NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 16

Tiga hari telah berlalu sejak malam yang mengerikan itu. Kota ini masih tampak sibuk seperti biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi sebuah tragedi berdarah di pinggirannya. Namun, bagi Ferdi dan Siska, waktu seakan berhenti berputar. Pemakaman Mbak Selfi telah selesai dilakukan secara tertutup. Siska terpaksa mengarang cerita tentang perampokan sadis kepada kerabat dan polisi demi melindungi akal sehat semua orang.

​Kini, di dalam kamar hotel melati yang sepi, Ferdi masih lebih banyak terdiam. Tatapan matanya kosong menghadap dinding. Dia tidak lagi menangis histeris, tetapi diamnya Ferdi justru membuat Siska semakin khawatir. Kakaknya seperti kehilangan seluruh alasan untuk melanjutkan hidup.

​Siska menyadari bahwa dia tidak bisa membiarkan kondisi ini berlarut-larut. Rasa cemas di hatinya semakin merajalela setiap kali malam tiba. Di luar sana, di bawah langit kota yang luas, sesosok makhluk iblis yang berwujud keponakannya sedang berkeliaran. Makhluk itu butuh darah untuk terus tumbuh, dan Siska tahu betul bahwa darah terdekat yang diincar oleh makhluk itu adalah darahnya dan darah Mas Ferdi.

​"Mas," panggil Siska pelan sambil meletakkan secangkir air putih di atas meja di samping tempat tidur Ferdi. "Siska mau keluar sebentar. Mau beli makanan dan beberapa keperluan."

​Ferdi hanya mengangguk samar tanpa menoleh.

​Siska segera menyambar tas kecilnya dan keluar dari kamar hotel. Tujuan utamanya bukan untuk membeli makanan. Langkah kakinya membawa Siska kembali menumpangi angkutan umum menuju ke arah rumah tua mereka. Dia harus menemui Pak Cahyo lagi. Desakan demi desakannya semalam memang telah membuka sedikit rahasia, namun Siska butuh cara nyata untuk menghentikan bayi Doni.

​Suasana di gang rumah mereka terasa sangat sepi siang itu. Garis polisi berwarna kuning masih melintang erat di depan pintu rumah nomor 14. Rumah itu kini tampak semakin angker, seolah-olah sisa-sisa hawa iblis masih tertinggal di dalam dinding-dinding kayunya.

​Siska berjalan cepat melewati rumahnya sendiri dan langsung menuju teras rumah Pak Cahyo. Dia mengetuk pintu kayu jati itu dengan ragu.

​Tok... Tok... Tok...

​"Pak Cahyo... Ini Siska, Pak," panggil Siska dengan suara setengah berbisik.

​Pintu kayu itu terbuka lambat. Wajah Pak Cahyo muncul dari balik celah. Pria tua itu tampak sangat kuyu, seolah-olah tidak pernah tidur nyenyak selama berhari-hari. Dia menatap Siska dengan pandangan kasihan bercampur cemas, lalu membukakan pintu lebih lebar. "Masuk, Neng."

​Siska melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang remang-remang dan berbau asap rokok kretek yang pekat. Setelah duduk di kursi kayu, Siska langsung mengutarakan niatnya tanpa basa-basi.

​"Pak Cahyo, tolong saya sekali lagi," kata Siska dengan mata yang berkaca-kaca. "Mbak Selfi sudah tiada, dan makhluk itu sekarang lepas berkeliaran di luar. Bapak tahu masa lalu rumah itu. Tolong beri tahu saya, bagaimana cara memusnahkan atau menghentikan bayi itu? Senjata apa yang bisa membunuhnya?"

​Mendengar pertanyaan Siska, wajah Pak Cahyo mendadak berubah menjadi sangat lesu. Pria tua itu menundukkan kepalanya, memandangi jemarinya yang gemetar di atas lutut. Dia mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat putus asa.

​"Neng Siska... kalau soal cara menghentikannya, saya... saya benar-benar tidak tahu," bisik Pak Cahyo dengan suara yang serak dan bergetar.

