Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.
Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.
Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan Keluarga
Vito melewati lemari minuman di rumahnya, lalu duduk di sofa dengan kasar, dia sadar alkohol tidak akan menyelesaikan masalah saat ini.
"Aku pengen kenalan sama kamu lagi," batinnya.
Dia ingin tahu setiap hal yang pernah Nowi lalui dan bagaimana kehidupannya sebelum semuanya hancur. Dia juga berniat mencari siapa pun yang sudah menyakiti Nowi dan memberi pelajaran. Mendengar Nowi mengaku tidak bahagia terasa sangat menyakitkan baginya.
"Aku pengen kamu bahagia," ucapnya pelan.
"Aku pengen kamu ada di sampingku."
"Tapi keputusan itu harus datang dari kemauanmu sendiri, Nowi."
Vito langsung meraih ponsel dan mengetik pesan untuk Bass.
"Kata-kata kamu bener. Dia lagi ada di posisi sulit. Aku nggak suka lihat ini, tapi aku bersyukur kamu ada di samping dia, apa pun masalah kita sebelumnya."
Bass membalas cepat. "Ini cara kamu minta maaf ya?"
"Aku nggak bakal minta maaf."
"Aku janji ... Lagian aku nggak ada niat nyakitin dia sama sekali, Bro."
"Aku percaya sama kamu."
"Kamu sendiri gimana? Baik-baik aja ngadepin semua ini?"
"Jauh banget dari kata baik. Aku pengen dia balik ke aku, Bass. Tapi dia harus punya keinginan juga buat balik sama aku. Aku nggak bisa maksa kehendak dia."
"Aku emang nggak tahu sejarah kalian, tapi kamu bener, Bro. Nggak ada gunanya dipaksa. Jelas banget dia punya banyak masalah yang harus diselesaikan dulu."
Vito mengusap rambutnya dengan kasar hingga menarik helaian rambutnya sendiri karena kesal Pengaruh Nowi terhadap dirinya memang tidak masuk akal. Vito merasa keseimbangannya hilang begitu saja jika menyangkut wanita itu.
Dia dan Bass sudah bersahabat sejak masa kuliah. Mereka melewati masa-masa sulit bersama, dan ikatan persahabatan itu makin kuat saat Vito rela meninggalkan segalanya demi menjaga sahabatnya. Vito pernah melihat Bass di titik terendah, begitu pun sebaliknya. Dia tahu niat Bass selalu baik.
Kemarin saja dia masih yakin tidak ada apa pun yang bisa merusak persahabatan mereka. Namun hari ini, Vito sadar dia bisa saja marah besar dan memutuskan hubungan seketika jika Bass sampai menyentuh Nowi.
"Dia emang punya banyak masalah. Kita berdua sama kok," tulisnya terakhir.
Vito mengakhiri obrolan dan melempar ponsel ke meja di depan sofa.
Dia masih sulit percaya Nowi benar-benar ada di sini sekarang. Selama ini dia tidak pernah benar-benar kehilangan harapan untuk bertemu lagi, namun melihat wanita itu terluka parah rasanya hampir menghancurkan hatinya. Nowi tetap terlihat cantik, meski sorot mata indahnya kini tampak redup dan lesu.
Sisa malam dia habiskan dengan gelisah di sofa, berganti posisi terus-menerus karena tidak bisa tenang.
Vito terbangun saat sinar matahari mulai muncul di ufuk timur. Dia berjalan ke dapur untuk menyeduh kopi. Dia memasukkan kapsul kopi ke dalam mesin dan menunggu sambil memegang ponsel di tangan. Jari-jarinya berhenti tepat di atas nama grup obrolan bersama saudara-saudaranya.
Dia sempat ragu apakah harus mengirim pesan ke semua orang atau cukup ke Zaki saja. Akhirnya dia memutuskan memberitahu semuanya supaya berita ini tidak berputar-putar dan berubah arti.
"Aku ambil cuti beberapa hari ke depan. Zaki, kamu bisa urus semua pekerjaan kita kan?" tulisnya.
Pesan balasan masuk dengan cepat.
"Waduh, ini aneh banget. Kamu kan nggak pernah cuti," balas salah satu saudaranya.
"Kamu aman aja kan di sana, Kak?"
"Tenang aja urusan kantor aman terkendali. Emang ada apa sih?"
