NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6:40 dan pamitan

*Bab 4*

Malam berlalu begitu cepat.

Atau mungkin Nayla yang terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga tidak sempat merasakannya.

Matanya membuka pelan. Langit di luar jendela masih abu-abu kebiruan. Cahaya pagi belum sepenuhnya datang. Selimutnya berantakan, bantalnya separuh jatuh ke lantai. Ia tidak ingat kapan akhirnya tertidur.

Nayla meraih ponsel di atas meja kecil.

*06.35

“Hhngg—”

Ia memaksa tubuhnya duduk. Matanya masih berat, dan ada rasa pegal di leher kanan—sepertinya dari posisi tidur yang salah. Rambutnya berantakan, helai-helai hitamnya jatuh ke mana-mana.

“Haaahh.”

Satu helaan napas panjang.

Ia duduk sebentar di tepi kasur. Kaki menyentuh lantai dingin. Mata masih setengah terpejam, tangan mengusap wajah pelan dari atas ke bawah.

Di sudut kamar, koper sudah berdiri rapi menunggu.

_Ini dia._

gumamnya

Nayla beranjak dari ranjang.

Kaki telanjangnya menyentuh lantai dingin. Ia berdiri pelan, meraih kerudung yang tergantung di gagang pintu lemari, lalu memakainya di depan cermin kecil di sudut kamar.

_Tok, tok, tok._

“Nay—kamu udah bangun?”

Suara Bik Marni.

“Iya, Bik!” sahut Nayla. Suaranya masih serak khas habis bangun tidur.

“Kalau udah, ayo ke dapur. Sarapan bareng. Ibu sama adikmu udah nunggu.”

Nayla menoleh ke pintu. Senyum kecil tanpa sadar terbit di bibirnya.

“Iya, Bik. Nayla ke sana.”

Langkah Bik Marni menjauh di balik pintu.

Nayla kembali ke cermin. Ia merapikan lipatan kerudung, menarik napas pelan. Matanya masih sedikit sembab, tapi ia memilih untuk tidak memikirkannya sekarang.

 

Di meja makan, aroma nasi hangat dan tumis tempe bercampur jadi satu. Sederhana, tapi cukup untuk membuat perut berbicara.

Nayla duduk di sebelah Rian. Adiknya itu sudah duduk rapi lebih dulu, piringnya penuh. Rambutnya masih acak-acakan Seragam putih merahnya sudah terpasang, meski kerahnya miring sedikit.

Nayla diam-diam merapikannya.

“Buk—”

Suara Rian memecah keheningan meja makan.

Ibunya menoleh dari arah dapur, masih memegang serbet di tangan. “Iya? Ada apa?”

“Ibu tahu nggak,” Rian meletakkan sendoknya sebentar. Wajahnya serius dengan cara yang lucu untuk anak sembilan tahun. “Kemarin di sekolah, si Robi—anaknya Bu Salma—kelihatan sedih banget, Buk.”

“Oh ya?” Ibu melangkah lalu duduk pelan di kursih, menatap Rian penuh perhatian.

“Iya. Biasanya kan dia yang paling semangat di kelas. Paling berisik malah.” Rian mengernyit kecil. “ tangannya mengaduk aduk nasih, kemarin pas Rian tanya dia diam aja, Buk. Nggak mau cerita.”

“Oh ya?” Bik Marni menoleh sebentar sambil mengambilkan nasi untuk Rian. “Aduh, kasihan sekali.” ya

“Iya, Bik,” balas Rian. “Pas Rian tanya dia nggak mau ngomong. Diajak ke kantin juga nggak mau.”

“Yah, sudah,” suara Ibu lembut, memotong pelan. “Kamu nggak usah paksa dia ngomong. Mungkin dia lagi ada sesuatu—urusan keluarga, atau hal lain yang belum siap dia ceritain kek kamu. Kalau kamu paksa, nanti dia malah marah sama sama kamu. Tangan ibuknya mengambil lauk untuk Rian Cukup temenin aja. Kadang itu sudah lebih dari cukup.”

Rian mengangguk pelan, lalu kembali ke nasinya.

Hening sesaat.

Hanya suara sendok dan piring yang berbicara.

Lalu Ibu menoleh. Matanya mencari wajah Nayla di ujung meja.

“Kamu kenapa, Nay?” tanyanya pelan. “Dari tadi diam saja.”

Bik Marni ikut menoleh.

“Iya nih, Rian ikut menimpali, alisnya naik sedikit. “Kak kan biasanya paling bawel kalau dengar Rian lagi cerita.”

Habisin nasinyalah jangan banyak ngomonglah nanti telatla ini itu ini itu cerocos rian ibuk dengan bik Marni tersenyum sambil mengangguk

Nayla tersenyum kecil—senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke matanya.

Nayla“Nggak apa-apa, Buk, Bik,” jawabnya pelan.

“Oh, yaudah kalau gitu. Makan gih, nanti nasinya dingin,” ucap Ibu.

iya buk. Rian kembali berceloteh tentang aktivitasnya di sekolah. Sesekali ia tertawa bahagia, sesekali murung. Ibu dan Bik Marni hanya senyum sesekali geleng kepala yang terlihat tulus dan hangat.

Melihat itu, semua sesak yang ada di dada Nayla sedikit berkurang.

"Brtt...Brrtt"... suara ponsel Nayla

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!