Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.
Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.
Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.
Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.
Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.
Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!
Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Belum Makan Malam Dengan Benar
Hana merapikan helai rambutnya yang berantakan, menggelengkan kepala pelan.
"Aku... aku tidak apa-apa, Alvaro. Cuma sedikit pengap saja di bawah." sahut Hana pelan.
Alvaro menghembuskan napas lega yang amat panjang, mengusap wajahnya sendiri.
"Maafkan aku... Maaf karena kau harus bersembunyi dan mengalami hal tidak menyenangkan seperti tadi. Seharusnya aku tidak membiarkan wanita itu mengganggumu." tutur Alvaro.
Hana menatap Alvaro yang berada di samping nya itu. Tatapan mata pria itu begitu tulus dan cemas, sama sekali tidak mencerminkan sosok bos angkuh yang baru saja menolak mentah-mentah seorang putri konglomerat.
"Gadis tadi..." gumam Hana pelan, menyuarakan keraguan yang sempat membakar dadanya di bawah sana.
"Namanya Clarissa, kan? Dia... cantik sekali." lirihnya.
Alvaro mengerutkan keningnya, menatap mata Hana lekat-lekat melalui sela-sela kursi.
"Dia tidak ada hubungannya denganku, Hana. Ucapan dan permintaannya tadi sama sekali tidak penting bagiku." bantah Alvaro spontan tanpa berpikir panjang.
"Tapi dia bilang... keluarganya dan keluargamu sudah sangat dekat." lanjut Hana, suaranya sedikit mencicit, menyembunyikan rasa rendah diri yang mendadak menyeruak kembali.
"Dia juga bilang... tidak ada wanita lain yang lebih sepadan denganimu selain dia." Hana merasa ucapan wanita tadi begitu masuk akal, tiba-tiba dia merasa tidak percaya diri.
Alvaro terpaku sejenak mendengarnya. Pria itu menyandarkan tangannya di atas sandaran kursi depan, menatap Hana dengan binar mata yang amat teduh dan mantap.
"Aku tidak butuh wanita yang sepadan dari segi harta atau kasta, Hana." tegas Alvaro, setiap katanya diucapkan dengan kejujuran murni yang menembus sanubari Hana.
"Aku cuma butuh kau. Tidak peduli seberapa kaya atau cantiknya Clarissa, bagiku... hanya kau satu-satunya wanita yang menyandang namaku sebagai istriku." tegas Alvaro.
Hana menelan ludahnya yang terasa kering. Kata-kata Alvaro rasanya bagaikan salep hangat yang mengolesi rasa rendah dirinya.
Pipi Hana memerah makin pekat. Ia menundukkan kepalanya, berpura-pura sibuk merapikan tas ranselnya di pangkuan untuk menutupi getaran di dadanya.
"Terima kasih... Alvaro," bisik Hana sangat pelan.
Di balik kemudi, Nakula menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat saat melihat dari kaca spion bagaimana sang CEO menatap istrinya dengan binar penuh cinta yaitu sebuah bukti nyata bahwa di balik benteng kebohongan dan rahasia kantor ini, ikatan di antara mereka berdua perlahan-lahan tumbuh makin kuat dan tak tergoncangkan.
...****************...
Lampu-lampu ibu kota membias indah melalui kaca sedan hitam yang meluncur tenang menembus kemacetan malam.
Di dalam kabin, keheningan yang tercipta tak lagi terasa canggung atau mencekat. Pernyataan tegas Alvaro di bawah remang basemen tadi seolah menggantung di udara, menjadi jangkar baru bagi perasaan Hana yang selama ini terombang-ambing oleh kebingungan.
Hana duduk bersandar di kursi belakang. Ia menatap keluar jendela dan sesekali akan melirik ke arah samping dimana Alvaro duduk dengan tenang di sana.
Pria yang biasanya dipuja, ditakuti, dan disembah oleh ratusan staf perusahaan ialah pria yang baru saja menolak mentah-mentah putri konglomerat berparas jelita dan kini justru bersikap begitu bersahaja hanya demi menjaga perasaannya.
"Hana," panggil Alvaro pelan, memecah keheningan seraya menolehkan wajahnya ke samping.
Hana tersentak halus dari lamunannya. "I-iya, Alvaro?"
Alvaro menatap wajah manis istrinya yang diterangi pendar samar lampu jalanan.
