"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiket Kebebasan dan Siasat Misterius
Langkah kaki Rendra Wijaya terasa begitu canggung saat melewati gerbang besi besar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Jakarta.
Sinar matahari siang yang terik langsung menyengat kulitnya yang pucat. Ia menghentikan langkah di atas trotoar, memejamkan mata sejenak, dan menghirup udara luar dalam-dalam. Enam bulan mendekam di balik jeruji besi yang pengap bercampur bau karbol benar-benar menyiksa batinnya.
Kini, untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat jeruji besi.
Di tangan kanannya, Rendra menggenggam erat selembar surat keputusan resmi dengan cap garuda merah. Surat penangguhan penahanan yang menyatakan dirinya kini berstatus sebagai tahanan kota dan berhak menghirup udara bebas.
"Pak Rendra, semua administrasi Anda sudah selesai diproses oleh pihak kejaksaan," ucap seorang pengacara publik yang mendampinginya keluar dari ruang registrasi tadi.
Rendra menoleh, menatap pengacara itu dengan mata yang berbinar penuh keangkuhan yang mendadak bangkit kembali dari dalam dadanya. Ia membusungkan dadanya yang masih terbalut kemeja kusut sisa enam bulan lalu—pakaian terakhir yang ia kenakan sebelum dijebloskan ke sel.
"Katakan pada saya," suara Rendra terdengar serak tapi dipenuhi rasa percaya diri yang tinggi.
"Siapa yang mengurus semua ini? Apakah Tuan Baskoro? Apakah ini semua karena pengaruh besar dari konglomerat Baskoro Group?"
Pengacara publik itu tampak ragu sejenak. Ekspresi wajahnya terlihat kaku, seolah sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat berat. "Saya... saya hanya diminta untuk memastikan Anda keluar dengan aman setelah seluruh dokumen jaminan ditandatangani, Pak. Mengenai siapa sosok di balik dana jaminan raksasa yang mampu mencairkan surat bebas Anda dalam waktu kurang dari dua jam... saya tidak memiliki otoritas untuk mengatakannya."
Rendra terkekeh sinis, menyisir rambutnya yang agak gondrong ke belakang dengan jemarinya. Di dalam benaknya, hanya ada satu nama: Tuan Baskoro.
"Pasti Tuan Baskoro!" pikir Rendra dengan dada yang bergemuruh puas. "Tyas benar-benar luar biasa. Adik kecilku itu terbukti jauh lebih berguna daripada yang aku kira. Dia berhasil membuat raksasa bisnis seperti Baskoro bergerak secepat ini demi mengeluarkan aku."
"Rania... kamu pikir kamu bisa mengurungku selamanya di tempat busuk ini? Lihat sekarang, pelindung baruku jauh lebih mengerikan dari apa yang bisa kamu bayangkan!"
Tanpa membuang waktu lebih lama, Rendra segera melangkah menuju pangkalan ojek yang berada tidak jauh dari gerbang luar lapas. Ia meraba kantong celananya, beruntung masih ada sisa uang puluhan ribu dari sisa uang sakunya di dalam sel.
Ia mendekati salah seorang tukang ojek yang sedang bersandar di motornya. "Pak, saya boleh pinjam ponselnya sebentar untuk menelepon adik saya? Saya bayar lima puluh ribu, Pak. Tolong, ini penting sekali."
Tukang ojek itu menatap penampilan Rendra yang kusam dari atas sampai bawah dengan pandangan curiga. Namun, melihat uang lima puluh ribu yang disodorkan, pria itu akhirnya menyerahkan ponsel android lamanya yang layarnya sudah retak-retak.
Dengan jari yang gemetar karena euforia kebebasan yang meledak-ledak di dadanya, Rendra mulai mengetik deretan nomor ponsel Tyas yang sudah sangat ia hafal di luar kepala. Ia tidak sabar untuk memberi tahu keluarganya bahwa sang kepala keluarga telah kembali.
Sementara itu, di tempat lain yang sangat kontras dengan suasana berdebu di depan lapas.
Di dalam ruang kerja eksekutif Gedung Arania International yang luas, sejuk, dan sunyi, atmosfer ketegangan justru sedang merayap di udara.
