamnya bingung.

“Aku ada di sini,” jawab suara tenang dari arah belakangnya.

Si kurus terkejut setengah mati. Ia segera memutar badannya dengan cepat, namun Riu Han sudah berdiri santai sekitar tiga meter di belakangnya dengan senyum di wajah.

“Kalian semua maju sekaligus saja. Biar aku cepat menyelesaikannya,” tantang Riu Han dengan nada acuh tak acuh.

“Sialan bocah! Kau anggap kami apa?” bentak salah satu anggotanya.

Namun di dalam hati si kurus, rasa was-was mulai muncul. Satu kali menghindar mungkin kebetulan, dua kali masih bisa diterima, tapi tiga kali menghindar dengan mudah dari serangan yang semakin kuat—ini bukan hal yang biasa. Meskipun terasa sangat memalukan, ia sadar bahwa anak kecil ini tidak bisa dianggap remeh lagi.

Tanpa ragu lebih lama lagi, kelima orang itu langsung mengeroyoknya secara bersamaan. Ada yang menerkam dari depan, ada yang meninju dari samping, dan ada pula yang menendang dari belakang. Namun, apa pun serangan yang mereka lancarkan, Riu Han selalu bisa menghindar dengan gerakan yang teratur dan indah, mengandalkan kesempurnaan Teknik Gerakan Bayangan yang telah ia kuasai.

Kelima orang dewasa itu mulai bingung dan lelah sendiri. Gerakan Riu Han terasa sulit dilacak, seolah ia memiliki banyak bayangan yang bergerak ke segala arah.

“Hey, bocah! Apakah kau cuma bisa menghindar saja?!” bentak si kurus yang mulai merasa kesal dan lelah. “Apakah itu hanya teknik yang kau pelajari?”

Riu Han hanya tersenyum tenang. “Kalian ingin aku memukul juga? Baiklah, jangan salahkan aku jika nanti kalian menyesal.”

Begitu selesai berbicara, Riu Han melesat maju dengan kecepatan yang baru saja ia tingkatkan. Ia tidak menggunakan senjata, namun memanfaatkan telapak tangannya yang diselimuti energi, menerapkan prinsip Teknik Pedang yang baru ia pelajari sebagai dasar serangan jarak dekat. Setiap gerakan tangannya terasa tajam dan terarah, meskipun tidak menggunakan bilah besi sekalipun.

“Ah… Aduh!”

“Huok… Sakit!”

Satu per satu, tubuh kelima orang itu terlempar dan jatuh tersungkur ke tanah sambil mengerang kesakitan. Mereka merasa seolah ditabrak oleh benda berat sekaligus tertusuk benda tajam, namun tidak ada luka terbuka yang terlihat. Hanya rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh hingga membuat mereka sulit bangkit kembali.

Riu Han hanya berdiri santai, lalu menepuk-nepuk telapak tangannya seolah sedang membersihkan debu yang menempel. Ia menatap mereka dengan pandangan datar. “Ah… kalian memang sangat payah.”

Setelah berkata begitu, ia berbalik dan melanjutkan perjalanannya seolah tidak ada hal penting yang terjadi.

Sementara itu, di kantor perusahaan Klan Riu, seorang pelayan tergesa-gesa masuk menemui Riu Zheng. “Tuan, di luar ada petugas dari Balai Kota Jiang yang ingin bertemu dengan Anda.”

“Petugas Balai Kota?” gumam Riu Zheng sambil mengerutkan dahi. “Mereka ada perlu apa datang ke sini?”

“Saya tidak tahu secara pasti, Tuan. Sebaiknya Anda menemui mereka secara langsung,” jawab pelayan itu dengan hormat.

Riu Zheng mengangguk, lalu berjalan menuju ruang tamu. Begitu masuk, seorang perwira kota yang mengenakan seragam resmi segera berdiri dan memberi hormat.

“Salam hormat, Tuan Riu Zheng,” ujar perwira itu dengan nada sopan. “Maaf mengganggu kesibukan Anda sebentar.”

“Tidak apa-apa. Ada keperluan apa sehingga petugas Balai Kota datang ke sini?” tanya Riu Zheng dengan tenang.

Sebagai putra kepala Klan Riu, meski sedang dalam posisi terpinggirkan, Riu Zheng tetap memiliki kedudukan yang cukup tinggi di wilayah ini. Bahkan pemimpin kota pun harus tetap bersikap sopan dan menghormatinya. Namun, Riu Zheng sendiri tidak pernah menyombongkan statusnya dan selalu bersikap ramah kepada siapa pun.

