NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

Cindy terkekeh saat mengingat kembali kejadian kemarin sore. Membuat rona di wajahnya kembali memerah. Di sisi lain Mahen sedang duduk di sofa ruang tengah sambil memakan martabak manis yang ia beli sendiri sebagai hadiah karena viwers mereka tembus hingga 100 juta.

“Cin, akhir-akhir ini nyokap gue jadi suka ngedrop deh, kata dokter terakhir kali dia harus di bawa berobat ke rumah sakit yang lebih bagus.“

Cindy menoleh lalu duduk di seberang Mahen ikut menimbrung. “Jadi…kamu akan pergi?“ tanya Cindy menebak langsung.

Mahen menghentikan kunyahannya pada potongan martabak manis rasa cokelat kacang di tangannya. Ia menatap kotak martabak yang terbuka di atas meja jati, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Bahunya yang biasa tegak tampak sedikit merosot karena beban pikiran.

“Kemungkinan besar iya, Cin,” jawab Mahen lirih. Ia menatap Cindy dengan pandangan sendu. “Dokter spesialisnya merekomendasikan rumah sakit di Jakarta. Di sana fasilitasnya lebih lengkap buat menangani penyakit jantung nyokap. Bokap juga setuju. Jadi... minggu depan mungkin gue sekeluarga bakal pindah ke sana buat sementara waktu.”

Cindy tertegun. Berita itu datang begitu mendadak, menghantam hatinya dengan rasa kehilangan yang instan. Mahen bukan cuma sekadar rekan kerja yang mengedit video-videonya hingga tembus 100 juta penonton tapi dia adalah satu-satunya jembatan kewarasan Cindy dengan dunia luar sejak orang tuanya tiada.

“Minggu depan?” suara Cindy mencicit, mendadak merasa tenggorokannya kering. “Cepat banget, Hen...”

“Gue juga gak mau buru-buru, Cin. Tapi kondisi nyokap kemarin malam sempat kritis lagi,” Mahen mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir rasa lelah yang menggelayuti matanya. “Bokap gak mau ambil risiko. Yang bikin gue kepikiran itu... ya lo. Kerjaaan konten kita gimana? Terus, lo di rumah segede gini sendirian lagi.”

Cindy memaksakan sebuah senyuman tipis, berusaha menenangkan sahabatnya meskipun ada secercah rasa cemas yang mulai merayap di dadanya. “Aduh, soal kerjaan mah gampang, Hen. Zaman sekarang kan bisa remote. Lo tinggal edit di Jakarta, terus kirim filenya lewat cloud. Soal gue... kan sekarang gue udah gak sendirian lagi di sini. Ada Damian.”

Mendengar nama Damian disebut, gerakan tangan Mahen yang hendak mengambil potongan martabak kedua langsung membeku. Suasana di ruang tengah itu entah mengapa mendadak terasa sedikit menurunkan suhunya, seolah angin Muson timur dari luar berhasil menyelinap masuk lewat celah ventilasi udara yang tinggi.

Mahen meletakkan kembali martabaknya ke dalam kotak. Ia memajukan tubuhnya, menopang kedua sikunya di atas lutut dan menatap Cindy dengan ekspresi yang sangat serius tatapan seorang kakak yang sedang mengkhawatirkan adiknya.

“Cin, justru karena si Damian itu, gue makin gak tenang ninggalin lo,” bisik Mahen, suaranya sengaja direndahkan seolah takut ada dinding yang menguping pembicaraan mereka.

Cindy mengernyitkan alisnya, agak kurang suka dengan prasangka Mahen yang terus-menerus muncul. “Hen, plis deh. Kemarin-kemarin lo juga udah bahas ini. Damian itu orang baik. Dia bahkan sering bantuin gue di dapur. Dia cuma agak kaku karena lama tinggal di Belanda.”

