Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.
Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.
Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"
Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!
!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Kedai Sederhana Dan Sentuhan Lembut
Menangkap arah pandangan Alessandro Dirgantara, jantung Valeria Francesca seketika bergetar hebat. Tatapan macam apa itu? Pria ini tidak mungkin berniat menciumnya, kan?
Semakin memikirkannya, Valeria semakin panik. Sebelum Alessandro bergerak lebih jauh, ia segera mendorong dada tegap pria itu dan melangkah mundur untuk menciptakan jarak aman.
"Te-terima kasih atas bantuannya, Ales. Sekarang kamu bisa keluar," ujar Valeria terbata-bata.
Alessandro tetap berdiri kokoh di posisinya, menyahut lempeng, "Gantilah pakaianmu."
Sepasang mata bulat Valeria membelalak horor. Apa maksud pria ini? Dia mau menontonnya ganti baju di sini?
Melihat ekspresi itu, Alessandro yang sadar wanita di hadapannya salah paham langsung menjelaskan dengan tenang, "Saya tidak berniat buruk. Saya di sini hanya untuk berjaga-jaga jika rambutmu tersangkut lagi atau kamu kesulitan menjangkau ritsleting belakang. Jadi kamu tidak perlu berteriak memanggil saya dua kali."
Mana mungkin Valeria berani ganti baju di depan Alessandro. Ia segera mencari alasan untuk menyudahi kecanggungan, "Tidak usah, Ales. Aku sudah selesai mencoba pakaiannya dan tidak tertarik mencoba model lain. Ayo kita ke kasir."
Alessandro menatap lekat wajah Valeria. Tidak jelas apakah pria jenius itu menyadari alasannya yang kikuk, namun sang CEO hanya mengangguk tipis dan tidak memperpanjang masalah.
Pada akhirnya, Valeria memilih beberapa setelan olahraga yang serupa dan membawanya ke kasir. Di antara pakaian itu, ada sebuah jaket olahraga lengan panjang yang sangat tertutup.
Alessandro menyadari pilihan aneh itu dan bertanya datar, "Bukannya kamu paling benci pakaian konservatif seperti ini?"
Valeria yang asli memang tidak pernah suka berpakaian tertutup. Dulu, saat Alessandro menegur pakaiannya yang terlalu minim, Valeria selalu beralasan bahwa tubuh yang bagus harus dipamerkan, dan pakaian tertutup hanya akan membuatnya terlihat seperti nenek-nenek.
Tentu saja Valeria yang sekarang tidak bisa jujur bahwa jaket longgar itu dibeli untuk menyembunyikan perut buncitnya saat kehamilannya membesar nanti.
Ia pun langsung berdalih, "Saat ikut kelas kursus kemarin, banyak pria yang terus menatapku secara tidak sopan. Itu membuatku risi. Lagipula, seleraku sudah berubah; menurutku gaya tertutup ini jauh lebih elegan."
Alessandro melirik jaket hitam polos di tangan Valeria. Jika dibandingkan dengan baju-baju mencolok dan mini yang biasa dibeli wanita itu dulu, pilihan kali ini memang jauh lebih berkelas.
Valeria akhirnya menggunakan kartu kredit hitam (black card) pemberian Alessandro untuk membayar total tagihan yang mencapai belasan juta rupiah. Dalam hati, ia tidak habis pikir bagaimana beberapa lembar kain olahraga bisa semahal ini. Tapi untungnya, ia memakai uang Alessandro, bukan tabungan pribadinya.
Keluar dari pusat perbelanjaan, Valeria menjinjing kantong belanjaannya. Teringat ucapan Sekretaris Susan di lift tadi, ia pun bertanya, "Ales, apa aku mengganggu jam istirahat makan siangmu karena mengajakmu keluar?"
Raut wajah Alessandro tetap tenang, "Tidak. Saya tidak punya kebiasaan tidur siang."
Valeria mengembuskan napas lega, "Syukurlah. Aku takut kedatanganku malah memotong waktu istirahatmu yang berharga."
