NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpisahan Sementara

Cahaya keemasan di dalam menara perlahan meredup. Keempat potong kain emas sekarang menyatu menjadi lebih dari setengah kain utuh—peta yang semakin jelas menunjukkan titik-titik yang harus dituju. Di dinding ruangan, kristal-kristal penerangan masih bersinar redup, menciptakan bayangan-bayangan yang menari.

Xiao Chen menyimpan kain itu di balik jubahnya. "Kita harus kembali ke bawah. Menara ini tidak aman untuk tinggal lama."

"Setuju," kata Liu Ruyan. "Aku bisa merasakan energi di sini tidak stabil. Mungkin karena kita mengambil kain itu."

Mereka menuruni lorong melingkar, langkah kaki mereka bergema di dinding batu. Setelah hampir satu jam, mereka akhirnya keluar ke udara gurun yang dingin. Malam telah turun sepenuhnya. Langit di atas Gurun Pasir Hitam dipenuhi bintang-bintang yang luar biasa terang—tanpa polusi cahaya dari kota, setiap bintang terlihat seperti berlian yang ditaburkan di atas beludru hitam.

"Kita berkemah di sini," kata Wei Zhen. "Besok kita kembali ke utara."

Tenda-tenda didirikan di kaki menara, terlindung dari angin gurun oleh dinding batu raksasa itu. Api unggun dinyalakan, dan untuk pertama kalinya sejak memasuki gurun, suasana menjadi sedikit lebih santai.

Setelah makan malam—daging kering, roti keras, dan air dari kendi—Wei Zhen berdiri dan berdeham.

"Aku ingin bicara," katanya.

Semua mata beralih padanya.

"Perjalanan ini... sudah jauh lebih panjang dari yang kuperkirakan." Wei Zhen menatap api unggun. "Awalnya, aku hanya ingin membantu Xiao Chen menemukan jawabannya. Tapi sekarang, setelah apa yang kita lihat di menara ini... aku sadar bahwa perjalanan ini akan terus berlanjut. Ke Alam Immortal. Mungkin ke Alam Dewa."

Dia berhenti sejenak.

"Aku tidak bisa ikut sejauh itu."

Wei Ling menegang. "Ayah..."

"Aku sudah terlalu tua untuk perjalanan seperti itu. Kultivasiku masih di Pendirian Fondasi tingkat 9—aku bahkan belum mencapai Pembentukan Inti. Aku hanya akan menjadi beban." Wei Zhen menatap putrinya dengan lembut. "Dan Sekte Awan Kelabu sudah terlalu lama kutinggalkan. Seseorang harus menjaga rumah."

Feng Mo berdiri. "Aku akan kembali bersama Tetua Wei."

"Aku juga," tambah Zhang Yuan, meskipun suaranya sedikit bergetar. "Aku... aku sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tapi aku masih jauh dari cukup kuat untuk Alam Immortal."

Xiao Chen menatap mereka bertiga. Wei Zhen, yang pertama kali menemukannya di Bukit Batu Patah. Feng Mo, yang awalnya curiga tapi kemudian menjadi teman setia. Zhang Yuan, yang telah berubah dari murid terlemah menjadi kultivator yang percaya diri.

"Kalian yakin?" tanya Xiao Chen.

"Ya." Wei Zhen berjalan ke arah Xiao Chen, meletakkan tangannya di bahunya. "Kau sudah melakukan lebih dari cukup untuk sekte kami, Xiao Chen. Sekarang saatnya kami membiarkanmu melanjutkan perjalananmu sendiri."

"Ayah..." Wei Ling berdiri, air mata menggenang di matanya. "Aku... aku akan tetap bersama Xiao Chen. Tapi aku akan merindukanmu."

Wei Zhen memeluk putrinya erat-erat. "Aku tahu. Dan aku bangga padamu, Wei Ling. Kau telah tumbuh menjadi kultivator yang kuat. Ibumu akan sangat bangga."

"Kau akan baik-baik saja di sekte?"

