Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Akademi
"Kita tidak akan keluar lewat jalan yang sama," ujar Huang, membalikkan tubuhnya ke arah Elysa dan Mu. Dia menghentakkan kakinya, menyalurkan sedikit Qi Asura-nya ke dalam prasasti giok tersebut.
HUMMM!
Prasasti itu menyala, memancarkan pilar cahaya putih perak yang membentuk gerbang teleportasi baru di samping altar.
"Formasi ini terhubung langsung ke wilayah netral di perbatasan Benua Pusat, tidak jauh dari wilayah luar Akademi Empat Jagat," lanjut Huang. "Ayo bergerak sebelum tempat ini mengubur kita semua!"
"Luar biasa, kau bahkan bisa mengaktifkan formasi kuno ini!" Mu berseru lega. Tanpa membuang waktu, dia dan Elysa segera melompat masuk ke dalam pilar cahaya perak tersebut.
Sebelum menyusul mereka, Huang menatap sekali lagi ke arah reruntuhan Makam Pedang yang mulai runtuh. Dia tahu, perjalanannya di Lembah Dewa Jatuh telah berakhir, namun badai sejati di dunia luar baru saja dimulai. Dengan Sumsum Tulang Asura Sejati yang kini bersatu dalam tubuhnya, dia bukan lagi sekadar murid berbakat yang bersembunyi di bawah sayap Penatua Jiu. Dia adalah ancaman nyata bagi para penguasa kegelapan.
Dengan tekad yang membakar jiwa, Lin Huang melangkah masuk ke dalam gerbang teleportasi, siap kembali ke Akademi Empat Jagat untuk menghadapi konfrontasi terbesar dalam hidupnya.
WUSH!
Pilar cahaya perak memudar dengan cepat, menyisakan sensasi pusing akibat perpindahan spasial jarak jauh yang ekstrem. Sesaat kemudian, hawa belerang yang menyesakkan dada dari Lembah Dewa Jatuh berganti dengan embusan angin pegunungan yang sejuk dan aroma tanah basah.
Lin Huang, Elysa, dan Mu mendarat di sebuah dataran tinggi yang dikelilingi hutan bambu hijau yang lebat. Di kejauhan, samar-samar terlihat siluet megah menara-menara melayang milik Akademi Empat Jagat. Mereka telah berhasil kembali ke perbatasan Benua Pusat dengan selamat.
BUMMM!
Tepat saat gerbang teleportasi kuno di belakang mereka menutup dan hancur menjadi debu giok, langit di arah cakrawala barat mendadak bergetar hebat. Bahkan dari jarak ribuan mil, Huang bisa melihat awan hitam bergulung-gulung memenuhi langit Benua Barat, memancarkan raungan naga yang dipenuhi amarah murka yang sanggup menggetarkan jiwa.
"Klan Naga Kegelapan... mereka sudah tahu kalau Long Yan tewas," Mu bergumam sembari menyeka keringat dingin di dahinya. Dia menatap Huang dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa hormat yang mutlak. "Junior Lin, mulai hari ini, kau adalah orang pertama di generasi muda yang secara resmi menyatakan perang terhadap salah satu penguasa tertinggi Benua Barat."
"Bukan aku yang mencari masalah, Senior Mu. Mereka yang mencoba menjadikan garis keturunanku sebagai mangsa," jawab Huang tenang.
Ketika dia berbicara, lingkaran emas tipis di sekitar pupil matanya berkilat samar. Di dalam tubuhnya, Sumsum Tulang Asura Sejati telah menyatu sempurna dengan kerangka tubuhnya. Setiap kali jantungnya berdetak, sumsum tulang baru itu memroduksi sel darah ungu keemasan yang mengalir ke seluruh meridiannya, memperkuat struktur otot dan ketahanan fisiknya setiap detik. Basis kultivasi Formasi Inti Lingkaran Sempurnanya begitu padat, hingga riak energi di sekelilingnya membuat bambu-bambu di dekatnya merunduk seolah memberi hormat.
"Kita harus segera masuk ke dalam akademi," Elysa melangkah maju, wajah cantiknya tampak serius namun penuh tekad. "Meskipun Klan Naga Kegelapan sangat kuat, mereka tidak akan berani menyerang Akademi Empat Jagat secara terang-terangan. Namun, badai politik di dalam Aula Dewan Tertinggi pasti akan sangat mengerikan."
"Putri Elysa benar. Mari kita temui Guru terlebih dahulu," ucap Huang.
---
Satu jam kemudian, di puncak sunyi Puncak Arak.