Ucapan penuh perhatian itu membuat Alessandro melirik wajah wanita di sampingnya beberapa kali. Dulu, setiap kali menginginkan sesuatu, Valeria selalu merengek minta ditemani tanpa peduli pria itu sedang sibuk atau tidak. Namun siang ini, wanita itu justru mencemaskan kondisinya.
Jika bukan karena wajah yang sama persis, Alessandro pasti mengira jiwa di dalam tubuh ini telah digantikan oleh orang lain.
"Kamu sangat berbeda dari yang dulu," ujar Alessandro tiba-tiba dengan nada menyelidik.
Tubuh Valeria seketika menegang. Ia melirik Alessandro yang tengah menatapnya tajam, lalu tertawa kering untuk menutupi kepanikan, "A-ah, itu karena aku melihatmu bekerja sangat keras setiap hari. Jadi, wajar kan kalau aku belajar untuk lebih pengertian padamu, Ales?"
Alessandro menatap lekat mata Valeria selama beberapa saat sebelum mengalihkan topik, "Lalu, kenapa tiba-tiba ingin beli baju yoga? Bukankah di rumah sudah banyak?"
"Baju-baju yang kubeli dulu kualitasnya kurang bagus dan tidak nyaman dipakai bergerak," jawab Valeria berbohong, karena tidak mungkin ia jujur tentang baju-baju seksi milik Valeria asli.
Takut diinterogasi lebih lanjut, Valeria cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, "Apa setelah ini kamu langsung kembali ke kantor?"
Alessandro menyahut dengan nada baritonnya yang lempeng, "Bukannya tadi kamu berjanji mau mentraktirku makan siang?"
Valeria tertegun, "..."
Daya ingat pria ini benar-benar mengerikan. Padahal Valeria sendiri sudah hampir melupakan kalimat yang diucapkannya secara spontan di ruangan kantor tadi. Ia tidak menyangka seorang CEO kaya raya seperti Alessandro akan mengingat janji makan siang sepele.
Namun karena kata-kata itu keluar dari mulutnya sendiri, Valeria tidak boleh pelit. Ia mengatupkan giginya dan berjalan memimpin di depan, "Ayo ikuti aku, Ales! Aku tahu tempat makan yang sangat enak!"
Lima menit kemudian, mereka berdua berdiri mematung di depan sebuah kedai bakmi ayam tenda pinggir jalan yang sangat sederhana.
Alessandro menoleh dan menatap datar wajah Valeria.
Valeria berdeham kaku sambil tersenyum canggung, "A-Ales, jangan melihat kedai ini dari luarnya saja. Bakmi di sini benar-benar enak, porsinya banyak, murah, dan sangat hemat!"
Alasan sebenarnya Valeria menjadi sekikir ini bukan karena ia pelit, melainkan karena uang puluhan juta yang dipakai untuk menebus kalung tempo hari adalah hasil utang dari aplikasi kredit daring (paylater). Sampai sekarang tagihan itu belum lunas, jadi ia harus berhemat di segala sektor.
Alessandro tidak memprotes. Tangan kekarnya langsung mendorong pintu kedai yang sederhana itu. Namun saat melihat interior kedai yang hanya berisi meja kayu usang, kursi plastik, dan kerumunan pelanggan dari kalangan pekerja yang berdesakan, alis sang CEO tetap bertaut rapat karena tidak nyaman.
Valeria berpura-pura tidak melihat ekspresi itu. Ia menarik tangan Alessandro menuju meja kosong di sudut, menggeser kursi plastik untuknya, dan membujuk dengan senyuman cerah, "Silakan duduk, Ales. Aku tidak bohong, makanan di sini benar-benar juara, hehe."
Melihat binar ketulusan di mata bulat Valeria, Alessandro hanya bisa pasrah. Pria penguasa bisnis raksasa itu akhirnya menurunkan egonya dan duduk berhimpitan di kursi plastik kecil tersebut.