“Bukan cuma soal kaku, Cindy Yuvia,” potong Mahen tegas, menyebut nama lengkap Cindy untuk menunjukkan keseriusannya. “Lo mungkin gak sadar karena lo lagi kasmaran sama dia. Tapi tiap kali gue ke sini, tiap kali gue melirik ke arah rumah sebelah... gue ngerasa ada yang ngawasin kita dengan tatapan yang benci banget. Dan wangi bunga kenanga itu... lo ngerasa gak sih kalau wangi itu makin hari makin pekat di rumah lo?”

Cindy terdiam. Di dalam benaknya, kilasan kejadian kemarin sore saat Damian memeluk dan menciumnya di dapur kembali berputar. Rasa dingin tubuh Damian, kulitnya yang pucat tanpa setetes pun keringat, dan aroma kenanga yang menyeruak kuat. Semua hal itu memang janggal jika dipikirkan dengan logika manusia hidup. Namun, rasa cinta yang telanjur mengakar di hati Cindy membuat dirinya buta akan segala benang merah tersebut.

“Itu cuma perasaan lo aja, Hen. Di belakang kan emang banyak tanaman liar,” bela Cindy, meskipun suaranya kini terdengar kurang yakin.

“Gue punya insting, Cin. Dan insting gue jarang salah,” Mahen meraba kantong celananya, mengeluarkan dompet kulitnya yang agak usang. Dari dalam selipan dompet, ia mengeluarkan sebuah lipatan kain mori kecil berwarna putih yang di dalamnya terdapat rajahan daun sirih kering, jimat pemberian kakeknya yang seorang sesepuh di kampung. “Nih, lo simpan ini. Taruh di bawah bantal lo atau bawa di kantong lo. Sejak gue sering bawa ini, rasa merinding gue tiap lihat pohon beringin sebelah agak berkurang.”

Cindy menatap benda di tangan Mahen dengan ragu. “Hen, apaan sih... masa pakai ginian.”

“Ambil aja, buat jaga-jaga! Anggap aja ini jimat perpisahan dari gue sebelum gue ke Jakarta,” paksa Mahen sambil menyodorkan kain mori itu ke atas meja, tepat di samping kotak martabak manis.

Tepat saat kain mori itu menyentuh permukaan meja jati, dari arah halaman samping, terdengar suara angin kencang yang menghantam pintu jati ruang tamu hingga mengeluarkan suara berderit berat.

Kreeeeek...

Wangi bunga kenanga yang teramat pekat jauh lebih pekat dan menusuk daripada biasanya mendadak menyerbu masuk ke dalam ruangan, mengalahkan manisnya aroma martabak cokelat di atas meja. Bulu kuduk Cindy dan Mahen seketika berdiri tegak secara bersamaan.

Dari balik sekat miring ruang tengah yang membatasi dengan ruang tamu, Cindy bisa melihat bayangan tinggi besar seseorang bergeming di dekat pintu jati yang tertutup rapat. Sosok yang kehadirannya selalu membawa hawa sedingin es, kini sedang berdiri di sana, mendengarkan setiap bait percakapan mereka dengan amarah gaib yang siap meledak.

Cindy bangun dari tempat duduknya lalu mendekat ke arah ruang tamu. Namun seketika bayangan tinggi itu menghilang hanya meninggalkan hawa dingin di sekitarnya.

Mahen berjalan mengikuti Cindy dan terlihat bingung. “Kenapa Cin? Ada yang aneh kah?“ tanya Mahen bingung.

Cindy menoleh dan tersenyum kecil. “Gak ada apa-apa kok, btw gue balikin jimat lo ini yah. Bukannya gue nolak tapi sejujurnya gue punya rahasia yang gak orang lain tahu loh…” ujar Cindy sambil berbisik seolah apa yang di katakan Cindy itu benar. Padahal insting Cindy mengatakan untuk berbohong entah karena apa.

“Memangnya lo punya rahasia apa?“ tanya Mahen penasaran.

