Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
"Sudah, Papa! Berhenti bicara kasar seperti itu padanya," sela Kiel dengan nada rendah yang menahan amarah. Namun, Marco justru tertawa sinis dan semakin menjadi-jadi, terus melontarkan kata-kata pedas yang menguliti harga diri Anna di depan semua orang.
Anna tidak sanggup lagi mendengarnya. Dengan sisa keberanian yang ada, ia memutar tubuh dan berjalan cepat meninggalkan kerumunan. Di tengah aula, ia berpapasan dengan Jolina yang tampak bingung melihat wajah pucat sahabatnya.
"Jolina, maaf... aku harus pulang sekarang," ucap Anna, berusaha keras menjaga suaranya agar tetap tegar meskipun matanya sudah memanas.
"Lho, Na? Kenapa? Acaranya bahkan belum mulai!" Jolina memegang lengan Anna dengan cemas.
"Ada... ada urusan mendadak di rumah. Maaf ya," bohong Anna sambil memaksakan senyum tipis, lalu segera melepaskan pegangan Jolina dan berlari menuju pintu keluar sebelum air matanya benar-benar jatuh.
Begitu sampai di luar gerbang kediaman Elion, langit seolah ikut merasakan kesedihan Anna. Hujan turun dengan sangat deras, membasahi gaun champagne indahnya yang tadinya begitu dibanggakan. Anna berjalan menyusuri trotoar sambil terisak, membiarkan air mata dan air hujan bercampur di pipinya. Kata-kata Marco terus terngiang di kepalanya, membuatnya merasa sangat kecil dan tidak berdaya di tengah kejamnya dunia para tokoh utama ini.
Ia tidak peduli lagi dengan penampilannya yang hancur. Yang ia inginkan hanyalah pergi sejauh mungkin dari tempat yang mengingatkannya pada penghinaan keluarga De Luca.
"Kenapa hidupku tidak bisa tenang sedikit saja?" gumam Anna di tengah isak tangisnya, suaranya teredam oleh derasnya hujan yang mengguyur. "Padahal itu Anna yang dulu, bukan aku... kenapa aku harus menanggung kebencian mereka?"
Pikiran Anna melayang pada akhir plot novel yang pernah ia baca. Ia teringat bagaimana karakter Anna ditakdirkan untuk mati mengenaskan di tangan Kiel dan keluarganya. Rasa takut yang sempat hilang kini kembali menyerang, membuatnya merasa seolah-olah kematian itu sedang mengintainya di balik kegelapan malam ini.
Karena gaun pendeknya sudah basah kuyup, tubuh Anna mulai menggigil hebat akibat suhu udara yang drastis menurun. Ia tidak sanggup lagi melangkah dan akhirnya memilih untuk berjongkok di pinggir jalan yang sepi, menyembunyikan wajahnya di antara lutut sambil terus terisak.
Tiba-tiba, suara rintik hujan yang menghantam aspal di sekitarnya menghilang, berganti dengan suara ketukan air pada permukaan kain yang tebal. Anna merasakan sebuah payung hitam besar kini melindunginya dari guyuran air. Sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti tepat di depannya dengan lampu yang masih menyala redup.
Anna mendongak perlahan dengan mata sembab dan bulu mata yang basah. Di balik payung itu, berdiri sosok tinggi tegap yang memancarkan aura dingin namun kini terlihat sangat intens.
"Tuan... Axel?" bisik Anna dengan bibir yang gemetar karena kedinginan.
Axel berdiri tegak di sana, menatap Anna yang tampak sangat rapuh dan hancur di bawah kakinya. Tanpa sepatah kata pun, Axel melepaskan jas hitam mahalnya dan menyampirkannya ke bahu Anna, menutupi tubuh mungil gadis itu dari hawa dingin yang menusuk.
"naik," ucap Axel dengan suara berat yang mutlak, tidak menerima bantahan apa pun.
Di dalam mobil mewah yang kedap suara itu, suasana terasa sangat mencekam. Tubuh Anna masih bergetar hebat karena kedinginan, meski jas mahal milik Axel sudah membungkus bahunya. Air hujan yang menetes dari rambutnya membasahi jok kulit mobil, namun Anna tidak peduli; pikirannya masih tertahan pada hinaan kejam Marco De Luca dan bayang-bayang kematian tragisnya di akhir plot novel.
Axel duduk tegak di sampingnya, menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras. Ia bisa merasakan aura kesedihan dan ketakutan yang luar biasa memancar dari gadis di sebelahnya.
"Kenapa kau pergi begitu saja dari acara?" tanya Axel dengan suara berat yang memecah keheningan. "Jolina mencarimu seperti orang gila."
Anna hanya diam. Ia mengeratkan pelukannya pada jas Axel, menunduk dalam hingga rambut basahnya menutupi wajah. Ia tidak tahu harus mulai dari mana—apakah harus menceritakan tentang Marco, atau tentang ketakutannya akan masa depan yang sudah tertulis di novel itu.
