Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Sanny melangkah mendekati pintu kamar mandi.
Baru saja tangannya hendak menyentuh gagang pintu—
Klik.
Pintu terbuka lebih dulu.
Dylan keluar dengan mengenakan jubah tidur. Wajahnya terlihat datar, tetapi sorot matanya dingin.
“Ada apa mencariku?” tanyanya. “Dan siapa yang memberimu izin masuk ke kamarku?”
Sanny langsung terkejut.
“K-Kakak... aku hanya ingin memanggilmu untuk sarapan bersama,” jawabnya gugup.
“Walaupun begitu,” ucap Dylan tegas, “bukan berarti kau bisa masuk ke kamar orang tanpa izin. Keluar.”
Sanny menundukkan kepala.
Ia pun segera meninggalkan kamar.
Setelah pintu tertutup, Dylan menoleh ke arah kamar mandi.
“Apa kau berencana bersembunyi di sana selamanya?” tanyanya.
Perlahan, pintu kamar mandi terbuka.
Viona keluar dengan wajah yang masih pucat.
Tatapannya langsung tertuju ke arah pintu, memastikan Sanny benar-benar sudah pergi.
“Pergi kemasi barang-barangmu,” perintah Dylan.
“Kita langsung berangkat.”
Viona ragu sejenak.
“Tuan Muda... Anda tidak sarapan dulu? Mereka sedang menunggu di ruang makan.”
“Aku tidak selera.”
Dylan berjalan menuju lemari pakaiannya, lalu mulai mengganti pakaian.
Viona yang menyadari hal itu langsung memalingkan wajah.
Ia buru-buru keluar dari kamar dengan wajah memerah.
Beberapa menit kemudian.
Viona keluar dari gudang sambil membawa sebuah tas kecil berisi pakaian seadanya.
Belum sempat melangkah jauh—
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
“Nona...” lirih Viona sambil memegang pipinya yang memerah.
“Sejak tadi aku mencarimu!” bentak Sanny. “Apa kau sudah mati sampai tidak menjawab panggilanku?”
Viona menundukkan kepala.
“Saya sedang di belakang, Nona.”
Sanny mendengus kesal.
“Cepat ke dapur! Siapkan makanan!”
Namun sebelum Viona sempat menjawab—
“Apa kau lupa sesuatu?”
Suara dingin Dylan terdengar dari belakang.
Semua orang langsung menoleh.
Dylan berjalan mendekat dengan kedua tangan di dalam saku celananya.
“Viona sudah menjadi pelayan pribadiku,” ucapnya datar. “Kau tidak berhak memberi perintah kepadanya.”
“Kakak,” protes Sanny, “hari ini ulang tahunku. Sebelum para tamu datang, dia harus membantu di dapur.”
“Kalau hari ini ulang tahunmu,” jawab Dylan tenang, “berarti kau sendiri yang seharusnya menyiapkan semuanya.”
Sanny membelalakkan mata.
“Dan satu lagi. Bibi Ma juga ikut denganku.”
“Apa?” seru Sanny.
“Kalau Bibi Ma juga pergi, lalu bagaimana dengan pesta makan siang nanti?”
“Itu bukan urusanku.”
Jawaban Dylan singkat, tetapi cukup membuat wajah Sanny berubah pucat.
Dylan menggenggam pergelangan tangan Viona, lalu melangkah menuju ruang tamu.
Viona hanya bisa mengikuti di belakangnya dengan kepala tertunduk.
Di ruang tamu, Jay sudah berdiri menunggu.
“Tuan, mobil sudah siap,” lapornya.
Dylan mengangguk pelan.
Saat hendak melangkah keluar, suara Delvin menghentikannya.
“Dylan, kau tidak sarapan dulu?”
“Tidak selera,” jawab Dylan singkat tanpa menoleh.
Pada saat itu, Bibi Ma datang sambil membawa sebuah tas kecil berisi barang-barangnya.
Ia berhenti di depan Delvin dan Moly, lalu membungkukkan badan.
“Tuan, Nyonya... maafkan saya. Saya tidak bisa bekerja di rumah ini lagi.”
“Apa?” Moly langsung berdiri. “Dylan, kenapa kau membawa semua pelayan pergi?”
Tatapannya berubah kesal.
“Kalau kalian pergi, siapa yang akan menyajikan hidangan untuk tamu-tamu yang datang hari ini?”
Dylan tersenyum tipis.
“Ulang tahun putrimu bukan urusanku. Kalau butuh pelayan, cari saja yang baru. Bukankah keluarga Jiang mampu membayar puluhan pelayan?”
Nada suaranya penuh sindiran.
Wajah Moly langsung berubah tidak enak.
“Dylan, kau sengaja ingin mempermalukan keluarga ini?” bentaknya.
Dylan akhirnya menoleh.
“Aku? Aku hanya membawa pelayanku sendiri. Kalau pesta anakmu gagal hanya karena kehilangan dua orang pelayan... berarti pesta itu memang dipersiapkan dengan sangat buruk.”
Moly tidak mampu membalas.
Dylan kembali melangkah menuju pintu.
“Kakak!”
Sanny berlari mengejarnya.
“Kau tidak boleh membawa Bibi Ma pergi! Kalau Bibi Ma pergi, pestaku bisa berantakan. Teman-temanku akan menertawakanku!”
Dylan menghentikan langkahnya sesaat.
Tanpa menoleh, ia berkata dengan nada datar,
“Kalau begitu... belajarlah mengurus pestamu sendiri. Jangan terus bergantung pada orang yang selama ini kau tindas.”
Setelah mengucapkan itu, Dylan tidak memberi kesempatan siapa pun untuk menghentikannya lagi.
Ia berjalan keluar dari mansion bersama Viona.
Jay membawa barang-barang mereka, sementara Bibi Ma mengikuti dari belakang.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di halaman depan.
Mobil hitam mewah telah menunggu dengan mesin yang masih menyala.
Jay segera membukakan pintu belakang.
Dylan lebih dulu masuk, lalu menoleh kepada Viona.
“Masuk.”
Viona masih berdiri ragu.
Ia tanpa sadar menoleh ke arah rumah besar keluarga Jiang.
Di dalam hatinya hanya ada satu pikiran.
"Vivi... semoga mereka tidak benar-benar menghentikan biaya pengobatanmu..."
Dengan perasaan gelisah, Viona akhirnya masuk ke dalam mobil.
Tak lama kemudian, mobil itu perlahan meninggalkan kediaman keluarga Jiang.
Dari teras rumah, Delvin menatap mobil yang semakin menjauh dengan wajah suram.
"Semakin lama Viona berada di sisi Dylan... semakin besar kemungkinan rahasia yang mereka sembunyikan selama ini akan terbongkar," batin Delvin.