Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 5
Riven menaiki tangga satu demi satu dengan langkah tenang.
Begitu kakinya menginjak lantai dua, suasana di area VIP seolah berubah beberapa derajat. Beberapa tamu yang sedang berbincang tanpa sadar menoleh ke arahnya.
Sosoknya memang sulit diabaikan.
Tubuh tinggi tegap, wajah tampan dengan garis rahang tegas, serta aura dewasa yang matang membuatnya langsung mencuri perhatian. Terlebih lagi, sejak tiba di kota tadi ia bahkan belum sempat berganti pakaian.
Kemeja putih mahal dan celana panjang biru navy yang pas membungkus tubuh idealnya, lengan yang digulung hingga siku, serta jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan membuatnya justru terlihat seperti seorang model yang seolah-olah sedang menyamar menjadi seorang pengusaha muda sukses yang baru saja keluar dari rapat miliaran dolar.
Padahal bagi Riven, itu hanya pakaian kerja biasa.
Beberapa wanita tampak berbisik pelan sambil meliriknya diam-diam dan sambil tersenyum di balik telapak tangan mereka yang menutupi mulut mereka.
Namun perhatian Riven hanya tertuju pada satu meja besar di sudut ruangan. Kelompok sahabatnya. Kelompok bermain seperti anak-anak. Sudah lama mereka tidak berkumpul lengkap seperti ini. Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Riven.
Saat itu juga Kenzio menjadi orang pertama yang berdiri.
“WOI! Akhirnya yang ditunggu datang juga! RIV!” Kenzio sontak berdiri dan memeluk Riven sembari berjabat tangan.
“Bangsat, hidup juga kau ternyata!” Sambung Zayn.
“Hahaha!” Semua tertawa.
Seketika seluruh meja menjadi riuh. Riven bahkan belum sempat duduk ketika beberapa teman yang lain langsung menghampirinya. Tepukan keras menghantam punggungnya.
Pelukan singkat bertubi-tubi menyambutnya.
Mereka semua tertawa seperti kembali menjadi anak-anak yang dulu sering membuat masalah bersama.
“Ini dia… Tuan Muda Sakura!” seru Gavin sambil tertawa.
“Bugh!” Riven langsung menonjok pelan lengan sahabatnya, Gavin.
”Sialan.”
“Masih hidup rupanya.” Lanjut Gavin.
“Kurang ajar!” Balas Riven.
Kenzi dan yang lainnya kembali menyandarkan tubuh di kursi sambil menyeringai nakal dan tertawa. Riven duduk di sebelah Gavin dan perlahan memijat bahu sahabat karibnya itu.
“Jadi bagaimana Jepang, setelah bertahun-tahun di sana apa kau sudah berubah menjadi Sensei?” Tanya Kenzio.
“Hm…?” Riven menjawab singkat dan mengambil gelas berisi minuman milik Gavin dengan satu tangan santai, ia lalu menyeruputnya menggunakan sedotan. Mereka sudah terbiasa berbagi makanan atau minuman, karena terlalu akrab.
“Sudah lihat video bersama sama? Dengan Sola Aoi?” Celetuk Zayn.
“Pergi kau. Brengsekk!” Balas Riven menaruh gelas di atas meja.
“Kalau Maria Ozawa?” Lanjut Kenzio.
“Kau mau kehilangan gigi?!” Balas Riven.
“Kalau Ai Uehara?” Kenzio tak ingin mengalah.
“BRUKK!!” Kaki Riven langsung menendang tulang kering Kenzio yang duduk di hadapannya.
“Astaga! Sakit, bajingan!” Teriak Kenzio.
Meja langsung pecah oleh gelak tawa bersama.
“Masih sama saja,” ujar Riven sambil menggeleng.
“Kenapa?” Tanya Gavin.
“Aku heran kenapa orang-orang seperti kalian masih bisa bernapas sampai sekarang.” Canda Riven.
“Karena Tuhan tahu dunia butuh orang-orang random seperti kita.” Balas Kenzio santai.
“Kau seharusnya belajar dari mereka, perjaka harus sering literasi.” Celetuk Zayn.
Tawa kembali memenuhi ruangan. Riven melemparkan satu kentang goreng tepat ke arah Zayn.
Tak lama kemudian beberapa waiter dan waitress datang membawa menu. Mereka memesan berbagai makanan dan minuman. Steak premium. Pasta. Kopi spesial. Mocktail. Beberapa dessert.
Tak ada yang benar-benar lapar. Mereka hanya menikmati suasana yang sudah lama hilang.
“Pesan saja aku yang bayar tagihannya nanti.” Kata Riven.
”Wooooooo…. Sultan…!! Sultan…!!! Sultann..!!” Teriak teman-teman Riven seperti suporter. Mereka sudah dewasa namun ketika berkumpul jiwa-jiwa kekanakan mereka seolah menyembul.
Suasana kumpul seperti ini semakin langka setelah masing-masing mulai memimpin bisnis keluarga, dan memiliki kesibukan masing-masing. Pembicaraan pun mengalir ke berbagai arah.
“Ngomong-ngomong,” kata Riven sambil menyeruput kopinya. “Aku dengar kau membeli mobil baru lagi Gav?”
