Gara-gara keserakahan manusia merobek batas dimensi, bumi kiamat dan peradaban malah mundur ke abad pertengahan yang kejam. Dua ratus tahun kemudian, ras manusia dianggap sebagai makhluk paling lemah di dunia baru ini.
Tapi aturan itu tidak berlaku bagi Leo, Cheeta, dan Rheno tiga pemuda yatim piatu super nekat dari Lembah Karat. Ambisi mereka awalnya sederhana: bertahan hidup, menjarah, dan jadi kaya raya! Sialnya, gara-gara tergiur harga jual buah magis yang selangit, aksi nekat Leo malah menyeret mereka ke dalam takdir misterius.
Tanpa disadari, kekuatan purba Equilibrium yang terkunci di dalam darah mereka mulai terbangun. Bersiaplah mengikuti perjalanan epik yang seru, kocak, dan penuh kejutan dari trio penjarah amatir ini dalam mengocok isi dunia atas dan bawah!
Gaya Cerita: Santai & Humoris. Pas buat kamu yang suka petualangan fantasi seru tapi bikin ngakak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak tak mengerti
Disaat kelompok Grim yang sudah terkapar tak berdaya, Lucifer mengangkat sabit energi hitamnya tinggi-tinggi, bersiap melepaskan serangan penghabisan untuk melenyapkan para penyusup tersebut.
Namun, tepat sebelum sabit itu mengenai mereka, Leo melompat menerobos kabut uap dengan pedang kurusnya membesar terselimuti bilah magis masuk kedalam mode seriusnya.
Dengan satu gerakan refleks yang luar biasa cepat, Leo menahan sabit energi Lucifer, lalu memantulkan serangan Lucifer kembali padanya.
Dengan satu ayunan ke samping Lucifer membelokkan arah pantulan sabit nya kesamping.
BOOM!
Kehancuran area di samping Lucifer bukti kuat bahwa serangan Lucifer itu kuat dan Leo bisa menahan bahkan mengembalikan nya.
Berhadapan langsung dengan Leo melihat cahaya sapphire itu Lucifer menyadari dalam benaknya: Hem… dialah yang masuk ke dalam kuil tanpa memicu alarm magis, pantas saja energi magis nya sangat kecil, penyerapan energi magis nya sangat seimbang, sebesar apapun energi magis langit nya dengan energi magis dunia bawah yang sama besar nya auranya hampir nol.
Tiba-tiba satu tebasan horizontal yang sangat kuat. Mengingat Lucifer sama sekali tidak menduga akan ada manusia dengan aura magis seperti itu yang mampu menahan serangannya, sang panglima tertinggi terkesiap parah.
Tebasan Leo berhasil mengenai zirah pelindungnya, membuat Lucifer terluka dan terhempas sangat jauh hingga menabrak dinding kuil sampai runtuh yang bahkan serangan kombo kelompok Grim tidak sanggup menyentuh Lucifer.
*BOOOM!!!*
Aula kuil seketika dipenuhi oleh kepulan asap dan debu yang membubung sangat tebal akibat runtuhnya puing-puing bangunan.
Melihat kesempatan emas di depan matanya saat Lucifer terlempar, Grim yang tadinya lemas mendadak bangkit dengan sisa tenaganya.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia mengayunkan belatinya ke arah Red Diamond yang masih berada di genggaman Leo. Sabetan kilat itu berhasil mengenai dan menghancurkan batu permata tersebut hingga hancur berkeping-keping!
"Sialan kau dan batu keparat ini, Leo!" hujat Grim kasar penuh kebencian. Setelah batu itu hancur permanen dan memastikan benteng magis kota mati total, Grim langsung melesat pergi melompati jeruji jendela kuil bersama Snap, Rocky, dan Mona, melarikan diri ke luar kota dengan jaminan ingatan yang utuh.
Di tengah aula yang remang-remang, kepulan asap dari tempat terlemparnya Lucifer masih belum reda sepenuhnya. Leo, Cheeta, dan Rheno hanya bisa berdiri diam terpaku dengan wajah kebingungan. Mereka benar-benar tidak paham dengan aksi pengkhianatan mendadak dari kelompok Grim tadi.
Tepat pada saat itulah, Ely akhirnya muncul menerobos masuk ke dalam aula dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang pucat pasi. Sepasang matanya menatap panik ke arah kepulan asap di depan mereka.
"Tunggu...! Jangan menyerang lagi... Dia... Dia adalah Lucifer!" seru Ely tersengal-sengal, akhirnya berhasil menyelesaikan kalimat pentingnya yang sempat terpotong di jalan tadi.
