Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Kesialan yang Menimpa Theo
Tiga minggu telah berlalu sejak sidang mediasi yang gagal total di Pengadilan Negeri.
Di dalam ruang kerja barunya yang mewah di kantor Aricia International, Zarlin Rahesa sedang memeriksa beberapa berkas. Penampilannya kini berubah drastis, sangat anggun, berkelas, dan memancarkan aura wanita kaya raya yang mandiri.
Pintu ruangan diketuk, dan Samuel Vaska, pengacaranya, masuk dengan senyuman.
"Nona Zarlin, semua persiapan untuk sidang minggu depan sudah beres. Bukti foto memar di lengan anda akibat kasarnya Theo, ditambah bukti bahwa dia tidak pernah memberi nafkah yang layak, serta perselingkuhannya dengan Bianca sudah saya siapkan. Theo Falcon tidak akan bisa mengelak lagi di depan hakim," lapor Samuel.
Zarlin tersenyum dingin. "Bagus, Samuel. Biarkan pria sombong itu kesenangan dulu sekarang, sebelum kita permalukan dia habis-habisan di ruang sidang nanti."
Setelah Samuel pergi, Christiana sekretaris pribadi Zarlin masuk membawa kabar baru.
"Nona Zarlin, saya dapat info kalau sore ini Theo Falcon mau tanda tangan kontrak dengan seorang pengusaha kaya raya dari Singapura. Pengusaha itu mau memberikan modal besar untuk menyelamatkan perusahaan Theo yang hampir bangkrut."
Zarlin menatap berkas itu dengan saksama. Dia tahu perusahaan Theo sedang sekarat setelah dipotong keuntungan 15% oleh Avalanka Group. Modal dari pengusaha kaya ini adalah satu-satunya harapan Theo.
Zarlin langsung menemukan cara terbaiknya.
"Hubungi pengusaha kaya itu sekarang juga, Christiana. Katakan kalau perusahaan kita, Aricia International, mau memberikan keuntungan dua kali lipat lebih besar kalau mereka mau kerja sama dengan kita. Dan suruh dia batalkan pertemuannya dengan Theo sore ini!"
"Baik, Nona. Segera saya urus," jawab sang sekretaris patuh.
Zarlin menatap keluar jendela kaca kantornya yang tinggi.
"Theo... kamu pikir kamu bisa bangkit setelah membuangku? Aku akan pastikan semua jalan usahamu tertutup rapat." batinnya.
...****************...
Sore harinya, di kantor Falcon Corp, suasana berubah tegang. Theo duduk di kursi kerjanya dengan wajah murund dan stres berat. Di sampingnya, Bianca mondar-mandir dengan wajah cemas.
...Brak!...
Theo memukul meja kerjanya dengan sangat keras setelah menutup telepon dari Siska.
"Sialan! Apa-apaan ini?! Pengusaha kaya dari Singapura itu tiba-tiba membatalkan janji sepihak! Padahal satu jam lagi kita harusnya tanda tangan kontrak modal!"
"B-Bagaimana bisa, Theo? Bukankah kemarin dia sudah setuju mau bantu modalin perusahaan kita?" tanya Bianca dengan suara bergetar panik.
Bianca sangat butuh Theo tetap kaya, karena uang jajannya sendiri sudah mulai menipis.
"Siska bilang, ada perusahaan besar namanya Aricia International yang merebut pengusaha itu! Mereka kasih penawaran yang jauh lebih besar!" bentak Theo sambil menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi.
Tanpa Theo ketahui bahwa itu adalah perusahaan rahasia istrinya sendiri. Bahkan Avalanka Group pun Theo tidak tahu siapa pemilik yang sebenarnya.
"Kita butuh uang modal itu! Kalau uang itu tidak ada, proyek pelabuhan kita bisa macat, dan perusahaan kita bisa bangkrut total!"
Theo benar-benar tidak mengerti. Kenapa sejak dia mengusir Zarlin dari rumah, semua bisnisnya mendadak sial bertubi-tubi?
Di tengah kepanikan Theo, ponsel Bianca di dalam tas tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari Reno.