Gavin hanya mengangkat bahu.
“Aku suka mesinnya.” Lanjut Gavin.
“Orang normal membeli mobil karena suka bentuknya.” Kenzio menyela sembari mengambil cemilan.
“Aku membeli mobil karena suara mesinnya.” Balas Gavin.
“Psikopat otomotif. Kalian tahu? Dini hari, dia ke rumah, cuma karena ingin mengganti velg,” komentar Zayn. Zayn menggelengkan kepalanya. “Ruby bahkan menghubungiku kalau dia kesal, Gavin berjanji akan mentraktir bioskop tapi lupa karena masih berburu velg.” Zayn sekali lagi menggelengkan kepala.
“Seratus persen. Absolut.” Lanjut Kenzio.
Semua mengangguk.
Gavin ikut tertawa. “Malam itu aku langsung meminta maaf pada Ruby.”
“Masih koleksi mobil?” Tanya Riven.
“Tidak sebanyak dulu.” Jawab Gavin.
“Berapa sekarang?” Riven mengambil camilan dan melahapnya pelan.
Gavin berpikir sejenak.
“Dua puluh tiga.”
Hening.
Lalu seluruh meja meledak.
“Dua puluh tiga itu tidak sebanyak dulu?!” Kenzio melemparkan tisu ke tubuh Gavin.
Gavin terkekeh. Di ikuti semua.
“Kau mau membuka showroom atau apa? Sombong sekali tuan Gavin ini.” Zayn menggelengkan kepalanya.
“Tapi Ruby suka, dia bisa memilih mobil yang mana saja, sesuai keinginan dan moodnya, jika dia sedang ingin di antar pergi.” Lanjut Gavin.
”Sialan!” Geram Zayn melemparkan kacang almod ke arah Gavin yang tertawa.
Riven tak menyangkal apapun, saat adiknya menjadi pembicaraan para teman-temannya, hal itu sudah biasa, karena teman-temannya lah yang selama ini membantu menjaga sang adik semata wayangnya saat dirinya berada di negeri sakura.
“Kau punya lebih banyak mobil daripada aku punya mantan!” Sahut Zayn.
“Untuk ukuran playboy, kalau mantanmu ada di bawah angka itu memang sedikit Zayn,” sahut Jack yang baru saja datang.
“Hahaha!” Tawa kembali pecah.
Jack menjatuhkan dirinya ke kursi kosong.
“Maaf. Investor-investor itu hampir membuatku mati bosan.”
“Bagaimana hasilnya?” tanya Riven.
Senyum Jack melebar.
“Tiga investor baru.”
“Bagus.” Jawab Riven. “Cabang keenam tahun depan. Aku yang akan menjadi investormu.” Kata Riven.
“Bagus. Ide yang luar biasa.” Kata Jack.
“Syaratnya aku mendapat 90%.” Sambung Riven.
Jack tertegun.
”Kenapa tidak kau ambil saja ginjal, paru dan jantungku Riv! Dasar lintah darat.”
Semua tertawa melihat perdebatan itu.
“Tapi aku bisa membuatkan 1000 cabang untukmu agar kau bisa menyamai rekeningku.” Lanjut Riven masih bernego.
“Bagus.”Jack menatapnya datar.
“Kau bisa mengatakan sesuatu yang lebih manusiawi? Bangsat!” Lanjut Jack.
“Biasanya kau lebih pintar berdebat Jack.” Kata Gavin.
“Terima kasih. Aku sedang kehabisan energi.” Jack meminum sebotol air dingin yang ada di atas meja.
Tawa kembali terdengar. Obrolan kemudian bergeser menjadi lebih serius.
Mereka mulai membahas kondisi pasar, investasi, dan arah ekonomi beberapa tahun ke depan. Topik yang mungkin terdengar membosankan bagi orang lain. Namun bagi mereka, itu justru menarik.
Di sudut ruangan, seorang gadis yang sedari tadi duduk sendirian dengan beberapa perlengkapan di mejanya kembali memperhatikan meja mereka. Awalnya ia mengira kelompok itu hanya sekumpulan pria kaya yang suka pamer.
Namun semakin lama mendengarkan, ia menyadari sesuatu. Mereka memang kaya. Sangat kaya. Tetapi yang membuat mereka berbeda bukan uangnya.
Melainkan cara mereka berpikir. Cara mereka membahas bisnis, peluang, risiko, masa depan, dan strategi.
Mereka bercanda seperti saudara.
Namun di balik tawa itu, mereka adalah sahabat yang saling menghargai satu sama lain. Meski candaan sarkastik kerap terlontar, tak seorang pun pernah benar-benar tersinggung karenanya.
Dan di antara mereka semua, pria bernama Riven adalah sosok yang sejak awal paling menarik perhatian gadis itu.
Sementara di meja besar tersebut, sebuah topik baru mulai muncul.
Topik yang membuat seluruh sahabat Riven langsung tersenyum licik. Topik yang selalu berhasil membuat Gavin kesal. Tentang perjodohan. Dan kali ini, target utama mereka adalah Gavin.
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor