Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.
Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 - Jarak Yang Aneh
Sejak pertemuan singkat itu, ada sesuatu yang berubah di antara mereka, meski tidak ada satu pun orang yang bisa menunjuknya dengan jelas. Tidak muncul kedekatan mendadak, tidak ada obrolan panjang yang membuat nama mereka mulai sering disandingkan, dan tidak ada kejadian besar yang pantas disebut awal dari apa pun. Dari luar, semuanya tetap terlihat biasa saja. Mereka masih dua orang yang berjalan di lingkungan yang sama tanpa hubungan yang jelas.
Justru karena itu, perubahan kecil tersebut terasa lebih aneh. Jarak masih ada, bahkan seperti sengaja dipelihara. Setiap kali keadaan memberi kesempatan agar mereka berada lebih dekat, sesuatu selalu bergeser di saat terakhir. Entah langkah yang berubah arah, waktu yang tidak pas, atau salah satu dari mereka yang memilih pergi lebih dulu.
Airel Virellia mulai menyadari pola itu pelan-pelan. Pada awalnya ia mengira semua hanya kebetulan, sebab kampus memang cukup luas dan orang-orang bisa muncul di mana saja. Namun setelah berulang kali melihat hal serupa, sulit baginya untuk terus berpura-pura tidak peka. Zevarion Hale muncul di tempat-tempat yang kini mulai ia kenali sebagai jalur rutinnya. Koridor gedung sebelah, taman kampus saat menjelang sore, area parkir belakang, hingga perpustakaan lantai dua yang biasanya sepi.
Namun setiap kali keberadaan mereka hampir bersisian, Zev selalu bergerak lebih dulu. Kadang ia berhenti mendadak di depan papan pengumuman seolah sedang membaca sesuatu. Kadang ia berbelok ke jalur lain yang lebih jauh. Kadang ia pergi sebelum Airel sempat benar-benar mendekat. Sikap itu terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Pagi itu udara masih sejuk ketika Airel berjalan menuju gedung utama sambil membawa dua buku tebal di pelukannya. Halaman kampus belum terlalu padat, hanya beberapa mahasiswa yang melintas sambil membawa kopi atau sarapan. Dari kejauhan, ia melihat Zev keluar dari area administrasi dan menuruni tangga dengan langkah tenang seperti biasanya.
Airel tanpa sadar melambat. Ia tidak bermaksud berhenti, tetapi tubuhnya bereaksi lebih dulu setiap kali mengenali sosok itu. Zev mengangkat wajah pada saat yang sama, lalu pandangan mereka bertemu dalam jarak yang cukup jauh.
Beberapa detik berlalu tanpa gerakan lain. Airel sempat berpikir mereka akan melewati jalur yang sama karena arah menuju gedung utama ada di depan sana. Namun Zev justru membelok ke jalan samping yang memutar dan lebih panjang. Gerakannya santai, tidak terburu-buru, seolah keputusan itu sudah dipikirkan sejak awal.
Airel berdiri sebentar sambil menatap punggungnya yang makin jauh. Ada rasa sesak kecil yang datang tanpa diundang. Hal sederhana seperti itu seharusnya tidak memengaruhinya, tetapi tetap saja mengganggu. Sikap Zev terasa seperti jawaban diam atas pertanyaan yang belum pernah ia ajukan.
“Kamu lihat apa?”
Suara Kalista dari belakang membuatnya tersentak ringan. Airel menoleh dan mendapati sahabatnya sudah berdiri sambil membawa map di tangan.
“Enggak apa-apa,” jawab Airel singkat.
Kalista mengikuti arah pandangannya, lalu mengangkat alis kecil. “Itu Zev, kan?”
Airel tidak menjawab. Kalista menghela napas pendek sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga.
“Dia aneh.”
Airel menatapnya. “Aneh gimana?”
“Kalau enggak peduli, harusnya cuek sekalian. Tapi dia malah kelihatan sadar terus sama keberadaan kamu.”
