DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: PERMAINAN YANG TIDAK ADIL**
**
Malam itu juga, setelah pulang dari rumah sakit memastikan kondisi Baron dan Eman stabil, Anto langsung membuka laptopnya lagi, kali ini dengan strategi berbeda dari percobaan sebelumnya yang membuatnya terlempar paksa dari sistem.
"Kalau lewat jalur utama gak bisa, gue coba jalur belakang," gumamnya, jari-jarinya bergerak lebih hati-hati, mengendap-endap lewat server cadangan yang biasanya dipakai untuk backup data, jalur yang sering diabaikan karena dianggap tidak penting.
Setelah hampir tiga jam mencoba berbagai pintu masuk, akhirnya dia menemukan sesuatu yang membuat matanya melebar.
"Ketemu," dia berbisik pada dirinya sendiri, jantungnya berdebar cepat, "anjir, ini, ini rekening atas nama David, tapi yang buka rekeningnya, yang otorisasi semua transaksi sejak awal, IP-nya nunjuk ke laptop pribadi Reza."
Dia menyusuri lebih jauh, menemukan jejak digital yang lebih lengkap, kapan rekening itu dibuka, kapan dokumen pertama dipalsukan, bahkan menemukan percakapan singkat antara Reza dan Pak Hartono yang sempat tidak terhapus sempurna dari log sistem.
"Ini cukup," Anto menyimpan semua bukti itu ke dalam flashdisk terpisah, tangannya gemetar antara lega dan marah, "ini bukti yang cukup buat buka mata Papa lo, Vid."
***
Pagi berikutnya, David dan Anto datang ke kantor lebih awal dari biasanya, membawa laptop berisi semua bukti yang sudah disusun rapi, langsung menuju ruang kerja Junaedi tanpa menunggu jadwal pertemuan resmi.
"Pa, saya punya bukti baru," David membuka, suaranya tegas, "tentang siapa yang sebenarnya bikin rekening fiktif itu."
Junaedi mengangkat alis, awalnya skeptis, tapi begitu Anto mulai menampilkan satu per satu bukti di layar, jejak IP, log percakapan, riwayat pembuatan rekening, wajahnya perlahan berubah, dari curiga jadi terkejut, dari terkejut jadi marah.
"Ini... ini bener dari laptop Reza?"
"Iya, Pa. Semua jejaknya nunjuk ke sana. David gak pernah buka rekening itu, gak pernah otorisasi transaksi apa pun. Ini semua dibuat sama Reza, lewat Pak Hartono yang dibayar buat masukin data palsu."
Junaedi terdiam lama, menatap layar itu berkali-kali, dan akhirnya menghela napas berat, seperti orang yang baru sadar telah dibohongi oleh anak yang selama ini dia percaya penuh.
Reza dipanggil ke ruangan yang sama, dan begitu menyaksikan bukti yang terpampang jelas di layar, wajahnya pucat seketika, tidak bisa lagi berkilah seperti biasanya.
Junaedi berdiri, suaranya berat menahan amarah, "Reza. Ini bener perbuatan kamu?"
Reza terdiam beberapa detik, mencoba mencari alasan, tapi akhirnya hanya bisa menunduk, tidak menjawab, yang sudah cukup menjadi pengakuan tanpa kata.
David menunggu, dadanya berdebar penuh harap, berharap kali ini keadilan akan benar-benar ditegakkan, berharap Junaedi akan mengambil tindakan tegas yang sepadan dengan pengkhianatan yang baru saja terbukti.
Tapi yang keluar dari mulut Junaedi justru membuat David melongo, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Reza," Junaedi berkata, suaranya jauh lebih lunak dari yang seharusnya, "jangan sekali-kali lagi ya. Ini terakhir."
Itu saja.
Tidak ada pemecatan. Tidak ada pelaporan polisi. Tidak ada konsekuensi nyata yang sepadan dengan pemalsuan dokumen senilai satu miliar rupiah dan upaya menghancurkan reputasi adiknya sendiri.
David berdiri mematung, matanya berpindah dari Junaedi ke Reza, lalu kembali ke Junaedi, mencoba mencari penjelasan logis dari keputusan yang terasa begitu timpang ini.
"Pa," David akhirnya bersuara, suaranya bergetar menahan kekecewaan yang sudah menumpuk sejak lama, "ini gak adil. Reza udah jelas-jelas mencoba ngehancurin saya, dan Papa cuma kasih peringatan?"
Junaedi tidak menjawab, hanya menatap David sebentar dengan ekspresi yang sulit diartikan, lalu berbalik, berjalan keluar ruangan tanpa kata lain, meninggalkan suasana yang masih tegang di belakangnya.
David menatap kepergian itu dengan dada yang terasa penuh sesak, kekecewaan yang sudah berkali-kali dia rasakan sejak pertama kali sadar di tubuh ini, sekarang kembali terulang dengan rasa pahit yang sama.
Begitu Junaedi benar-benar menghilang di balik pintu, Reza, yang sebelumnya menunduk diam, mengangkat kepalanya, menatap David dengan mata yang dipenuhi dendam yang tidak pernah benar-benar padam.
"Tunggu pembalasan gue, David," Reza berkata pelan, suaranya dingin, penuh ancaman yang tidak dia sembunyikan lagi.
David menatap balik, tidak ada rasa takut sedikit pun di matanya, hanya ketegasan yang sudah terbentuk dari berbagai pengalaman pahit selama beberapa bulan terakhir.
"Gue tunggu permainan lo," David menjawab tenang, "tapi jangan anggap gue bodoh. Gue sekarang bisa aja hancurin lo kapan pun gue mau. Gue cuma belum mau aja."
Reza menggertakkan gigi, wajahnya memerah menahan amarah yang tidak bisa lagi dia lampiaskan secara langsung, lalu berbalik, melangkah cepat keluar ruangan, membanting pintu dengan keras hingga suaranya menggelegar di seluruh koridor lantai eksekutif.
David berdiri sendirian di ruangan itu bersama Anto, menatap pintu yang masih bergetar pelan akibat bantingan keras tadi, dadanya masih dipenuhi kekecewaan yang sulit dijelaskan.
"Keadilan di rumah ini emang aneh banget, Tot," David bergumam pelan, "yang salah dibiarin, yang bener malah harus berjuang sendirian buat buktiin diri."
Anto menepuk pundak sahabatnya, mencoba memberi sedikit penguatan, "Tenang, Vid. Kebenaran emang kadang gak langsung menang di hari yang sama. Tapi selama bukti masih ada di tangan kita, permainan ini belum selesai."
David mengangguk pelan, menatap layar laptop yang masih menampilkan bukti-bukti yang baru saja terungkap, menyimpan semuanya baik-baik, menyadari bahwa perang yang dia hadapi di rumah ini masih jauh dari selesai, dan kali ini, dia harus belajar lebih sabar, lebih cerdik, menghadapi musuh yang ternyata tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tapi juga kelicikan yang dilindungi oleh kasih sayang yang timpang dari ayah mereka sendiri.
*(bersambung)*