Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Suasana di depan mesin ATM malam ini terasa sangat dingin.
Budi menatap layar mesin pencetak uang itu dengan mata berbinar.
'Akhirnya hari gajian tiba juga.'
Dia tersenyum lebar saat melihat angka lima juta rupiah tertera di layar sebagai saldo utamanya.
Bagi seorang karyawan rendahan sepertinya, uang lima juta adalah penyambung nyawa untuk tiga puluh hari ke depan.
Budi memasukkan pin dan berniat menarik uang lima ratus ribu untuk makan enak malam ini.
Bip bip bip.
Suara tombol mesin ATM ditekan terdengar di dalam ruangan kecil itu.
Namun sebelum uangnya keluar dari mesin, pintu kaca ATM tiba tiba ditarik dari luar.
Seorang pria besar dengan jaket kulit hitam masuk dengan wajah garang.
"Budi, kebetulan sekali kita ketemu di sini."
Budi langsung menelan ludah saat melihat pria besar berwajah seram itu.
"Bang Jali, kok abang bisa ada di sini?"
"Kamu pikir aku bodoh, tanggal dua lima begini pasti jadwal kantormu gajian."
Pria bernama Bang Jali itu langsung berdiri tepat di sebelah Budi.
"Ayo cepat tarik semua uangnya dan serahkan padaku."
Budi memelas sambil merapatkan tangannya memohon ampun.
"Bang, tolong beri saya keringanan bulan ini."
"Bulan lalu kamu juga bilang begitu, mau sampai kapan utang bapakmu lunas kalau bayarnya ditunda terus."
Bang Jali menyilangkan tangannya di dada sambil menatap tajam ke arah layar mesin ATM.
"Lima juta kan, tarik empat juta delapan ratus ribu sekarang juga."
Budi membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Bang, sisa dua ratus ribu mana cukup buat saya hidup sebulan di Jakarta."
"Itu deritamu, bukan deritaku."
"Tolonglah Bang Jali, potong tiga juta saja ya bulan ini."
"Tidak bisa Budi, bos besar sudah marah besar karena bunganya saja belum tertutupi."
Budi merasa kakinya lemas seperti tidak bertulang.
"Saya jamin bulan depan saya cari lemburan Bang, tolong sisakan sejuta saja."
"Bos besar bilang kalau kamu tidak bayar penuh hari ini, kosanmu akan dijarah anak anak."
Bang Jali menepuk pundak Budi dengan cukup keras.
"Aku ini sebenarnya kasihan sama kamu, makanya aku samperin kamu di ATM biar kamu tidak digebuki di kosan."
'Kasihan dari mananya kalau uang makanku dirampok habis habisan begini.'
Budi menggerutu di dalam hati namun tangannya tidak punya pilihan selain menuruti perintah.
Dia menarik uang pecahan seratus ribu hingga mesin itu berbunyi berkali kali.
Setiap lembar uang yang keluar terasa seperti menyayat hati Budi.
Dia menyerahkan tumpukan uang itu kepada Bang Jali dengan tangan bergetar.
Bang Jali menghitungnya sekilas lalu memasukkan uang itu ke dalam tas kecilnya.
"Bagus, ini baru namanya anak pintar."
"Bulan depan sisa utang pokoknya tinggal dua puluh juta lagi, jangan lupa."
Bang Jali berjalan keluar dari bilik ATM meninggalkan Budi yang mematung.
"Oh ya Budi, sisa dua ratus ribu itu belikan beras sana biar kamu tidak mati kelaparan."
Pintu kaca tertutup rapat menyisakan Budi sendirian di dalam.
'Sialan, bapak yang utang kenapa aku yang harus menderita sampai begini.'
Budi mengambil sisa dua ratus ribu dari dalam mesin dan memasukkannya ke dompet bututnya.
Langkah Budi terasa sangat berat saat berjalan pulang menuju kosannya.
Jarak satu kilometer dari minimarket ke kosan biasanya tidak terasa melelahkan.
Tapi malam ini rasanya seperti berjalan di padang pasir tanpa ujung.
Sesampainya di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter, Budi langsung merebahkan tubuhnya di kasur tipis.
Kamar ini sangat pengap dan hanya diterangi lampu kuning yang remang remang.
Perutnya mulai berbunyi minta diisi makanan.
Kruyuk kruyuk.
Budi menghela napas panjang dan menatap langit langit kamarnya.
"Dua ratus ribu dibagi tiga puluh hari, berarti sehari aku cuma punya jatah enam ribu rupiah."
"Makan apa aku dengan uang enam ribu sehari."
"Mi instan saja sekarang harganya sudah tiga ribu lima ratus rupiah."
Dia bangkit dari kasur dan mengambil botol air mineral yang tinggal setengah.
Air putih itu diteguknya habis untuk mengganjal perut yang melilit.
'Mungkin lebih baik aku tidur saja supaya rasa laparnya hilang.'
Budi baru saja memejamkan mata ketika tiba tiba terdengar suara mekanis di dalam kepalanya.
Ting!
Suara itu sangat jernih dan terdengar seolah berasal dari dalam otaknya sendiri.
"Suara apa itu tadi, apakah karena aku terlalu lapar sampai berhalusinasi."
Budi membuka matanya dan terkejut setengah mati.
Tepat di depannya, melayang sebuah layar transparan berwarna biru terang.
Cahaya dari layar itu bahkan menerangi seluruh kamarnya yang gelap.
"Apa apaan ini, hologram?"
Budi mengucek matanya berkali kali untuk memastikan dia tidak sedang bermimpi.
Layar itu tidak hilang dan malah menampilkan visual yang semakin jelas.
Itu adalah sebuah papan permainan yang sangat mirip dengan papan Monopoli.
Namun desainnya terlihat jauh lebih modern dengan sentuhan futuristik yang bersinar.
Di pojok kiri atas layar terdapat tulisan System Lempar Dadu.
Budi menyipitkan matanya untuk membaca tulisan kecil di bawahnya.
"Selamat datang pengguna Budi, sistem telah berhasil diaktifkan sepenuhnya."
"Karena tingkat kemiskinan pengguna sudah mencapai batas kritis, sistem akan memberikan bantuan awal."
Budi mengerutkan keningnya membaca teks tersebut.
"Sistem ini mengejekku atau mau membantuku sebenarnya."