Kalimat itu membuat Airel diam lebih lama. Karena jika jujur pada dirinya sendiri, ia juga merasakan hal yang sama. Zev menjaga jarak, tetapi bukan seperti orang yang tak peduli. Lebih seperti seseorang yang terlalu peduli, sampai merasa perlu menjauh.
Siang harinya, Airel pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku referensi. Tempat itu tenang seperti biasa, dipenuhi bau kertas dan pendingin ruangan yang terlalu dingin. Suara yang terdengar hanya langkah kaki pelan dan sesekali bunyi halaman dibalik.
Ia berjalan di antara rak-rak tinggi sambil mencari bagian katalog. Ketika menoleh ke lorong sebelah, ia melihat Zev berdiri di ujung sana. Tangan kirinya memegang buku terbuka, tetapi matanya sama sekali tidak tertuju pada halaman.
Tatapannya mengarah ke sela rak.
Ke arahnya.
Begitu sadar Airel menoleh, Zev langsung menurunkan pandangan ke buku di tangannya. Gerakannya cepat, tapi bukan panik. Lebih seperti seseorang yang ketahuan melakukan sesuatu yang seharusnya tidak terlihat.
Airel terdiam beberapa saat. Jantungnya berdetak lebih keras dari seharusnya untuk situasi sesederhana itu. Ia tidak mendekat, tidak juga memanggil namanya, hanya berdiri sambil mencoba memahami perasaan aneh yang muncul.
Zev memperhatikannya diam-diam.
Dan kenyataan itu justru lebih mengusik daripada jika Zev terang-terangan bersikap ramah.
Airel akhirnya mengambil buku lain dari rak terdekat agar terlihat sibuk. Saat ia menoleh lagi beberapa detik kemudian, lorong itu sudah kosong. Zev menghilang tanpa suara, seperti kebiasaannya selama ini. Datang, membuat kehadirannya terasa, lalu pergi sebelum sesuatu benar-benar dimulai.
Sore menjelang dengan langit berwarna keemasan. Airel duduk di halte seperti rutinitas yang sudah melekat bertahun-tahun. Namun kini yang ia tunggu tidak lagi sepenuhnya masa lalu yang samar. Sebagian dari dirinya justru menunggu seseorang yang nyata, yang bisa dilihat, didengar, dan membuat semuanya terasa rumit.
Beberapa menit kemudian, Zev muncul di seberang jalan.
Ia berjalan lurus dengan langkah tenang. Kemeja gelap yang dipakainya bergerak tipis diterpa angin, sementara ekspresinya tetap sulit dibaca. Airel berdiri tanpa sadar, seolah tubuhnya sudah mengenali kebiasaan baru itu.
Namun Zev tidak menoleh. Ia terus berjalan melewati halte seakan tidak menyadari siapa pun di sana. Saat sudah beberapa langkah melewati tempat itu, gerakannya melambat sedikit. Sangat tipis sampai nyaris tak terlihat.
Lalu tanpa membalik tubuh, ia memiringkan kepala seolah ingin melihat ke belakang.
Gerakan itu cepat sekali. Hampir seperti refleks yang langsung disesali. Setelah itu ia kembali berjalan, kali ini lebih cepat dari sebelumnya.
Airel menggenggam tali tasnya erat. Ia mulai lelah menebak-nebak sesuatu yang tidak pernah diucapkan. Jika memang ingin menjauh, kenapa terus melihat ke belakang. Jika memang ingin dekat, kenapa selalu pergi lebih dulu.
Malam itu, di sisi lain kota, Zev berdiri di balkon apartemennya. Lampu jalan memantul pada kaca gedung-gedung sekitar, sementara suara kendaraan naik samar dari bawah. Angin malam menyapu rambutnya, tetapi tidak cukup menenangkan pikirannya.
Ia menatap ke bawah tanpa benar-benar melihat apa pun. Bayangan wajah Airel terus muncul. Cara gadis itu menatapnya tanpa ragu, seolah sedang mencari jawaban di wajahnya. Cara matanya membuat sesuatu yang lama terkubur terasa bergerak lagi.