Elang Danuarta berdiri di depan meja kerja Rania dengan kening berkerut dalam. Napas pria gagah itu terdengar agak berat, mencerminkan rasa tidak percaya dan kebingungan yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya. Di tangannya, terdapat selembar dokumen laporan hukum yang baru saja dikirimkan oleh tim pengacara Danuarta Group.
Di seberang meja, Rania duduk dengan sangat tenang di kursi kebesarannya. Wanita itu tampak sangat anggun, mengenakan blus sutra berwarna putih gading dengan rambut yang disanggul rapi. Tangannya dengan santai menggeser beberapa grafik logistik di layar tablet, seolah-olah tidak ada badai apa pun yang sedang mengancam perusahaannya.
"Rania," Elang akhirnya membuka suara, memecah keheningan ruangan dengan nadanya yang berat dan penuh tekanan. "Aku baru saja menerima laporan darurat dari tim hukum kita yang berada di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kamu... kamu benar-benar menjaminkan dana segar senilai miliaran rupiah milik pribadimu hanya untuk mengeluarkan Rendra Wijaya dari lapas siang ini?"
Rania tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tabletnya ke atas meja marmer dengan gerakan yang sangat pelan, hampir tanpa suara. Mata jernihnya terangkat, menatap lurus ke arah sepasang mata Elang yang dipenuhi kabut kecemasan.
"Benar, El. Aku yang menandatangani jaminan finansial itu, dan aku juga yang mendesak pihak kejaksaan untuk mempercepat proses penangguhan penahanannya," jawab Rania, suaranya terdengar sangat jernih, datar, dan tanpa beban.
"Tapi kenapa, Nia?!" Elang melangkah maju satu langkah, kedua telapak tangannya menumpu kuat di tepi meja kerja Rania. "Pria itu adalah mantan suami yang sudah mengkhianatimu, menelantarkan Abid di rumah sakit, dan mencoba menghancurkan bisnismu! Saat ini, Baskoro sedang menggunakan Tyas untuk menyerang sistem kita, dan saham Arania International sempat terkoreksi turun pagi ini karena ulah mereka!"
Elang menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak. "Membebaskan Rendra di situasi seperti ini sama saja dengan memberikan angin segar bagi keluarga Wijaya. Mereka akan mengira kita ketakutan, Nia! Bahkan dewan komisaris kita bisa salah paham dan mengira kamu masih memiliki perasaan pada pria pecundang itu! Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiranmu?"
Rania menatap genggaman tangan Elang yang gemetar di atas mejanya. Alih-alih terlihat tertekan oleh rentetan pertanyaan itu, sebuah senyuman tipis—sangat tipis tapi memancarkan aura misterius yang begitu dingin—perlahan terukir di bibir Rania.
Tatapan matanya berkilat penuh arti, menyembunyikan sebuah rencana besar yang begitu gelap, sebuah labirin taktik yang bahkan tidak bisa dibaca atau diterka oleh Elang sekalipun.
Rania berdiri dari kursi kerjanya, berjalan perlahan menuju jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang berdiri angkuh di bawah terik matahari. Wanita itu menyilangkan kedua tangannya di dada, memunggungi Elang.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri, Lang," ucap Rania dengan suara yang sangat lembut, tapi memiliki penekanan yang mutlak dan dingin yang tak terbantahkan.
Gaya bicaranya yang penuh teka-teki itu seolah menegaskan bahwa ada sebuah perangkap kematian tak kasat mata yang sudah selesai ia pasang untuk keluarga mantan suaminya. Rania sengaja membiarkan Rendra menghirup udara bebas, bukan karena belas kasihan.
Elang tertegun di tempatnya berdiri. Ia menatap punggung tegap Rania dengan rasa kagum yang luar biasa bercampur dengan rasa ngeri yang halus. Pria itu menyadari satu hal: Rania yang sekarang bukanlah Rania yang dulu bisa ditindas. Ketika wanita cerdas ini memutuskan untuk melepaskan mangsanya dari kandang, itu artinya dia sudah menyiapkan eksekusi yang jauh lebih kejam di luar sana.
pst dapat cap pelakor😄🤭