Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Tak bisa di bantah
"Rayyan seneng banget di temenin sama Om Rara. Tahu ngga teman-teman ngira Om Rara itu Papa aku, mana aku iyain aja lagi soalnya mereka pasti ngga bakal percaya. Untungnya Om Raranya ngga marah, dia malah bantuin aku sandiwara..."
Nayra sedang mencuci piring di temani oleh cerita putranya beberapa kali di buat menghela nafas kasar karna putranya sudah terlalu jauh. Gatra juga salah malah menuruti semua keinginan Rayyan hingga membuat anak itu semakin senang.
Harusnya pria itu tidak menuruti keinginan Rayyan. Nayra jadi takut putranya terbiasa lalu menginginkan lebih. Menjadikan Gatra ayah sambung misalnya.
Nayra tidak pernah menutup hatinya untuk pria manapun setelah suaminya meninggal berapa tahun yang lalu bahkan ia sudah beberapa kali punya hubungan yang berakhir dengan mereka menyerah di tengah jalan.
Bagi orang sepertinya, Gatra yang terlalu biasa saja belum cukup. Ada banyak hal di dalam kehidupannya yang tak mungkin di masuki sembarang orang hingga membuat Nayra punya ketakutan sendiri.
Tapi selagi mereka tidak menganggu Rayyan maka ia akan membiarkan orang-orang berkuasa itu berada di sekitarnya.
"Om Rara juga di godain sama cewek, ibu-ibu dari anak yang renang di sana loh, Ma. Sama kayak teman cowok Mama yang pernah nemenin aku ke sana, tapi aku suka deh cara Om Rara, cuma senyum terus ngga menanggapinya. Paling banyak Om cuma iya iya atau ngangguk aja terus mainin Hpnya lagi. Ngga kayak Om Bima, Rangga terus Om siapa lagi tuh namanya? Ah, lupa, tapi mereka–"
"Ngga baik bandingin orang kayak gitu, kenyataannya pas di tanya kamu sering bilang mereka punya kebaikan sendiri-sendiri." Nayra mengingatkan sambil mendekati Rayyan yang sedang duduk di kursi makan.
"Iya sih, tapi Om Rara ini baik di segala sisi."
Selalu seperti ini, setiap Rayyan membahas Gatra maka mata anak itu akan berbinar-binar cerah. Semangat dan rasa senangnya beda dengan beberapa laki-laki yang pernah mendekatinya hingga menular ke Nayra.
Pekerjaan rumahnya, cuci piringnya sudah bersih begitu juga dengan pekerjaan lainnya seperti live di sosial media sudah di serahkannya pada timnya yang berada di kafe sejak pukul delapan malam.
"Aku tahu, tapi setelah kenal Om Rara, aku jadi merasa semua laki-laki yang deketin Mama itu ngga baik."
"Jangan bilang kamu..." Nayra tak melanjutkan perkataannya karna mendapati tatapan penuh harap dari putranya. "Jangan mulai lagi, oke. Om Gatra itu beda sama teman laki-laki yang beberapa kali Mama aja di sini."
"Perasaan sama aja," balas Rayyan tak menghilangkan senyuman membuat Nayra kian takut dan bingung karna status dari pria-pria yang di kenalkan pada anaknya adalah duda. Sementara Gatra sama sekali belum pernah menikah yang menjadi pertimbangan kuat Nayra.
"Mama ngga bisa sama dia, Ray." Rayyan masih menolak.
"Tapi Om Rara itu baik, aku juga suka sama dia, Ma."
Nayra tetap menggelengkan kepala sekalipun Rayyan pusat kebahagiaan, tapi ia tak seta mertua menurut semua yang diinginkan anak itu. Ia berusaha sekuatnya untuk terlihat biasa saja ketika ekspresi anak itu berubah kecewa.
Sebagai seorang ibu ia sangat mengerti keinginan putranya yang dari kecil sudah memahami masalah besar yang menimpa kedua orang tuanya. Bahkan dari kecil kehidupannya sudah tidak mudah di tambah harus kehilangan ayah di usia muda.
Rayyan juga pernah merasakan tak punya apa-apa lalu tiba-tiba seperti dalam kedipan mata juga merasakan punya segalanya sampai membuat Nayra takut kalau semua ini adalah mimpi.