"Bianca sayang, transfer aku 5 juta sore ini juga. Kalau kamu menolak, rekaman video kita berdua di hotel dua minggu lalu akan langsung aku kirim ke Theo Falcon. Pilih mana, sayang?"
Wajah Bianca seketika pucat ketakutan. Tubuhnya tiba-tiba gemetar. Itu adalah pesan ancaman dari Reno, selingkuhannya sendiri yang selama ini ikut menikmati uang dari Bianca.
"Kamu kenapa, Bianca? Kenapa wajahmu pucat?" tanya Theo yang heran melihat perubahan sikap wanita di sampingnya.
"A-Ah, gak apa-apa, Theo... aku... aku cuma pusing mikirin masalah perusahaan kamu," bohong Bianca terbata-bata, buru-buru memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas.
Di dalam hati, Bianca ketakutan setengah mati. Di saat Theo lagi pusing karena jatuh miskin, dia malah diperas oleh selingkuhannya sendiri.
...****************...
Untuk menyegarkan pikiran yang hampir gila, Theo memutuskan pergi ke sebuah mall mewah di pusat kota bersama Bianca.
Namun, nasib sial tampaknya memang belum mau pergi dari Theo. Begitu mereka masuk ke area lobi mall mewah tersebut, langkah Theo berhenti seketika. Matanya melotot tajam menatap ke depan.
Di sana, Zarlin Rahesa baru saja keluar dari sebuah food court, tempat makan didalam mall. Zarlin tidak sendirian. Di samping kirinya, berjalan seorang pria bertubuh tegap, berwajah sangat tampan, dan memakai setelan jas yang sangat mahal. Pria itu tidak lain adalah Tristan Avalanka.
Sementara disamping kanannya, ada seorang wanita yang memancarkan aura berkelas, tak lain adalah Christiana, sekretaris Zarlin.
Darah Theo seketika mendidih sampai ke ubun-ubun. Ego lelakinya serasa diinjak-injak melihat calon mantan istrinya yang miskin, kini malah jalan dengan pria lain dan wanita entah dari mana.
"Zarlin!" geram Theo dengan suara rendah, bersiap melangkah maju untuk melabrak mereka karena menuduh Zarlin berselingkuh.
Namun, sebelum Theo sempat mendekat, Bianca buru-buru menahan lengan Theo dengan panik. Bianca takut kalau Theo bikin keributan, rahasia kotornya dengan Reno bisa ikut terbongkar.
"Theo, jangan! Jangan bikin malu di tempat umum," hasut Bianca sambil berbisik di telinga Theo dengan nada sinis.
"Lagipula, untuk apa kamu urusi wanita itu lagi? Kalian kan sudah mau cerai. Biarkan saja wanita murahan itu pamer pria simpanannya sekarang. Minggu depan di sidang pembuktian, kita lihat saja apa dia masih bisa sombong setelah diusir dari hidupmu!"
Theo mengepalkan tinjunya kuat-kuat sampai tangannya memutih. Ucapan Bianca ada benarnya, tapi melihat Zarlin secepat itu berpaling membuat dadanya terasa sangat sesak karena cemburu dan harga diri yang terluka.
"Tapi, siapa wanita yang disamping Zarlin itu? Mereka tadi jalan bertiga, bukan berdua." ujar Theo meyakinkan.
Bianca kembali melihat mereka yang berjalan ke arah parkiran mobil VIP. Zarlin yang duduk dikursi pengemudi, dan sekretarisnya duduk disampingnya, sementara pria itu menaiki mobil lain.
"Apa?! Zarlin mengemudi? Tidak mungkin!" ujar Theo hampir gila.
Theo tidak pernah tahu, bahwa pria yang pisah mobil itu adalah Tristan Avalanka, wanita yang duduk disamping itu ialah sekretaris Zarlin, dan seseorang dia sebut murahan itu adalah putri pemilik kekayaan tak terbatas yang memegang semua bukti maut untuk menghancurkannya di sidang minggu depan.
itu justru malah menguatkan kebenaran...
semoga lancar proses perceraiannya !!
dah nikmati aja karmamu 🤪