Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pintu kamar itu akhirnya tertutup pelan.
Di luar, suara musik masih terdengar samar dari ruang depan.
Sementara di dalam kamar, Gilang berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang.
Ia sudah hafal bagaimana semuanya berjalan di tempat ini.
Percakapan basa-basi.
Tawa yang dipaksakan.
Dan dirinya yang perlahan kembali memakai “topeng” yang selama ini selalu ia gunakan saat bekerja.
Padahal jauh di dalam pikirannya, ia merasa lelah.
Gilang menatap wanita itu beberapa detik dari belakang.
Tubuh wanita itu cukup berisi, dress hitam ketat yang dipakainya membentuk beberapa lipatan lemak di pinggang dan lengannya.
Ia duduk di tepi ranjang sambil membetulkan rambutnya pelan.
Sementara Gilang hanya berdiri diam dengan napas berat, mencoba kembali memasang ekspresi tenang seperti biasanya saat bekerja.
Aku nggak bisa melanjutkan adegan yang mengarah ke situasi seksual secara intim atau menggoda secara detail.
Tapi kamu bisa lanjut dengan nuansa dramatis/psikologis seperti ini:
Wanita itu menoleh ke arah Gilang lalu memberi isyarat kecil dengan tangannya agar mendekat.
Gilang menarik napas pelan sebelum akhirnya melangkah maju.
Wajahnya tetap tenang seperti biasa.
Seolah semua ini hanya rutinitas lain yang harus ia jalani demi bertahan hidup.
"langsung saja," bisik wanita itu manja.
Gilang mengangguk lalu menanggalkan jaket dan kaosnya. Keringat menetes dari pelipisnya, hari ini entah kenapa rasanya sangat deg-degan karena Gilang baru menjalani lagi pekerjaannya setelah istirahat lama.
Gilang mulai menyusuri lekuk tubuh wanita itu, beberapa kulit mulai bergelambir, tapi Gilang harus profesional, dia menyentuh tengkuk wanita itu kemudian mencumbunya.
"Memang kamu beda dari yang lain...hmm biasanya.. c-cowok lain akan menertawakan ku, tapi kamu hmmppp... berbeda," ucap wanita itu sambil sesekali mendesah.
Setelah beberapa menit akhirnya permainan selesai. Gilang
Wanita itu bersandar santai di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya.
“Uangnya udah aku transfer ke Tante Jesica,” katanya pelan.
Gilang hanya mengangguk kecil sambil merapikan jaketnya.
Wanita itu lalu tertawa kecil. “Katanya tarif kamu sekarang naik, ya?”
Gilang diam saja.
“Wah, sama kayak harga minyak sekarang,” lanjutnya sambil terkekeh pelan. “Semua-serba naik.”
Gilang cuma menarik napas pendek lalu mengambil ponselnya dari meja tanpa menanggapi lebih jauh.
Wanita itu tertawa kecil, tapi terdengar pahit.
“Haha… ternyata semua laki-laki sama aja.”
Gilang berhenti sebentar di depan pintu.
“Kalau urusan selesai dan uang udah didapat…” lanjut wanita itu sambil menatap kosong ke depan, “langsung balik cuek lagi.”
Beberapa detik kamar itu jadi sunyi.
Tapi Gilang tetap tidak menjawab apa-apa.
Ia hanya membuka pintu lalu keluar dari kamar itu perlahan.
Baru saja Gilang keluar dari kamar, Tante Jesica langsung menghampirinya di lorong.
Wanita itu melirik wajah Gilang beberapa detik lalu menepuk bahunya pelan.
“Ih, jangan kusut gitu dong mukanya,” katanya sambil tertawa kecil. “Nanti pelanggan kamu kabur semua.”
Gilang langsung menarik sudut bibirnya kecil, berusaha terlihat ramah meski wajahnya tetap terasa lelah.
Tante Jesica lalu berkata santai, “Uangnya udah ditransfer ke rekening kamu ya.”
Gilang mengangguk kecil. “Terima kasih, Tante.”
Setelah itu ia langsung berjalan pergi begitu saja.
“Hei!” Tante Jesica memanggil dari belakang. “Mau ke mana lagi?”
Gilang tidak berhenti melangkah.
“Ada kelas.”
Gilang kembali menjalankan motornya menuju kampus.
Angin siang menerpa wajahnya sementara pikirannya masih terasa penuh sejak tadi.
Di tengah perjalanan, ponselnya tiba-tiba berdering.
Nama Valeria muncul di layar.
Gilang langsung menepikan motornya ke pinggir jalan lalu melepas helmnya sedikit buru-buru.
Tapi tepat saat jarinya hendak mengangkat panggilan itu—
teleponnya lebih dulu dimatikan dari sana.
Gilang mengernyit kecil.
Tak lama kemudian sebuah chat masuk.
Temui saya di sini.
Di bawahnya ada share location dan foto sebuah tempat sebagai patokan.
Gilang menatap layar itu cukup lama.
Jarinya sempat mengetik:
Maaf, tapi sekarang saya ada kelas.
Namun beberapa detik kemudian kalimat itu kembali dihapus.
Akhirnya ia hanya mengetik singkat:
Baik.
Setelah itu Gilang memasukkan ponselnya ke saku lalu perlahan memutar balik arah motornya.
Di sepanjang jalan, pikiran Gilang terus dipenuhi pertanyaan.
Ada apa sebenarnya?
Kenapa Valeria tiba-tiba ingin bertemu di taman yang sepi seperti itu?
Padahal wanita itu seharusnya masih berada di rumah sakit.
Suaminya juga tadi pagi masih ada di sana.
Lalu kenapa sekarang malah menghubunginya diam-diam?
Setelah sampai di gerbang taman itu, Gilang langsung menatap sekitar dengan bingung.
Sepi.
Hampir tidak ada orang sama sekali.
Beberapa pohon besar berdiri rindang di sepanjang jalan setapak, membuat suasananya terasa lebih sunyi.
Gilang sampai mencetuk pelan, “Ini taman apa kuburan sih… sepi amat.”
“Romeo?”
Gilang langsung menoleh kaget ke samping.
Seorang perempuan dengan pakaian semi formal berdiri beberapa langkah darinya sambil menatapnya hati-hati.
Gilang sempat berpikir keras.
Apa dia salah satu orang yang pernah memakai jasanya?
Tapi wajah wanita itu terasa asing.
Perempuan itu kemudian mendekat lalu berkata pelan, “Ikut saya.”
Gilang masih terlihat bingung, tapi akhirnya hanya mengangguk kecil sebelum mengikuti wanita itu masuk lebih jauh ke dalam taman yang benar-benar sepi tersebut.