Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Setelah dokumen resmi ditandatangani dan salinan perjanjian sudah berada di tangan mereka, Zeffrano berdiri diikuti oleh Aruna. Pertemuan pun berakhir dengan nada hormat yang mendalam dari Tuan Hendrawan dan senyum kemenangan yang tersungging di bibir Tania. Namun Rafael hanya berjalan kaku di belakang mereka, langkahnya berat, dan kepalanya terus menoleh ke belakang, menatap Aruna yang masih berdiri tenang di sisi Zeffrano, seolah tak ada lagi tempat baginya di sisi wanita itu.
Aruna menundukkan wajahnya sedikit, berusaha menyembunyikan rasa haru yang tiba-tiba menyelinap di sudut matanya. Suasana ruangan besar itu kini menjadi hening, hanya ada mereka berdua di antara deretan kursi kosong dan sisa dokumen yang masih tertata rapi di atas meja panjang.
Dia mengangkat wajah kembali, menatap Zeffrano yang masih berdiri tenang di hadapannya, sorot mata lelaki itu lembut namun tetap memancarkan keyakinan yang kokoh, seolah tidak ada keraguan sedikit pun di benaknya mengenai keputusan besar yang baru saja dia ambil.
"Menyerahkan proyek sebesar ini padaku, apa kamu tidak takut aku melakukan kesalahan?" tanya Aruna ragu.
"Kenapa?" Zeffrano balik bertanya. "Apa kamu tidak percaya pada kemampuanmu sendiri? Aku selalu berdiri tepat di belakangmu, Aruna. Jadi kamu tidak perlu ragu untuk melangkah maju."
"Aku percaya pada kemampuanku," jawab Aruna pelan namun tegas, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang tertahan. "Tapi ini bukan hal kecil. Ini proyek bernilai miliaran, ini nama besar Mahesa Group yang dipertaruhkan. Dan... Rafael dan Tuan Hendrawan bukanlah mitra yang mudah diawasi. Aku tahu persis sifat mereka, aku tahu cara berpikir mereka, dan aku tahu betapa liciknya mereka jika menyangkut keuntungan sendiri. Ada kalanya aku ragu... apakah aku cukup kuat untuk menahan mereka dan mampu mengalahkan segala taktik kotor yang pasti akan mereka gunakan nanti."
Zeffrano tersenyum tipis, senyum yang menenangkan sekaligus penuh wibawa. Dia melangkah maju mendekat, lalu tangannya yang besar dan hangat terulur, menyentuh bahu Aruna dengan lembut namun kuat, seolah menyalurkan seluruh kekuatan dan kepercayaan dirinya ke dalam diri wanita itu.
"Justru karena kamu yang paling mengenal mereka, maka kamulah satu-satunya orang yang paling tepat untuk menangani ini," ucap Zeffrano perlahan, suaranya rendah namun begitu jelas dan meyakinkan. "Aku tidak memberikan tanggungjawab ini karena aku kasihan padamu atau karena aku ingin melindungimu semata, Aruna. Aku memberikannya karena aku melihat apa yang ada di dalam dirimu. Aku melihat keberanianmu yang dulu kamu sembunyikan rapat-rapat di balik sikap pendiammu itu."
Dia menjeda sejenak, matanya menatap lekat-lekat manik mata Aruna, menembus hingga ke kedalaman jiwanya.
"Kesalahan boleh saja terjadi. Bahkan orang yang paling hebat pun pernah berbuat salah. Tapi ingat satu hal... kesalahan bisa diperbaiki, resiko bisa dikendalikan, dan masalah bisa diselesaikan. Yang paling penting adalah niat dan kemauan untuk belajar serta bertanggungjawab. Dan itu semua ada padamu."
Jari-jari Zeffrano perlahan bergerak naik, menyentuh pipi Aruna dengan lembut, mengusapnya perlahan seolah sedang menenangkan anak kecil yang sedang ragu.
"Dan mengenai mereka..." lanjut Zeffrano, nada suaranya berubah sedikit lebih tajam dan dingin, namun matanya tetap lembut menatap Aruna. "Mereka sekarang ada di dalam wilayah dan aturan kita. Jadi biarkan mereka berbuat sesuka hati dan menyusun rencana kotor apapun yang mereka mau. Selama kamu memegang kendali, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa."
Aruna merasakan rasa hangat menjalar dari dada hingga ke seluruh tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa benar-benar dihargai, benar-benar dipercaya, dan benar-benar merasa dirinya berharga.
"Terimakasih, Zeff," ucap Aruna pelan, kali ini air mata bahagia hampir saja menetes di sudut matanya. "Terimakasih sudah percaya padaku."
"Aku tahu kamu tidak akan mengecewakanku," ucap Zeffrano yakin. "Langkahkan kakimu sejauh yang kamu mau, dan jika pun kamu tergelincir sedikit... aku akan ada di sana untuk menopangmu agar tidak jatuh."