“Saya diutus oleh Tuan Ling Cun, pemimpin Kota Jiang, untuk mengundang Anda dan putra Anda menghadap ke Balai Kota,” jawab perwira itu dengan jujur. “Mengenai urusan apa, saya mohon maaf tidak bisa menjelaskan lebih lanjut. Anda bisa menanyakannya langsung kepada Tuan Ling Cun nanti. Saya hanya menjalankan perintah yang diberikan.”

Riu Zheng terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Baiklah, saya mengerti. Silakan kembali lebih dulu, kami akan segera menyusul ke sana.”

“Terima kasih banyak, Tuan Riu. Kalau begitu saya pamit undur diri,” jawab perwira itu sebelum keluar dari ruangan.

Beberapa jam kemudian, Riu Zheng dan Riu Han tiba di gerbang utama Balai Kota. Prajurit yang sudah menerima laporan segera menyambut dan mengantar mereka masuk ke ruang pertemuan utama. Begitu melangkah masuk, mereka melihat Ling Cun—pemimpin kota—sedang bercakap-cakap dengan seorang pria paruh baya yang memiliki penampilan sangat gagah, tatapan matanya tajam seperti bilah pedang, dan memancarkan aura kekuatan yang membuat udara di ruangan itu terasa lebih tegang.

“Tuan Ling Cun, saya Riu Zheng, dan ini putra saya Riu Han,” ujar Riu Zheng sambil memberi hormat dengan sopan.

Ling Cun segera berdiri dan tertawa lebar, lalu berjalan mendekat. “Haahaha! Saudara Riu, jangan terlalu sungkan dengan tata krama yang berlebihan. Hormat seperti ini malah membuatku merasa tidak enak. Anda adalah putra kepala Klan Riu, orang yang memiliki kedudukan jauh lebih tinggi dariku. Sungguh saya tidak pantas menerima penghormatan ini.”

“Ah, itu hal biasa saja. Anda adalah pemimpin Kota Jiang yang mengatur ketertiban wilayah ini, sedangkan Klan Riu hanya menjalankan usaha di sini. Sudah seharusnya saya menunjukkan rasa hormat,” jawab Riu Zheng dengan nada santai.

“Sudahlah, buang saja semua aturan kaku itu. Silakan duduk,” ajak Ling Cun sambil menunjuk tempat duduk.

Setelah mereka duduk, Ling Cun menoleh ke arah Riu Han dan tersenyum ramah. “Jadi ini putra Anda, Riu Han? Benar-benar mirip dengan ayahnya—sopan dan tenang. Panggil saja aku Paman Ling, tidak perlu pakai gelar resmi.”

Riu Han hanya mengangguk dan tersenyum sopan. “Baik, Paman Ling.”

Ling Cun kemudian menoleh ke arah pria yang duduk di sebelahnya dan memperkenalkannya. “Saudara Riu, izinkan saya memperkenalkan. Ini adalah Saudara Jing Hu, yang datang dari luar kota. Beliau adalah perwakilan dari Sekte Pedang.”

Mendengar nama itu, Riu Zheng dan Riu Han sama-sama terkejut. Mata mereka melebar seketika, dan ekspresi wajah mereka berubah menjadi serius.

“Sekte Pedang?!” seru mereka hampir bersamaan.

Di benak mereka, nama sekte itu bukanlah nama sembarangan. Sekte Pedang adalah salah satu kekuatan besar yang sangat dihormati dan ditakuti di seluruh wilayah Kerajaan Song, bahkan memiliki pengaruh yang melampaui banyak klan besar sekalipun. Kehadiran perwakilan mereka di Kota Jiang yang kecil ini sungguh merupakan hal yang sangat jarang terjadi dan menimbulkan banyak pertanyaan.

1
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
Lanjut Up Thor 💪💪
Deevy Tresiyana
kuatkan💪mu riu han...ceritanya luar biasa thor👍😄
Deevy Tresiyana
👍💪hebat hebat
Blue Manusia Biasa
awal yang bagus
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 1 gift ☕ Lanjut Up Thor..
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Dukung Novel ini dengan cara: Like, Komen, Vote, Rate 5 ⭐, Ads dan gift. Semangat Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya menarik untuk dibaca 👍👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Dukung Novel ini dengan cara: Like, Komen, Vote, Rate 5 ⭐, Ads dan gift.
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjutkan Thor 💪💪
sutrisno akbar
ayo lanjut thor l
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tingkatan Pemula saja Tingkat 1-9, kok nggak Awal, Tengah dan Puncak 🤔
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Kisah menjadi Kultivator / Pendekar dimulai 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Semoga Novel ini sukses dan sampai Tamat.
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Alur ceritanya mulai menarik untuk dibaca 👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Awal cerita sudah bagus 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!