Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: NAVIGATOR JARAK JAUH
07:20:05
Angin di atas atap kereta kargo bukan sekadar angin. Itu adalah badai buatan.
Vero harus merangkak dengan perut menempel pada permukaan atap gerbong kontainer yang bergerigi agar tidak terhempas jatuh. Kecepatan kereta sekitar 60-70 km/jam, dan tanpa pegangan yang layak, satu kesalahan kecil berarti tubuhnya akan berakhir di atas batu kerikil rel, hancur berkeping-keping.
Dia melihat ke samping kiri.
Kereta Commuter Line—kereta asalnya—masih melaju sejajar. Rel mereka berjalan paralel menuju Stasiun Pusat.
Di pintu gerbong yang tadi dibukanya paksa, Vero melihat sosok kecil berkemeja flanel.
Sarah.
Wanita itu masih berdiri di sana, rambutnya berkibar liar ditiup angin, tangannya mencengkeram tiang pintu agar tidak jatuh. Dia tidak lari. Dia tidak bersembunyi. Dia menatap Vero.
Jarak mereka sekitar 10 meter, terpisah oleh celah kematian yang menganga.
Vero merogoh saku celananya dengan susah payah, mengeluarkan ponselnya sendiri. Layarnya retak akibat perkelahian tadi, tapi masih menyala.
Dia tidak tahu nomor Sarah. Dia tidak bisa berteriak melawan suara angin.
Vero mengetik nomor ponselnya sendiri di aplikasi Catatan dengan font ukuran terbesar. Dia menaikkan tingkat kecerahan layar hingga maksimal.
Dia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, menghadapkan layarnya ke arah Sarah.
Lihat ini, batin Vero. Gunakan mata jurnalis-mu.
Di seberang sana, Sarah menyipitkan mata. Dia tampak merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya sendiri, dan mengarahkannya ke Vero—menggunakan fitur zoom kamera untuk membaca angka di layar Vero.
Tiga detik kemudian.
Ponsel di tangan Vero bergetar.
Unknown Number.
Vero menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga, melindunginya dari deru angin dengan tangannya yang lain.
"Kau orang gila paling nekat yang pernah kutemui," suara Sarah terdengar pecah-pecah di sela suara angin, tapi jelas.
"Terima kasih pujiannya," teriak Vero. "Sekarang dengarkan aku. Aku butuh matamu."
"Mataku?"
"Aku di atap. Aku tidak bisa melihat apa yang ada di depan. Deretan kontainer ini menghalangi pandanganku," jelas Vero. "Kau ada di samping. Kau bisa melihat sepanjang rangkaian kereta kargo ini dari posisimu."
Sarah terdiam sejenak, tampaknya sedang memindai rangkaian kereta kargo yang panjang itu.
"Oke. Aku melihatnya. Panjang sekali. Ada sekitar 20 gerbong."
"Cari anomali!" perintah Vero. "Cari sesuatu yang beda. Penjaga? Kabel? Atau kontainer yang mencurigakan?"
"Tunggu..."
Suara Sarah menghilang sebentar, hanya terdengar napasnya yang berat.
Vero terus merangkak maju, melompati celah antar-gerbong dengan hati-hati. Dia baru melewati Gerbong 19 dan 18 (dihitung dari belakang). Masih jauh.
07:22.
"Vero!" suara Sarah kembali, kali ini lebih tegang. "Aku melihat sesuatu. Enam gerbong di depanmu. Kontainer warna merah marun. Ada tulisan 'MAERSK' pudar di sampingnya."
"Ada apa di sana?"
"Ada orang," kata Sarah. "Dua orang. Di atap."
Vero berhenti merangkak. Dia bersembunyi di balik tonjolan pendingin kontainer.
"Bersenjata?"
"Ya. Senapan laras panjang. Mereka duduk santai, merokok. Sepertinya mereka menjaga area ventilasi di atas kontainer itu."
"Bingo," desis Vero. "Itu pasti lokasi bom utamanya."
"Vero, mereka bawa senapan serbu. Kau cuma punya pistol curian dan gunting," suara Sarah terdengar khawatir. "Ini bukan film aksi."
"Di loop ini, ini film horor, Sarah. Dan aku monsternya," jawab Vero dingin. "Berapa jarakku ke mereka?"
"Empat gerbong lagi. Tapi hati-hati, di Gerbong 15—dua gerbong di depanmu—atapnya datar licin. Tidak ada pegangan."
"Terima kasih infonya."
Vero hendak mematikan telepon, tapi Sarah berteriak lagi.
"Tunggu! Kereta kita mulai berpisah!"
Vero menoleh ke kiri. Benar saja. Jalur rel mulai bercabang. Kereta Commuter Line yang dinaiki Sarah mulai berbelok sedikit ke kiri, menjauh dari jalur kargo, mungkin untuk masuk ke peron yang berbeda di stasiun transit sebelum Stasiun Pusat.
"Sinyal visual akan putus!" teriak Sarah. "Aku tidak bisa memandumu lagi!"
"Kau sudah memberiku target," kata Vero. "Itu cukup. Sarah, dengar. Kalau aku gagal..."
"...kita bertemu lagi jam 7 pagi," potong Sarah. "Aku tahu. Jangan mati konyol."
"Satu hal lagi," kata Vero cepat. "Cari tahu tentang perusahaan logistik yang memakai gerbong ini. Kalau bom itu ada di dalam kontainer, berarti kontainer itu dimuat secara resmi. Kita butuh nama penyewanya untuk loop berikutnya."