"Hari ini sudah cukup melelahkan, aku akan mengantarmu pulang," ajaknya kemudian.
Aruna menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis, "Aku tidak bisa pulang bersamamu, aku sudah ada janji dengan temanku. Sebaiknya kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Tidak apa-apa kan?"
Zeffrano diam sejenak, meneliti wajah Aruna seolah ingin memastikan apakah wanita itu benar-benar memiliki urusan lain atau hanya ingin menghindar.
"Baiklah," jawab Zeffrano akhirnya, suaranya tetap rendah dan menenangkan. "Aku tidak akan memaksa. Hati-hati di jalan dan jangan pulang terlalu larut."
Aruna mengangguk, lalu mendekatkan wajahnya dan memberikan ciuman hangat di pipi Zeffrano.
Gerakan itu begitu cepat dan tiba-tiba, namun penuh ketulusan. Zeffrano tertegun sejenak. Jantungnya yang biasanya berdetak tenang dan terukur, kini terasa berpacu lebih kencang karena kejutan manis itu.
"Aku pergi dulu. Terimakasih untuk hari ini, Zeff."
Setelah mengatakan itu, Aruna melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan Zeffrano yang masih terpaku di tempatnya.
Tangan Zeffrano perlahan terangkat menyentuh pipi yang baru saja disentuh bibir lembut wanita itu. Rasa hangat dan halus itu masih terasa jelas melekat disana, seolah meninggalkan jejak yang tak kasat mata namun membakar hingga ke dalam tulang.
"Aruna..." bisiknya pelan, suaranya bergema lirih di ruangan yang kini kembali sunyi sepi. "Kamu benar-benar berbeda dari Aruna yang aku kenal sebelumnya."
-
-
-
Malam semakin larut, jalanan mulai sepi dan hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalan yang jarang jaraknya.
Aruna duduk sendiri di kursi pengemudi, menyetir dengan tenang menuju kediamannya. Pikirannya masih melayang pada kejadian siang tadi, saat dia melihat amarah Rafael yang tertahan, dan saat namanya resmi tertulis dalam dokumen sebagai pemegang kendali penuh kerjasama itu.
Tepat saat dia memasuki tikungan tajam yang sedikit gelap, tiba-tiba sebuah mobil hitam melesat dari arah belakang dengan kecepatan tinggi, memotong jalur secara berbahaya, lalu dengan kasar menyalip dan menghadang tepat di depan mobilnya.
Aruna terpaksa mengerem mendadak hingga ban berdecit keras membelah keheningan malam. Mobil itu berhenti beberapa meter di depannya, dan tak lama kemudian, pintu terbuka lebar.
Rafael turun dengan wajah merah padam, napasnya memburu, matanya menyala-nyala menahan emosi, cemburu, rasa tidak terima, dan rasa ingin memiliki yang semakin menjadi-jadi.
"Keluar sekarang, Aruna! Kita harus bicara!" ucap Rafael, suaranya parau dan meninggi.
Aruna mematikan mesin mobilnya perlahan, lalu membuka pintu mobil dan melangkah turun. Pintu mobil ditutup kembali dengan kasar.
"Bicara apa, Rafael? Di tengah jalan seperti ini? Kamu sadar apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Aruna pelan namun tajam, suaranya tidak meninggi, namun cukup jelas terdengar menembus keheningan malam. "Kamu menghadang mobilku dengan cara yang hampir saja membahayakan nyawa kita berdua."
Rafael maju selangkah, tangannya mengepal kuat, dadanya naik turun hebat. Aroma alkohol yang kuat tercium samar dari napasnya. Dia menunjuk wajah Aruna dengan jari gemetar, matanya menyapu seluruh wajah dan tubuh wanita itu seolah ingin menelan Aruna bulat-bulat.
"Kamu tanya mau bicara apa? Kamu masih berani bertanya begitu?!" seru Rafael, suaranya meninggi. "Kamu berubah, Aruna! Kamu berubah drastis! Dulu kamu gadis yang manis, penurut, selalu ada di bawah kakiku, selalu menunduk malu saat kulihat. Tapi hari ini... hari ini di ruangan itu... kamu berdiri di sampingnya! Dan kamu membiarkan dia melingkarkan lengannya di pinggangmu seolah kamu adalah miliknya!"
Rafael tertawa sinis, keras dan getir, lalu mendekat lagi hingga jarak mereka tinggal beberapa jengkal saja. Matanya meneliti wajah Aruna dengan pandangan lapar dan tak percaya.
"Katakan Aruna... apa kamu memang sengaja mengacuhkanku, supaya kamu bisa bersamanya? Apa jabatan itu kamu dapatkan dengan cara menjual dirimu pada Zeffrano Mahesa, hah? Jawab aku!"
PLAKK!
-
-
-
Bersambung...
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