"Tentu saja. Sekarang aku bisa mencapai Pendirian Fondasi tingkat 9, dan dengan semua sumber daya yang Xiao Chen tinggalkan, sekte kita akan berkembang." Wei Zhen tersenyum. "Mungkin saat kau kembali, Sekte Awan Kelabu sudah menjadi sekte menengah."

Wei Ling tertawa kecil di antara air matanya. "Jangan terlalu lambat, ya."

"Itu tugasku untuk bilang padamu."

Feng Mo berdiri di depan Lin Yao. "Kau... jaga dirimu baik-baik."

Lin Yao mengangkat alis. "Kau mengkhawatirkanku?"

"Aku hanya tidak ingin mendengar kabar buruk."

"Aku akan baik-baik saja. Aku punya Xiao Chen." Lin Yao menatapnya sejenak. "Kau juga, Feng Mo. Kau sudah lebih kuat. Jangan berhenti berlatih."

"Aku tidak akan."

Zhang Yuan menghampiri Wei Ling. "Kak Wei Ling... terima kasih sudah menjagaku selama ini."

"Zhang Yuan, kau yang selalu membuat kami tertawa." Wei Ling menepuk kepalanya. "Jangan jadi malas saat aku tidak ada."

"Aku tidak akan! Aku ingin mencapai Pendirian Fondasi sebelum kau kembali!"

"Itu target yang bagus."

Keesokan paginya, Wei Zhen, Feng Mo, dan Zhang Yuan berkemas untuk perjalanan pulang. Mereka akan naik kapal udara dari Kota Zamrud kembali ke Benua Tengah.

"Kami akan membawa satu penjaga batu," kata Wei Zhen. "Dia bisa melindungi sekte selama kami pergi."

Xiao Chen mengangguk. Dia menyentuh salah satu penjaga batu, memberikan instruksi tanpa suara. Penjaga itu—yang terkecil dari ketiganya, meski masih setinggi delapan meter—melangkah ke depan, siap mengikuti Wei Zhen.

"Aku akan merindukan kalian," kata Xiao Chen. "Kalian adalah orang pertama yang kutemui di dunia ini. Aku tidak akan melupakannya."

"Kami juga tidak akan melupakanmu." Wei Zhen menjabat tangan Xiao Chen erat-erat. "Kau tahu, saat pertama kali melihatmu di Bukit Batu Patah, aku mengira kau adalah ancaman."

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku tahu kau adalah berkah." Wei Zhen tersenyum. "Jaga putriku."

"Selalu."

Dengan perpisahan terakhir—pelukan, air mata, dan beberapa lelucon canggung dari Zhang Yuan—Wei Zhen, Feng Mo, dan Zhang Yuan naik ke kuda mereka dan mulai perjalanan pulang. Penjaga batu berjalan di belakang mereka, langkahnya yang berat menciptakan awan debu hitam kecil.

Wei Ling berdiri di samping Xiao Chen, air mata masih mengalir di pipinya. Lin Yao berdiri di sisi lainnya, ekspresinya tenang tapi ada kelembutan di matanya. Xu Mei dan Liu Ruyan berdiri sedikit di belakang, memberi mereka ruang.

"Kau baik-baik saja?" tanya Xiao Chen pada Wei Ling.

"Aku akan baik-baik saja." Wei Ling menghapus air matanya. "Aku sudah menduga ini akan terjadi. Tapi... tetap saja berat."

"Ayahmu kuat. Dia akan baik-baik saja."

"Aku tahu." Wei Ling menatap ke arah di mana rombongan ayahnya semakin mengecil di cakrawala. "Aku hanya... tidak menyangka akan secepat ini."

"Kita akan kembali suatu hari nanti," kata Lin Yao. "Ke Sekte Awan Kelabu. Setelah semua ini selesai."

Wei Ling menoleh, menatap Lin Yao. "Kau juga akan ikut?"

"Seseorang harus memastikan kau tidak menangis sepanjang perjalanan."

"Aku tidak menangis sepanjang perjalanan!"

"Kau baru saja menangis."