"Sedang kucari. Nomor kontainer: MRKU-204991. Aku sedang meretas manifest pelabuhan lewat kontak orang dalam."
Vero tersenyum tipis. Wanita ini memang luar biasa.
"Kau yang terbaik. Sampai jumpa di sisi lain."
Vero mematikan telepon. Dia memasukkan ponselnya ke saku dalam kemeja, mengancingkannya rapat-rapat.
Dia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara berdebu bercampur asap diesel.
Di tangannya, Glock 19 terasa berat dan nyata.
Dia mengokang pistol itu.
Ada dua penjaga bersenapan serbu di depan.
Dia punya satu pistol dengan isi... entah berapa butir. Vero melepas magazine sebentar untuk mengecek.
Tujuh butir.
Cukup.
Vero mulai bergerak. Dia tidak lagi merangkak. Dia berlari rendah, melompati celah antar gerbong dengan presisi yang didapat dari keputusasaan.
Gerbong 17. Lewat.
Gerbong 16. Lewat.
Gerbong 15. Atap datar licin.
Vero terpeleset sedikit saat mendarat. Kakinya tergelincir ke sisi kanan.
Tangannya refleks mencengkeram pinggiran atap. Tubuhnya terayun, menggantung di sisi kereta yang sedang melaju kencang. Di bawahnya, roda besi berputar menggila, siap mengunyah daging dan tulang.
"Sial!" umpat Vero.
Otot lengannya menjerit saat dia menarik tubuhnya naik kembali ke atap. Napasnya memburu.
Dia berbaring telentang sejenak, menatap langit Jakarta yang kelabu.
07:35.
Waktu tersisa 25 menit.
Dia bangkit lagi. Di depannya, dua gerbong lagi, adalah targetnya.
Dia bisa melihat siluet dua kepala manusia di kejauhan. Penjaga itu.
Mereka belum melihat Vero karena terhalang oleh boks AC di atap gerbong.
Vero merayap mendekat. Dia harus membunuh mereka. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada negosiasi dengan tentara bayaran yang menjaga bom kiamat.
Dia membidikkan pistolnya. Tangan kanannya stabil, ditopang oleh tangan kiri.
Jarak sekitar 30 meter. Angin kencang. Target bergerak.
Tembakan yang mustahil bagi seorang akuntan.
"Ingat hukum fisika," gumam Vero, mengingat pelajaran fisika SMA-nya yang entah kenapa muncul di saat kritis. "Angin dari kiri. Bidik sedikit ke kiri."
Dia menarik napas. Menahan napas.
DOR!
Tembakan pertama meleset, menghantam dinding kontainer dengan bunyi TANG! yang nyaring.
Kedua penjaga itu langsung waspada, mengangkat senapan mereka.
"Penyusup!" teriak salah satu dari mereka.
Peluru senapan serbu mulai memberondong ke arah Vero.
Trak-trak-trak-trak!
Vero berguling berlindung di balik boks AC. Serpihan logam beterbangan di atas kepalanya.
Dia kalah senjata. Kalah posisi. Kalah jumlah.
Tapi dia punya satu keunggulan: Dia tidak takut mati. Dia hanya takut kehabisan waktu.
"Ayo kita berdansa," bisik Vero.
Dia keluar dari persembunyian, bukan untuk menembak, tapi untuk berlari. Dia berlari zig-zag menuju mereka, memperpendek jarak sambil memuntahkan peluru dari pistolnya secara membabi buta.
DOR! DOR! DOR!
Satu penjaga jatuh, memegangi lehernya. Hoki pemula? Atau takdir?
Penjaga satu lagi membidik Vero yang sedang berlari terbuka.
Vero melihat laras senapan itu mengarah padanya. Dia melihat kilatan api dari moncong senjata (muzzle flash).
Dia merasakan hantaman di bahu kirinya. Tubuhnya terpental ke belakang, jatuh berguling.
Sakitnya luar biasa. Bahunya bolong.
Tapi dia masih hidup. Dia masih memegang pistol di tangan kanan.
Posisi penjaga itu sekarang terbuka.
Vero mengangkat pistol dari posisi terbaring.
Jarak 5 meter.
DOR!
Kepala penjaga itu tersentak ke belakang. Tubuhnya rubuh, meluncur jatuh dari atap kereta.
Hening. Kecuali suara angin.
Vero mencoba bangun, tapi rasa sakit di bahunya membuatnya mengerang panjang. Darah membasahi kemejanya yang sudah kotor.
Dia merangkak menuju mayat penjaga pertama. Dia butuh memastikan area aman.
Di bawah mayat itu, ada sebuah pintu palka (hatch) menuju ke dalam kontainer.
Vero membukanya dengan tangan satu.
Gelap di dalam sana. Tapi dia bisa melihat lampu-lampu indikator berkedip.
Bukan satu bom tas hijau.
Tapi satu kontainer penuh dengan drum-drum bahan peledak cair dan rak-rak C-4 yang tersusun rapi seperti server komputer.
Ini bukan bom. Ini pabrik kiamat.
Vero melihat jam tangannya.
07:45.
Dia punya 15 menit untuk mematikan instalasi bom sebesar rumah ini, dengan satu tangan yang lumpuh tertembak, dan tanpa pengetahuan kabel mana yang harus dipotong.
Vero tertawa lemah. Darah menetes dari dagunya.
"Halo, Kematian ke-12," sapanya pada kegelapan di bawah sana. "Mari kita lihat pelajaran apa yang kau bawa kali ini."
Vero menjatuhkan dirinya masuk ke dalam lubang palka itu.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