Cindy mendekat dan berbisik, “gue punya Kodam yang bisa lindungin gue, hehehe.“,

Mendengar bisikan Cindy, mata Mahen seketika membelalak. Ia menatap sahabatnya itu dari atas sampai bawah, mencoba mencari tahu apakah Cindy sedang bercanda atau tidak. Namun, ekspresi wajah Cindy yang tampak begitu tenang dan yakin justru membuat Mahen tertegun.

“Serius lo, Cin?” Mahen bertanya dengan nada setengah berbisik, matanya melirik ke sekeliling ruang tamu yang terasa semakin dingin. “Kok lo gak pernah cerita ke gue kalau lo punya… begituan? Sejak kapan?”

Cindy terkekeh pelan, sebuah tawa canggung yang sengaja ia buat untuk menutupi getaran aneh di dadanya. “Ya… sejak orang tua gue meninggal, Hen. Ada yang ‘menjaga’ rumah ini dan gue dari kakek. Makanya gue bilang lo gak perlu khawatir berlebihan. Khodam gue kuat, kok.”

Insting terdalam Cindy sebenarnya menjerit bahwa ia sedang berbohong demi melindungi Damian dari kecurigaan Mahen, namun di sisi lain, bayangan hawa es dari Damian yang baru saja menghilang dari balik pintu membuat Cindy merasa harus segera menyingkirkan benda pemberian Mahen ini.

Mahen menarik napas panjang, lalu perlahan mengulurkan tangannya untuk mengambil kembali kain mori putih itu dari atas meja. Ia menimang-nimang bungkusan kecil itu dengan wajah pasrah.

“Ya udah deh kalau lo emang udah ada yang jagain secara… khusus,” ujar Mahen sambil memasukkan kembali jimatnya ke dalam selipan dompet kulitnya. “Gue emang sempat dengar sih kalau orang tua zaman dulu, apalagi kakek lo yang umurnya panjang banget itu, biasanya ninggalin ‘penjaga’ buat cucu kesayangannya. Tapi tetap aja, Cin, kalau ada apa-apa, lo harus langsung hubungi gue. Jangan sungkan, ya?”

“Iya, Maheeeen. Lo tenang aja,” sahut Cindy sambil menepuk lengan Mahen, merasa lega karena sahabatnya itu akhirnya mengalah. “Sana habisin martabaknya, atau mau lo bawa pulang aja buat bokap lo di rumah?”

“Gue bawa pulang aja deh, sekalian gue mau langsung pamit,” kata Mahen sambil menutup kotak martabak manis yang masih tersisa banyak itu. “Gue harus buru-buru ke rumah sakit lagi sore ini, mau gantian jaga nyokap sama bokap. Berkas-berkas video yang udah kelar diedit udah gue taruh di komputer studio lo, ya. Tinggal lo cek nanti malam.”

“Oke, Hen. Makasih banyak ya buat semuanya. Titip salam buat nyokap dan bokap lo. Semoga perjalanan ke Jakartanya minggu depan lancar dan nyokap cepat sembuh,” ucap Cindy tulus saat mengantar Mahen berjalan menuju pintu depan.

“Aamiin. Makasih ya, Cin. Gue balik dulu. Lo baik-baik di rumah!” Mahen melambaikan tangannya sebelum memakai helm dan menghidupkan motor bebeknya. Suara mesin motor yang khas itu perlahan-lahan menjauh dan menghilang di ujung tikungan kompleks, meninggalkan kesunyian yang kembali mencengkeram rumah kolonial tersebut.

Cindy menutup pintu jati yang berat itu, lalu memutar kuncinya hingga terdengar bunyi *klik* yang nyaring. Begitu ia berbalik untuk kembali ke ruang tengah, hawa dingin yang luar biasa pekat mendadak berembus dari arah lorong studio, membawa serta wangi pekat bunga kenanga yang seolah telah mengepung seluruh sudut rumahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!