Penatua Jiu masih duduk di tempat yang sama, seolah-olah dia tidak pernah bergerak sejak tiga hari lalu. Bedanya, kali ini tidak ada ikan panggang atau wajah malas. Pria tua itu berdiri tegak di tepi tebing, memegang kendi araknya sembari menatap lurus ke arah gerbang gunung tempat Huang, Elysa, dan Mu berjalan mendekat.
Begitu mata tua Penatua Jiu terkunci pada sosok Huang, gerakan tangannya yang hendak meminum arak mendadak membeku. Sepasang mata yang biasanya terlihat mengantuk itu seketika memancarkan kilatan cahaya spiritual yang begitu tajam hingga sanggup menembus ilusi ruang.
"Fisik Formasi Inti Lingkaran Sempurna... dan esensi tulang itu..." Penatua Jiu bergumam lirih, sebuah ekspresi keterkejutan yang sangat langka muncul di wajah keriputnya. Dia menghela napas panjang, lalu tertawa terbahak-bahak hingga suaranya mengguncang seluruh Puncak Arak. "Hahaha! Bocah sialan! Aku menyuruhmu pergi untuk menghindari badai, tapi kau malah pergi ke sarang naga dan merampok seluruh fondasi kuno mereka!"
Huang melangkah maju dan membungkuk dalam-dalam. "Murid kembali dari misi, Guru."
Elysa dan Mu juga menjura hormat kepada sang legenda eksentrik tersebut.
"Sudahlah, tidak perlu banyak formalitas," Penatua Jiu melambaikan tangannya, lalu menatap Elysa dan Mu dengan pandangan hangat. "Kalian berdua dari kaum Peri telah menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Kerajaan Peri tidak akan menyesali pilihan mereka hari ini. Kembali dan istirahatlah, biar tetua tua ini yang mengurus sisa kotoran yang akan datang."
Elysa menatap Huang sekali lagi dengan tatapan yang sarat akan makna, sebelum akhirnya membungkuk pamit bersama Mu, meninggalkan Puncak Arak menggunakan token giok transportasi mereka.
Setelah kedua Peri itu pergi, suasana di puncak gunung mendadak berubah menjadi sangat sunyi. Penatua Jiu membalikkan badannya, menatap Huang dengan ekspresi yang sangat serius.
"Kau membunuh Long Yan dan Wu Feng. Saat ini, perwakilan dari Klan Naga Kegelapan dan faksi Gagak Hitam sedang menekan Kepala Akademi di Aula Utama, menuntut agar kau diserahkan sebagai pembunuh," Penatua Jiu berkata datar. "Mereka membawa bukti bahwa kartu jiwa Long Yan hancur akibat serangan energi ungu yang sangat mirip dengan monster yang dicari oleh faksi Iblis selama ini."
Huang tidak gentar. Sepasang matanya menatap langsung ke arah gurunya. "Lalu, apa keputusan akademi, Guru?"
"Keputusan akademi?" Penatua Jiu tersenyum sinis, menghancurkan kendi arak di tangannya hingga menjadi abu. "Akademi Empat Jagat didirikan untuk mendidik para monster, bukan untuk tunduk pada ancaman kadal hitam dari Benua Barat! Lagipula, dengan kondisi tubuhmu yang sekarang... kau sudah siap untuk langkah berikutnya, bukan?"
Huang menyipitkan matanya. "Maksud Guru... Pondasi Jiwa Nascent?"
"Benar," Penatua Jiu mengangguk, matanya berkilat penuh antisipasi yang membara. "Sumsum tulang Asura di dalam tubuhmu membutuhkan energi yang jauh lebih masif untuk berkembang. Formasi Inti tidak akan cukup untuk menampung takdirmu. Tiga hari lagi, Kolam Pembaptisan Dewa Kuno di inti akademi akan dibuka untuk tiga besar Murid Dalam. Di sana, kau akan merebus kembali seluruh inti jiwamu, menghancurkan batasan fana, dan melangkah ke Ranah Jiwa Nascent!"
Penatua Jiu melangkah maju, menepuk pundak Huang dengan kuat. "Terobos ranah itu di depan mata mereka semua, Bocah. Biarkan para tetua tua yang korup itu tahu, bahwa di hadapan Asura sejati... seluruh konspirasi mereka hanyalah lelucon yang rapuh!"
Darah di dalam tubuh Lin Huang seketika mendidih mendengar kata-kata gurunya. Dengan dukungan penuh dari sang legenda Puncak Arak dan warisan Asura yang kini berdenyut di dalam tulangnya, Lin Huang mengepalkan tangannya erat-erat. Tiga hari lagi, Aula Pembaptisan akan menjadi panggung di mana dia akan melepaskan belenggu manusianya dan terlahir kembali sebagai badai sejati yang akan menyapu bersih seluruh faksi Iblis dari muka bumi.