"Aku minta tolong kalian semua diam soal ini. Bisa pegang janji nggak?"
"Kamu tahu kita pasti bisa jaga mulut. Ada masalah apa sebenernya?"
"Cepetan ngomong deh, bikin aku tegang nih nunggunya."
Vito menarik napas panjang sebelum menekan tombol kirim.
"Nowi balik ke sini."
Hening sejenak. Lalu muncul balasan singkat.
"Apa? Serius kamu?"
"Aku nggak bakal jelasin panjang lebar sekarang," balasnya.
Ponselnya langsung berdering nyaring. Nama Zaki muncul di layar.
Vito mengangkat telepon itu sambil berbisik pelan. "Tunggu sebentar, aku pindah tempat dulu."
Dia membawa cangkir kopi dan berjalan diam-diam ke teras belakang rumah, lalu menutup pintu kaca itu perlahan.
"Halo," sapanya pelan.
"Kamu baru aja kasih kabar besar, Vito. Dan lihat caramu kabur ke luar rumah diam-diam gini, aku nebak dia ada di rumah kamu sekarang kan?" suara Zaki terdengar kencang dari seberang.
"Tebakan kamu bener. Tapi situasinya nggak kayak yang kamu bayangin," jawab Vito.
"Terus kayak gimana dong? Aku udah pegang kunci mobil dan siap nyetir ke tempat kamu sekarang nih. Cerita cepetan, aku penasaran."
"Aku baik-baik aja. Tetap di tempat kamu. Aku butuh kamu urus semuanya di kantor sampai akhir minggu."
"Dia muncul begitu aja? Di rumah kamu?"
"Nggak. Di rumah orang tuanya. Bass yang nemuin dia, Pas dia bilang Nowi ada di kota, aku langsung masuk ke rumahnya dan bawa dia ke sini."
"Terus gimana keadaannya?"
"Dia nggak ngelawan sama sekali. Dia udah lewatin banyak hal buruk dan kondisinya parah banget. Matanya kosong."
"Anjing. Terus kamu sendiri gimana?"
"Aku kaget banget. Masih nyoba nerima semua ini. Aku belum tahu rencana dia apa, tapi bakal aku cari tahu semampuku."
"Kamu pengin dia tetap di sini?"
"Kamu udah tahu jawabannya, kan."
"Denger ya, aku nggak setuju sama semua ini. Apa pun yang terjadi sama kalian, orang lain juga butuh waktu buat terima semua ini. Kamu paham, kan?"
"Aku ngerti. Aku juga nggak bilang kalau aku udah maafin dia. Tapi aku mau selesain semua masalah ini."
"Apa pun yang terjadi nanti. Kami bakal dukung kamu."
"Tolong jangan rusak apa-apa selama aku nggak ada. Dan jangan pecat Yessica. Nggak ada orang lain yang sanggup ngadepin kamu selain dia."
"Aku gak janji ya."
Mereka mengakhiri panggilan telepon. Vito langsung membaca sepuluh pesan masuk dari grup keluarga.
"Sialan."
"Kamu bercanda ya?"
"Ya Tuhan. Serius nih?"
"Anjir. Kamu aman nggak?"
"Dia balik?"
"Vito, jawab dong!"
"Mungkin dia lagi ngomong sama Zaki."
"Ini gila banget. Kacau parah."
"Ayo dong. Nggak boleh kasih kabar heboh gitu terus diem aja. Ada apa sih sebenarnya?"
"Zaki baru aja telepon aku."
"Ya jelas dia telepon, sementara kami disuruh nunggu. Sekarang kamu bisa jelasin ke kami nggak?"
"Aku belum mau bahas detailnya sekarang. Nowi ada di kota ini. Aku nggak tahu rencana dia atau apa artinya semua ini. Tapi yang pasti dia ada di sini sekarang."
"Maksud kamu di Batu atau di rumah kamu?"
"Dua-duanya."
"Vito, hati-hati ya. Dulu aku emang masih kecil dan belum paham apa-apa, tapi aku nggak mau kamu sakit hati lagi."
"Nanti aku ceritain. Simpan rahasia ini baik-baik dan jangan sampe Mama sama Papa tahu."
Vito memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Dia membuka pintu kaca dan kembali masuk ke rumah dengan langkah pelan.