Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 011: Masalah yang Menggebu dan Kasih yang Tenang
Suasana sore itu terasa bergejolak di beberapa tempat sekaligus, bagai dua sisi mata uang yang sangat berbeda, satu dipenuhi amarah dan penghinaan, sementara sisi lainnya terasa damai dan hangat.
Di depan rumah sederhana milik Sheina, suasana menjadi sangat tegang dan memalukan. Mondol berdiri di halaman dengan wajah merah padam karena amarah, suaranya menggelegar sampai terdengar oleh tetangga sekitar. Ia datang tanpa diundang, hanya untuk melampiaskan kekesalannya setelah dilarang masuk ke lingkungan teman-temannya beberapa hari lalu.
“Kau pikir sudah punya tempat perlindungan, jadi berani melawanku? Dasar wanita tak tahu diri! Sejak kapan kau merasa cukup baik untuk memandang rendah orang lain?” teriak Mandol keras, matanya melotot penuh kebencian.
Sheina berdiri di ambang pintu, tubuhnya gemetar menahan air mata dan rasa malu yang menyelimuti. “Mondol, pergilah! Kita sudah selesai. Jangan buat keributan di depan rumahku,” jawabnya dengan suara bergetar namun berusaha tegas.
Mendengar jawaban itu, Mondol makin meluap. “Selesai? Kau tak bisa bebas begitu saja! Kau wanita yang hanya bisa mencari perlindungan pada orang lain, tidak punya harga diri sendiri! Apa yang kau banggakan sampai berani membantah aku? Coba lihat dirimu sendiri, kau tidak lebih dari…!” makiannya terus meluncur tanpa henti, menusuk hati Sheina seperti pisau tajam. Ia tidak peduli tatapan curiga tetangga yang mulai keluar melihat keributan itu, hanya ingin menjatuhkan harga diri wanita itu sepenuhnya.
Sementara itu, di tempat lain, sebuah kafe yang agak sepi, permasalahan antara Siska dan Randy juga semakin memanas. Sejak kejadian malam itu, rasa curiga di hati Siska tidak pernah hilang begitu saja. Hari ini ia memberanikan diri untuk menanyakan kembali hal yang mengganjal di pikirannya.
“Rand, aku sudah berusaha percaya padamu, tapi kenapa selalu ada saja hal yang kau sembunyikan? Tadi pagi pun aku melihat pesan singkat di ponselmu dari wanita lain,” kata Siska dengan suara lirih namun tegas, matanya berkaca-kaca menahan rasa kecewa.
Randy tertegun, lalu segera berusaha merayu lagi. “Itu hanya salah paham, Sayang. Dia hanya kenalan biasa saja, tidak ada apa-apa. Kenapa kau selalu membesar-besarkan hal sepele ini? Percayalah, hatiku hanya untukmu.”
Namun kali ini rayuannya tidak lagi terdengar meyakinkan bagi Siska. Ia menggeleng pelan, “Dulu kau juga bilang begitu, tapi buktinya kebiasaanmu tidak pernah berubah. Aku lelah terus-menerus bertanya-tanya apakah aku satu-satunya di hatimu atau hanya salah satu dari banyaknya wanita yang kau dekati,” jawabnya, membuat Randy terdiam tanpa kata karena tahu tuduhan itu benar adanya.
Berbeda jauh dengan kedua masalah tersebut, di sudut lain kota, tepatnya di taman kota yang rindang, Aldara dan Aries duduk berdampingan di bangku kayu, menikmati ketenangan sore yang mulai redup. Tidak ada pertengkaran, tidak ada rahasia, hanya kedamaian yang menyelimuti mereka berdua.
Aries mengulurkan tangannya, memegang jemari Aldara dan menggenggamnya lembut namun erat. “Bagaimana rasanya hari ini? Tidak lelahkah kau?” tanyanya dengan nada lembut, matanya menatap wajah kekasihnya dengan penuh kasih sayang.
Aldara tersenyum, menaruh kepalanya perlahan di bahu bidang Aries. “Tenang saja. Hanya saja, aku teringat kejadian tempo hari. Sungguh, hati ini terasa panas melihat orang lain saling menghina seperti itu. Padahal manusia itu sama saja, tidak ada yang berhak merendahkan orang lain,” jawabnya pelan.
Aries mengusap punggung tangan Aldara dengan ibu jarinya. “Memang begitu. Orang yang merasa dirinya paling hebat justru paling lemah hatinya. Kita cukup menjadi saksi saja, dan menjaga agar hubungan kita tidak pernah terkontaminasi oleh hal buruk seperti itu. Aku berjanji, tidak akan pernah ada rahasia, tidak akan ada makian, dan tidak akan ada penghinaan di antara kita,” katanya tegas namun hangat.
Aldara mendongak, menatap mata Aries, lalu mengangguk mantap. “Terima kasih telah mengajarkanku kembali apa artinya dicintai dengan hormat,” bisiknya.
Di bawah langit senja yang berwarna jingga, cinta mereka tumbuh semakin kokoh, menjadi bukti nyata bahwa kasih yang tulus selalu terasa damai, berbanding terbalik dengan hubungan yang penuh kebohongan dan emosi yang tak terkendali.