Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan Cinta Dewa
Pagi itu, studio bunga kembali dipenuhi kesibukan. Harum mawar dan lili memenuhi ruangan. Erin dan Salsa sejak tadi sibuk memilah bunga yang baru datang, sementara beberapa pelanggan silih berganti mengambil pesanan mereka.
Di sudut ruangan, Alya masih duduk di meja kerjanya. Jemarinya dengan cekatan merangkai bunga-bunga segar menjadi sebuah buket bernuansa putih dan merah muda.
"Yang ini untuk acara lamaran, Kak?" tanya Salsa.
Alya mengangguk. "Iya. Jangan lupa pita bagian bawahnya pakai warna krem."
"Siap."
Belum lama Salsa beranjak, Erin kembali menghampiri, untuk memberi kabar mengenai pelanggan mereka.
"Kak Alya, pelanggan yang pesan buket ulang tahun sudah datang."
"Suruh tunggu sebentar ya."
Erin menganggukkan kepala. Namun saat Alya hendak berdiri, tubuhnya mendadak berhenti. Tangannya refleks memegang pinggang.
"Astaghfirullah..."
"Kak!" Erin langsung menghampiri.
"Gak apa-apa?"
Alya tersenyum menenangkan. "Cuma pegal sedikit."
Erin menggeleng. "Kakak jangan berdiri dulu."
Salsa ikut datang membawa kursi kecil. "Iya, Kak. Duduk saja."
Melihat kedua karyawannya begitu panik, Alya justru tertawa kecil, seolah menyembunyikan apa yang ia rasakan saat ini.
"Kalian ini..," katanya pelan. "Yang hamil aku, yang panik justru kalian," imbuhnya.
"Tentu panik," sahut Erin cepat. "Kalau Kak Alya kenapa-kenapa, Om Dewa nanti marah."
Belum selesai mereka berbicara, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu, Dewa pun menghampiri mereka bertiga dengan tatapan yang penuh selidik.
"Siapa yang mau marah?"
Keempat mata itu langsung menoleh.
Dewa sudah berdiri di dekat mereka sambil membawa dua kantong belanja.
"Om!" sapa Erin.
"Pas banget," imbuh Salsa.
"Om, Kak Alya tadi hampir berdiri sendiri."
Dewa langsung menatap Alya. Tatapan itu tidak keras, tetapi cukup membuat Alya salah tingkah, sementara itu kedua gadis itu saling senggol lengan.
"Aku cuma mau nganter buket," kata Alya.
"Biarkan Erin!" perintah Dewa tegas.
"Aku masih kuat."
Dewa berjalan mendekat lalu mengambil buket yang tadi hendak dibawa Alya, pria itu bergerak cepat karena tidak ingin hal yang tidak diinginkan terjadi kembali pada Alya.
"Kamu duduk."
"Mas..."
"Duduk."
Nada suaranya tetap tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah, hingga akhirnya Alya menurut meskipun di dalam hatinya sedikit ada rasa kesal.
"Iya..."
Melihat itu Erin dan Salsa kembali saling pandang, mereka begitu terlihat senang jika Dewa sudah bertindak tegas.
"Tuh kan."
"Kalau Om Dewa yang nyuruh, langsung nurut."
Alya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kalian ini ada-ada saja."
Semua orang kembali tertawa memenuhi ruangan, sementara keduanya kembali dengan tugasnya masing-masing, untuk mengerjakan buket-buket yang baru saja diselesaikan oleh Alya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sore harinya, matahari mulai tenggelam dari ufuk barat, suasana studio didalamnya sudah mulai lenggang. Pekerjaan yang tadi menumpuk kini selesai dan sudah berada di tangan konsumen. Erin dan Salsa berpamitan pulang lebih dulu. Studio kembali tenang.
Sementara Alya sedang merapikan pita-pita yang tersisa ketika Dewa menghampirinya.
"Hari ini capek?"
"Sedikit."
"Besok libur."
Alya langsung menggeleng cepat. "Gak bisa."
"Masih banyak pesanan," lanjut Alya.
"Pesanan bisa ditunda," jelas Dewa.
"Tapi pelanggan...," protesnya.
"Kesehatanmu lebih penting Al," tutur Dewa.
Alya terdiam. Ia tahu Dewa benar. Namun jauh di lubuk hatinya, ia takut kehilangan kesempatan yang telah diperjuangkannya dengan susah payah.
"Mas..."
"Hm?"
"Aku takut."
Dewa menoleh ke arahnya. "Takut apa?"
"Aku takut kalau nanti setelah Senja lahir... aku gak bisa bekerja lagi," ujarnya penuh khawatir. "Takut pelanggan pergi. Takut semuanya berhenti." Suara Alya perlahan bergetar.
Dewa menarik sebuah kursi, lalu duduk tepat di hadapannya, pria itu mencoba menggenggam tangan Alya agar wanita itu merasa tenang.
"Alya."
Perempuan itu mengangkat wajah, saat namanya disebut.
"Kamu tahu kenapa pelanggan datang ke sini?"
Alya menggeleng pelan, karena memang ia belum mengerti apa yang dimaksud oleh Dewa.
"Bukan karena studionya, bahkan bukan karena bunganya juga," ujar Dewa.
"Lalu?" tanya Alya.