"Itu... itu perpisahan! Itu berbeda!"

Xu Mei dan Liu Ruyan bertukar pandang dan tersenyum kecil. Dinamika di antara mereka berdua dan kedua gadis yang lebih muda masih dalam penyesuaian, tapi momen seperti ini membuat semuanya terasa lebih alami.

Perjalanan kembali melintasi Gurun Pasir Hitam memakan waktu dua hari. Kali ini rombongan lebih kecil—hanya Xiao Chen, Wei Ling, Lin Yao, Xu Mei, Liu Ruyan, dan dua penjaga batu yang tersisa. Lebih sunyi tanpa ocehan Zhang Yuan yang konstan dan tanpa keluhan Feng Mo yang datar.

Di malam kedua, setelah berkemah di tepi gurun, Liu Ruyan membuka peta besar di bawah cahaya api unggun.

"Aku sudah mempelajari kain emasmu," katanya. "Pola-pola di atasnya sekarang lebih jelas dengan empat potongan. Ada sembilan titik di Alam Fana—kita sudah menemukan dua: Lembah Seribu Bintang dan Gurun Pasir Hitam. Potongan pertama kau dapat dari Tetua Luo di Benua Tengah. Itu berarti masih ada enam titik lagi di Alam Fana."

"Di mana yang terdekat?" tanya Xiao Chen.

"Di sini." Liu Ruyan menunjuk titik di peta. "Benua Utara. Sebuah tempat bernama Puncak Es Abadi."

"Benua Utara," ulang Xu Mei. "Itu wilayah Sekte Formasi Kuno. Mereka sekte raksasa—lebih kuat dari sekte mana pun di Benua Tengah atau Selatan."

"Kita butuh kapal udara lagi," kata Lin Yao.

"Kali ini, aku yang akan mengaturnya." Liu Ruyan tersenyum tipis. "Aku masih punya koneksi di Paviliun."

Malam itu, setelah yang lain tidur, Wei Ling keluar dari tendanya dan berjalan ke arah Xiao Chen yang sedang duduk di atas batu, menatap bintang.

"Masih tidak bisa tidur?" tanyanya.

"Aku tidak butuh."

"Aku tahu." Wei Ling duduk di sampingnya. "Tapi kau selalu duduk sendirian di malam hari. Apa yang kau pikirkan?"

Xiao Chen menatap bintang. "Banyak hal."

"Bisa kau sebutkan satu?"

"Aku memikirkan tentang Wei Zhen, Feng Mo, dan Zhang Yuan. Apakah mereka akan baik-baik saja dalam perjalanan pulang."

"Mereka akan baik-baik saja. Ayahku kuat."

"Aku tahu." Xiao Chen menoleh, menatapnya. "Dan aku juga memikirkan tentangmu."

Wajah Wei Ling sedikit memerah. "Aku... apa tentangku?"

"Kau sudah banyak berubah sejak kita pertama bertemu. Dulu kau gadis pemalu yang hampir tidak bisa bicara di depanku. Sekarang..." Xiao Chen menyelipkan rambut di belakang telinganya. "...kau bertarung di turnamen. Kau menantang lawan yang lebih kuat. Kau bahkan tidak ragu untuk ikut ke tempat-tempat berbahaya."

"Karena aku bersamamu."

"Bukan hanya itu. Kau juga kuat sendiri."

Wei Ling menatapnya, dan air mata kecil menggenang di matanya—bukan air mata sedih, tapi air mata terharu. "Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Untuk percaya padaku. Sejak awal."

Xiao Chen mencium keningnya. "Selalu."

Mereka duduk dalam keheningan, menatap bintang-bintang gurun. Dua penjaga batu berdiri tidak jauh, mata keemasan mereka bersinar lembut dalam kegelapan. Besok, mereka akan kembali ke Kota Zamrud. Lalu naik kapal udara ke Benua Utara. Lalu ke Puncak Es Abadi.

Tapi malam ini, hanya ada mereka berdua. Dan itu sudah cukup.

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!