"Anna, aku sedang bertanya padamu," ucap Axel lagi, kali ini dengan nada yang lebih menuntut.
Namun, Anna tetap bungkam. Heningnya Anna membuat Axel merasa diabaikan, sesuatu yang sangat jarang terjadi dalam hidupnya. Rasa kesal mulai merayapi hati Axel; ia benci melihat seseorang yang biasanya bertingkah konyol dan ceria kini berubah menjadi sosok yang seolah kehilangan jiwanya.
"Lihat aku jika aku sedang bicara!" Axel akhirnya menoleh, matanya berkilat kesal karena sikap diam Anna yang begitu keras kepala.
Anna perlahan mengangkat wajahnya, menatap Axel dengan mata yang masih merah dan sembab. Bukannya menjawab, air matanya justru kembali jatuh satu per satu, membuat kekesalan Axel mendadak berubah menjadi rasa sesak yang aneh di dadanya.
Anna tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Isakannya semakin keras, dan dalam kondisi mental yang hancur, ia secara refleks mencondongkan tubuhnya lalu memeluk Axel dengan erat. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu, mencari perlindungan dari rasa takut akan takdir kematiannya yang tragis.
Axel tertegun. Tubuhnya menegang seketika. Selama ini, Axel Van Elion dikenal sebagai pria yang sangat menjaga jarak; ia paling tidak suka jika ada orang yang menyentuhnya secara sembarangan, apalagi dalam jarak sedekat ini. Siapa pun yang berani melakukan itu biasanya akan langsung mendapatkan balasan yang dingin atau bahkan didepak dari hadapannya.
Namun, saat merasakan tubuh mungil Anna yang gemetar hebat di pelukannya, niat untuk mendorong gadis itu lenyap begitu saja.
Ada apa dengan diriku? pikir Axel dalam hati, bingung dengan reaksinya sendiri.
Bukannya menjauh, Axel justru tetap diam. Ia seolah membiarkan jas mahalnya basah oleh air mata dan air hujan dari tubuh Anna. Tangannya yang tadinya terkepal kaku perlahan mulai rileks, meski ia belum membalas pelukan itu, ia memberikan keheningan yang dibutuhkan Anna untuk menumpahkan seluruh kesedihannya di dalam mobil yang terus melaju menembus hujan.
"Tuan, kita akan menuju ke mana?" tanya sopir pribadi Axel dengan suara rendah, memecah kesunyian di dalam mobil yang dipenuhi suara isak tangis Anna.
Axel terdiam sejenak, matanya menatap intens ke arah Anna yang masih memeluknya dengan erat. Entah apa yang merasuki pikirannya, namun ia merasa tidak ingin mengantar gadis ini pulang ke rumahnya dalam keadaan sehancur ini.
"Apartemen," ucap Axel singkat.
Sopir itu tertegun sejenak hingga matanya membulat di spion tengah. Ia tahu betul bahwa apartemen pribadi milik Axel adalah wilayah terlarang yang tidak boleh dimasuki oleh siapa pun, bahkan kolega bisnis terdekatnya sekalipun. Namun, melihat sorot mata tuannya yang tidak ingin dibantah, ia segera mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
Sesampainya di gedung apartemen mewah yang privat, Axel keluar dari mobil dengan payung di tangan Jigar yang sudah menunggu di lobi bawah. Tanpa banyak bicara, Axel membungkuk dan menggendong Anna secara bridal style. Tubuh Anna yang kecil terasa sangat ringan di lengannya, dan gadis itu tampak sudah terlalu lelah untuk memprotes, ia hanya menyandarkan kepalanya yang basah di ceruk leher Axel.
Axel membawa Anna masuk ke unit pribadinya yang luas dan minimalis. Ia mendudukkan Anna dengan perlahan di atas sofa beludru miliknya yang mahal. Anna hanya terduduk lemas dengan pandangan kosong, masih mengenakan jas Axel yang kebesaran.
Sambil terus mengawasi Anna, Axel merogoh ponselnya dan menghubungi Jigar yang masih berada di bawah.
"Jigar, siapkan pakaian santai wanita sekarang juga. Ukuran kecil. Pastikan bahannya nyaman dan hangat," perintah Axel dengan nada dingin yang otoriter.
"T-tapi Tuan, untuk siapa—"
"Jangan banyak tanya. Kirimkan dalam sepuluh menit," Axel langsung mematikan sambungan teleponnya.
Ia kemudian berlutut di depan Anna, mencoba menghapus sisa air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. "Duduk di sini. Jangan ke mana-mana sampai pakaianmu datang," ucapnya dengan suara yang sedikit melunak, meski wajahnya tetap terlihat kaku. Di tempat yang paling privat ini, untuk pertama kalinya, Axel membiarkan pertahanannya sedikit runtuh demi seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam hidupnya.