Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga di Kala Badai
Lorong rumah sakit yang biasanya terasa dingin dan menakutkan, malam ini terasa sedikit berbeda bagi Gisella. Di atas kursi tunggu yang keras dan tidak nyaman, ia masih mengenakan gaun merah marun yang kini tampak kontras dengan suasana sekitarnya. Namun, bahunya tidak lagi menggigil karena kedinginan; jas tuxedo milik Arsel masih tersampir di sana, memberikan kehangatan dan aroma maskulin yang menenangkan.
Di sampingnya, Arselan Dirgantara masih setia duduk. Pria yang biasanya memimpin ribuan karyawan dengan satu jentikan jari itu kini mengabaikan semua gengsi dan kenyamanannya. Kemeja putihnya sudah kusut, dasinya sudah lama ia tanggalkan, dan wajah tampannya memperlihatkan gurat kelelahan yang nyata.
"Pak... Bapak pulang saja," bisik Gisel dengan suara serak. Ia menoleh ke arah Arsel yang matanya tampak memerah karena menahan kantuk. "Ini sudah jam tiga pagi. Besok Bapak ada rapat penting, kan?"
Arsel tidak menoleh. Ia hanya menatap pintu ruang ICU yang tertutup rapat. "Rapat bisa dijadwalkan ulang, Gisella. Kamu tidak mungkin sendirian di sini dengan kondisi seperti ini. Adikmu sudah tidur di sana," tunjuk Arsel pada Rian yang terlelap di kursi panjang seberang lorong.
Gisel menunduk, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Saya takut, Pak. Setiap kali pintu itu terbuka, saya merasa jantung saya mau copot."
Arsel mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya merengkuh bahu Gisel dan menarik kepala gadis itu untuk bersandar di bahunya. "Ibumu wanita yang kuat. Dia membesarkan gadis sepertimu, jadi dia pasti punya semangat untuk bertahan."
Gisel tidak menolak. Ia menyandarkan kepalanya, merasakan detak jantung Arsel yang stabil. Di tengah ketakutan yang luar biasa, kehadiran Arsel adalah satu-satunya hal yang membuatnya tidak benar-benar hancur.
Sepanjang malam, Arsel benar-benar tidak memejamkan mata. Setiap kali Gisel tersentak kaget karena suara langkah suster atau bunyi mesin medis, Arsel akan menggenggam tangannya dengan erat, seolah menyalurkan kekuatan tanpa kata-kata.
Sekitar pukul lima pagi, Arsel berdiri sebentar untuk membelikan dua cup kopi hangat dan roti dari kantin yang baru buka.
"Minum ini. Kamu butuh tenaga untuk menyambut ibumu saat dia bangun nanti," ucap Arsel sambil menyerahkan kopi itu.
Gisel menerimanya dengan tangan gemetar. "Bapak kenapa baik banget sama saya? Bukannya Bapak bilang saya ini cuma sekretaris yang mengganggu?"
Arsel terdiam sejenak, menatap uap kopi yang membumbung. "Mungkin karena saya baru sadar, kalau sekretaris yang mengganggu ini ternyata bisa membuat hidup saya tidak lagi membosankan."
Gisel tersenyum tipis, sebuah senyum pertama yang muncul sejak badai ini melanda. Namun, momen itu terganggu oleh getaran keras dari ponsel Arsel yang tergeletak di bangku.
Layar ponsel Arsel menunjukkan nama: 'ibu'.
Arsel segera menjauh beberapa langkah untuk mengangkatnya, namun di lorong yang sunyi itu, suara Nyonya Widya yang melengking masih bisa terdengar samar oleh Gisel.
"Arsel! Kamu di mana? Sekretaris asistenmu bilang kamu tidak masuk pagi ini dan membatalkan semua jadwal! Ada apa? Jangan bilang kamu sedang bersama wanita?" tanya Nyonya Widya dari seberang telepon.
"Ibu, pelankan suara Ibu. Aku di rumah sakit," jawab Arsel rendah.
"Rumah sakit? Kamu sakit? Atau... Gisel?" nada suara Nyonya Widya langsung berubah penuh selidik, namun terselip nada senang yang tak tersembunyi.
"Ibu Gisel kumat semalam. Kondisinya kritis. Aku menjaganya di sini," jelas Arsel singkat.
"Oh, astaga... kasihan sekali Gisel. Tapi Arsel, kamu sampai tidak masuk kantor hanya untuk menjaganya? Kamu sudah terjaga semalaman?" Nyonya Widya terdengar sangat terkejut sekaligus bangga. Rencananya ternyata bekerja lebih cepat dari yang ia duga. "Arsel, kalau kamu sampai mengabaikan perusahaan demi seorang wanita, itu artinya wanita itu sangat penting bagimu, kan?"
Arsel melirik ke arah Gisel yang sedang menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. "Ibu, aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan manusia. Sudah dulu, aku harus bicara dengan dokter."
Arsel mematikan teleponnya. Ia membuang napas kasar. Ia tahu ibunya pasti sedang tersenyum lebar di sana, tapi Arsel tidak peduli. Saat ini, prioritasnya bukan kontrak, bukan perusahaan, dan bukan perjodohan. Prioritasnya adalah memastikan gadis yang sedang memegang jasnya itu tidak menangis lagi.
Tak lama kemudian, Dokter keluar dengan wajah yang lebih rileks.
"Keluarga Ibu Sarah? Kondisinya sudah jauh lebih baik. Beliau sudah sadar dan masa kritisnya sudah lewat. Beliau terus memanggil nama 'Gisel'," ucap Dokter tersebut.
Gisel langsung berdiri, hampir menabrak Arsel karena kegirangan. "Alhamdulillah! Pak Arsel, Ibu sadar! Ibu nggak apa-apa!"
Gisel refleks memeluk Arsel dengan sangat erat, menumpahkan segala rasa lega dan syukurnya di dada pria itu. Arsel sempat tertegun, namun kemudian ia membalas pelukan itu, mengusap punggung Gisel dengan lembut.
"Sudah saya katakan, kan? Dia akan baik-baik saja," bisik Arsel.
Gisel melepaskan pelukannya, wajahnya memerah karena malu namun matanya bersinar bahagia. "Bapak pulang sekarang ya? Bapak sudah pucat banget. Biar saya dan Rian yang jaga Ibu di dalam."
Arsel menatap Gisel lama, seolah ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar sudah tenang. "Baik. Saya akan pulang untuk mandi sebentar, lalu saya akan kembali lagi sore nanti membawa makanan yang layak untukmu dan adikmu."
"Nggak usah repot-repot, Pak—"
"Gisella," potong Arsel dengan nada otoriter namun lembut. "Jangan membantah bosmu."
Arsel berbalik pergi, namun sebelum benar-benar menjauh, ia menoleh sekali lagi. "Dan simpan jas itu. Kamu terlihat lebih bagus memakainya daripada saya."
Gisel mematung, mendekap jas tuxedo itu ke dadanya. Ia menyadari bahwa misi 100 miliar ini sudah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Ia tidak lagi hanya menggoda Arsel; ia mulai mencintai pria itu dengan seluruh kejujurannya.
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