​Siska tertegun. Jantungnya rasanya seolah berhenti berdetak. "Maksud Bapak bagaimana? Bapak kan saksi sejarah dari kejadian tiga puluh tahun lalu di rumah itu!"

​Pak Cahyo menggelengkan kepalanya perlahan, air mata mulai menggenang di mata cekungnya. "Neng, dulu saya ini cuma pekerja kasar di sana. Saya cuma penjaga kebun yang bertugas menyapu halaman dan merawat tanaman milik Pak Broto. Saya tidak tahu-menahu soal ilmu gaib atau cara menangkal kutukan."

​Pria tua itu mengisap rokoknya dalam-dalam sebelum melanjutkan cerita. "Malam ketika keluarga Pak Broto dibantai tiga puluh tahun yang lalu, saya sedang tidur di pos depan. Begitu mendengar jeritan mistis dari dalam rumah, saya langsung lari ketakutan keluar gang untuk memanggil warga desa. Ketika kami kembali bersama orang pintar dari kampung seberang, semuanya sudah terlambat. Semua orang di dalam rumah sudah mati."

​"Lalu bagaimana dengan bayi berkaki bengkok milik Pak Broto dulu, Pak?" desak Siska, suaranya mulai terdengar panik.

​"Orang pintar yang ikut bersama warga malam itu hanya bisa mengurung jiwa makhluk tersebut di dalam kolong lemari rias dengan beberapa sesaji dan mantra pembatas. Orang pintar itu bilang, makhluk itu tidak bisa dibunuh karena dia lahir dari perjanjian darah. Cara satu-satunya hanyalah mengunci rumah itu agar tidak ada lagi orang yang masuk," jelas Pak Cahyo dengan ratapan penyesalan yang mendalam. "Tapi setelah puluhan tahun berlalu, rumah itu dijual kembali oleh ahli waris Pak Broto tanpa memikirkan bahayanya, hingga akhirnya kakakmu membelinya."

​Pak Cahyo menatap Siska dengan pandangan yang sangat putus asa. "Saya bertahan tinggal di sebelah rumah itu selama tiga puluh tahun hanya untuk mengawasi, memastikan agar tidak ada orang yang mengusik lemari itu. Tapi saya gagal, Neng. Saya tidak berani melarang kalian terlalu keras dulu karena saya takut dicap sebagai orang gila atau tetangga yang jahat. Sekarang, makhluk itu sudah memakan korban lagi dan mendapatkan tubuh fisik yang sempurna. Ilmu saya tidak sampai untuk tahu bagaimana cara melawannya."

​Siska merasakan seluruh badannya mendadak lemas seperti kehilangan tulang. Harapan satu-satunya untuk mendapatkan jawaban kini telah pupus total. Pak Cahyo, orang yang dia kira memegang kunci keselamatan mereka, ternyata hanyalah seorang mantan penjaga kebun yang sama-sama dicekam ketakutan sepanjang hidupnya.

​"Jadi... kita tidak punya cara untuk selamat, Pak?" bisik Siska dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.

​"Saya cuma bisa menyarankan satu hal, Neng," kata Pak Cahyo sambil memegang tangan Siska yang sedingin es. "Pergilah sejauh mungkin dari kota ini bersama kakakmu. Ganti identitas kalian jika perlu. Jangan pernah menoleh ke belakang lagi. Makhluk itu akan terus memburu bau darah kalian, jadi hanya dengan melarikan diri ke tempat yang sangat jauh kalian bisa memperpanjang umur."

​Siska melepaskan pegangan tangan Pak Cahyo dengan lunglai. Melarikan diri seumur hidup bukanlah sebuah jawaban yang memuaskan bagi batinnya, namun kenyataan bahwa tidak ada senjata atau cara untuk melawan makhluk itu membuat jiwanya terpukul hebat.

​Dengan langkah kaki yang terasa teramat sangat berat, Siska berpamitan dan keluar dari rumah Pak Cahyo. Angin sore yang kencang meniup rambutnya yang berantakan, mengiringi langkahnya kembali menuju hotel dengan membawa sekeranjang keputusasaan baru yang siap dia bagikan kepada Mas Ferdi.

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!