Valeria terkekeh geli melihat pemandangan itu, lalu mengambil kertas menu usang untuk memesan makanan. Ia memutar otak cukup lama sebelum memutuskan pesanan. Karena sedang hamil muda, mencium aroma makanan yang terlalu berminyak akan membuatnya mual, jadi ia memilih mi kuah bening yang rasanya ringan dan polos.
"Pesananku sudah selesai, Ales. Sekarang giliranmu..."
Valeria mendongak hendak menyerahkan kertas menu, namun kalimatnya terhenti saat melihat postur Alessandro. Pria bertubuh tinggi kekar dengan kaki panjang itu tampak sangat tersiksa dan terjepit di meja kayu yang mungil. Pundaknya menegang, memancarkan aura ketidaknyamanan yang sangat ekstrem.
Melihat betapa tidak cocoknya seorang Alessandro Dirgantara berada di warung kaki lima yang kumuh, Valeria merasa tidak tega. Ada rasa bersalah yang menyelinap di dadanya.
"Ales, bagaimana kalau kita pindah ke restoran lain saja?" usul Valeria ragu.
Hitung-hitungan terburuknya, ia hanya perlu meminjam uang tambahan lagi dari aplikasi kredit daringnya. Ia tidak tega melihat pangeran konglomerat yang sejak lahir selalu hidup mewah harus makan di tempat seperti ini bersamanya.
Namun, saat Valeria hendak berdiri, Alessandro langsung mencengkeram pergelangan tangannya. "Tidak perlu pindah. Kita makan di sini saja."
Setelah itu, Alessandro mengambil kertas menu yang agak lecek dan mulai membacanya dengan serius, seolah sedang memeriksa dokumen bisnis triliunan rupiah. Meskipun seluruh tubuhnya memancarkan rasa tidak nyaman, pria itu tetap memesan makanannya dengan tenang tanpa mengeluh sedikit pun.
Melihat sikap anggun Alessandro, Valeria merasa hangat sekaligus geli. Bagaimana bisa ada pria berkuasa yang wataknya sebaik dan sepengertian ini? pikirnya takjub.
Namun, kebahagiaan itu langsung lenyap saat Valeria teringat realitas bahwa kebersamaan mereka hanyalah sandiwara darurat. Begitu kebohongan tentang kehamilannya terbongkar nanti, hari-hari damai seperti ini pasti akan hancur seketika. Memikirkan masa depan kelam itu, dada Valeria mendadak terasa sesak dan nyeri.
Beberapa menit kemudian, semangkuk bakmi sup kuah bening disajikan di atas meja. Valeria segera menundukkan kepala dan menyantap mienya dengan lahap. Sesekali ia bergumam kagum, "Wah, mi kuahnya benar-benar enak, Ales!"
Raut wajah puas dan senyuman bahagia Valeria saat itu terlihat persis seperti anak kecil yang baru mendapatkan camilan favoritnya. Alessandro yang sedang mengangkat pandangan langsung mengunci pemandangan itu.
Melihat binar kebahagiaan murni di mata Valeria hanya karena semangkuk mi di warung pinggir jalan, sesuatu di dalam dada Alessandro bergetar. Selama ini, ia selalu menganggap Valeria Francesca sama dengan wanita matre lainnya yang mendekatinya hanya demi harta dan kemewahan.
Namun siang ini, pemandangan di depannya membuktikan hal lain. Semangkuk bakmi sederhana sudah cukup untuk membuat wanita itu tersenyum puas. Ternyata, keinginan wanita di hadapannya ini tidak pernah serumit atau sebusuk yang ia bayangkan.
Mereka berdua menghabiskan makan siang dalam keheningan yang damai. Setelah meletakkan sumpitnya, Valeria secara naluriah menjilat sudut bibirnya karena masih merasa lapar, tanpa sadar bahwa ada noda sisa kuah yang menempel di sana.
Melihat hal itu, tangan Alessandro bergerak refleks seolah terhipnotis. Dengan gerakan yang sangat lembut, jemarinya terulur maju dan menyeka sisa noda kuah di sudut bibir ranum Valeria siang itu.
___
Bersambung~~