Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Sangkar Emas dan Janji yang Mengikat
Pintu lift pribadi berdenting pelan sebelum terbuka otomatis, menampilkan interior penthouse mewah milik Jayden yang didominasi warna hitam, abu-abu, dan aksen marmer putih. Pencahayaan temaram dari lampu gantung minimalis memberikan kesan dingin, sunyi, namun sangat elegan—persis seperti kepribadian pemiliknya.
Jayden menarik lembut tangan Elle, menuntunnya masuk ke dalam ruang tengah yang luas. Begitu melangkah di atas karpet bulu tebal, Elleanor langsung melepaskan tautan jari mereka dengan sentakan pelan. Ia tidak lagi berontak barbar, melainkan berjalan menuju sofa kulit besar dan menjatuhkan tubuhnya di sana dengan helaan napas panjang yang sarat akan kelelahan fisik dan mental.
Jayden berdiri diam di dekat meja konter dapur bersih, memperhatikan setiap gerak-gerik Elle. Ditanggalkannya jaket kulit hitamnya, menyisakan kaus hitam polos yang melekat pas di tubuh tegapnya. Ia mengambil satu botol air mineral dingin dari dalam kulkas, lalu berjalan mendekat dan meletakkannya di atas meja kopi tepat di depan Elle.
"Minum," ujar Jayden pendek, nadanya datar namun tak lagi sedingin saat di mobil tadi.
Elle melirik botol itu sekilas, lalu beralih menatap Jayden dengan sepasang mata indahnya yang kini meredup. "Gua mau pulang, Jayden. Abang-abang gua pasti lagi kelabakan nyariin gua sekarang. Kalau mereka tahu gua ada di sini sama lo, perang yang lo sebut-sebut tadi bakal beneran terjadi malam ini juga."
Jayden menduduki lengan sofa yang berada di samping tempat Elle duduk, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap lurus ke arah jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta dari ketinggian lantai 25.
"Kenzie dan Kenzo udah tahu lo ada di sini," sahut Jayden tenang.
Elle terbelalak, langsung menegakkan punggungnya. "Hah?! Maksud lo?!"
"Haikal udah ngirim pesan ke nomor Kenzie begitu kita keluar dari sirkuit tadi. Gua bilang sama abang lo kalau lo aman sama gua, dan gua bakal anterin lo pulang besok pagi tepat waktu sebelum jam sekolah dimulai," jelas Jayden tanpa riak di wajahnya.
Elle mengepalkan tangannya di atas pangkuan. "Dan abang gua setuju?! Mustahil! Kenzie gak bakal pernah biarin gua nginep di tempat cowok asing, apalagi di tempat ketua Vultures!"
Jayden memutar tubuhnya, menunduk untuk menatap langsung ke dalam manik mata Elle yang berkilat panik. Sebuah seringai tipis yang sarat akan kuasa mutlak terukir di bibirnya. "Mereka gak punya pilihan selain setuju, Elle. Di luar gedung ini, ada dua puluh anggota inti Vultures yang berjaga. Dan abang lo cukup pintar buat gak memicu baku hantam di kawasan padat penduduk seperti ini. Mereka tahu, untuk malam ini... menyerahkan lo di bawah pengawasan gua adalah pilihan paling aman daripada lo nekat kabur lagi ke jalanan."
Elleanor terdiam, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia meraih botol air mineral di depannya, memutarnya dengan kasar dan meneguk isinya hingga setengah. Rasa frustrasi kembali merayapi dadanya. Kekuasaan, jaringan, dan pengaruh yang dimiliki Jayden benar-benar seperti jeruji tak kasat mata yang mengepungnya dari segala arah. Di sekolah, di jalanan, bahkan di hadapan keluarganya sendiri, Jayden selalu punya cara untuk mengendalikan situasi.
Setelah meletakkan botol itu kembali, Elle menatap Jayden dengan pandangan serius, membuang jauh-joung topeng rapuh yang ia pasang di mobil tadi. "Sebenernya apa sih yang lo mau dari gua, Jayden Xeno Frederick? Kita baru ketemu beberapa hari. Di luar sana ada ribuan cewek yang bakal dengan senang hati bertekuk lutut di depan lo tanpa perlu lo kekang kayak gini. Kenapa harus gua?"
Jayden terdiam mendengar pertanyaan itu. Suasana ruang tengah penthouse mendadak hening selama beberapa saat, hanya menyisakan suara dengung halus dari pendingin ruangan.
Jayden berdiri dari duduknya, melangkah perlahan hingga ia berdiri tepat di hadapan Elle. Ia berlutut dengan satu kaki di atas karpet, membuat posisi wajah mereka kini sejajar. Tangan kanannya bergerak maju, jemari panjangnya dengan lembut mengusap helaian rambut panjang Elle yang jatuh di bahu.
"Gua juga gak tahu jawabannya, Elleanor," bisik Jayden, suaranya mengalun sangat rendah, serak, dan sarat akan emosi pekat yang begitu jujur. "Sejak malam pertama lo nabrak pembatas jalan dengan motor lo... sejak pertama kali gua ngeliat kilat mata lo yang gak punya rasa takut sama sekali di depan gua... gua tahu gua udah gak bisa lepasin lo lagi."
Jayden memajukan tubuhnya sedikit, membuat Elle bisa merasakan kehangatan napas cowok itu di permukaan kulit wajahnya.
"Cewek-cewek di luar sana menatap gua karena nama Vultures, karena uang, atau karena takut. Tapi lo... lo menatap gua dengan perlawanan yang bikin darah gua berdesir, Elle. Sifat liar lo, aroma stroberi lo, semua hal tentang lo mendadak jadi candu yang gak bisa gua hilangin dari isi kepala gua," lanjut Jayden, netra hitamnya mengunci tatapan Elle dengan intensitas yang begitu kuat hingga membuat Elle merasa seolah sedang tersedot ke dalam pusaran air yang dalam.
"Jadi, jangan pernah minta gua buat ngelepasin lo. Karena sampai kapan pun, gua bakal tetep ngejar lo, ngurung lo, dan mastiin kalau lo cuma bakal jadi milik gua mutlak," janji Jayden yang terdengar bagai kutukan posesif yang mengikat.
Elleanor terpaku, jantungnya kembali berdegup dengan ritme yang sangat kacau. Di dalam sangkar emas ini, di bawah tatapan penuh obsesi dari sang predator jalanan, Elle menyadari satu hal yang menakutkan: perlawanannya selama ini ternyata bukan membuat Jayden mundur, melainkan justru semakin menenggelamkan cowok itu ke dalam kegilaan yang tanpa batas.