Zev mengusap tengkuknya pelan. Ia membenci perasaan yang sulit dikendalikan. Selama ini hidupnya dibangun dengan batas yang jelas. Apa yang harus dilakukan, apa yang tidak boleh disentuh, apa yang lebih baik dibiarkan terkubur.
Namun sejak Airel muncul di hadapannya, batas itu mulai retak.
Ia menutup mata sejenak. Di balik gelap, potongan-potongan samar bermunculan lalu hilang. Hujan. Tawa kecil. Tangan mungil yang menggenggam ujung bajunya. Sebuah janji yang tak selesai.
Zev membuka mata cepat dan menarik napas dalam.
“Enggak,” gumamnya rendah.
Ia seperti sedang menyangkal pikirannya sendiri. Karena ia tahu, jika terlalu dekat, sesuatu yang selama ini ia tahan bisa runtuh. Dan ia belum siap menghadapi apa yang menunggu di baliknya.
Keesokan harinya, Airel duduk di taman kampus sambil membaca catatan. Tempat itu cukup sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk berjauhan di bangku lain. Daun-daun bergerak pelan tertiup angin, membuat suasana terasa tenang.
Ia merasakan seseorang mendekat sebelum benar-benar melihatnya.
Saat menoleh, Zev berdiri beberapa meter darinya. Jarak yang terasa disengaja. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
“Ada buku kamu ketinggalan di kelas kemarin.”
Suaranya tenang seperti biasa. Ia mengulurkan buku catatan berwarna biru yang sempat Airel cari sejak pagi.
Airel menatapnya sesaat sebelum menerima buku itu.
“Terima kasih.”
“Hmm.”
Zev mengangguk singkat. Ia bisa saja langsung pergi setelah itu, tetapi tidak bergerak. Beberapa detik berlalu dalam diam yang ganjil. Tatapannya turun ke tangan Airel yang memegang buku, lalu naik perlahan ke wajahnya.
Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang seperti kata-kata tertahan.
Airel memberanikan diri bertanya.
“Kamu sengaja menghindari aku?”
Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan. Zev tampak terdiam sesaat. Wajahnya masih tenang, tetapi rahangnya menegang tipis.
“Enggak,” jawabnya singkat.
“Terus kenapa tiap ketemu kamu selalu pergi?”
Kali ini Zev menatapnya lurus. Tidak ada senyum, tidak ada nada bercanda. Hanya diam yang terasa padat. Setelah beberapa detik, ia mengalihkan pandangan ke pohon di sisi taman.
“Aku sibuk.”
Jawaban itu datar. Terlalu datar untuk dipercaya.
Airel menahan napas, lalu sudut bibirnya bergerak tipis. “Bohong.”
Zev kembali menatapnya. Untuk sesaat, sesuatu di wajahnya retak. Sangat kecil, tapi cukup jelas bagi Airel. Seperti seseorang yang lelah terus menahan diri.
Ia melangkah satu langkah mendekat.
Jarak mereka menyempit. Airel bisa mendengar napasnya yang pelan dan stabil. Jantungnya sendiri justru berdebar jauh lebih keras.
“Airel,” ucap Zev rendah.
Cara ia menyebut nama itu membuat dada Airel terasa sesak oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Namun Zev berhenti di sana. Kata berikutnya tidak jadi keluar.
Tatapannya berubah rumit, lalu perlahan ia mundur lagi.
“Kamu sebaiknya enggak terlalu dekat sama aku.”
Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan pergi tanpa menunggu jawaban.
Airel berdiri terpaku sambil memegang buku catatannya erat. Angin sore membalik beberapa halaman di tangannya. Dadanya penuh oleh pertanyaan yang semakin banyak, bukan semakin sedikit.
Kalimat tadi bukan penolakan biasa. Bukan juga sikap acuh dari seseorang yang tidak peduli. Itu terdengar seperti peringatan dari orang yang sedang berperang melawan dirinya sendiri.
Airel menatap punggung Zev yang menjauh sampai menghilang di balik jalur taman. Kini ia yakin pada satu hal yang tak bisa lagi diabaikan.
Zev tahu sesuatu.
Dan apa pun itu, pria itu sedang berusaha keras menyembunyikannya.