"Dia ngga akan bisa masuk ke dalam kehidupan kita, Ray." Tegas Nayra pada akhirnya.
"Kalau Om Rara bisa, apa Mama bisa jadiin dia Papa aku?" Tanya Rayyan tanpa mengalihkan pandangannya dari sang Mama yang terdiam.
Ketika sedang serius seperti ini Nayra seperti sedang berhadapan dengan Yudha yang tegas dan tak bisa di bantah kalau sudah menginginkan sesuatu.
Tak peduli keputusannya akan merugikan diri sendiri, tapi sekalinya sudah membuat keputusan maka Yudha akan melakukannya dan tak pernah menyesalinya. Termasuk meninggalkan kehidupan mewahnya karna keluarga pria itu tidak bisa menerima wanita yang di cintainya.
"Jangan aneh-aneh, tujuannya baik sama kamu bukan karna dia ingin jadiin kamu anaknya." Ungkap Nayra berharap dapat mengubah keinginan putranya.
Walau sekarang hubungannya dengan tetangganya itu sudah lebih baik, tapi tetap saja Nayra masih kesal setiap kali mengingat Gatra pernah melaporkan mereka pada Hakim.
Sekalipun pria itu sudah minta maaf pada mereka karna kesalahannya lalu menjelaskan kalau ia membutuhkan putranya untuk mengubah cara pandangnya.
Nayra awalnya tidak setuju karna putranya seperti alat sekaligus iba dengan yang sudah terjadi pada Gatra. Di tambah lagi mendengar tanggapan positif dari Rayyan hingga sampai pada keputusan kalau putranya tak akan ia larang untuk bermain di sana.
Tapi walau begitu Nayra tak serta merta mengizinkannya, mereka membuat beberapa perjanjian jika sewaktu-waktu Gatra merasa tergganggu lalu melukai Rayyan baik itu secara fisik atau mental maka pria itu bersedia untuk di tindak lanjuti.
"Om Rara itu baik, Ma."
Nayra langsung menatap Rayyan dengan tajam karna tidak selesai-selesai memuji Gatra. "Ini udah jam berapa? Sana ke kamar waktunya kamu tidur!"
"Tapi aku belum–"
"Rayyan, jangan bikin Mama marah!"
"Om Rara juga ngga punya pacar, Ma." Rayyan masih bebal berharap sang Mama berubah pikiran seperti sebelum-sebelumnya. "Aku juga pernah baca postingan–"
"Terus kenapa? Udah ah, jangan suka percaya sama postingan kayak gitu. Kebanyakan ngga bisa di bawa ke dunia nyata."
"Tapi Mama kerjanya di situ juga. Kadang, aku baca postingan Mama tentang motivasi sesuai dengan yang kita alami selama ini dan banyak yang komen kalau quotes Mama sesuai dengan kehidupan mereka."
Pada akhirnya sedikit kebebasan yang dirinya berikan pada putranya dalam bersosial media menjadi serangan padanya. Sebenarnya Nayra sudah menyadari baik buruk itu sejak lama, tapi karna sibuk ia tak pernah punya waktu untuk menegurnya.
Nayra sudah membiarkan anaknya bermain ponsel sejak kelas lima SD tujuannya agar anak itu tidak nakal, tidak keras kepala dan tidak melakukan hal buruk lainnya setelah mengetahui cara ibunya mencari uang.
Nayra juga membiarkan Rayyan membaca komentar-komentar jahat yang setiap harinya masuk ke pesan pribadi atau postingannya dengan tujuan jika dewasa nanti anak itu berhati-hati mengunakan jarinya.
"Intinya beda. Tapi udahlah, jangan suka mikir kejauhan. Kita baru kenal sama dia, Mama harap kamu jangan bikin dia ngga nyaman lagi kalau kamu ngga mau pergi dari sini lebih cepat dari rencana! Sekarang kamu ke kamar, tidur, besok sekolah!" Nayra memberikan tatapan tak bisa di bantah pada Rayyan yang dengan terpaksa bangkit dari kursinya dan meninggalkan Nayra lebih dulu menuju kamarnya dengan kesal.
Nayra selalu mengusahakan yang terbaik untuk Rayyan, tak terkecuali tentang pendamping hidupnya. Pendapat putranya adalah yang utama, tapi bukan berarti bisa mengambil semua keputusannya.