Dewa pun mulai menjawabnya. "Karena mereka percaya pada tangan yang merangkainya."
Dewa tersenyum kecil lalu melanjutkan kembali percakapannya. "Selama tangan itu masih milik Alya... mereka akan kembali."
Air mata Alya perlahan memenuhi pelupuk matanya. "Tapi kalau nanti aku harus berhenti beberapa bulan?"
"Ya berhenti saja." Jawaban Dewa membuat Alya tertegun. "Rezeki bisa dicari lagi. Pelanggan bisa datang lagi. Tapi masa-masa pertama Senja bersama ibunya... gak akan pernah terulang."
Kalimat itu menghantam hati Alya, perlahan perempuan itu menunduk sambil mengusap perutnya dan di balik telapak tangannya, Senja kembali bergerak pelan. Seolah ikut mendengar setiap percakapan mereka.
Dewa ikut tersenyum. "Kayaknya dia setuju."
Alya tertawa kecil di sela-sela air matanya.
"Iya..."
"Senja memang selalu membela Om Dewa dari pada aku ibunya sendiri, bukan begitu?" ungkap Alya.
Dewa hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu ini ada-ada saja Al."
"Tapi memang kenyataannya seperti itu," sahut Alya.
"Yang kamu lakukan itu sudah benar, hanya saja ada di dalam waktu yang kurang pas," jelas Dewa.
"Aku sebenarnya hanya takut saja," ungkap Alya.
"Takut kenapa?"
"Takut gak bisa memberikan yang terbaik untuk Senja," sahut Alya akhirnya.
"Al," panggil Dewa pelan.
"Iya."
"Takut itu wajar. Tapi kamu gak harus menghadapi semuanya sendirian lagi."
Deg!
Seketika jantung Alya berdetak lebih cepat dari biasanya, ucapan itu bukanlah kalimat yang dianggap main-main. Dan Alya tahu makna di dalamnya.
"Maksud Mas?"
Dewa sedikit terdiam lalu menghempaskan napasnya pelan. "Mungkin... sudah saatnya aku jujur tentang perasaanku."
Alya semakin tertegun, lihat saja sedari tadi wanita itu hanya menundukkan pandangannya tanpa berani menatap wajah Dewa.
"Aku gak tahu sejak kapan perasaan itu tumbuh. Yang aku tahu... tanpa sadar, hati ini selalu mencari kamu."
Tubuh Alya semakin membeku, hawa dingin di studio ini seolah menjadi saksi dengan perasaannya yang campur aduk bahkan sulit untuk dideskripsikan seperti apa.
"Mas, jangan bicara seperti itu padaku," tegur Alya.
"Kenapa?" tanya Dewa.
"Aku ini hanya perempuan biasa Mas, sedangkan kamu seorang yang punya segalanya, kamu bisa mencari wanita yang lebih baik dari aku," ujar Alya karena ia masih takut akan cinta yang tak pernah menganggapnya ada.
"Al, aku serius," ucap Dewa meyakinkan.
"Tapi aku penyandang disabilitas, Mas. Mana mungkin ada laki-laki yang benar-benar mau menerima aku apa adanya? Pernikahanku yang pertama saja..."
"Stop Al," Dewa segera memotong ucapan Alya. "Jangan bicara seperti itu. Aku bukanlah orang yang sama, sementara kamu berhak untuk bahagia, dan Senja juga berhak mempunyai sosok ayah."
Dewa berhenti sejenak, ia seolah tidak rela jika Alya mengingat masalalu yang begitu menyakitkan.
"Aku memilihmu, Al. Bukan karena aku mengabaikan keadaanmu, tapi karena sejak awal yang kulihat adalah hatimu. Dan aku mencintaimu, Alya Safitri."
Kalimat itu seolah menggema di telinga Alya. Air mata terus mengalir tanpa bisa ditahan lagi, Alya bingung harus berbuat apa, ia takut kembali berharap, lalu kembali dikecewakan seperti dahulu.
Sementara Dewa memberanikan diri, meraih kedua tangan Alya, baru kali ini ia memohon pada seorang wanita yang menurutnya pantas.
"Lihat aku, Al. Apa aku terlihat sedang mempermainkanmu? Beri aku kesempatan untuk membuktikan semuanya."
Alya memejamkan matanya cukup lama, hingga pada akhirnya ia memberanikan diri untuk mengucapkan sesuatu.
"Beri aku waktu," ujar Alya.
"Aku tidak akan memaksamu menjawab sekarang, hanya saja aku mau kamu memberiku kesempatan," pinta Dewa.
Alya mengangguk pelan. Sore mulai berganti menjadi petang. Dewa menutup pintu studio lebih awal hari itu. Sebelum pulang, ia sempat menatap papan nama studio bunga yang kini mulai dikenal banyak orang, lalu ia menatap Alya penuh dengan rasa bangga.
Di dalam hatinya, ia bersyukur. Perempuan yang dulu datang dengan luka dan ketakutan, kini perlahan mampu tersenyum kembali, dan hal yang membuatnya berarti. Perempuan itu akhirnya membuka sedikit ruang di hatinya untuk dirinya.
"Aku berjanji Al, tidak akan membuatmu menangis," ucapnya dalam hati.
Bersambung ....
Selamat Pagi semoga suka.