"Kau pasti sangat lelah. Pekerjaan di lantai empat puluh delapan, ditambah kejadian di basemen tadi... maafkan aku." tuturnya lembut.
Hana menggelengkan kepala pelan, menyunggingkan senyum tipis yang amat tulus.
"Tidak apa-apa. Aku tidak selemah itu, Alvaro. Lagipula, bersembunyi di bawah karpet mobilmu tadi sebenarnya agak lucu kalau dipikir-pikir." ujar wanita itu dengan senyum lucunya.
Alvaro tertawa kecil. Tawa renyah itu kembali terdengar, membuat Nakula yang sedang memegang kemudi ikut menyunggingkan senyum tipis dari balik kaca spion.
"Lucu?" ulang Alvaro dengan alis terangkat.
"Kau ini... aku sudah hampir serangan jantung karena cemas kau terantuk atau kehabisan napas di bawah sana, tapi kau malah menganggapnya lucu?" Alvaro tak habis pikir dengan ucapan Hana tadi yang menganggap kejadian tadi lucu.
"Habisnya bagaimana lagi?" sahut Hana, keberaniannya untuk mengejek sang CEO perlahan-lahan kembali.
"Kalau aku tidak bersembunyi, Nona Clarissa itu pasti sudah pingsan di tempat melihat office girl berseragam biru ada di mobil pribadi CEO-nya. Bisa-bisa besok pagi namaku masuk surat kabar." seru Hana.
"Biarkan saja dia pingsan," cetus Alvaro datar, namun ada kilat jenaka di matanya.
"Itu malah bagus. Jadi dia tidak punya alasan lagi untuk menggangguku." ucap Alvaro santai.
Hana terkekeh pelan. Rasa hangat yang merayapi dadanya membuat beban trauma dan ketakutan yang menindihnya selama ini terasa jauh lebih ringan.
Tiga puluh menit kemudian, sedan hitam itu membelah gerbang besi raksasa yang menjaga kawasan hunian mewah di Jakarta Selatan. Kendaraan itu berhenti mulus di depan pelataran penthouse pribadi Alvaro.
Nakula membukakan pintu untuk mereka berdua. "Kita sudah sampai, Pak Alvaro, Nyonya Hana."
Hana melangkah keluar dari mobil, menyiagakan ranselnya di bahu. "Terima kasih banyak ya, Nakula. Maaf sudah merepotkan seharian ini."
Nakula menundukkan kepala sangat sopan. "Sama-sama, Nyonya Hana. Itu sudah menjadi tugas saya. Selamat beristirahat."
Alvaro menepuk bahu asisten kepercayaannya itu pelan. "Terima kasih, Nakula. Kau bisa pulang dan istirahat sekarang. Besok pagi jemput seperti biasa." Alvaro dengan datarnya berbicara namun Nakula sudah hafal betul dengan sikap bos nya itu.
"Baik, Pak Alvaro," jawab Nakula, lalu kembali masuk ke dalam mobil untuk membawa kendaraan tersebut ke garasi bawah.
Alvaro dan Hana melangkah beriringan memasuki pintu masuk lift pribadi yang langsung terhubung ke dalam penthouse.
Saat pintu besi berornamen emas itu terbuka, kemewahan ruangan yang beraroma kayu cendana dan vanila menyambut mereka.
Hana melangkah masuk lebih dulu, melepas sepatu kerja kusamnya dan mengagatinya dengan sandal rumah yang empuk. Ia hendak berjalan menuju kamar tamu kecil yang biasa ia tempati di sudut ruangan, namun langkahnya terhenti saat suara Alvaro memanggilnya kembali.
"Hana, tunggu sebentar," ujar Alvaro seraya melepaskan jas hitamnya dan menyampirkannya di lengan.
Hana membalikkan badan, menatap Alvaro dengan pandangan bertanya. "Ada apa, Alvaro?" tanya Hana.
Alvaro berjalan melintasi lorong granit, melangkah ke arah dapur bersih berbahan marmer hitam. Pria berkuasa itu melipat lengan kemeja putihnya hingga ke siku, menampilkan otot-otot lengannya yang kokoh.
"Kau belum makan malam dengan benar kan?" tanya Alvaro seraya membuka lemari es dua pintu yang besar.
"Tadi siang kau cuma makan makanan sederhana dan sedikit di kantin, pasti malam lapar lagi." ujar Alvaro yang begitu tahu.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
ya padahal lgi seru 😂😂😂😔 knpa di apus thor😤