"Hah?! Luci-apa?" sahut Leo polos, masih melongo memegangi gagang pedangnya.
Sebelum Ely sempat menjelaskan lebih jauh, suara reruntuhan batu terdengar bergeser. Sambil memegangi pundaknya yang terluka dan menahan rasa kesakitan, Lucifer secara perlahan keluar berjalan dari balik puing-puing kuil yang hancur.
Langkah kaki-nya berat, namun aura intimidasi mutlaknya secara bertahap mulai menekan atmosfer ruangan kembali.
Lucifer menghentikan langkahnya, langsung mengarahkan tatapan matanya yang tajam ke arah jendela tempat kelompok Grim melompat tadi.
Sosok keempat mata-mata itu sudah tidak terlihat lagi di kegelapan malam. Dengan benteng perlindungan kota yang sudah mati total, Lucifer mendengus geram karena ia sama sekali tidak tahu apakah Grim dan kelompoknya berubah arah atau tidak saat melarikan diri menuju gerbang luar.
Sambil menghela napas berat, Lucifer membalikkan tubuh kekarnya dan berjalan menghampiri tempat Leo, Cheeta, Rheno, dan Ely berdiri membeku.
"Tadinya, aku memberikan kalian semua izin untuk pergi dari tempat ini hanya karena aku melihat ada seorang gadis dari ras Elf di dalam kelompok manusia kalian," ucap Lucifer dengan suara berat yang berwibawa, matanya menatap lekat ke arah Ely sebelum beralih ke Trio Gubuk. "Artinya, kalian adalah salah satu dari kami para pelarian yang mencari kedamaian di kota ini."
Lucifer menjeda kalimatnya, lalu menunjuk ke arah pecahan Red Diamond yang berserakan di lantai dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius dan dingin.
"Dan manusia bernama Grim itu... dia sudah pasti adalah seorang mata-mata dari faksi luar," lanjut Lucifer dengan nada geram yang tertahan. "Berkat kebodohan dan aksi kalian malam ini, benteng pelindung Castra Metropolis telah hancur. Kini, seluruh kota ini sedang berada dalam bahaya besar!"
Mendengar penjelasan langsung dari sang panglima tertinggi, senyuman narsis di wajah Leo lenyap seketika. Cheeta langsung memijat dahinya yang mendadak pusing kuadrat, sementara Rheno hanya bisa menatap pecahan batu di lantai dengan wajah lempengnya yang kini tampak sedikit tegang.
Mereka bertiga akhirnya menyadari dengan sangat pahit bahwa aksi heroik mereka sejak sore tadi hanyalah sebuah bencana besar dari kelompok Grim untuk menjebak nya.
Setelah menjatuhkan kalimat penuh ancaman yang menghantam kesadaran Trio Gubuk, Lucifer tidak membuang waktu lebih lama lagi.
Tanpa menunggu respons atau pembelaan apa pun dari mulut Leo, sang panglima tertinggi langsung berbalik. Dengan satu hentakan energi hitam yang pekat, sosok tinggi besarnya melesat cepat menembus atap kuil yang hancur, mengejar jalur pelarian kelompok Grim ke arah perbatasan kota.
Aula kuil kembali dilemparkan ke dalam kesunyian yang dingin. Leo, Cheeta, Rheno, dan Ely hanya bisa berdiri terpaku. Tidak ada lagi tawa narsis, tidak ada lagi omelan barbar dari Cheeta.
Dengan langkah kaki yang terasa teramat berat, ketiganya berjalan beriringan kembali menuju penginapan dengan wajah yang tertunduk lesu penuh kesedihan.
Sesampainya di aula penginapan yang sepi, mereka dikejutkan oleh keberadaan Arsia. Pemilik toko dari ras Iblis itu rupanya sedang berdiri di dekat konter dengan wajah yang tak kalah tegang.
Sebagai salah satu dari sedikit Iblis dan Elf di kota ini yang mengetahui rahasia kuil kuno tersebut, itulah yang dia tau, Arsia langsung menyadari hilangnya pendar merah dari kejauhan.
Melihat raut hancur di wajah kelompok Leo, Arsia menarik napas dalam-dalam. Tanpa perlu bertanya apa yang terjadi di dalam kuil, ia mengajak mereka duduk di sudut ruangan dan mulai menceritakan seluruh kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Arsia siap menceritakan tentang Lucifer pelindung kota, benteng pelindung magis tak terlihat yang menghapus ingatan setiap orang, elf maupun iblis, serta fakta bahwa Lucifer menanggung beban perlindungan kota castra metropolis seorang diri karena baginya manusia elf dan iblis hidup berdampingan hanyalah ideologi nya sendiri.
Bersambung